Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 156. Nyaris kepergok.


__ADS_3

Adrian terlihat merenung di dekat jendela mengamati pelayan di halaman rumah yang sedang sibuk, sambil melihat foto Aluna di ponselnya. 


"Kenapa yang dikatakan Dion sangat bertolak belakang dengan perasaan ini. Tidak mungkin aku membencinya jika sekarang di dekatnya aku sangat bahagia. Dion pasti berbohong." 


Adrian menggerakkan kursi rodanya menuju kamar Aluna. Rian ingin mengucapkan selamat pagi untuknya, sekalian bertanya kenapa semalam tidak datang di kamarnya. 


Ceklek! Kamar Aluna tidak dikunci. Adrian bisa membuka dengan mudah. 


Adrian kembali menggerakkan kemudi kursi roda memasuki kamar Aluna yang kosong. 


"Aluna tidak di kamar ini, lalu tidur dimana Dia?" Adrian berbicara dengan hatinya sendiri. 


Adrian tak menemukan Aluna, dia nekat bertanya pada bibi yang sedang memasak. 


"Bi, kemana Aluna? Kenapa pagi buta sudah tak ada di kamar."


"Nona Aluna … emm … di-dia dia ada di kamar."


"Bi ngomong yang jelas, jangan seperti orang tersedak tulang ikan." Adrian mulai bertanya dengan nada suara diliputi amarah. Dia tidak suka mendapat jawaban bertele tele. 


"Nona Aluna membersihkan kamar Pak Dion. Karena lama tidak dipakai, jadi pak Dion complain."


"Sepagi ini?"


"Iya, karena pak Dion mengeluh nggak bisa tidur, kamarnya kotor."


"Kenapa harus Aluna Bi! Kenapa tidak kalian saja, percuma saya gaji kalian semua, tapi ternyata, istriku harus tetap bekerja." Adrian kini terlihat kesal sama bibi, berfikir kenapa harus Aluna yang bersihkan, padahal ada banyak asisten di rumah ini. 


"Maaf Tuan." Bibi salah lagi, diam salah, berbicara makin salah.


Sedangkan di kamar tamu yang disinggahi Dion nampak pergumulan panas. Dion dan Aluna sedang memadu kasih. Suara rintihan dan erangan terdengar memenuhi kamar, untung ada peredam di dalamnya membuat suara  teriakan kecil mereka tak terdengar hingga luar kamar. 


"Kau sekarang sudah pintar memanjakan Tiger. Honey."


Aluna malu dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dion. 


"Kau yang mengajarinya, Sayang." Aluna melingkarkan tangannya, memeluk Dion erat.


Dion membalas pelukan Aluna. Kau murid yang sangat seksi dan cantik." Dion mengecup bibir Aluna.Aluna menghindar tapi terlambat.


 Mereka berdua masih sama-sama polos. Tubuhnya hanya dibalut oleh selimut.


"Sayang, semoga kamu cepat hamil ya. Aku tak sabar memiliki anak yang lucu dan menggemaskan, anak kita nanti pasti akan mirip aku," kata Dion 


"Iya, semoga saja aku cepat hamil. Setelah aku pikir pikir, aku tak perlu menunda, aku tak mau mengorbankan kebahagiaan suamiku demi orang lain."


Aluna dan Dion kini saling berpagutan, memulai percintaan mereka dari awal lagi. 


Dion memeluk Aluna dan kembali menaiki tubuh mungil yang sedang menatap pasrah dirinya, Dion selalu ingin menambah frekuensi hubungan mereka disaat Aluna masa subur. Dengan harapan pasukan yang dikirim Dion bisa segera memenangkan pertempuran di rahim Aluna.

__ADS_1


Dion dan Aluna kembali melakukan penyatuan, peluh Dion menetes karena pagi ini dia bekerja sangat keras daripada Aluna, Dion terus membuat Aluna melayang dengan permainan baik tempo cepat maupun lambat. 


