Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 196. Cara licik


__ADS_3

Bahkan berada dalam negara asing sekalipun, Aluna tetap menjadi sorotan para penghuni hotel yang kini tengah menghadiri undangan Enzo.


Pesona Aluna mampu mengalihkan perhatian para pengunjung yang sejak tadi sedang asyik menikmati lagu romantis yang dinyanyikan oleh penyanyi top di negara ini. 


Bukan hanya mata lelaki yang takjub akan keelokan Aluna, tapi wanita juga suka sekali melihat penampilan Aluna yang selalu terlihat sempurna


Apalagi didukung dengan lekuk tubuhnya yang semakin terbentuk indah setelah rajin olahraga dan suka konsumsi lebih banyak buah dan sayur.


Enzo menyusul Aluna, menggandeng dengan mesra, mereka terlihat tak seperti Kakak dan adik lagi melainkan seperti sepasang kekasih yang dimabuk cinta. 


Luna yang terlalu lugu mengartikan perhatian Enzo. Dia tak pernah menduga kebaikan Enzo sebagai atasan sudah berubah menjadi hasrat cinta yang membara.


"Serius hari ini anda ulang tahun? Maaf aku tak sempat beli hadiah apapun, Bagaimana kalau hadiahnya besok saja." kata Aluna lembut dengan wajahnya yang kalem, membuat Enzo ingin sekali merasakan manisnya bibir merah yang sedang bergerak gerak di depannya .


Enzo tersenyum. Arti senyumnya sungguh mengerikan. Andai Aluna tahu dia pasti tak sudi lagi di dekat lelaki itu.


"Aku tak ingin hadiah, temani saja aku sepanjang malam ini, itu sudah menjadi hadiah terindah untukku ," ujar Enzo sambil tangannya lancang membelai rambut Aluna. 


"Sebenarnya aku malas merayakan, tapi karena ada kamu, aku jadi ingin merasakan indahnya menikmati hari kelahiran bersama orang yang kita sayang."


"Aku juga bahagia menemukan sosok kakak seperti anda," kata Aluna yang masih tak mengerti sayang Enzo berbeda dengan pemahamannya. 


Kini mereka berdua sudah sampai di nomor meja yang Enzo pilih. Lelaki itu menarik satu kursi untuk Aluna. Aluna segera duduk, malam ini Aluna bagai peri cantik yang penurut.


Banyak diantara mereka memuji betapa serasinya Aluna dan Enzo tanpa tahu kalau Aluna juga sangat serasi dengan suami aslinya.


Setelah musik pembuka selesai para tamu mulai bersiap untuk makan malam bersama. Pelayan hilir mudik dari meja ke meja sibuk melayani keinginan tamu.


"Ini pesta ulang tahun yang sangat menyenangkan untuk semua orang" Aluna menatap para tamu yang bisa memilih menu makanan yang disukainya. Bahkan satu meja ada yang mendapat tagihan mencapai lima juta. 


"Anda sangat Loyal." Aluna kembali berkomentar, lalu menatap pelayan yang datang mengirim  pesanan Enzo. 


Malam ini Enzo yang ulang tahun tapi Aluna yang merasa di perlakukan bagaikan ratu. Enzo dan Aluna menyanyikan lagu ulang tahun, para tamu yang mendengar segera ikut bernyanyi untuk menghormati pemilik acara.

__ADS_1


Aluna dan Enzo berdiri, aluna mengangkat kue tart mini yang diatasnya tertulis nama dan usia Enzo. 


Kue yang kini berada ditangan Aluna memang spesial untuk Aluna. Untuk tamu yang lain Enzo sudah menyiapkan yang lebih besar dan bertingkat. 


"Kue yang ini spesial buat kita berdua." kata Enzo berusaha membuat Aluna special. 


"Terima kasih, Kakak," kata Aluna bahagia. Dia bahkan mulai suka sekali memanggil dengan nama panggilan itu.


Enzo terus menatap Aluna hingga malas mengalihkan pandangan pada yang lain.  Bahkan saat Aluna berkedip saja Enzo melihat Aluna terlalu cantik, tetapi panggilan kakak yang keluar dari mulut Aluna, Enzo  tak menyukainya. 


'maafkan aku Luna, aku tidak ingin menjadi kakak seperti yang kau inginkan, aku ingin kau menjadi istriku, aku ingin menjadi lelaki yang tak hanya memandangmu dari kejauhan, tapi juga bisa menikmati keindahan yang kau miliki ini.'


