
Pagi ini Luna bangun dengan mata sembab, karena menangis tiada henti, ternyata Dion sama sekali tak mencari keberadaannya.
Jika dia mau mencari, Luna yakin tak akan memakan waktu hingga sehari semalam, pasti sudah ketemu. Luna madih tinggal dikota ini.
Aluna sudah kembali sehat. Dengan uang sisa yang ada, dia berbelanja kebutuhan sehari hari, ATM sudah dititipkan pada Beni oleh Nabila, sesuai dengan keinginan Aluna.
Aluna pagi ini merasa perutnya lapar, dia akhirnya membeli nasi pecel di warung. Melihat isi dompet makin hari makin tipis, Aluna berniat kembali mencari kerja.
Satu Minggu paska keguguran sepertinya waktu yang cukup untuk istirahat.
Aluna bingung, tak ada keahlian khusus yang dia miliki, selain menjadi OG di kantor Adrian. Karena saat menjadi sekretaris, Aluna tak benar- benar bekerja sebagai sekretaris, melainkan kekasih saja, yang selalu ada didekatnya.
Kenangan masa indah itu sering kali muncul dalam benak Aluna.
"Penghuni kos baru ya, kerja dimana?"
"Belum kerja buk, masih mencari-cari. Apa ibu butuh asisten, aku mau." Aluna menawarkan diri jadi buruh di warung nasi pecel.
"Wah, sayang sekali, cantik kok ikut ibu jualan, nanti bau asap, lagian ibu bisa mengatasi sendiri," kata penjual nasi menolak tanpa menyinggung perasaan Aluna.
Aluna mengerti, penjual nasi pecel ini memang kelihatannya tidak kewalahan melayani pelanggan. Dan keuntungnya yang diperoleh per hari pasti sedikit.
"Berapa buk?"
"Sepuluh ribu, neng mintanya tanpa ikan tadi."
"Iya, terimakasih." Aluna menerima nasi pecel dan segera membawa pulang, lapar yang kini mendera tak bisa ditahan lagi. Aluna juga harus bisa jaga dirinya supaya tidak sampai sakit.
Aluna memakan nasi hanya beberapa suap, tiba-tiba perutnya terasa penuh. Aluna memang kalau lagi banyak pikiran, minum air putih saja rasanya pahit dan kerongkongan seperti menyempit.
Luna menghentikan makannya dan kembali menitikkan air mata. "Tuhan, beri aku kekuatan menjalani hidup ini. Aku tahu engkau tak pernah tidur, engkau maha pemurah dan maha penyayang."
Aluna bersandar pada ranjang kecil yang usang, tak ada cover untuk kasur usang itu, kamar dua kali tiga meter pengap menjadi tempatnya merenungi nasib.
Luna membungkus nasi, berharap nanti bisa dimakan lagi, kalau ingin makan lagi nanti. Nasi pecel gurih terasa hambar dilidahnya.
__ADS_1
Aluna kembali berbaring, mungkin dengan tidur dia akan menemukan jalan keluar, kemana dia harus meniti langkah untuk selanjutnya.
Belum juga mata terpejam, Aluna mendengar pintu kos kembali diketuk, Aluna berharap itu Nabila, tapi jam siang Nabila masih di rumah sakit.
Aluna segera bangkit, melangkahkan kaki menuju pintu dengan malas. "Na! Apa itu kamu? Siapa!"
Suara ketukan pintu yang tadi seperti orang tergesa lenyap begitu saja. Aluna makin penasaran dia segera mengintip dari jendela.
Di depan pintu tidak terlihat siapa-siapa lagi. Aluna semakin penasaran. Dengan perasaan was-was mencoba membuka pintu pelan. Betapa terkejut Aluna melihat ada dua orang berwajah sangar keluar dari persembunyian. Lelaki itu merangsek masuk meski Aluna menutup dengan buru buru.
"Siapa kamu, pergi! Pergi!" Aluna menahan pintu, tapi apa daya, tenaganya sangatlah lemah dibanding dua lelaki kekar itu.
"Oh, hoho … jangan takut cantik, aku hanya disuruh oleh bos untuk menemani kamu biar nggak kesepian." Lelaki bertubuh tinggi dengan lengan penuh tato serta rambut dikepang kecil kecil banyak, menatap Aluna dengan tatapan nyalang.
"Pergi kamu dari sini! Aku tidak pernah punya urusan denganmu atau bos kamu! Biarkan aku hidup tenang jangan ganggu aku!" Aluna terus mundur, sekarang tubuhnya sudah menempel pada sisi ranjang.
"Hahaha, bos kami sangat baik hati, dia ingin kami membuat kamu senang hari ini, kamu pasti kesepian kan tak memiliki suami lagi." Lelaki berkepala botak namun kumisnya sangat tebal itu menatap Aluna dengan seringai lapar. Beberapa kali meneguk salivanya melihat pangkal leher Aluna yang putih.
