Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 179. Sendiri. Menenangkan hati.


__ADS_3

Dion selalu menatap kearah luar jendela, hari makin malam tapi dia belum juga sampai. "Sial kenapa harus macet. Tidak bisakah keadaan ini sedikit bekerja sama."


Macet pajang sekali Pak, semenjak satu sisi jalan diperbaiki, kita harus antri karena dua jalur berlawanan dijadikan satu."


Notif pesan kembali terdengar di ponsel Dion. Kali ini bukan lagi Video, melainkan foto foto Aluna dan Adrian yang kelihatan mesra, padahal mereka sedang saling menguatkan dan menghibur. 


"Ini tidak adil!  Ini tidak adil! Bisa bisanya mereka curangi aku yang tulus mencintai ini. 


Bagaimana istriku tidak mengandung bayiku, dan bagaimana bisa dia ingin lelaki lain yang ada di dekatnya daripada aku. 


Hanya kehancuran yang dirasakan oleh Dion sekarang. Dia belum pernah merasakan sehancur ini sebelumnya. 


Sopir taksi yang melihat penumpangnya tengah terguncang, dia bertanya. "Apa anda baik-baik saja."


"Iya, aku masih baik-baik saja. Jangan khawatir" Dion meremas ponsel di tangan dengan tangan besarnya, hingga kaca ponsel mahal di tangannya nyaris pecah. 


"Aluna salah besar selama ini aku percaya kalau kau mencintaiku, kau tak pernah mencintaiku sama sekali. Hanya lelaki itu yang kau inginkan." Dion meratapi betapa malang dirinya. Kini dia tenang di dalam taksi itu dengan pemandangan kemacetan serta lampu kota, tak ingin buru buru sampai di klinik. Lelaki yang diinginkan Aluna sudah ada disana. 


Pak, Clinik Kasih Bunda sudah dekat, hanya tujuh ratus meter dari sini, kalau anda tidak sabar, anda bisa menempuh dengan jalan kaki. 


"Tidak, putar balik saja, aku sangat lelah, aku akan menunggu sampai di rumah saja. 


Dion merasa kali ini dia tak akan bisa memaafkan Luna dan Adrian lagi, jika memang terbukti benar dia darah daging Adrian, Luna dan Adrian harus sama-sama menerima hukuman pengkhianatan yang dilakukan selama ini.


Taksi terpaksa harus putar balik sesuai keinginan Dion. Dion tak mau mengganggu Aluna dan Adrian yang asyik betduaan. Sepertinya kesabaran yang selama ini diberikan untuk Aluna sudah habis. 


Dion segera menuju penthouse, saat kali jenjangnya menginjak ruang tamu, Dion sudah melihat secangkir kopi yang isinya tinggal setengah, dan ada beberapa puntung rokok yang tergeletak di asbak.. 


Dion sudah tahu siapa pemilik kopi itu, Beni tidak merokok dan minum kopi, begitu juga dirinya yang sudah mengganti minumnya dengan susu dan tak konsumsi rokok karena keinginan Aluna.


Dion menaruh totebag miliknya di atas meja di sebelah kopi sisa. Lalu menghempaskan pantatnya di sofa. Dalam sunyi Dion menangis sendiri. Sepertinya dia sekarang harus berterima kasih pada siapapun orang yang terus memberinya informasi tentang perilaku Aluna dibelakangnya.


Kandungan Aluna tidak perlu di kuret, setelah dilakukan USG dan sisa sisa darah sudah bersih, Aluna boleh pulang,karena istirahat di rumah lebih nyenyak daripada di klinik. Dokter berjanji esok pagi dia akan berkunjung ke penthouse miliknya. 


Aluna yang sudah selesai diperiksa dia segera duduk. "Dokter apakah aku masih bisa hamil lagi?" Tanya Aluna takut tak bisa hamil. 


Dengan senyum tipis memberi kesejukan, dokter pun menjawab. " Tentu masih bisa, dan kebanyakan pasien kuret akan cepat hamil lagi karena rahim dalam keadaan bersih. 


Aluna lega, dia mengelus perutnya yang rata, berharap setelah kehilangan bayinya yang baru berusia satu bulan, akan ada lagi embrio baru dari Dion yang akan tumbuh. 

