Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 198. Seperti remuk.


__ADS_3

Aluna yang dipengaruhi obat terkutuk itu bermain begitu liar, membuat Dion harus tersenyum berulang kali. 


Saat menatap mata indah milik istrinya yang mulai sayu, Dion merasakan rasa bersalah yang amat besar. Betapa Dion telah menyia-nyiakan Aluna hingga dia merasakan penderitaan yang amat dalam. 


Dion memeluk Aluna dengan erat, membiarkan wanitanya mencapai klimak sebanyak yang dia inginkan. Dion benar benar mengabdikan tubuhnya untuk Aluna malam ini, dia berharap wanitanya segera terlepas dari pengaruh obat yang sekarang malah membawa keberuntungan untuk Dion itu. 


Kamar yang menjadi kamar Enzo setiap kali berkunjung di Singapura kini berubah menjadi kamar bulan madu untuk Aluna dan Dion. 


Setelah Aluna kelelahan memimpin permainan, Dion segera merubah posisinya dengan memeluk Aluna lalu memiringkan tubuhnya, setelah Aluna di sampingnya Dion segera membuat terlentang dan menindih tubuh sintal sang istri. 


"Sayang apakah masih ingin lagi? Gimana rasa tubuhmu sekarang setelah kau keluar berkali kali," bisik Dion yang mulai memperlambat permainannya karena Aluna baru saja mengalami pelepasan. 


Perlahan pengaruh obat itu mulai surut, Aluna mulai bisa melihat tubuh yang mengungkungnya dengan jelas. 


Dion masih terus memompa tubuh aluna hingga dia juga merasakan tubuhnya ingin meledak. Dion semakin kuat memompa membuat tubuh Aluna terguncang hebat. 


Aluna yang tak tahan dengan sensasi liar yang diberikan Dion dia harus meremas ujung bantal dan menggigit bibir bawahnya. Matanya merem melek merasakan dinding rahimnya terus mendapatkan hentakan begitu kuat.


Lima belas menit dalam posisi Dion memimpin permainan akhirnya lelaki perkasa itu menyerah juga. Dion merasakan ribuan pasukannya berlari keluar menembus pintu utama dan menyerang gerbang lawan hingga sampai ke tempat tujuan terakhir.  Benih premium milik Dion mengisi rahim Aluna hingga penuh, bahkan ada sebagian yang tumpah. 


Aluna mulai mengantuk setelah hasratnya terpuaskan. 


"Hap … hap … hap" Nafas Dion megap megap seperti berlari di siang bolong sejauh lima kilometer.


Dion sangat bahagia bisa membuat istrinya terpuaskan. Dion menyibak kembali rambut yang acak-acakan dan dia tempelkan hidungnya lama sekali di pipi Aluna. "Thanks honey … ini adalah malam yang sangat membahagiakan untukku. Kau sangat seksi ketika bergairah seperti tadi."


Aluna memeluk kepala Dion dan menenggelamkan di ceruk lehernya. Aluna belum bisa berfikir jernih pandangannya masih sama berkunang kunang dan kurang jelas, Aluna butuh tidur nyenyak setelah terlepas dari jerat menjijikkan ini.

__ADS_1


 Obat dosis tinggi yang dia minum telah membuatnya seperti wanita murahan yang selalu ingin mendapat belaian.


"Tidurlah Honey, kau sepertinya juga lelah. Katakan saja jika masih ingin lagi" kata Dion yang merasa Aluna lebih banyak diam. Dion melorotkan tubuhnya ke samping Aluna. Dan terus memandangi wajah cantik istrinya tanpa bosan. 


Dion berharap tubuh Aluna akan kembali normal lagi dari pengaruh obat pemberian Enzo, sementara ini dia hanya diam saja dan raut wajahnya sulit untuk ditebak. 


"Sayang, tolong jangan diam saja, bicaralah." Jemari Dion mengelus pipi Aluna, lalu mencari jemari lentik milik sang istri, Dion menyatukan tangan berdua dan mengecupnya.


"Sayang, untung aku menginap di tempat yang sama denganmu dan Enzo. Selama di ibu kota, aku mencarimu tiada henti, aku bisa menemukanmu, tapi kau malah pergi tanpa meninggalkan jejak lagi." Kenang Dion menceritakan masa pencariannya. 


