
"Luna, kemana dia, ya Tuhan selamatkan calon menantuku." Mendengar para lelaki panik Selena yang sudah memakai kebaya dan jarik, wajahnya sudah di makeup, kini ikut gusar.
"Pa,gimana mantu kita, masa dibawa kabur kita diam saja." Selena memohon pada suaminya supaya bertindak.
"Semoga saja, Dion bisa mengatasi masalahnya. Aluna akan menjadi tanggung jawabnya seumur hidup, jadi dia harus bisa belajar menyelesaikan setiap masalahnya."
"Adrian kenapa kamu bodoh sekali sih Nak, kamu sudah menceraikan dia, tapi kenapa sekarang bikin masalah." Selena terlihat menyesal melihat tingkah Adrian sekarang, yang makin sedih dan terluka. Bahkan merawat penampilannya saja mulai enggan.
"Ini salahku, ini salahku, andai aku bisa menerima Aluna pasti mereka sekarang sudah bahagia. Aluna dan Adrian tidak akan berpisah dan mereka akan bahagia." kata Selena lagi mulai hanyut dalam penyesalan.Adrian bercerai juga karena dirinya. Bahkan dia mengira Angeline wanita terbaik nyatanya dia selingkuh dan pernikahan Adrian sama sekali tidak bahagia.
"Maafkan aku, aku berjanji akan membuat Adrian menyadari kesalahannya, tapi tolong jangan sakiti dia." Selena memohon pada Davit dan Melani.
Chela ikut bersedih karena takut kakaknya akan ditembak oleh para polisi. Chela dengar sendiri betapa marahnya Dion saat keluar gedung.
"Aku memaafkan Adrian jika satu kali dua puluh empat jam dia kembalikan Luna pada kami. Tapi jika lebih maka aku akan lupakan dia kalau kita ada hubungan darah."
Semua keluarga dibuat terkejut oleh Dion. Dia tidak percaya cinta Dion begitu besar.
Dion yang sudah tampan dengan pakaian pengantin pria, segera merubah diri menjadi Dion yang suka dengan hem pres body dan celana oxford. Tak lupa jaket kulit juga dia pakai.
"Hallo, apa sudah ada jejak Adrian!"
"Tuan Adrian dengan nomor mobil X sudah ada di pelabuhan, diduga dia akan berlayar ke negara asing yang akan berangkat beberapa menit lagi."
Laporan salah seorang mata mata handal yang setia dengan keluarga Dion.
"Baiklah jika sudah pasti, maka segera infokan pada yang lain, hubungi pihak pelabuhan supaya menunda keberangkatan kapal."
"Siap Boss."
Para tangan kanan Dion segera mengepung dermaga. Dipastikan kapal tidak akan berangkat dan Adrian akan segera dijemput.
***
__ADS_1
Mendengar pemberangkatan kapal ditunda Adrian sudah menduga pasti permintaan anak buah keluarga Sunderson.
"Luna maafkan aku, aku harus melakukan semua ini supaya kita bisa bersatu lagi." Adrian memutar balik mobilnya. Kali ini menuju helipad, Adrian akan membawa Aluna lewat jalur udara.
Dengan jalur udara, Adrian yakin Dion dan anak buahnya akan kesulitan mencari Aluna. Mengejarnya pun akan kesulitan, karena saat dia tahu pasti dirinya sudah sangat jauh.
Adrian menggendong Aluna yang tak sadarkan diri di pundaknya, lalu dia meminta Arga dan Argo mengambil mobil dan menyingkirkan jauh dari sekitar halipad. Setelah berhasil naik, Adrian segera meminta pilot untuk mengudara.
Aluna mulai bangun. Pingsannya tidak begitu lama karena dia hanya mencium bunga hadiah itu hanya satu kali hirup
"Pak Adrian aku ada dimana? Kenapa kita ada di helikopter."
"Pak Rian!!" Bentak Aluna yang tak kunjung mendapat jawaban dari Adrian.
"Maafkan aku Luna, aku sudah berbohong. Aku ingin kita mulai semuanya dari nol dan kita bahagia di negara asing tanpa ada yang bisa memisahkan kita. Aku sekarang sadar kamu adalah yang aku butuhkan, bukan harta atau kedudukan."