__ADS_1


Aluna masih belum siap memberi tahu kejadian ini pada Dion, Dia berjanji setelah Dion pulang akan menceritakan semuanya. Bicara secara langsung saat di rumah akan lebih baik daripada harus bicara lewat telepon yang hanya akan menimbulkan salah paham. 


Aluna turun dari brankar, diapit ole Nabila dan Adrian, Beni sibuk menata tempat duduk Aluna dan membuka pintu mobil dengan lebar


"Tolonglah, anda pergi saja, pulang saja!" Aluna memohon. Sedikit mendorong tubuh Adrian, menatap Adrian penuh kebencian. Andaikan Adrian tidak perlu mengembalikan cincin itu, bayinya akan bertahan sampai saat ini. 


"Oke, aku akan pulang, aku akan pergi tapi setelah memastikan kau sudah sampai rumah dalam keadaan baik-baik saja."


"Berhenti pedulikan aku, ngerti!! Aku sudah tidak butuh kamu lagi, tolong mengertilah!" Aluna menangkupkan kedua tangannya.


"Baiklah Luna, baiklah, jika kamu ingin aku pergi aku akan pergi dari hidupmu, tapi izinkan aku mengantarmu hingga sampai di mobil." Adrian terlihat bersabar. Hanya sesekali pandangan  Adrian bertemu dengan Nabila seolah meminta pendapat. Nabila mengangguk.


Aluna tak bisa terlalu keras dengan Adrian. Dia memilih mengizinkan Adrian mengantar hingga sampai mobil. 


Adrian memastikan Aluna sudah duduk dengan posisi benar, lalu Adrian menutup pintu yang paling dekat dengan Aluna. Sebelum pergi berbisik dengan Nabila. Nabila menganggukkan kepala lalu segera masuk lewat pintu yang satunya, dan duduk di sebelah Aluna. 


"Kita langsung jalan Ben," perintah Aluna. 


Tapi mobil Adrian masih ada di rumah kita. 


"Biarlah, biar dia kesana naik taksi. Aku tidak mau dia terus saja ada di dekat ku sementara suamiku sangat cemburu dengan keberadaan dia." Aluna berusaha tegas dengan Adrian.


Sampai di parkiran, ternyata Adrian sudah sampai lebih dulu. Adrian datang hanya untuk mengambil mobil saja. Tapi dia tak tega melihat Aluna yang kesakitan saat berjalan. 


Adrian yang hendak masuk mobil, bahkan tangannya sudah menyentuh handle kini dia terpaksa melepasnya lagi. 


Adrian membantu Aluna meski Aluna menolaknya dengan cukup agresif. "Walaupun itu bukan kamu aku akan tetap menolong," desis Adrian nyaris tak terdengar. 


Aluna yang memang butuh bantuan, dia kembali diam ketika tubuhnya kembali berada dalam dekapan lelaki yang kini jantungnya berdetak kencang karena mengangkat tubuhnya yang tak ringan lagi. 


Aluna tidak gemuk tapi agak tinggi, bobot lima puluh lima sudah ideal, tapi Aluna suka saat bobot tubuhnya lima puluh tiga saja. 


Sampai di depan pintu lift Adrian menurunkan Aluna. Nabila mengekor di belakang dengan perasaan yang sama hancurnya dengan Aluna. Aluna kehilangan bayi, dan Nabila kehilangan kekasih. 


"Na, jaga dia baik-baik, dia sangat ceroboh dengan kesehatannya. Ingatkan dia jika bandel apalagi malas makan."


"Anda sangat cerewet, seperti anda suaminya saja," celetuk Nabila terbersit sedikit rasa aneh, mungkin cemburu tapi masih bibit karena rasanya tak begitu menyakitkan.


Aluna sudah menginjakkan kakinya di halaman terakhir gedung. 

__ADS_1


Dia memutar handle pintu, betapa terkejutnya ternyata pintu tidak terkunci lagi. 


Aluna dan Nabila segera masuk, Aluna terkejut Dion berdiri tegap di dekat jendela kaca dengan tangan dilipat di dada, terlihat dadanya membusung dan matanya merah.  


