Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 137. Kenyal dan Besar.


__ADS_3

Dion tidur sambil bersandar di sebelah Aluna, tubuhnya miring, sambil tangannya melingkar di pinggang Aluna.


"Honey."


"Hmm." 


"Katanya mau lagi kok menghadap kesana." 


"Malu."


"Sama suami nggak boleh malu. Sudahlah buang jauh-jauh rasa malunya."


"Tetep nggak bisa, Pak Dion,  Maluuu."


"Ahh, kalau lihat wajah cute begitu jadi makin ingin nambah berkali-kali." Dion mendekatkan wajahnya lebih dekat. Membanjiri pipi Aluna dengan kecupan. 


"Aluna mengusap bekas kecupan. Dion dipipinya Dion jadi makin gemas. 


Dion mengulangi lagi, dia kembali mengecup bibir Aluna kali ini Dion melakukannya dengan lembut dan pelan.


Aluna mulai membuka bibirnya, memberikan kesempatan pada Dion lebih leluasa menjelajahi rongga hangat yang sekarang menjadi candu baginya. 


Tangan Dion yang tadinya memeluk pinggang Aluna kini mulai merayap kefepan, mengusap benda kenyal dari luar, yang selama ini hanya bisa dia bayangkan rupa dan bentuknya itu.


"Akhh!"


Aluna terkejut melihat Dion begitu Agresif. Ingin sekali dia menyingkirkan tangan Dion dari Dadanya yang belum pernah tersentuh itu, Tapi niat itu urung dilakukan. Aluna sadar Dion berhak atas setiap inci tubuhnya.


Aluna mulai dibuat melayang oleh sentuhan Dion yang begitu lembut, tapi disatu sisi Dion gagal mendamaikan King Kobra yang sudah mengembang lima kali  lipat dibandingkan saat tidur itu. 


"Emph." Dion gelisah. Dia memperdalam kecupan di bibir Aluna hingga terjadi pertarungan saling membelit lidah dan saling bertukar saliva.


Aluna juga mulai bisa melakukannya dengan bernapas, dia lebih cepat mempelajari materi yang diberikan Dion. 


Tubuh Aluna mulai melayang-layang bagai di atas awan, oleh perlakuan tangan Dion yang mulai agresif *******-***** bukit kembar yang makin lama terasa semakin keras. 


Aluna kembali merasakan di dalam perutnya beterbangan banyak kupu-kupu, geli dan memabukkan. Kupu-kipi didalam perutnya makin lama jumlahnya semakin banyak. 

__ADS_1


Pandangan matanya mulai sayu dan nafasnya tersengal. 


"Sayang, emph." Aluna mendesah.  Ketika bibir mereka masih tetap bertautan dan Dion tak mau melepasnya.


Dion menggeliat tak tahan dengan King Kobra yang makin menyiksanya, Dion mengambil tangan Aluna dan membimbing menuju perut bawah.


 Aluna yang masih polos menurut begitu saja. 


Aluna terkejut begitu tangannya menyentuh benda keras- seperti punggung ular itu. Sontak tangannya langsung ditarik kuat-kuat. 


Tautan bibir keduanya seketika terlepas. Aluna menjauhkan wajahnya dari Dion. 


"Honey, Kenapa dilepas? Itu sudah menjadi milik mu sekarang."


"Apa memang seperti itu?" Tanya Aluna ambigu.


"Kenapa?" Dion tak mengerti kenapa Aluna begitu kaget.


"Be-be-sar," kata Aluna terbata. 


Dion tertawa menertawakan kekasihnya. "Kenapa kaget begitu? Bukannya kalau makin besar wanita semakin suka."


Jangan takut, di awal nanti aku akan melakukannya sangat pelan. Katakan saja jika kau sudah siap. Sekarang kau bisa meninabobokkan dulu. Dion menggenggam jemari Aluna lagi dan menempelkan pada adik kecil yang sedang mengamuk. 


"Kamu boleh mengelusnya Sayang." Mohon Dion dengan wajah sayu, nafasnya makin memburu. 


"Mau?" Tanya Dion.


Aluna mengangguk karena tak tega dengan kondisi Dion yang mengenaskan. 


Aluna mengelus-elus pelan sesuai bimbingan Dion, menidurkan King Kobra yang mengamuk beberapa hari ini dari atas handuk.


"Memangnya kalau dielus nanti bisa tidur?" Tanya Aluna polos. 


"Sebenarnya tidak tidur, tapi dia nyaman, dia milikmu sekarang, kalau bukan kamu yang menjinakkan siapa lagi."


"Hai, Tiger, tidurlah dulu, jangan mengamuk." Kata Aluna. Menamai adik kecil dengan Tiger. 

__ADS_1


"Kenapa kamu mengganti namanya?"


"Emangnya siapa namanya?"


"Kamu bisa memanggil dia dengan King kobra atau Adek kecil, tapi nggak apa apa, dia juga cocok diberi nama Tiger. Kuat dan perkasa," canda Dion.


Saat Aluna mulai mahir mengelus Tiger dari luar celana, Dion memejamkan mata sambil menyesap leher Aluna, meninggalkan beberapa jejak kepemilikan di leher dan dada. 


"Ishhh drakula,"kata Aluna mencibir. 


"Biarlah, sudah sah." Kata Dion tersenyum bahagia. "Han, kamu bahagia kan menjadi istriku?"


"Iya."


"Kok cuma iya, aku jadi nggak yakin."


"Iya bahagia Sayang. Aku bahagia menjadi istri Dion Sanderson pengusaha terkaya di kota ini dan lelaki yang menjadi idaman wanita di perusahaan, lelaki gila yang mau menjadi istri Aluna Si Cupu," jawab Aluna sambil menyentuhkan hidungnya dengan hidung Dion. Tangan satunya masih setia mengelus Tiger yang belum mau tidur juga. 


Tok! tok!


Suara dari luar membuat mereka saling menjauh dan merapikan diri.


"Siapa sih ganggu aja," Gerutu Dion. 


"Dion, ini Mama!" Teriak Mama dari luar.


"Ish, mama ganggu aja, ada apa!" Kata Dion berjalan ke arah pintu sambil menggerutu. 


"Sayang, kalian kok sejak pagi nggak keluar? Apa nggak lapar?"


"Aluna kenapa nggak diajak makan dulu." Kata Selena melihat Aluna yang tersenyum malu dan kikuk, berusaha menutupi lehernya..


Selena terperanjat melihat leher Aluna yang terdapat banyak tanda merah merah seperti bekas gigitan serangga. 


"Dion, kamu jangan macam macam dulu ya, tunggu Aluna sembuh, dia harus banyak istirahat, dasar nakal." Mama memelototi Dion. Setelah melirik di balik handuk ada yang mengebung besar


"Dion sekarang cepat bawa Aluna keluar, sebelum kau memakannya, dia harus makan, minum obat, lalu keliling taman di sore hari,  biar tak bosen dikamar saja."

__ADS_1


"Mama, bikin malu Dion didepan Aluna saja, Dion juga tahu Ma, kalau Aluna masih sakit, sedikit menunggu, akan semakin indah bila waktunya tiba," ungkap Dion. Sambil turun dari ranjang dan memakai baju santai, t-shirt warna putih yang mencetak bodynya dan celana jeans selutut. 


Aluna hanya tersenyum mendengar Omelan Mama mertua yang ternyata sangat cerewet dengan putranya, gara-gara suka bandel. Namun mama terlihat sekali begitu menyayanginya.


__ADS_2