
Dion dan Aluna sudah sampai penthouse. Sepanjang jalan masuk terus menggendong Aluna.
Setelah sampai di sofa ruang tamu Aluna meminta turun.
"Sayang aku turun di sofa aja. aku mau makan diruang tamu."
Dion menurut. " Baiklah Nyonya."
Dion segera mengambil nasi dan laut yang ia bungkus dari restaurant terakhir yang dia kunjungi tadi.
Aluna segera memakan makanan yang sudah disiapkan Dion karena takut Dion akan benar-benar memanggilkan dokter dan menyuntiknya.
Aluna memakan hingga nyaris habis satu porsi, Dion lega lalu mengelus rambut Aluna dan mengecup keningnya. "Nah gitu dong anak pintar, kalau makan dihabiskan."
Baru saja mendapat pujian, tiba-tiba perut Aluna kembali bergejolak, Aluna sekarang berlari ke wastafel dan menumpahkan semua makanan yang baru saja masuk ke perutnya.
Dion yang melihat Aluna bersikap demikian semakin cemas. sedangkan Aluna kekeuh tidak mau dipanggilkan dokter.
"Honey, sekarang katakan saja apa yang harus aku lakukan, aku bingung jika melihat kamu terus seperti ini, dipanggilkan dokter tidak mau, disuruh makan tidak mau. Aku harus gimana, Honey?
"Maaf, Sayang. sungguh ini bukan mauku, aku sudah berusaha makan, tapi perut ini yang tidak bisa menerima."
Dion yang tidak peka akhirnya menelpon orang tuanya. dalam hitungan detik panggilan kepada melani segera terhubung, dan wanita yang tengah santai di rumah itu terkejut mendengar putranya menelepon malam-malam.
"Hallo sayang ada apa?" tanya Melani dengan suara nya yang lemah lembut.
"Ini lho Ma, Aluna nggak mau makan, Sudah beberapa restoran Dion kunjungi tapi hasilnya sama aja, diajak ke dokter nggak mau, setelah makan sedikit malah muntah.
"Sejak kapan itu terjadi." tanya Selena yang langsung bisa menerka apa yang terjadi dengan menantunya.
"Belum lama sih Ma, kemungkinan Baru tiga hari atau empat harian gitu."
"Ok Dion, kamu di rumah jaga istrimu saja ya jangan kemana-mana, mama akan segera datang ke sana sekarang juga."
Melani yang mengetahui kalau menantunya pasti sedang hamil, dia sekarang tengah membangunkan suaminya yang sedang tidur dan mengajak berangkat menuju penthouse milik Dion malam ini juga.
__ADS_1
"Mam, Papa lagi ngantuk, besok aja lah kita ke rumah Dion dan Aluna.
"Nggak bisa Pa, kalau mama bilang sekarang ya sekarang."
David dengan malas turun dari ranjang, matanya masih mengantuk kepalanya terasa berputar putar. padahal hari ini tubuhnya lelah sekali. tapi mau gimana lagi, Melani kalau sudah punya kemauan tak mungkin bisa ditunda lagi.
Melani segera membawakan baju ganti suaminya karena dia akan menginap beberapa hari di rumah Dion. Melani sudah yakin seratus persen kalau Aluna hamil.
Untung tengah malam, jadi jalanan lumayan lengang. ini ada satu dua kendaraan yang kebetulan sedang melintas. David mengemudi dengan mata mengantuk.
Melihat suaminya yang tak bisa diajak bekerja sama, Selena jadi kesal. "huff, minggir pah kalau begitu biar mama saja yang mengemudi."
"Mama sih kurang tidur dibangunkan paksa, ya jelas mengantuk." Davit pindah dari kursi yang ada di depan kemudi menuju kursi kosong di sebelahnya.
Selena mengemudi mobil dengan hati-hati, dalam waktu 30 menit dia sudah sampai di penthouse. Dion rupanya sudah menunggu kedatangan orang tuanya.
"Thanks mama, kalian sudah datang." Dion menyambut hangat keluarganya.
"Sama-sama sayang, di mana menantuku."
Dion dan Selena mengacuhkan papanya yang mungkin sedang lelah sekali, karena seharian telah bekerja dan lembur, Davit baru pulang ketika malam telah tiba.
