
"Nyonya ini ada surat untuk anda." pengasuh anak-anak menemukan sebuah surat yang tergeletak di bawah pintu.
Aluna yang sudah sangat cantik karena menunggu kedatangan suaminya yang akhir-akhir ini sering dia rindukan aroma tubuhnya segera turun.
"Dari siapa?"
"Tidak ada nama pengirimnya nyonya, hanya tertulis nama penerima saja."
"Baiklah, bibi boleh pergi, terima kasih sudah memberitahu tentang surat ini."
"Sama-sama, Nyonya." pengasuh itu segera menemui temannya dan akan memandikan ke dua anaknya.
Luna terkejut ketika membaca isi pesannya.
'Selamat pagi Luna yang cantik, masih ingat denganku kan?" wanita yang kekasihnya kau ambil?'
Luna belum mengerti karena dia tak pernah merasa mengambil kekasih siapapun. Luna membaca lanjutan suratnya.
'Kau harus tahu ibumu saat ini sedang sakit-sakitan, aku lelah merawatnya, ambil dia atau aku buang saja wanita tak berguna ini.
"Ibu! jadi benar Bu Lasmi itu ibu kandungku. jadi dia tidak bohong." pekik Aluna, mulai panik.
Aluna kembali membaca tulisan tangan Angeline. ingat waktuku tak banyak, terlambat sedikit saja aku akan ceburkan dia ke sungai ini, kau akan menjadi penyebab ibumu meninggal. Hahaha, datanglah kesini, aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu kedatangan kamu.
Aku hitung mundur satu jam dari sekarang.
Benar-benar Angeline ini sudah gila, jika dia tak sudi merawat ibu, kenapa dia tidak antarkan saja ke rumah ini, benar-benar gadis yang tak pernah punya rasa terima kasih.
Luna segera meminta Beni untuk mengantarkan ke sebuah tempat yang tertera dalam surat.
Beni yang siap-siap berangkat menjemput Dion dalam satu jam lagi, dia segera mengantarkan Luna ke tempat yang diminta.
Dion tidak keberatan, dia memilih pulang menggunakan motor lainnya.
Dipinggir kota ada tebing, biasa orang-orang gunakan untuk bermain parasut. dibawahnya mengalir sebuah sungai besar yang nampak mengerikan.
"Nona kenapa Nona Aluna kesini?" Beni mulai merasa ada yang aneh
"Angeline membawa seorang wanita, dan mengatakan dia adalah mama kandungku. Aku harus selamatkan dia."
__ADS_1
"Jadi Mama anda belum meninggal?"
"Dulu Bapak selalu bilang kalau ibu sudah meninggal sewaktu melahirkan aku, tapi dia tidak pernah menunjukkan dimana pusara ibu. Mungkin Bapak tidak ingin aku kecewa karena ibu lebih memilih merawat anak orang lain daripada putri kandungnya."
"Lalu apa yang akan Nona lakukan?"
"Beberapa bulan lalu ada wanita yang mengaku ibuku, namun wanita itu adalah Mama Angeline. Jika ibu memang bahagia dengan keluarga barunya aku tidak akan mengusik, tapi kini ibu dalam bahaya."
Aluna nampak bingung. dia takut wanita itu bagian dari rencana Angeline.
Mobil yang di kemudi Beni sudah sampai di bawah tebing, Aluna segera berjalan menuju lokasi dimana Angeline berada.
Angeline sudah menunggu dengan tak sabar, dia melipat tangannya di dada dan menatap Aluna dengan tatapan penuh kebencian.
Bagi Angeline, Aluna adalah sosok wanita yang selalu saja menjadi penghalang untuk kebahagiaannya.
ujung-ujungnya yang kalah adalah dirinya dan Luna menjadi pemenang.
"Jika demikian yang terjadi, ibu anda adalah orang yang jahat, Nona. Anda boleh saja tak perduli." kata Beni.
"Entahlah, semoga semua peristiwa ini akan menyadarkan ibu, anak tiri yang dibesarkan dengan penuh perasaan sayang, sekarang dia menjadikan dirinya taruhan.
"Anda tidak berhak memisahkan aku dan Nyonya, sudah semestinya aku menyelamatkan nyawanya," kata Beni.
"Baiklah, jika kamu tetap keras kepala lihat ini." Angeline mendorong kursi ibu semakin menepi.