Saat akan menuju puncak tiba-tiba ada yang datang mengganggunya. Suara ketukan pintu yang semakin lama semakin keras.


Sayang, jangan-jangan itu pak Rian yang sudah bangun, bagaimana ini, dia pasti akan curiga." Aluna terlihat panik. 


"Tenang dulu, sekarang pakai bajumu, Honey." 


Orang diluar terus mengetuk, semakin lama terdengar semakin tak sabar. Terlihat dari cara dia mengetuk dengan tempo cepat. 


Dion segera memakai bajunya dan bersembunyi di kolong ranjang, sedangkan Aluna segera merapikan rambutnya yang lengket dan basah oleh keringat. 


"Tunggu sebentar!" Aluna membuka pintu dengan tangan gemetar.


"Lama sekali bukanya, apa yang sedang kalian lakukan." Adrian menatap Aluna penuh curiga. 


"Emm, tadi aku bersihkan kamar ini karena sudah lama kosong. Dan mumpung pak Dion sedang joging jadi aku pikir waktu yang tepat." Kata Aluna yang memegang kemoceng di tangannya. Nafasnya masih belum teratur.


Tubuhnya panas dingin, karena selama hidup Aluna tak pandai berbohong. 


"Jadi sekarang Dion tak ada disini!" Tanya Adrian dengan aura penuh selidik.


"Maksud Mas?" Aluna mencoba memanggil Rian dengan Mas, supaya tidak terlalu kaku jika di dengar.


"Sudahlah lupakan saja, mari kita keluar, biar bibi yang selesaikan semua, pagi-pagi kamu sudah berkeringat begini."


Rian meraih jemari Aluna meletakkan kemoceng di atas nakas.  Kini Rian memutar kursi roda hendak keluar, Aluna membantu Rian mendorong kursi roda, meski Adrian sebenarnya bisa menjalankan kursi rodanya sendiri dengan tangannya.


Sayang, mulai sekarang stop lakukan pekerjaan kasar, aku akan menebus semua kesalahanku dulu dengan membuatmu bahagia." Adrian menggenggam kedua telapak Aluna. Setelah berujar demikian. 


"Sayang, berdandan yang cantik, pagi ini sebagai permintaan maaf ku selama ini aku ingin kita keliling di taman, dan nanti malam kita Dinner berdua."


"Ti-tidak perlu. Aku ingin dirumah saja. Mas Rian belum sembuh, kan?" 


"Tidak, ini sudah janjiku, aku ingin bahagiakan kamu dan menebus kesalahan masa lalu. Luna aku sayang sama kamu, aku tak mau kamu pergi"


"Tapi sekarang Mas sedang sakit. Aku ingin acaranya ditunda dulu, setidaknya sampai anda ingat semua. Baru kita Dinner.


"Bagaimana jika seumur hidup aku tidak bisa ingat bagian yang hilang itu, jika itu menyakitkan biarlah hilang selamanya dari memori ini," kata Adrian menatap manik hitam Aluna yang membingkai wajahnya di dalamnya. 


Belum sempat menolak lebih serius, Adrian sudah menghubungi Argo dan meminta untuk mengatur semuanya. 


"Sayang, jangan terlalu merisaukan kesehatanku, aku sudah sembuh, hanya saja aku sedikit manja meminta perhatianmu." Adrian tersenyum genit.


Dion yang ada di bawah ranjang keluar dengan hati-hati, dia sangat kesal harus bernasib sial di saat hari masih sangat pagi. Ditambah lagi rasa cemburu yang besar kini membuat dadanya bergemuruh. Meski semua sandiwara, tapi Dion tetap cemburu saat Aluna harus makan malam romantis dengan mantannya.


Aluna diam seribu bahasa, sambil mencari cara bagaimana baiknya supaya Adrian tetap tak curiga dan Dion tidak terluka.


