
Orang orang segera berkerumun, mereka berharap bisa melihat pengendara mobil na'as ini.
Tiba tiba ada seseorang yang nekat membuka pintu, dan mengeluarkan tubuh. Adrian meski agak sulit. Nabila cepat kita bawa dia ke rumah sakit sebelum kehabisan darah, luka di kepalanya cukup serius."
"Tapi Kak, kalau kita bawa dia sekarang, bagaimana urusannya dengan polisi."
Nabila bingung, takut nanti ada masalah menimpa kakaknya.
"Nyawanya lebih penting, Na. Kasian dia jika kelamaan nunggu polisi nyawanya tak tertolong." Perintah laki-laki tinggi, tampan memakai seragam dokter itu.
Baiklah, Nabila segera mendekatkan mobilnya dengan mobil Adrian.
Dokter Jayden segera memindahkan tubuh lemah Adrian ke dalam mobilnya.
Setelah Adrian ditidurkan di kursi penumpang. Mereka berdua segera membawa mobil dengan kecepatan tinggi menuju RS.
"Kak, aku pernah ketemu dengan pria itu."
"Dimana?" Tanya Jayden pada Adiknya. Gadis itu sedang magang di rumah sakit milik keluarganya, yang sementara sedang di pegang oleh Jayden sendiri.
Dia pria yang membuat kue buatanku berantakan. Malam itu harusnya kakak memakan kue buatanku yang special. Tapi karena lelaki itu semua rencanaku gagal.
"Kuenya pasti tak enak, mangkanya tuhan nggak kasih izin buat makan kue itu." Kata Jayden mengukir senyum tipis..
"Kakak, juga jahat, harusnya kakak sedih, aku sudah susah payah membuatnya." Nabila memonyongkan bibirnya.
"Sudah, sudah, kamu kasih kejutan ke kakak di hari itu, sudah suka banget kok. Lain kali aku akan makan banyak kue buatanmu."
"Aku sudah malas buat kue, aku ingin fokus menjadi dokter saja seperti Kakak ku yang tampan," ucap Nabila.
Jayden menggelengkan kepala. Adiknya memang suka ngambek dan ke kanak-kanakan, itu alasan kenapa lelaki yang menjadi kekasihnya minta putus beberapa waktu lalu. Sekarang Nabila lebih memilih jomblo. Sedangkan Dokter Jay dia sengaja fokus ke karir, keinginan menikah belum terlintas sama sekali.
Jayden, melakukan semua itu bukan tanpa Alasan, tapi dia memilih hidup menjomblo karena wanita yang dia cintai bertahun ternyata dia memilih selingkuh dengan CEO suatu perusahaan ternama, saat itu provesinya masih sebagai mahasiswa. Dan kini dia sukses menjadi pemilik rumah sakit serta dokter .
Setelah sampai di rumah sakit Jayden segera menelpon perawat untuk menyongsong kedatangannya
Dua lelaki berseragam putih segera keluar membawa brankar. Dengan cekatan dia menurunkan tubuh Adrian sesuai instruksi dari Dokter Jayden.
"Langsung bawa ke UGD, aku akan segera memeriksa luka di kepalanya," perintah Dokter.
__ADS_1
Dua perawat laki-laki segera membawanya menuju UGD menyiapkan semua alat yang dibutuhkan oleh Dokter Jayden.
Nabila terlihat iba dengan kejadian na'as yang menimpa Adrian. Tadinya dia kesal dengan lelaki itu. Tapi setelah melihat tubuhnya tergolek lemah, Nabila jadi bersimpati.
"Nabila, ayo bantu kakak menangani operasi lelaki ini, tapi sebelumnya tolong kabari keluarganya."
Mata Adrian terpejam rapat. Hanya bibirnya yang terus bersenandung menyebut nama Luna meski lirih
"Kakak, siapa Luna? apa wanita itu yang dimaksud," tanya Nabila berusaha menyambung sebuah kejadian dengan pertemuan waktu itu. dan pasien bernama Luna.
"Iya, dia pasien Kakak beberapa hari lalu, dua hari lalu dia melakukan pemeriksaan ulang. dan dia selalu ada disini saat Luna sakit, " kata Dokter Jayden.
"Bibirnya terus saja menyebut nama Aluna, pasti pasien ini ada hubungan special dengannya wanita itu," terang Nabila.
"Baiklah, kita telepon Aluna saja lewat ponselnya. Jangan terlambat." Perintah Jayden pada Adiknya. Gadis itu segera ke ruang kerja kakaknya dan mencari data pasien yang sudah pulang dalam dua hari ini. Data itu kebetulan masih tertumpuk di meja.
Nabila segera menghubungi Aluna, kebetulan pagi ini Aluna sedang memakaikan dasi di leher Dion. Sedangkan suami Aluna itu terus memeluk pinggang sang istri yang ada di depannya.
