
"Kita mau kemana Pak Dion?"
"Karena hari ini aku juga libur, kita akan jalan-jalan," ujar Dion sambil mengamati wajah polos Aluna. Meski tanpa riasan sekalipun tetap manis dan cantik Dimata Dion.
"Pak Dion tapi aku sebenarnya nggak enak ninggalin pekerjaan, pas lagi banyak banyaknya."
"Nggak apa apa, Bibi tadi bisa gantikan kamu, dia asisten di rumahku." Dion sering sekali menatap Aluna. Gadis itu baginya begitu berbeda.
"Kamu sering nangis ya kantung matanya smpek hitam gitu?" Tanya Dion dengan menatap Aluna, ingin sekali mengusap wajah dan rambut yang mulai ia gerai sepanjang punggung itu, tapi sayangnya Aluna selalu tak nyaman saat disentuhnya.
"Luna kamu sudah punya pacar?" Tanya Dion lagi. Saat ini mereka masih di perjalanan. Dion curiga Luna sudah punya kekasih.
"Pacar …."
'Bagaimana ini, aku harus jawab apa? Jika aku jawab punya pacar, tapi Pak Adrian bilang aku harus merahasiakan semuanya. Jika aku jawab belum aku takut akan banyak kebohongan lainnya.'
"Saya tidak tau Pak Dion. Jika kita dekat dengan seorang itu disebut pacar atau tidak, terlebih jika kita berdua tak ada keinginan untuk mempererat hubungan itu."
"Kalau begitu itu namanya bukan pacar, kalau pacar itu, kita berdua ada komitmen untuk menjalin hubungan lebih baik lagi dan bisa jadi sampai pernikahan."
'Pak Dion benar, aku dan Pak Adrian, kita bukan apa-apa. Bahkan diantara kita berdua tak pernah ada keinginan membuat hubungan lebih baik. Pak Adrian bahkan tak pernah sekalipun ingin meminta haknya, dia sudah terpuaskan bersama Angeline. Angeline sudah bisa memenuhi hasratnya dan keinginannya setiap saat.'
Bayangan Adrian dan Angel di ruang pribadinya itu kembali teringat, dan semalam mereka ada di kamar yang bersebelahan. apa yang dilakukan berdua semalaman, Aluna tak ingin memikirkannya.
"Luna kok bengong lagi. Kita sudah sampai ini rumahku." Dion tersenyum. Ben segera turun dan membuka pintu penumpang untuk mereka berdua.
Aluna menutup mulutnya yang reflek membentuk huruf O, terbelalak melihat rumah bercat putih berkilau bak istana Aladin di depan mata. Rumah itu tak jauh beda dengan rumah Adrian, selisih lantainya saja lebih banyak rumah Dion.
"Selamat pagi Pak Dion." Dia penjaga gerbang sedikit menunduk lalu mengucapkan salam.
Dion terlihat membalas dengan senyum ramah dan berjalan tegap layaknya seorang pangeran masuk mansion.
Dua lelaki itu terlihat heran dengan gadis yang dibawa Tuan mudanya, tapi tetap menganggukkan kepala untuk Luna.
Luna ikut mengangguk dan tersenyum. "Pak Dion hidup anda sangat sempurna, kenapa anda mau berteman denganku?"
"Ya, seperti yang kamu lihat, aku bekerja keras, siang dan malam karena ingin bertahan hidup. Kemewahan saja tak cukup untuk kebahagiaan Aluna. Aku suka dengan kenyamanan, aku nyaman denganmu."
__ADS_1
Aluna dan Dion sudah tiba di ruang tamu, Dion mempersilahkan Aluna duduk.
"Dion apa ini Aluna yang kamu ceritakan pada Mama?" wanita cantik duduk anggun disofa sambil membaca novel itu mengakhiri aktivitasnya dan mendekati Luna.
"Luna, kita belum pernah ketemu sebelumnya, kenalkan aku Melani, Mama Dion."
"Aluna pangastuti, Tante." Aluna menyambut jemari lembut wanita pemilik senyum bak Dewi itu.
Wanita itu memberi isyarat agar Aluna duduk, mereka berdua duduk berhadapan, Dion memilih duduk di dekat mamanya.
"Dion bilang kamu suka memasak, jadi kita punya hobi yang sama, Luna. Kita bisa sering masak bareng. Jika kamu boring di rumah bisa sering main kesini. Kita acak acak dapur."
"Iya, Tante. Tapi Aluna cuma bisa masak masakan Indonesia yang sederhana, bukan masakan yang susah, apalagi masakan luar negeri."
"Bagus dong, aku ingin belajar masakan Indonesia, katakan apa yang kamu bisa?"
"Emmm apa ya, soto, rawon sama rendang Tante."
"Nice, kita akan mencoba masak rendang, Dion sangat suka."