Dion sudah melihat semuanya, bahkan Dion tau Aluna digendong Adrian menuju lift. Semua keraguan Dion kini lengkaplah sudah, Aluna diam-diam membiarkan Adrian terus memberinya perhatian lebih, sedangkan Adrian sama sekali belum bisa melupakan Aluna. 


"Sayang kapan kau pulang?" Aluna menahan tangisnya, ingin sekali dia segera mengadukan tentang nasib bayinya yang malang. Tapi melihat Dion lelah dan matanya merah Aluna mengurungkan niatnya. 


Aluna memeluk hangat tubuh suaminya yang dirindukan dan merebahkan kepalanya pada dada bidang yang masih mengenakan jas kantor itu. Karena Dion sangat buru-buru saat pulang tadi hingga dia tak sempat untuk ganti baju santai. 


"Sayang, aku merindukanmu, syukurlah kau pulang cepat."


"Lepas," kata Dion lirih, meminta Aluna mrnjsih. "Wanita sepertimu tak pantas disebut istri. Tapi pengkhianat!!" Dion meninggikan kata-katanya diakhir kalimatnya. Mendorong tubuh Aluna dengan kasar hingga Aluna tersungkur dilantai. 


Aluna masih tidak mengerti kenapa Dion begitu marah, Aluna yakin Dion pasti tak sengaja atau salah bicara, Aluna kembali bangkit dan memeluk suaminya untuk yang kedua kalinya. "Sayang, maafkan aku, aku tak menyambutku pulang, aku baru pulang dari klinik dan …." 


"Hahh … pergi dari sini! Pergi!" Dion mengusir Aluna dan menunjuk pada pintu keluar. Dion juga berlari ke kamar dan memasukkan barang-barang Aluna ke koper, lalu menyeret koper itu hingga di luar penthouse.


"Pak Dion, anda pasti sedang salah paham." Nabila berusaha memberanikan diri untuk ikut menjelaskan. 


"Diam! Menyesal aku telah mempercayai kamu. Dibayar berapa kamu dengan lelaki itu untuk tutup mulut, hingga kau diam saja melihat semua ketidakadilan ini."


Aluna yang baru kali ini melihat sisi buruk suaminya, jujur sangat kecewa, Bisa bisanya Dion memperlakukan dirinya dan Nabila begitu buruk. 


Aluna berdiri, memegangi perutnya yang masih nyeri, sudah payah dia berisahavkeluar dari penthouse. Aluna sangat terhina dengan sikap Dion yang membuang koper hingga di depan pintu. 


Aluna menangis meratapi nasib, ini salahnya, masa muda tidak digunakan untuk menggapai mimpi yang tinggi malah memutuskan untuk menikah, dan dia kini terjebak dalam lingkaran cinta dua CEO yang ujungnya hanya membawa luka yang terdalam. 


"Mbak Luna? Benar nggak apa apa pergi dalam kondisi seperti ini?"


"Terus kamu pikir aku akan tetap tinggal disini? Setelah suamiku membuang semua baju baju ini?" Aluna memungut gagang koper dan menyeretnya menjauh dari penthouse Dion. 


Sepanjang perjalanan menuju angkutan umum Aluna menangis sesenggukan tanpa suara. Nabila ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa sahabatnya. 


" Mbak Luna, tinggallah dirumahku," pinta Nabila


"Tidak Na, aku akan mencari kos saja," tolak Aluna.


Aluna menolak karena Aluna tahu ada lelaki bujang dalam rumah Nabila. Doa tidak mau akan ada gosip yang beredar lebih buruk lagi. 

__ADS_1


Aluna kini benar benar hancur, usai kehilangan bayinya dia harus kehilangan suaminya. Bahkan Aluna juga tak kembali ke kontrakan lamanya, karena disana ada banyak sekali kenangan manis saat bersama Dion dan juga barang barang  pemberiannya. 


Meski merasa diperlakukan tidak adil, tapi Aluna yakin kesalahannya sangat besar hingga Dion bisa berubah begitu drastis, dan sulit memberi maaf.


__ADS_2