Enzo memotong kue yang dikatakan special tadi, lalu dia menyuapkan potongan pertama untuk Luna. Wanita itu membuka mulutnya. 


" Hemmm, ini enak sekali." Lidah Aluna bergoyang menikmati kue suapan dari Enzo. Setelah menelannya Enzo kembali menyuapinya. Aluna tak bisa menolak, dia terpaksa menghabiskan satu potong kecil seorang diri."


"Dari tadi aku sudah memakannya, sekarang aku harus menyuapi anda Kakak."


"Uhuk!" Enzo pura pura kerongkongannya gatal. 


Setelah mendapatkan dua gelas bertangkai, Enzo segera memberikan pada Aluna. 


"Aku tidak pernah minum Alkohol, aku akan merepotkan Anda kalau mabuk nanti." Aluna menolak.


"Ini rendah alkohol, kita tidak akan mabok meski menghabiskan banyak, dan rasanya seperti sari buah kelapa," kata Enzo membuat Aluna percaya. 


"Benarkah aku tak akan mabok?"


"Ya, coba saja." Enzo meyakinkan. 


"Aluna mencecap sedikit, dan benar rasanya manis seperti sari kelapa. Aluna tak ragu lagi menghabiskannya. 


Lima menit kemudian Aluna merasa pusing, dan apa yang dilihatnya seolah berputar putar. 

__ADS_1


"Aku kenapa? Akhh kenapa kepalaku pusing," eluh Luna. 


"Luna apa yang terjadi? Luna apa kamu baik-baik saja."


"Iya, aku tadi baik-baik saja, tapi entahlah sekarang aku merasa aneh, Kakak Enzo kau juga terlihat aneh, tubuhmu meliuk liuk." 


Sepertinya reaksi pertama dari obat yang tercampur dalam makanan yang Aluna makan sudah bereaksi. 


"Luna, kau kenapa? Apa kau sakit? Jika sakit harusnya kau bilang padaku," Enzo mulai menjalankan misi yang sudah dia atur dengan rapi. 


Aluna merasakan tubuhnya kian terasa aneh, sekarang bukan hanya pusing dan pandangan berputar. Tapi Aluna mulai merasakan sebuah hasrat yang menggebu dan Aluna segera ingin mendapatkan pelepasan. 


Melihat Aluna yang bertingkah semakin aneh Enzo malah membawa ke kamar miliknya bukan ke kamar yang biasa Aluna tempati. 


Semakin lama Aluna makin kepanasan, keringat membasahi seluruh tubuhnya hingga kain tipis yang menempel ditubuhnya pun menjadi pengganggu. 


Tubuh Aluna meliuk liuk seperti cacing kepanasan. Tanpa sadar Aluna membuka kancing-kancing di bajunya. 


Tubuhnya mendadak ingin sekali dipuaskan, bahkan kelakuan Aluna sekarang seperti seorang ja**Ng. 


Kata-kata tak senonoh lolos dari bibirnya begitu saja. Sikap pemalunya yang selama ini masih melekat di dirinya sudah tak ada lagi. 


"Kemarilah, Cepat puaskan aku. Aluna membuka banyak kancing kecil hingga kini tubuh atasnya mulai terekpose. Tanpa sadar Aluna juga membuka kakinya lebar  mengusap usap bagian inti tubuhnya. 


Aluna terus saja memohon pada lelaki di depannya yang wajahnya sesekali terlihat seperti Dion, sesekali terlihat seperti.


Enzo berulang kali meneguk saliva melihat pemandangan yang begitu indah dan tentunya sudah dinanti sejak tiba di negara asing ini. 


Sepertinya kesempatan untuk memiliki Aluna seutuhnya sudah terbuka lebar, dengan cara menanam banyak benih di rahim Aluna Enzo akan membuat Aluna hamil anaknya. Dan jika itu terjadi, Dion pasti akan merelakan Aluna untuknya dan dialah yang berhak menjadi suami seutuhnya. 


Aluna terus memohon agar lelaki itu segera membantunya melepas dari rasa tersiksa, sungguh Aluna sangat menderita dengan hasrat yang berlebihan, tanpa bisa dikendalikan


"Sebentar sayang, aku pasti akan membantumu, malam ini hanya ada kita berdua." Enzo mulai melepas satu persatu pakaian yang menempel ditubuhnya.

__ADS_1


Tatapan mata Enzo tak lepas dari Aluna yang kini semakin tersiksa. Ini karena kecerobohan Aluna yang telah memakan kue special dan meminum ramuan yang sudah diberi obat per***sang.


__ADS_2