Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 247. Gangguan kejiwaan.


__ADS_3

Chela aku tahu kamu pelakunya. Lebih baik datanglah ke rumah sakit dan minta maaf pada Jessica, lalu serahkan diri ke polisi, mungkin akan memperingan hukuman untukmu, daripada kau tertangkap oleh Dion. Kau sudah membuat amarahnya memuncak dan tak segan lagi melakukan hal yang diluar nalar, dia bisa saja melupakanmu kalau kau adalah sepupunya. 


Pesan panjang dari Jayden membuat Chela terbelalak, sepertinya percuma dia terus bersembunyi jika semua orang sudah tahu dia pelakunya. 


Apakah Kakak tidak membenciku? Aku melakukan semuanya karena sayang sama Kakak. Aku tak mau kehilangan Kakak.


Chela membalas pesan singkat dari Jayden. Sepertinya hanya lelaki itu yang mengerti dirinya. 


Aku hanya memberimu saran terbaik, selanjutnya terserah.


Baiklah, aku akan kesana.


Chela segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Dia langsung menemui Jayden yang tengah menunggu di ruang pribadinya. 


Di ruang pribadi Jayden sudah memasang wajah dingin, kecewa dan marah sudah bercampur menjadi satu. 


"Kak Jay maafkan aku." Chela yang nyelonong masuk langsung memeluk Jayden dari arah belakang. 


"Apa yang telah kamu lakukan benar benar bodoh Chela!" Jaiden mendorong Chela hingga tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang. Chela salah berharap, dia kira Jayden masih sama seperti kemaren. Laki-laki itu rupanya kini benar-benar marah. 


"Kak, aku khilaf, maafkan aku." Chela mengejar tubuh Jayden dan meraih lengannya. Tapi lengan itu di hempaskan, membuat Chela semakin meradang. 


"Minta maaf pada Jessica dan lakukan dengan benar, semoga saja nanti apa yang kamu lakukan bisa membuat Dion meringankan hukuman." Kata Jayden memposisikan diri sebagai seorang kakak. Memang hanya sebatas kakak beradik, hubungan Jayden dengan Chela tak pernah lebih. 


"Aku takut Kak, Bagaimana kalau Kak Dion menembakku di tempat," ujar gadis itu dengan terisak. 


"Aku rasa apapun hukuman yang diberikan nanti itu sepadan dengan perbuatanmu. Dan maaf dalam kondisi ini aku juga tidak ada di pihak kamu, kau sudah melukai wanita yang kucintai." 


Mendengar penuturan Jayden, Chela makin hancur. Jayden sudah terang terangan menyebut Jessika wanita yang dicintai. Artinya Jayden tidak main-main dengan perasaannya pada Jessica. 


Kenapa harus Jessica Kak? Kamu tidak memikirkan perasaanku, bagaimana aku bisa melihat kalian selalu bersama dan memamerkan kemesraan di depanku nantinya, sedangkan aku begitu menginginkan dirimu. 


"Maaf chela, aku tadinya masih menjaga perasaanmu agar tak tahu semuanya, tapi kau yang mencari tahu lebih cepat. Kau ingin aku segera mengungkap hubungan ini. Aku sudah lama suka dengan Jessica dan aku berharap kamu bisa menerima itu." 

__ADS_1


Luluh lantak hati Chela memikirkan Jayden yang begitu serius dengan sepupunya itu. 


"Kak, kau bisa jadikan aku yang ke dua."


"Gila, kamu Chela. Segila itukah kamu terosebsi denganku, seharusnya sebagai wanita kamu jaga harga dirimu itu, wanita kedua itu tak semenyenangkan kedengarannya, pelakor hanya bahagia diawal saja, ujungnya juga akan dicampakkan, kamu harusnya bisa berfikir panjang, apa kamu benar-benar rela aku memiliki semua yang ada pada dirimu, tapi aku tak mencintaimu, aku hanya cinta Jessica Chela. Kumohon mengertilah." Jayden memegang dua pundak Chela dan menatapnya dengan intens, berharap Chela bisa mengerti maksud dari ucapannya. 


"Kamu masih muda, cantik, jangan berfikir pendek, ada banyak lelaki yang lebih dariku dan memiliki segala-galanya. Dan mungkin bisa memberimu cinta yang tulus."


"Tapi kak, ini akan berat. Aku mencintaimu, Kak."


