
"I Love you Luna!" Adrian terus merancau sambil memainkan bukit kembar milik Aluna.
Aluna menggeliat lincah seperti belut, tetapi bagi Adrian Aluna tampak seksi dan menggoda.
Adrian terus memanjakan tubuh Aluna dengan servis terbaiknya, malam ini Adrian ingin Aluna bisa terpuaskan.
"Luna, kau bukan hanya cantik tapi tubuhmu sangat indah," puji Adrian sambil memberi belaian lembut naik turun,
"Terimakasih, kau juga sangat tampan." Aluna memeluk tengkuk Adrian manja, Adrian memangku tubuh Aluna dan mengarahkan ular kobra yang siap mematuk mangsanya, ke dalam milik Luna. Luna menggigit bibirnya menahan rasa nikmat bercampur aduk.
Adrian menggoyang pinggulnya pelan, Aluna yang ada dipangkuan telah dibuat berteriak teriak seksi oleh Adrian.
Adrian akhirnya melakukan sebuah pelepasan yang dahsyat. Membuat tubuh Adrian bergetar. Adrian sudah gila, dia bahkan menghayal bisa merasakan penyatuan dengan Aluna ketika kondisinya masih sakit.
Adrian segera membilas tubuhnya dan mengambil handuk. Adrian sangat malu dengan dirinya sendiri yang tak bisa menahan hasrat.
Adrian segera keluar dari kamar mandi, memakai handuk, tatapan matanya langsung tertuju pada Aluna yang duduk di kursi sambil menempelkan kepalanya di atas meja beralaskan lengan.
"Kasihan sekali kamu Luna," gumamnya.
Adrian tak berani mengusik tidur Aluna, dia hanya mengambilkan selimut untuk menutupi punggung Luna. Adrian menatap Aluna sangat lama
"Kau seperti menjaga jarak dariku, apa sebenarnya yang telah terjadi Luna." Adrian menyibak rambut yang menutupi wajah Luna yang dalam posisi miring.
"Apa benar yang dikatakan Dion jika hubungan kita tak baik baik saja."
Adrian semakin semangat mencari tahu, dia menghubungi beberapa orang yang terlibat dalam persiapan dinner, bertanya pada mereka apa semua sudah siap.
Jawaban mereka sudah siap, baik dari Koki, Desainer, dan juga Dekorator, semua sudah siap.
Adrian segera memerintahkan Argo untuk membeli cincin yang paling mahal dan simple, dengan begitu makan malam nanti tak akan kurang satu apapun.
Adrian hari ini telah banyak bermimpi, dia berharap setelah Dinner semuanya bukanlah mimpi lagi. Adrian ingin membuktikan pada dunia kalau dia bisa melakukan kewajibannya sebagai laki-laki. Sakit yang diderita bukanlah apa-apa.
Adrian mulai mempersiapkan diri, memakai baju yang menurutnya santai tapi tetap berkesan elegan. Hem warna hitam celana hitam dan arloji hitam menjadi pilihannya sekarang, warna favorit Adrian memang hitam."
Chela dan Selena ikut senang melihat kakaknya kembali bahagia, meski ingatan itu tak pernah kembali, tak jadi masalah.
Sepertinya Adrian akan memanfaatkan waktu ini untuk bertanya pada Selena dan Chela.
"Mama, apakah ada yang tidak aku ingat tentang hubungan aku dan Aluna?" tanya Adrian sambil sesekali melirik keberadaan Aluna.takut obrolan itu di dengarnya.
"Tidak sayang, ingatanmu sudah benar, Aluna adalah istri sah kamu," kata Selena berusaha meyakinkan putranya, menghempaskan ketahuan yang akan mengganggu kesembuhannya.
"Tapi kenapa aku sepertinya melihat dia berusaha menjaga jarak padaku." Adrian dan Selena menjauh, mencari duduk yang nyaman.
"Buang prasangka buruk, dan pertahankan semua yang jadi milikmu." Selena menggenggam tangan putranya sebagai dukungan moril.
Setelah dirasa perbincangan dengan mama cukup,Adrian kembali ke kamar dan melihat Aluna yang masih pulas.
__ADS_1
Adrian mendekati Aluna, dan membungkuk, hendak mencium pipi Aluna, tapi Luna menggeliat merasakan tubuhnya capek, dengan cepat Adrian menarik wajahnya dan menjauh.
"Maaf aku ketiduran, sudah lama ya selesai mandinya tadi?" Aluna malu ketahuan tidur dan bersandar di meja. Wajah bantalnya terlihat tetap cantik.
"Ah, aku akan ke kamarku, aku harus siap siap." Kata Luna menghilangkan kegugupan yang sedang mendera.
Adrian bahagia Aluna bersedia hadir tanpa paksaan, kejutan besar sudah menantinya.
***
Luna di kamar sedang mengirim pesan untuk Dion, menanyakan kabar suami yang sangat dirindukan itu.
Saat Aluna hanya mengirim pesan Dion malah langsung menelponnya. "Selamat sore sayangku, lagi ngapain ini!?"
"Lagi telepon suami, kangen, plus rindu," jawab Aluna sambil mengerucutkan bibirnya merahnya. Membuat Dion gemas.
"Aku juga kangen Sayang, biasanya kamu selalu temani aku, kita kerja sambil pacaran, sekarang aku cuma sama Beni dan Reihan. Nggak seru."
"Pacaran aja sama mereka," canda Aluna.
"Kalau sama mereka jadi main pedang pedangan donk," Kata Dion. Aluna yang mendengar kata lucu Dion tawanya langsung pecah.
