Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 264. Pria yang sama.


__ADS_3

Luna menghentikan langkahnya kala melihat lelaki tampan memakai tukedo hitam juga menatap dirinya.


"Enzo!"


"Luna!" wajah Luna mendadak tegang.


Enzo segera menggamit tangan Chela dan membawanya ke tempat yang sepi, di salah satu ruangan yang ada di hotel.


Chela, aku ingin jelaskan padamu


"Soal apa? kenapa kamu panik? lagi sakit perut?" Chela terus saja mencecar Enzo dengan pertanyaan konyol.


"Setiap orang punya masalalu kelam Chela, ada yang harus kau tahu sekarang, aku bukanlah laki laki baik, tapi untuk saat ini aku ingin sekali menjadi laki-laki baik.


Entah kenapa Enzo begitu semangat mengatakan semua pada Chela. Enzo takut Chela tahu lebih dulu dari orang lain.


Dari kepanikan Enzo, dia yakin sudah mulai suka dengan Chela, bibit-bibit cinta sesungguhnya sudah tumbuh sejak pertama kali bertemu.


"Luna, yang ada diluar sana, dia dulu adalah wanita yang aku sayangi. dia pernah menjadi sosok penting dalam hidupku."


" Mbak Luna?" Chela menutup bibirnya, tak percaya lelaki di depannya pernah terobsesi dengan Luna.

__ADS_1


"Jadi kalian pacaran?" tanya Chela.


"Bukan pacaran, lebih tepatnya aku yang mengejarnya, dia begitu setia dengan suaminya."


Chela menutup mulutnya yang menganga membentuk huruf O. "Aku nggak nyangka."lirihnya.


Enzo panik melihat Chela tak mudah mengerti, didorongnya tubuh Chela hingga menempel dinding, lalu kedua tangan Enzo mengunci Chela agar tak pergi sebelum bicara, Enzo khawatir Chela membatalkan pernikahan ini.


"Semua orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, jangan hukum aku dengan masa lalu yang kelam, sedangkan hari ini aku ingin serius denganmu Chela."


"Apa benar anda sudah tak mencintai Mbak Luna," tanya Chela.


Chela tersenyum, ada haru yang membuat matanya berkabut. "Aku juga bukan gadis baik dan lugu seperti yang kakak lihat, kita sama, mungkin masalaluku lebih memalukan."


Enzo lega, Chela tak masalah dirinya mantan napi, Chela juga pernah mencium aroma sel, Andaikan tidak dengan kebaikan Jessica, mungkin dia sampai saat ini masih mendekam di dalamnya.


Luna yang menceritakan pada Dion tentang mempelai laki-laki yang tak lain adalah Enzo.


"Enzo sudah bebas?" Adu Luna pada suaminya.


"Ya, tenang Sayang, aku selalu ada di dekatmu." Dion memeluk istrinya yang gusar.

__ADS_1


"Kita pulang, besok saja kita jelaskan pada keluarga ini, tentang siapa Enzo yang sebenarnya."


Aluna menurut, dia masuk ke dalam mobil, sedangkan Dion menghubungi Mama Melani dan Papa David. kalau dia terpaksa pulang dulu dengan alasan Luna sakit kepala.


Alasan Dion tak sepenuhnya berbohong. Ya, Luna memang merasakan sakit kepala dan harus segera di buat istirahat.


Mobil Dion melaju hati-hati menuju rumah megahnya. Disana kedatangan Dion langsung disambut oleh security.


Dion tak sabar menunggu Luna berjalan pelan seperti keong. Diangkatnya tubuh mungil istrinya dan dibawanya naik ke lantai dua, kamar mereka. melewati lift pribadi di rumahnya.


"Kok bisa mendadak jadi sakit, ratuku?" bisik Dion di telinga Luna.


"Tidak sakit, aku hanya pusing saja.


"Benarkah hanya pusing saja? jangan pernah berbohong kepadaku soal kesehatan."


"Tidak Sayang, kau pasti tau ini hanya sakit ringan. Aku akan baik baik saja" Senyum tipis terbit di bibir Luna.


Dion membiarkan istrinya istirahat, Dion berharap Luna tidak sakit karena melihat Enzo yang akan kembali di lingkaran keluarganya.


Dion mematikan lampu, karena si kecil belum pulang. Dion ingin sekali memanjakan ibunya. Dipeluknya tubuh Lina, dia biarkan bahunya menjadi bantal ternyaman.

__ADS_1


__ADS_2