Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 167. Pengacau datang.


__ADS_3

"Luna  baju hamil ini akan sangat berguna untukmu, sebentar lagi perut itu akan membesar dan koleksi baju kamu tak akan bisa dipakai." Nenek menyerahkan hadiahnya.


"Nenek, ini banyak sekali." mata Aluna berbinar.


Luna mengelus perutnya yang datar. Lalu tangannya terulur menerima hadiah. Bahagia dan haru bercampur menjadi satu. 


"Nenek, aku baru hamil satu minggu, tapi kenapa kalian memperlakukan aku dan calon bayiku begitu istimewa."


"Apa yang kamu katakan? Wanita hamil itu tidak mudah, kami harus memperlakukan dia dengan istimewa," ucap Nenek mendekat pada Aluna dan mengelus rambut lembutnya. Nenek sudah tak sabar bisa melihat cicit pertamanya yang akan lahir dari menantu pertama. Sebuah kebahagiaan besar bagi nenek yang diberi umur panjang.


Perhatian keluarga Dion selalu membuat netranya berkaca kaca. Tak percaya dia akan berada di kebahagiaan di titik puncak. Aluna memeluk  nenek. "Terima kasih nenek, Aluna tak bisa membalas semuanya kebaikan yang nenek berikan."


" Aku tak ingin sebuah balasan, Luna. Jadilah istri yang mencintai suami dan anak anak kamu kelak, itu sudah cukup." 


Aluna tak melepaskan pelukannya pada Nenek. Dion senang melihat keluarganya yang selalu diberi kebahagiaan. 


Jessica dari kamar langsung ikut mendekap nenek dari sisi yang satunya. "Nenek apakah juga sayang Jessica." 


Ya, Nenek sayang semua cucu. Baik Dion, Adrian dan kalian semua.


Nenek tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan Adrian, keluarga sengaja menyembunyikan semuanya karena tidak ingin nenek ikut sedih, setahu nenek, Adrian sudah bahagia dengan pilihannya. 


***


Selena mencari keberadaan Chela, dicari di rumah temannya tak ada, dicari di kampus dan tempat biasa dia datangi juga tidak ada. Ponselnya juga tak aktif. 


"Kemana kamu Chela, apa kamu sudah ketahuan oleh lelaki pebinor itu." Selena dipenuhi dengan amarah dan panik. Selena pura pura tersenyum di depan Adrian seolah tak sedang memikirkan apapun.


"Dion pasti sudah menangkap Chela. Awas kalau dia berani melukai putriku walau sedikit saja, aku akan membalas semuanya lebih menyakitkan. Karena dia Adrian menderita, karena dia Adrian selalu nomor dua di mata Nenek."

__ADS_1


Geram Selena saat gelisah, sesekali dia melihat pada pemandangan yang ada di depan jendela kamarnya. Kesedihan Selena semakin besar saat melihat Adrian yang kini sedang mematung seperti manekin di balkon. Tatapannya kosong, hidupnya tak ada gairah.


Selena segera mandi dan ganti pakaian simple dan rapi, lalu gegas menuju garasi dan meminta Arga untuk mengantar ke suatu tempat. Adrian pun hanya melihat tanpa bertanya kelakuan mama yang mondar-mandir tanpa ingin mencari tahu. 


"Doktor Nabila, aku pergi dulu, hubungi aku kalau terjadi apa-apa dengan Adrian. Tolong selalu awasi dia, aku takut kalau ingin mencoba bunuh diri lagi," pesan Selena


"Baik, Tante."  Kata Nabila yang merasakan lengannya masih sakit. Tapi untuk aktivitasnya sebagai Dokter. Nabila masih bisa melakukanya dengan baik.


Demi mengembalikan kebahagiaan Adrian, Selena rela melakukan segala cara, dia ingin melihat Adrian yang dulu, yang ceria yang, menyenangkan.


"Nona kita kemana?"


"Aku ada janji dengan pebinor itu, aku akan buat perhitungan yang besar dengan dia."


Selena mengirim pesan pada Dion dan meminta bertemu di kafe yang kebetulan sepi pengunjung. Selena yakin cafe sepi akan menjadi tempat perbincangan yang nyaman.


Selena hanya menunggu sebentar, Dion sudah satang, lelaki itu ingin tahu apa yang akan dilakukan padanya, dan kenapa dia ingin sekali memisahkan dirinya dengan Aluna, bukankah dulu dia orang nomor satu yang ingin Aluna cepat pergi. 


"Sudahlah Dion, jangan pura pura tidak tahu, aku kesini hanya ingin minta tolong padamu, dimana kau sembunyikan putriku." 