"Jangan gila Angeline, dia orang yang membesarkan kamu."
"Ya aku tahu tapi aku benci dia karena dia adalah ibumu, di dalam tubuhnya mengalir darah yang sama dengan darahmu. Aku benci apapun dan siapapun yang berhubungan dengan kamu." Angeline terus saja berbicara tanpa rasa takut.
"Baiklah, jika dia ibuku, biar aku yang merawatnya, bawa kemari berikan padaku."
Luna mendekati Angeline tanpa rasa curiga sedikitpun, diraihnya kursi roda ibu. tapi Angeline menariknya kasar hingga pegangan di tangan Aluna terlepas.
"Berhenti Luna! jangan berani sentuh atau aku akan mendorong ibumu ke dasar sungai sana." Angeline mengancam Luna dan semakin mendekatkan Lasmi dengan jurang
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Luna semakin panik. Sedangkan ibu terlihat sudah ketakutan.
"Nah gitu dong tanya sejak tadi, hahaha, yang kuinginkan adalah suamimu. Berikan Dion untukku dengan menandatangani surat ini, atau kau akan menyaksikan kematian ibumu yang sangat menyakitkan."
__ADS_1
"Angeline, kamu sudah gila ya, ibuku juga ibumu.
"Tidak akan pernah, aku tidak sudi memiliki ibu yang sama denganmu"
Lasmi terus saja menangis, tak percaya anak yang dibesarkan dengan penuh cinta, ternyata tumbuh menjadi ular yang sangat berbisa, Sekarang ular itu sudah siap untuk menerkam inangnya.
"Jangan Nak, jangan pernah berikan suamimu pada wanita ini, biarkan ibu mati, ibu sudah tua dan sakit -sakitan, mungkin saja ibu sebentar lagi juga akan mati."
"Diam kamu wanita tidak berguna."
Plakk!
satu tamparan keras tepat di pipi wanita yang terikat dengan kursi roda itu.
"Angeline hentikan!!"
"Nyonya, anda pergi dari sini biar aku yang akan urus wanita gila itu." pinta Beni
"Heh, kacung ! jangan berani ikut campur, berani mendekat satu langkah, maka Nona kamu yang akan mati." Angeline kini mengambil pistol yang sudah si siapkan sejak tadi di dalam sakunya.
"Aluna dan Beni kini tak bisa berkutik, Beni diam-diam mengambil ponsel di sakunya, memberi kode pada Dion dengan menggunakan panggilan cepat, tapi sayang usaha itu sudah diketahui Angeline sebelum semuanya berhasil.
"Door." Angeline menembak tangan Beni, untung tembakan itu tidak tepat sasaran hingga hanya menyerempet kulitnya saja.
"Angeline, hentikan!" Aluna tidak mau Beni maupun ibunya terluka.
"Tanda-tangan sekarang atau aku berubah pikiran Luna." Desak Angeline
"Jangan Nak, jangan lakukan itu." kau tidak perlu selamatkan ibu"
Luna benar-benar dilema, di kondisinya yang hamil anak ke dua, dia sangat bahagia dengan keutuhan rumah tangganya. Di sisi lain, dia tidak mau melihat ibunya mati sia-sia dengan jatuh ke jurang.
"Cepat putuskan Luna, tanda tangani surat pernyataan kalau kamu ingin cerai dari Dion dan mengizinkan aku menikah dengan suamimu yang sangat tampan itu. Kamu tahu Luna dia adalah lelaki terhebat yang pernah aku temui, sentuhannya begitu memabukkan. rasanya sudah cukup kamu bersenang senang dengannya, kamu sudah memiliki banyak anak dari dia, jadi sudah waktunya dia kembali dalam dekapanku."
"Wanita sund*l kamu." Beni kini juga mengeluarkan pistolnya dari saku. "Bisa bisanya kamu menyakiti hati Nyonya."
" Biarlah Beni, aku sudah tahu hubungan kelam suamiku dan dia, dia yang menjebak suamiku lebih dulu." Aluna tersenyum sinis.
"Jika dia wanita baik-baik, harusnya malu mengatakan hubungan masalalunya tanpa status."
__ADS_1
"Diaaaaam!!!" Angeline tersinggung dengan kata-kata Luna baru saja.