Aluna yang takut dapat amarah dari mertuanya dia tidak ikut menyambut kedatangan Selena.
Aluna takut mama mertuanya akan marah setelah mendapat pengaduan dari Dion.
Lebih menakutkan lagi bagi Aluna, Bagaimana kalau Selena memanggil dokter sekalian dan mengajaknya kesini, dan dokter membawa jarum suntik yang besar.
"Ma, maafkan Luna Ma, Luna bukannya mau merepotkan mama, tapi Luna memang tidak bisa makan apapun untuk saat ini. Luna sebenarnya mau saja makan apapun, tapi perut yang tidak mau menerima."
Selena baru masuk kamar, belum bicara apa-apa luna sudah ketakutan.
"Sayang. Mama nggak akan marah kok, mama malah senang sekali mendapat kabar dari Dion, kalau kamu seharian ini mual-mual terus."
"Jadi Mama nggak marah?" wajah Aluna yang tadinya ketakutan sekarang langsung berbinar, senyum di wajahnya terbit begitu cerah.
__ADS_1
"Enggak sayang, Mama mana mungkin marah." Selena duduk di pinggir ranjang, sedangkan Aluna bersandar pada salah satu sisi ranjang. "Mama senang sekali mendengar kabar ini, itu tandanya kamu sekarang sedang hamil lagi. Dion kamu kok nggak peka sih, Bukannya sebelumnya Luna sudah pernah seperti ini."
"Apa Ma? Luna hamil?" Dion bingung antara senang dan terkejut.
Melihat reaksi Dion tentu saja Melani sangat marah. Melani melotot dan memukul kepala Dion.
"Dasar anak bodoh, jangan kamu berlagak kaget, istri kamu itu sudah hamil anakmu."
"Iya, Iya Ma." Dion sungguh merasa malu dipukul seperti anak kecil di depan Luna."
Luna juga terkejut dengan penuturan mama mertuanya.
"Ma, nggak mungkin Luna hamil, Luna dan Dia, baru saja marahan, dan tidak melakukan selama hampir satu bulan, dan kami melakukannya lagi baru dua malam, itupun karena Luna tidak sadar, dan yang satu kali baru lima hari yang lalu."
"Terus masalahnya di mana? baik satu kali atau dua kali kalian berdua tetap melakukannya kan? tanya Selena yang tak mengerti jalan pikiran anak dan menantunya.
" Emang dalam dua malam itu kalian melakukannya berapa kali?" Tanya Selena yang penasaran. sekaligus ingin tahu seberapa tangguh kekuatan putranya. Hanya saja pertanyaan memancing itu tidak diketahui oleh Aluna dan Dion.
"Sebenarnya pada malam, saat Aluna hilang kesadaran itu Dion memintanya sampai lima kali, terus setelah kita baikan, Dion meminta sampai delapan kali dalam semalam," terang Dion jujur.
"Ya Tuhan!!! dan kalian masih bertanya kenapa bisa hamil?" kalian itu bukan melakukannya dua kali, tapi tiga belas kali." sungguh Melani ingin sekali menjewer kedua anaknya yang sudah pengalaman tapi masih bodoh.
"Kalau seperti ini ceritanya, mama jadi sakit kepala tau!" kalian itu kok bisa sampai banyak begitu, apa nggak ada malam lain apa?Dion! Luna."
"Ma, jadi Aluna benar-benar hamil nih?" tanya Dion takut kecewa setelah berharap sangat besar.
"Terus menurut kamu?"
"Alhamdulilah Tuhan!!" Dion yang tadinya berdiri seketika langsung loncat ke atas ranjang dan memeluk Aluna sangat erat. memberi kecupan bertubi-tubi pada kening pipi dan hidung Aluna.
Tak ada kata yang diucapkan Dion lagi selain rasa syukur di hatinya yang lebih besar daripada apa yang dilakukan.
Sedangkan Aluna kembali menitikkan air mata, tangis haru biru kini menggema di kamar Dion.
Suara tangis Dion paling kencang, karena dia paling merasa bersalah atas kepergian putra pertamanya. dan kini Dion dan Aluna kembali mendapat kepercayaan.
__ADS_1