"Dimana aku sembunyikan putrimu? Ada urusan apa aku harus menyembunyikan dia?" Dion berdalih, dia tidak ingin mengembalikan Chela dengan mudah. 


Dion tersenyum sinis, membuat  Selena makin geram, ekspresi wajah Dion membangkitkan nyalinya untuk mencakar wajah tampan di depannya. Tapi sayang nyali itu hanya sebatas gemuruh di dada saja.


"Anda kenapa menanyakan padaku, Nyonya Selena terhormat, bukankah anda ini orang hebat, mencari anak sendiri tentu hal yang mudah. 


"Dion, jangan pura pura tidak tau, aku tahu kamu yang membawa Chela." 


"Tidak, aku tidak ada masalah dengan Dia."

__ADS_1


"Ada, kamu ada masalah dengan Chela, karena kamu pasti marah karena dia hanya ingin kembali memiliki Alunanya. Chela sangat ingin Aluna bisa ada dirumah kami dan …."


"Menjadi pelayan! menjadi lelucon! Atau menjadi bahan hinaan?! Aku sudah lama mencari dia, dan tadinya rela membiarkan Luna menikah dengan Adrian karena yakin hidupnya juga pasti akan bahagia. Adrian bisa membuat Aluna kembali menemukan percaya dirinya, tapi apa yang anda lakukan!!' 


"Brak!!"


"Pertemuan dengan Luna bukanlah suatu kebetulan, aku sudah merencanakan semuanya. Kecelakaan kecil, perhatian kecil, dan semuanya, aku sengaja melakukan untuk membawanya dia keluar dari rumah laknat itu, dan Anda mendukungnya bukan? Anda juga memberi izin aku mengajaknya ke Bali, masih ingat kan waktu itu." Dion tersenyum sinis, menyatukan tangan dan menggosoknya "Mertua macam apa? Merelakan menantunya pergi dan bermalam dengan laki- laki lain. Dan anda sama laknatnya dengan putra kebanggan keluarga anda itu. Dia malah mengajak wanita lain. Tidakkah pernah terpikir di benak kalian bagaimana perasaan Aluna waktu itu."


Selena tak bisa menyangkal, ucapan Dion memang benar adanya. Dia dulu malah menyuruh pergi dan mengatai Dion yang bisa bisanya menyukai wanita macam Aluna, jelek kampungan.


"Ya, aku sekarang menyesal, aku baru sadar kalau Aluna ternyata berharga buat keluarga kami, Aluna adalah hidup Adrian. Lekas ceraikan dia, aku akan membuat dia bahagia."


Dion tersenyum sinis, sesekali dia memalingkan wajah, mengusapnya kasar. Ingin marah, memaki hingga dia sadar, tapi sayangnya di depannya orang tua, orang yang harus dihargai seperti seorang ibu. 


Dion berdiri lalu hendak beranjak pergi. Jika tetap ditempat, Dion khawatir ucapannya akan menyakiti wanita itu.


"Dion Aku mohon!" Selena bersimpuh di kaki Dion dan nyaris mencium lutut. 


"Kembalikan kebahagiaan Adrian dan aku akan membuat Aluna bahagia, aku tahu kamu tidak mencintai sebesar cinta Adrian, dan aku juga tahu luna juga mencintai Adrian. Dia hanya menjadikanmu pelarian!" kata Selena sengaja berujar demikian untuk mengacaukan hati Dion.


"Pembohong, Aluna selalu mengatakan kalau dia mencintaiku, dia juga mengatakan kalau aku adalah satu satunya yang menempati singgasana hatinya. Kau sengaja berbohong untuk membuat aku sakit, katakan."


"Tidak, buktinya saat Adrian sakit, dia lebih memilih merawat Adrian, dan kamu tidak tahu apa yang dia lakukan dirumah itu. Dion, ingat! Adrian waktu itu hanya tahu kalau dia istrinya. Bisa dibayangkan bagaimana suami istri saat bersama."


Deg, besi panas seakan menancap di jantung Dion. Membakar hingga paru paru dan relung hati. 


"Aku percaya Aluna, aku hanya percaya istriku. Bukan kamu!!" Dion terus menyangkal.


"Bagaimana kalau istrimu sengaja berbohong!"

__ADS_1


"Kau pasti berbohong, supaya aku membencinya." Dion pergi meninggalkan Selena sendiri, Dion membenci wanita itu, bagaimana bisa dia berkata buruk tentang istri yang begitu dia cinta dan percayai.


Dion memacu mobilnya kencang. Sungguh kata-kata Selena menyakiti hati dan terus berputar-putar memenuhi otak.


__ADS_2