"Lama lama kamu akan melupakanku Chela." 


"Baiklah, semoga saja bisa." Chela mengerjab, setiap kelopak itu bergerak, selalu ada butir kristal yang jatuh dari pelupuk matanya. 


"Bisa, kau adik yang hebat." Jayden membesarkan hati Chela. 


Chela mengusap air matanya lalu diantar Jayden dan menemui Jessica. 


Jessica kebetulan sudah selesai dimandikan oleh perawat, tubuhnya lebih segar dan wangi. Jessica kini duduk sambil bersandar, karena perawat memintanya untuk segera sarapan.


"Kak, mengapa kau bawa dia kesini!" Jessica histeris. Tentu trauma yang dia alami belum sepenuhnya hilang. 


Jayden segera menghampiri kekasihnya, mendekap tubuh mungil kekasih dan menempelkan di dada. Jayden berharap Jessica tidak lagi ketakutan. 


"Cup, cup sayang, jangan takut, dia kesini untuk minta maaf." Jayden dua kali mengecup kening Jessica. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh merasakan perlakuan manis kekasihnya. 


Chela merasakan nyeri di ulu hatinya yang paling dalam. 


"Chela, kamu pergi dari sini!" Jessica masih belum bisa menerima Chela ada di dekatnya. 


"Jess, aku minta maaf, mungkin karena aku terosebsi sama Kak Jayden, jadi aku menghalalkan segala cara. Tapi aku sadar, yang diinginkan hanya kamu, bukan aku." 


Jessica justru menyimpan  keraguan tentang perasaan Jayden padanya. Benarkah Jayden mencintainya seperti dugaannya. Jessica juga takut jika Jayden hanya berdusta seperti lelaki umumnya.

__ADS_1


Jessica ingin memastikan jawaban Jayden di depan Chela. 


"Kak, aku dan Chela ada disini, kau bisa putuskan sekarang, Chela atau aku?"


"Aku yakin jika kakak pilih Chela, dia akan mencintai kakak dengan tulus, lihat sendiri ini Kak, lukaku ini buktinya, Chela tak mau jauh-jauh sama kakak."


"Tidak Jess, kamu salah, Kak Jayden ternyata hanya mencintaimu. Dia tak pernah menganggapku lebih dari seorang adik. Aku salah mengartikan perhatiannya."


"Kamu tidak sedang di bawah tekanan dia kan?" Jessica menatap dua orang didepannya. Berharap memang tak ada rekayasa.


"Tidak Jess." Chela menunduk lalu membiarkan airmatanya jatuh ke lantai. Aku pergi dulu, aku akan menemui Kak Dion. 


Chela segera beranjak dari ruang Jessica dirawat. Dia tak bisa menahan air matanya agar tak tumpah lebih lama lagi. 


Setelah bayangan Chela lenyap di balik pintu rasa khawatir Jessica menghantui.


"Kak kejar Chela, aku takut dia melakukan sesuatu yang berbahaya." Jessica yang sudah paham dengan sifat Chela yang suka nekat tentu takut kalau gadis itu akan menyakiti dirinya sendiri. 


"Tidak mungkin Jess, aku harus membantumu menyelesaikan makan siang." Jayden menolak karena sadar sejak siang ini Jessica belum memakan apapun.


"Kak please, aku tidak mau Chela kenapa napa, firasatku nggak enak." 


"Baiklah, aku akan mengejarnya." Jayden yang baru ingat kalau mental Chela sedang terganggu, dia segera berlari mencari keberadaan gadis itu. 


Benar dugaan Jessica, Chela kini sedang nekat memanjat pagar besi di belakang rumah sakit. 


Chela sudah bersiap untuk meloncat, dia sudah merentangkan kedua tangannya dengan mata terpejam. Jayden  menghampiri Chela dengan langkah kucing. Setelah dekat segera ditariknya tubuh wanita itu dalam dekapannya. 


"Lepas! Lepas! Biarkan aku mengakhiri semuanya."


"Chela, kamu benar benar sudah gila. Sepertinya kau harus mendapat terapi khusus untuk menyembuhkan penyakitmu ini." Kata Jayden yang mulai lelah dengan kegiatan ekstrim Chela yang membuatnya ngeri. 


"Lepaskan aku Kak! Aku tidak gila, lepaskan aku!"

__ADS_1


 


__ADS_2