"Sayang, ada telepon di ponsel milikmu, siapa kira-kira sepagi ini menghubungimu."
"Aku juga tidak tahu, biarlah aku lihat dulu, Sayang," kata Aluna.
Dion melepaskan pelukannya di pinggang ramping Aluna.
Aluna buru-buru memencet tombol merah, Aluna takut Dion akan salah paham. Masalahnya lelaki itu sedang ingin berangkat kerja. Dia tidak mau membuat suaminya berfikir atau malah bersedih.
"Sayang dari siapa?" Tanya Dion yang sudah menenteng totebag dan kembali memeriksa penampilannya di depan cer.
Aluna sudah tegang, antara jujur dan masa bodoh. "Dari …."
"Dari mana? Kenapa tegang begitu, Honey." Dion yang tadinya sudah siap berangkat kerja kini harus meletakkan kembali totebag di atas meja rias.
Jika Aluna tak bisa bicara pasti ada alasan lain, Dion meminta ponsel istrinya yang ada di genggamannya.
Dion melihat daftar panggilan masuk. Dari semua daftar panjang, hanya ada namanya, tapi pagi ini ada nama Adrian.
"Lelaki itu kenapa menghubungimu?"
"Aku tidak tahu, Anda bisa tanya sendiri."
__ADS_1
Saat ada sedikit ketegangan antara Aluna dan Dion, ponsel di tangan Dion kembali bergetar. Dengan buru-buru Dion menerimanya.
"Hallo!" Suara Dion sedikit kencang.
Hallo, maaf ini pasti suami Nona Luna, aku hanya ingin memberitahu lelaki pemilik nomor ponsel ini sedang ada di rumah sakit, jika anda kenal dengan keluarganya saya mohon hubungi sekalian.
Dion mengangguk, seolah lawan bicaranya bisa melihat. "Baiklah, aku akan kesana sekarang."
Dion mengakhiri panggilan dengan Dokter Jayden. Lalu dia menghubungi Selena, tapi panggilannya lama tak diangkat, Dion mengirimkan pesan saja. Raut panik di wajah Dion membuat Aluna tahu pasti ada yang serius.
Dion menatap sang istri. Lalu memberi tahu kabar duka ini.
"Adrian ada di rumah sakit, Dokter Jayden sedang merawatnya."
"Apa yang terjadi?" Aluna tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.
"Kecelakaan, mobilnya menabrak pohon, dia pasti melamun, atau mengantuk."
Dion melepas jas hitamnya, dia hanya memakai kemeja dan celana kantor. Sedangkan Aluna yang memakai baju seksi, dia segera merubah penampilannya dengan baju yang sopan walau simple.
Dion dan Aluna segera menuju rumah sakit, dia bisa dengan mudah menemui dokter, rupanya selena sudah tiba terlebih dahulu, ada Chela dan juga Alex.
"Apa yang telah terjadi?" Tanya Aluna ketika baru sampai.
Selena dan Chela terlihat usai menangis histeris, semua terlihat dari matanya yang sebesar bola pingpong.
Dion dan Aluna sama sama menunggu jawaban dari dua orang didepannya, saat ditanya mereka malah menangis lagi.
"Aluna aku minta maaf, jika selama ini selalu bersikap tak baik padamu" Chela bersikap baik pada Aluna, dan ini pertama kalinya gadis itu memeluk tubuh Aluna, yang dulu selalu jijik dan paling dibenci.
Aluna membiarkan Chela memeluk tubuhnya sepuasnya, Aluna hanya diam seperti patung tak ada keinginan untuk membalas dekapan Chela.
"Sudah, yang lalu biar berlalu, aku sudah melupakan semuanya harusnya aku berterima kasih, karena semua itu, aku bisa bertemu dengan lelaki jelmaan malaikat seperti suamiku." Aluna menoleh ke arah Dion yang memasang wajah tenang di dekatnya. Bibir Aluna terangkat dan bangga pada Dion yang memiliki semua kriteria idaman wanita.
"Apa tidak sebaiknya kita masuk, aku ingin melihat kondisi Adrian," kata Dion.
Aluna masuk, dia melihat Adrian yang berbaring, sudah mirip dirinya tempo hari, tapi sepertinya luka di kepala Adrian lebih parah.
Jayden meminta Aluna dan Dion masuk ke ruang pribadinya, dia ingin berbicara banyak hal dengan Luna, setelah berdiskusi dengan keluarga Adrian. Pasalnya keluarga Adrian tak bisa menyampaikan sendiri karena perlakuan buruk terhadap Luna dimasa lalu.
__ADS_1
"Kenapa meminta kami kesini Dokter? Tanya Dion yang mulai penasaran.
"Iya, apa yang terjadi, Dokter?" Aluna juga penasaran.