Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 117. Bertemu di rumah Nenek.


__ADS_3

"Oh, ini sarapan pasti buat aku?" Dion menghirup aroma bubur yang mengepul.


"Pak Dion jangan! Ini buat nenek." Aluna merebut mangkok di atas nakas lali bersiap menyuapi nenek.


"Kalian ini, Luna berikan sama Dion saja, biar nenek sarapan nanti saja." 


"Terima kasih nenek, sudah nggak sabar makan masakan calon istri, " Dion menatap sang kekasih, sambil tersenyum nakal.  


Aluna makin tersipu mendapat pujian dari Dion, nenek meneguk salivanya berulang kali melihat Dion makan. 


Usai menghabiskan sarapan milik Nenek Dion segera mengusap bibirnya dengan tisu. Lalu mereka berdua berpamitan dengan nenek.


Di depan tangga Dion segera menggendong luna di punggungnya, dengan tujuan mobil yang bertengger di garasi.


"Turunkan saya Pak Dion, aku bisa jalan sendiri."


"Sudah diamlah, aku sedang melatih kekuatan otot punggungku."


"Aku takut tergelincir Pak Dion." Aluna memukul pundak Dion berulang kali. 


"Tidak mungkin, kalau kau terjatuh aku pasti lebih dulu, dan aku akan menopang tubuhmu."


"Lepaskan Pak, Lepaskan, aku malu dilihat Nenek!" Aluna berusaha meronta. 


Sedangkan Nenek yang melihatnya dari lantai atas hanya geleng kepala, mungkin Dion memang mencintai Luna dengan tulus. Nenek belum melihat laki laki itu begitu bahagia seperti hari ini. Tawanya terdengar lepas, tak ada yang ia sembunyikan.


"Auwwww." Pekik Aluna yang tubuhnya menimpa tubuh Dion.


 Aluna dan Dion benar-benar terjatuh. Untung saja tinggal dua tangga lagi yang belum dia lewati. 


"Awww, mantapnyaaaa sayang, ahh…." Wajah Dion terlihat pasrah kertika tubuh Luna tepat diatas tubuhnya. Anehnya Dion saat terjatuh posisinya terlentang. 

__ADS_1


Bukannya segera bangkit Dion malah senyum senyum tak jelas. "Luna, kita belum menikah, aku nggak nyangka rupanya kamu tak sabaran."


"Dasar mesum, aku mau berdiri, tapi susah."


"Pelan pelan, nanti king kobra bangkit, dia masih bertapa selama delapan puluh hari lagi."


"Jangan ngaco, didengar Tuti kan malu."


"Bukan cuma Tuti, nenek dan dia juga melihat kita."


"Siapa?"


"Mantan kamu."


Aluna segera bangkit dari atas tubuh Dion. "Pak Dion, ini gara-gara anda, main gendong sembarangan." Aluna malu kepergok Adrian dan Nenek. 


Nenek tahu Adrian hatinya terbakar oleh kemesraan mantan istri dan sepupunya. Dia melihat Aluna hampir tanpa berkedip.


"Anda telah masuk tanpa permisi, Saudara. Jadi maaf kami tidak tahu anda datang. Jadi jangan salahkan aku atau Aluna yang pagi-pagi sudah mengotori mata anda. Kami memang kadang terlihat konyol. Tapi aku sangat menyayangi sekretarisku ini." Dion sengaja mengelus rambut Aluna yang tergerai. Yang mungkin tak pernah Adrian lakukan sebelumnya.


Adrian hanya diam mematung, sadar akibat membahagiakan wanita lain akhirnya istri dirumah dibahagiakan orang lain. 


"Tidak apa-apa, kapan kalian menikah?" Dengan sekuat hati Adrian menata kalimatnya hingga akhirnya keluar kata-kata dari bibirnya. 


"Tidak lama lagi, yang jelas kita akan menikah, aku akan menikah setelah iddah Aluna sudah selesai, dan sementara ini kami akan menikmati masa kita pacaran."


"Oh, selamat. Semoga kalian langgeng." Adrian mengiurkan tangannya pada Dion.


"Terima kasih Pak Adrian." Dion meraih tangan Adrian yang menggantung. "Semoga kau mengatakannya tulus dari hati."


"Tentu, aku juga akan menikah, besok pagi jangan lupa datang, oh iya kau pasti belum dapat undangannya." Adrian memberi kode pada Argo yang ada di belakangnya untuk mengambil undangan pernikahannya. 

__ADS_1


"Oke, selamat juga buat kamu, Adrian aku senang kamu menikah cepat." Dion melihat undangan sekilas, lalu memeluk Adrian dengan erat seolah mereka sudah kembali akur. 


Aluna hanya diam memandang dua orang didepannya berpelukan, sebenarnya hatinya agak geli melihatnya. Dua orang di depannya hanya pura pura akur. Entah demi apa mereka bisa bersikap demikian. 


"Pak Dion, kasian Beni terlalu lama menunggu."


"Oh ,iya. Kamu benar sayang." Pelukan Dion dan Adrian terlepas 


Dion lembali menggandeng lengan Aluna, mereka berjalan meninggalkan Adrian sendiri, Aluna dan Dion terlihat begitu serasi. 


Cantik dan tampan, Dion dengan kemeja yang cenderung suka pres body, menonjolkan lekuk tubuhnya, sedangkan jasnya belum dipakai karena ada diobil. Sedangkan Aluna dengan kemeja putih dilapisi vest dan rok span selutut, memakai high heels setinggi tujuh centi, membuat jalannya semakin indah, memamerkan kaki jenjangnya.


Adrian menatap dua punggung yang menjauh darinya dengan tatapan nelangsa. 


"Ehemm." Nenek berdehem."


Adrian terkejut. " Nek!"


"Yang sudah pergi jangan disesali, bukankah semua itu karena ulah kamu sendiri, biarkan Aluna bahagia dengan Dion," kata Nenek yang masih berada di tangga. 


"Nenek, Adrian senang ,melihat dirimu begitu cantik hari ini."


"Sudahlah Adrian, jangan memuji nenek berlebihan, nenek sudah tua, pasti akan jelek dan keriput." kata nenek tak sabar mendengar berita yang dibawa oleh Adrian.


"Adrian akan menikah besok, Nek." kata Adrian. 


"Kenapa kau terlihat kusut dan sedih, harusnya kau bahagia."


"Aku sedih karena aku sadar sampai disini aku telah salah langkah." Adrian menangis sambil mendekap tubuh nenek yang hanya setinggi dadanya.


"Nenek tidak bisa membantu apapun, percuma kau menangis disini." kata nenek dengan ekspresi datar. Nenek kecewa Adrian tidak bisa menjaga rumah tangganya dengan baik. Sebagai CEO harusnya Adrian bisa lebih tegas mengenai hubungannya. Jika sudah ada Aluna harusnya melepas Angel.

__ADS_1


__ADS_2