"Tapi Pak Rian, ini hari pernikahanku dengan Pak Dion, aku tidak bisa pergi Pak Dion pasti akan mencariku."
"Luna, dia akan melupakanmu dalam beberapa hari. Tapi aku? Lihatlah setiap hari aku menyesali kesalahanku."
"Aku akan ceraikan dia. Kamu harus berjanji akan kembali padaku, dan kita akan menikah di negara asing, kita akan bahagia."
"Anda gila, lepaskan aku, aku harus turun, Pak Rian jika anda memaksa aku akan loncat dari sini." Kata Aluna tak main-main dengan ancamannya.
"Apa yang terjadi? Tuan?" Tanya pengawal yang mendengar keributan.
"Apa penerbangan dibatalkan?" Tanyanya lagi.
"Tidak perlu lakukan penerbangan seperti rencana semula." Kata Rian sambil terus menggenggam pergelangan tangan Aluna. Laki-laki itu mengira Aluna masih mencintai dirinya. Dan hubungan dengan Dion karena pelampiasan sakit hati saja.
"Kau kali ini pasti akan bahagia Luna, aku akan mencurahimu dengan cinta dan kasih sayang."
"Tidak mau! Aku tidak Sudi lagi dicintai laki laki yang menghalalkan segala cara seperti anda."
__ADS_1
Adrian mendengarkan semua cacian dan makian Aluna. Dia diam saja karena menurutnya saat ini Aluna sedang dalam dilema.
Jari kokoh adrian masih melingkar kuat di pergelangan tangan. Aluna yang merasa Adrian bukan tandingan dia memilih untuk tenang. Harapan satu-satunya hanyalah orang-orang Dion lekas menemukannya.
"Kamu boleh tidur lagi, perjalannya kita masih lumayan lama." Kata Adrian sambil menatapnya sangat dalam. Betapa bodohnya dia dulu melepas wanita yang memiliki kecantikan mutlak seperti Aluna.
Aluna sama sekali tak menatap wajah Adrian, dia menoleh ke arah lain, ingin sekali membuat lelaki itu sadar kalau dia hari ini membencinya.
Ponsel!
Aluna meraba ponselnya di saku kenapa tidak sejak tadi dia ingat ada ponsel.
Aluna melihat ponselnya mati, sungguh dia baru ingat dua hari tidak mengecas benda pipih itu.
Adrian tersenyum melihat Aluna yang tak berhasil mendapatkan bantuan dari benda pilihnya.
"Benda pintar pun menyerah Luna, dia mendukung hubungan kita." Adrian membelai rambut Aluna.
"Jangan sentuh aku!" Aluna membentak, kali ini lebih keras.
Adrian berusaha bersabar, dia tidak mau tersulut emosi karena penolakan ALuna.
"Tuan kita harus turun untuk mengisi Aftur terlebih dahulu. Tadi anda buru-buru sebelum aku sempat mengisinya.
"Apa! Menyebalkan sekali, kenapa aku bisa memiliki teman yang sangat bodoh seperti kamu." ujar Adrian emosi.
Helicopter terpaksa harus landas di bandara, pilot menghubungi pihak penerbangan untuk izin landas.
Adrian kesal dengan kejadian ini. Dia khawatir Dion sudah mengerahkan pihak kepolisian untuk menyerbu bandara juga. Laki-laki itu sangat cerdas, dia seperti memiliki Indra keenam, selalu bisa menebak pada setiap langkah yang diambil.
"Aku sakit perut, Aku belum makan apapun sejak pagi," eluh Aluna.
"Benarkah?" Mendengar keluhan dari bibir Aluna, Adrian jadi tak tega. Wajah wanita itu memang pucat pasi, Adrian percaya kalau Aluna belum makan.
__ADS_1
"Pesankan makanan untuk Aluna." Perintah Adrian yang tak mau ambil resiko.
"Aku ingin makan di restoran yang ada di dekat bandara ini saja, beberapa hari perutku sangat rewel, aku sangat pemilih kalau soal menu sarapan." ujar Luna, sambil memegangi perutnya yang rata.