"Kalian semua pergi!! Atau aku akan berteriak! Pergi!!" Aluna histeris, saat ini hanya pisau buah di meja yang bisa dia jadikan senjata.
"Nona, jangan nekat, ayo berikan pisaunya, mari kita bersenang senang … Sini sayang berikan pisaunya padaku." Lelaki itu terus membujuk Aluna yang sudah ketakutan.
"Tolooong …!"
Aluna berharap penghuni kos ada yang sudah pulang kerja, karena dia lihat tadi kos nampak sepi, karena tata-rata mereka kerja di pabrik, adapun yang tinggal dirumah pasti sedang tidur.
"Jangan berteriak!" Pemilik rambut panjang dikepang melarang Aluna berteriak.
"Diam! Diam!" Si janggut panjang dan kumis tebal merangsek ke depan, tapi Aluna tak main-main dengan ancamannya. Aluna menodongkan pisau buah dan menggerakkan ke kanan dan ke kiri dengan cepat membuat lengan si gondrong terluka.
"Tidak bisa di kasih hati kamu ya!" Gondrong memukul pipi Aluna hingga bibir Aluna berdarah.
"Gondrong berhasil merebut pisau dari tangan Aluna, Aluna kini tanpa senjata dia semakin ketakutan?"
"Apa yang bos kalian mau dariku? Siapa bos kalian?" ucap Aluna dengan bibir bergetar. Dia mengusap sudut bibirnya.
__ADS_1
Seringai binatang membuatnya trauma, ini kedua kalinya dia mengalami penderitaan yang serupa.
"Yang bos kami mau, kamu pergi dari kota ini, jangan pernah lagi menunjukkan wajahmu disini, ngertii?"
"Baiklah, aku akan pergi tapi tolong lepaskan aku, aku akan pergi sangat jauh," mohon Aluna.
"Gimana ya? Sayang banget tapi!" Si rambut panjang menatap Aluna dari ujung kaki hingga kepala, tubuh putih dan mulus itu terlalu sayang untuk ditinggalkan begitu saja..
Gondrong mengelus janggut panjangnya. "Hehehehe, mending layani kami dulu Nona, kau terlalu menggairahkan untuk kami lepaskan, sudahlah, kami janji akan bermain pelan cantik!" Tangan lancang pria itu dengsn lancang menarik dagu Aluna.
"Kalian binatang!" Aluna menarik selimut dan melempar ke wajah dua cecunguk di depannya. Otomatis dua cecunguk itu gelagapan, Aluna tak menyia nyiakan kesempatan ini, dia segera berlari dan minta tolong.
Penghuni Kos baru mendengar teriakan Aluna ketika dia ada diluar kamar, rupanya kamar kos itu dipasang peredam suara hingga mereka tuli dengan teriakan Aluna saat di dalam kamar.
"Apa yang terjadi Mbak Luna? Kenapa anda ketakutan!" Tanya tetangga kos Aluna yang baru bangun tidur, karena dia kerja sif malam.
"To-tolong saya, lelaki itu ingin menodai saya." Telapak tangan Aluna dingin sedingin mayat, saat memegang lengan lelaki itu untuk meminta tolong karena saking ketakutan.
"Tenang, kami akan menghajarmya." Salah satu lelaki yang memakai sarung ikut keluar dan wajahnya terlihat geram.
Begitu dua cecunguk itu keluar, mereka langsung dihajar masa hingga babak belur. Sedangkan Aluna menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya merosot kelantai.
Aluna menangis tergugu dengan wajah menunduk kelantai, bulir kristal yang tadi sudah berhenti mengalir kini kembali menganak sungai.
"Aku tidak boleh selemah ini, aku harus kuat menghadapi dunia sendiri, aku harus menjadi wanita hebat biar tidak selalu tertindas." Aluna memegangi roknya. Meremasnya kuat seakan mewakili tekatnya yang bulat untuk pergi dari kota ini.
Nabila yang baru datang melihat kos Aluna berkerumun banyak orang dia segera turun dengan buru-buru. Hati Nabila sudah was-was. Takut Aluna bunuh diri atau semacamnya.
"Ada apa ini?"
"Apa yang telah terjadi?" Yang ditanyai hanya diam, tak mengindahkan pertanyaan Dokter Nabila.
Nabila kini lega melihat Aluna duduk bersimpuh dalam keadaan masih bernyawa.
"Mbak Luna, apa yang terjadi?"Nabila segera memeluk Andini, membantu wanita yang tengah putus asa itu berdiri dan membawanya duduk di kursi.
__ADS_1
"Nabila, orang jahat itu mengirimkan dua lelaki bertubuh besar dan bertato, supaya dia menodaiku, Nabila aku tidak mampu melawan mereka, aku takut, aku harus segera pergi dari kota ini!' Aluna berkata dengan cepat dan ketakutan, deras air mata adalah bukti kehancuran hatinya.
Aluna tak ingin tahu siapa dia, yang jelas selama tinggal di kota ini dia akan terus mengalami nasib buruk.