"Sayang, kamu lucu deh."
"Aku bicara apa adanya, kan sama panjangnya. hehehehe." Dion masih terus tertawa.
Tapi tawa Dion seketika lenyap begitu ingat ancaman dari manusia misterius itu. Dion tak bisa bayangkan bagaimana kalau dia juga mengancam istrinya.
"Sayang, apa ada orang mencurigakan mencarimu?"
"Jangan kemana mana selama aku tak ada disisi." Dion mewanti wanti Aluna.
Aluna mengangguk, seolah Dion bisa melihat anggukan kepalanya.
Dion segera berkemas-kemas, dia ingin segera pulang saja. Dion terlalu mengkhawatirkan kondisi istrinya yang sekarang tak ada di sisi.
Dion pulang dengan naik taxi, dia tidak bisa menunggu Beni kembali.
Lelaki tampan yang sangat menyukai hem putih bergaris hitam dan celana kantor warna putih itu segera meminta sopir taxi melajukan kendaraannya menuju mansion Adrian.
Aluna terlihat sudah menyambutnya di balkon, Dion sangat senang melihat istrinya berdiri dengan senyum sumringah dan keadaan baik-baik saja.
"Honey, aku merindukanmu" Dion memeluk Aluna dengan erat, tanpa bisa dikendalikan lagi, mencium bibirnya gemas. "Sayang, ayo kita pergi dari sini, aku tidak mau ada masalah denganmu."
"Tapi Adrian dia belum mengingat semuanya."
" Lupakan Adrian, lupakan siapapun, kita hidup hanya aku dan kamu."
"Aluna tidak setuju," dia melepaskan pelukannya. Aluna keberatan jika menghentikan semuanya di tengah tengah usahanya yang hampir berhasil.
Karena pagi tadi Jayden mengatakan kalau luka kepala Adrian sudah sembuh dan mengering. Selama pengalaman yang dia peroleh ketika menjadi dokter,
__ADS_1
Dion mengejar Aluna dan memeluknya dari belakang. "Percayalah, semua demi kebaikan kita."
"Satu minggu lagi," Aluna menawar.
"Baiklah, satu minggu lagi." Dion setuju Aluna memberi bantuan pada Adrian satu minggu lagi.
Dion segera masuk kamar tamu, dia masih memikirkan ancaman misterius itu, jujur Dion mencurigai Adrian pelakunya.
Dion membersihkan diri lalu ganti dengan baju santai, lalu keluar kamar mulai mencari segala sesuatu yang bisa memberikan jawaban untuk kecurigaan kepada Adrian. Tapi lelaki itu tak ada di rumah. Dia keluar sudah satu jam lalu.
Dion melihat Aluna sedang bersama bibi di taman, bibi membantu Aluna menangkap kupu-kupu. Dion ingin menghampiri Aluna dan berjalan di taman sore ini.
Saat akan melangkah turun tiba tiba ada tangan wanita dewasa yang menahan tangan Dion. " Mau kemana?"
"Eh Tante," Dion mengurungkan niatnya.
"Duduklah mari kita minum kopi. Kata Selena membawa dua cangkir kopi, Bagaimana kabar Nenek dan Mama."
"Baik semua, dia menginginkan Aku dan Aluna cepat memiliki momongan." Dion melirik ke arah Aluna, wanitanya itu sedang bahagia mendapat satu kupu-kupu cantik.
'Sial, kenapa dia menggangguku, padahal aku ingin sekali terlibat dengan kebahagiaan istriku.' batin Dion.
Dion terpaksa hanya mengawasi Aluna dari kejauhan, sambil menikmati secangkir kopi dengan selena.
"Dion, aku dengar usaha kamu sekarang menempati rangking satu terhebat di kota ini?" Tanya Selena basa basi.
"Ya, semua karena ada Aluna bersamaku, dia yang selalu suport aku."
"Oh, jadi semua karena Aluna, ya."
"Aku yakin itu penyebab utama, semangat, kebahagiaan, dan doa istri, menjadi pembuka rezeki bagi suami," terang Dion selalu membanggakan istrinya.
"Benar-benar hebat," kata Selena sambil menyeruput kopi lagi.
"Kenapa aku mengantuk begini ya, Dion merasakan matanya tiba-tiba berat. Dan menguap beberapa kali.
"Jika mengantuk, tidurlah, biar Tante pergi dulu, ada banyak hal yang belum Tante kerjakan." kata Selena.
Dion hanya terus menguap, dia tidak sanggup lagi menjawab kata-kata Selena yang masih samar terngiang di kepalanya.
***
Waktu terang berubah menjadi gelap, sejuknya udara mansion di sore kini berubah menjadi dingin. Angin sepoi-sepoi berubah menjadi duri yang menusuk kulit. Dion masih terlelap di balkon usai meneguk kopi nikmat itu.
Setelah bangun dia melihat semuanya sudah sepi, Aluna yang dia lihat menangkap kupu-kupu dengan hati gembira sudah tak ada lagi.
Dion mendapatkan secarik kertas lagi. "TIDURLAH YANG NYENYAK."
"Luna! Luna!" Dion kehilangan Luna yang sekarang entah ada dimana.
__ADS_1
"Siapa pengirim pesan misterius ini, apa benar dia orang yang tinggal disini, jika iya hanya ada satu kemungkinan, Adrian tidak lupa ingatan." Dion meremas kertas itu. Dia kembali mengkhawatirkan istrinya yang sedang dalam bahaya
.