"Apa kalian berdua akan memasak sekarang! Mam aku pengen ajak Luna jalan di taman, keliling mansion biar dia cepat akrab dengan situasi yang ada di rumah ini.
"Oke Mam."
Aluna dan Dion akhirnya jalan jalan di taman, Aluna merasa keluarga Dion jauh lebih baik dari keluarga Adrian, penghuninya lebih menghargai keberadaannya.
Saat duduk di gazebo Aluna melihat kucing kecil lucu, memiliki bulu putih yang sangat lembut. Dia tak bisa untuk diam melihat hewan jinak satu itu. Aluna mendekati dan mengulurkan tangannya ingin meraba bulu lembut kucing.
"Hai empus sini, lucu sekali ya!" Aluna berjongkok. Kucing kecil terlihat membungkuk takut dia dekati.
"Hey Gemoy, jangan takut dia itu ibumu, kamu bisa bermain dengannya juga," ucap Dion, yang membuat Aluna terhenyak.
Kata 'Ibu' membuat Aluna terdiam, memaksa otak untuk berfikir. Apa ini permainan seperti anak kecil, harus berpura pura Dion jadi ayah, dan Aluna jadi ibu, dan gemoi jadi anaknya. Atau Dion sengaja memberi tahu Aluna kalau ada niat tersembunyi dibalik kebaikannya. Apa Dion memiliki perasaan.
'apa yang kupikirkan, sudah jelas ini hanya permainan, demi untuk membuat Gemoy mau denganku. Pak Dion bilang dia sudah memiliki pengganti Angeline. Pasti dia wanita yang kaya sama seperti dirinya.'
"Jadi namanya Gemoy, lucu sekali. Hai Gemoy." Kucing kecil itu berlari mendekati Dion. Dion menangkap dan mengelus bulu halusnya.
__ADS_1
"Dia memang jarang mau dengan orang lain selain diriku, cobalah kenalkan dirimu dengan kita ajak jalan-jalan siapa tahu dia akan suka denganmu."
Aluna mengambil Gemoy dari pangkuan Dion. Dan menggendongnya seperti bayi. Gemoy terlihat diam dalam dekapan Aluna. Sepertinya kucing kecil itu mulai nyaman bersama Aluna.
"Dia memejamkan mata, apa dia tidur?"
"Biar aku melihatnya?" Dion menatap gemoi yang mengantuk. Lalu menatap Aluna yang tersenyum. Lesung pipi Aluna terlihat. Dion sangat suka lesung pipi dan tahi lalat Aluna.
"Gemoy rupanya suka dengan kamu, Luna. Kalian terlihat cepat akrab."
Luna hanya bisa tersenyum sambil memandangi Gemoy yang sesekali mengerjapkan mata indahnya yang berwarna biru.
Aluna tak menyangka Dion pemilik King Fashion yang merupakan saingan terberat Adrian, dia adalah orang yang sangat manis, Lelaki pecinta kucing.
"Sebentar lagi Gemoy waktunya makan siang dan minum susu. Apa kau mau lihat dia minum susu."
"Boleh." Aluna dan Dion menghampiri kandang Gemoy yang bersih, pelayan sangat menjaga hewan kesayangan majikannya itu. Gemoy juga sudah disuntik anti rabies. Jadi memegangnya hewan lucu itu sudah aman.
Aluna memasukkan Gemoy ke kandangnya, pelayan membawa susu dan makanan untuk Gemoy. Dion dan Aluna kembali meneruskan perjalanan mengelilingi mansion.
Kini mereka berdua sampai di tepi kolam ikan. Aluna sangat senang melihat aneka ikan warna-warni di dalamnya, karena kurang hati hati Aluna menapakkan kakinya dengan tak benar, hingga dia hampir terjun bebas ke dalam kolam.
Secepat kilat Dion menyambar lengan Aluna. Dengan jantung berdentum kencang, Aluna memeluk tubuh Dion karena takut akan benar-benar jatuh dan basah.
Lama sekali posisi mereka berpelukan dengan erat. Aluna tersadar ketika farfum maskulin pria itu menusuk hidungnya.
"Maaf, terima kasih, saya tak sengaja." Aluna berkata dengan gugup sambil membenarkan kacamatanya.
Dion tersenyum. "Sebenarnya ingin minta maaf, atau ingin berterima kasih?"
"Dua-duanya, maaf sudah lancang memeluk Pak Dion. Dan terima kasih karena sudah membuat saya tak jadi kecebur kolam," ujar Aluna yang tak berani menatap Dion. Sedangkan lelaki itu terus menatap bibir mungil warna pink yang bergerak cantik di depannya.
"Justru aku suka kau memelukku seperti tadi." Dion menatap Aluna dengan intens, ingin tahu reaksi gadis di depannya.
Terlihat pipi Aluna sedang bersemu merah. Aluna malu oleh kata-kata Dion.
*happy reading.
__ADS_1
* mumpung hari Senin boleh ya emak minta Vote, Komen dan Likenya.