"Bagaimana jika aku terlambat, atau aku menginap di hotel lain, pasti kita tidak akan bertemu." kata Dion meratapi kemalangan demi kemalangan Aluna terakhir ini.


Dion tak henti berterima kasih pada sang pencipta, meski hanya dalam hati, Dion tak menyangka pertemuannya dengan Aluna pada waktu yang sangat tepat.


Sebenarnya Dion saat tiba di hotel X ini, badannya sedang kurang fit, karena akhir-akhir ini sering telat makan, bahkan Dion pernah seharian tak makan sama sekali hingga timbul penyakit maq bersarang di tubuhnya.


Beni mendengar ada kabar baik, rupanya ada salah satu penghuni Apartemen menggelar pesta dan seluruh penghuni bisa datang. Beni sangat suka pesta, pasti di dalamnya ada makan gratis dan aneka minuman gratis. Beni sudah lama berpetualang ikut bosnya keliling dunia, mungkin ini waktu yang baik untuk Beni mencari kebebasannya.


Beni mendatangi pesta dengan pakaian rapi malam ini, Beni berharap akan menemukan jodohnya di negara ini 


Setelah tiba di acara pesta, Beni sangat terkejut. Ternyata wanita yang beberapa hari ini dicarinya, kini malah ada di depannya. 


Beni tidak mau gegabah. Sebelum Luna hilang lagi, Beni segera menemui Dion di kamarnya. Lelaki yang tengah sakit itu begitu bersemangat mendengar berita dari Beni. Sakit di tubuhnya seakan rontok dan kembali menjadi Dion yang memiliki power super. 


Dion kembali berdandan rapi, malam ini sangat dingin dia memutuskan untuk memakai jaket. Setelah siap Dion dan Beni segera menuju ballroom dimana para undangan sedang bersuka cita. 


Mereka banyak yang sudah mabok, ada yang sedang berdansa. Acara makan rupanya sudah selesai. Beni kecewa dia terlalu lama meninggalkan pesta hanya untuk menunggu Dion berdandan, pasalnya lelaki itu ingin terlihat tampan saat bertemu Aluna kembali. 

__ADS_1


Netra Beni dan Dion menelanjangi seluruh ballroom, tapi sosok yang menjadi pusat perhatian berbaju merah itu tidak terlihat. 


Dion sempat menganggap Beni telah berhalusinasi, tapi Beni tadi melihatnya dengan mata yang waras, tidak ngantuk. 


Akhirnya Beni memutuskan untuk mencari informasi dan bertanya pada tamu yang  tadi duduk disebelah Enzo dan Aluna. 


Wanita dan laki-laki yang diduga sepasang suami istri itu melihat Aluna dan Enzo lebih dulu meninggalkan pesta, Wanita itu juga menjelaskan kalau Aluna mendadak sakit kepala dan mengeluh kepalanya berkunang-kunang. 


Mendengar penuturan dua orang tersebut Dion segera mencari informasi letak kamar Enzo. Meski lama dan terkesan buang-buang waktu akhirnya Dion menemukan nomor Apartemen Enzo. 


***


Dion menitikkan air mata bahagia meski kedatangannya sedikit terlambat, tapi dia masih bisa mengurungkan kelakuan durjana Enzo. 


Sekarang waktunya Dion menjadi suami yang berusaha akan menunaikan janji-janjinya, Dion akan menjadikan Aluna seperti ratu di dunia nyata, dan juga ratu di hatinya. 


-


Luna dan Dion terus mengulangi malam hangat mereka hingga berulang kali, hingga tulang belulang berdua terasa remuk seperti dilolosi. 


Berbagai gaya mulai diterapkan oleh Aluna dan Dion.


Mereka berhenti bergulat pukul tiga dini hari. Sekarang Aluna merasakan tubuhnya melilit  karena lapar luar biasa di tengah malam. 


Aluna yang berada dalam pengaruh obat, dia mulai sadar kalau semalam dia telah melakukan kesalahan besar.


"Tidakkk!!" Aluna berteriak setelah melihat tubuhnya polos, dan ngilu di titik sensitifnya.

__ADS_1


Luna mengira lelaki yang sedang tidur disebelahnya itu adalah Enzo. apalagi posisi Dion sedang sama polosnya dengan dirinya, hanya saja Dion tidur dengan tengkurap.


__ADS_2