"Aku mandi dulu. Aku takut banyak kuman menempel di tubuhku setelah bersih bersih," ujar Luna meninggalkan Adrian sendiri di ruang tengah menuju kamar. Sedangkan Dion sedang mencari cara untuk membuat makan malam mereka batal.

__ADS_1


****


Di kamar Luna menghubungi Nabila. Dia butuh teman untuk berbagi cerita.


"Na, aku ingin tanya banyak hal."


"Iya, Luna, tanya saja, pasti perihal tentang Adrian, jika bisa pasti aku aku akan jawab, jika tidak biar kakakku yang menjawabnya."


"Na, Adrian sudah semakin sembuh, tapi kenapa belum ingat apapun. Bukankah kata Dokter Jayden akan sembuh pelan-pelan. Pusing Na, jadi istri palsu, aku juga punya suami sah, kalau makin sembuh dan minta aneh aneh gimana? Suamiku sudah nggak tahan Na, aku kayak gini.


"Hihi, sabar, kuncinya cuma sabar,"


"Na pernah dengar orang pura pura Amnesia nggak?"


"Sering, buat ngedapetin sesuatu yang diinginkan, biasanya orang sering pura pura."


"Menurutmu Adrian pura pura nggak, Na?" 


"Entahlah, karena, nanti biar Kakak yang jelasin semuanya, Kakak masih mandi, atau nanti biar kita mampir ke rumah Adrian sebelum ke RS. 


"Iya, Na. Tolong. Aku juga takut jika malam hari tiba-tiba Adrian minta haknya sebagai suami."


"Wah, gawat kalau begitu ceritanya."


Dari arah luar, Dion dengan langkah kaki kucing masuk ke kamar Aluna. Aluna terkejut bukan main khawatir Adrian dengar semuanya. 


"Aku tidak setuju jika nanti malam kamu akan dinner dengan Adrian." Kata Dion sambil menghempaskan pantatnya di ranjang. 


"Tapi aku tidak bisa menolak, bagaimana kalau Adrian sakit lagi dan makin parah karena berpikir aku tak mencintainya, apa kamu bisa menutup mata jika sepupu mengalami hal menyedihkan seperti itu ."


"Tapi bukan berarti dengan kamu memberi harapan seperti ini, tadi saja kita hampir ketahuan. Aku kayak kekasih gelap dan dia suami sah tau nggak."


Aluna tersenyum melihat Dion marah, Aluna segera merayu suaminya dengan duduk di pangkuan Dion. "Baiklah, kasih aku solusinya!"


Dion memutar tubuh Aluna dan menidurkan di ranjang. "Solusinya kita pergi dari sini, aku ingin kita honeymoon di luar negeri. Segera hamil dan beri aku banyak anak, biar aku semangat menjalani hari hariku. Aku ingin sekali ada yang memanggilku papi."


"Aku juga mau seperti itu, tapi kadang kita harus memikirkan orang lain, ini demi kemanusiaan." kata Aluna mulai merayu Dion dengan mengecup bibir suaminya. 


Dion dan Aluna kembali meneruskan yang sempat tertunda, sedangkan Adrian di bawah bersama kolega dan bawahan yang membesuknya.


Setelah mereka berdua mencapai puncak, Dion dan Aluna sama sama mengatur nafasnya.


"Aku lelah, aku tak bisa ikut ke kantor," eluh Aluna.


"Istirahatlah sayang, maaf sudah buat kamu lelah."


Dion segera berkemas dan siap-siap ke kantor. Dia keluar kamar dengan hati-hati tak mau sampai Adrian curiga. 


Sampai di lantai bawah, Dion bertemu dengan Adrian. Adrian dan Dion saling menatap sekilas, dari tatapan yang tak bersahabat, Dion mencium aroma-aroma curiga dari pandangan lelaki yang berada di tengah-tengah koleganya itu.

__ADS_1


'


__ADS_2