Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 49. Antara dua hati.


__ADS_3

Selesai berkemas Aluna  berdiri di dekat jendela kaca, kegiatan yang paling ia sukai selama tinggal di hotel ini. Menatap pantai dan keindahan bangunan Bedugul. 


Aluna bersyukur hari ini terjadi, dia berani mengambil keputusan yang menurutnya terbaik. Melepas diri di dari keluarga Adrian yang tak akan pernah bisa menghargai dan menerima ketulusannya. 


Alex, papa Adrian pasti juga akan setuju. Alina akan mengembalikan kedamaian keluarga Adrian seperti dahulu lagi. Tanpa ada dirinya. 


Tapi tetap saja Aluna menangis, dia berat melakukan semua ini, sungguh jauh di lubuk hatinya yang dulu kosong melompong, untuk pertama kali sudah diisi sosok makhluk yang mengucap janji suci dengan menyebut nama Tuhan. Harapannya pupus, cinta itu malah mengering tiada mendapat sambut. 


Saking asyiknya terbuai dalam lamunan, Aluna tak sadar seseorang tengah mengamati dari belakang. 


"Ada dua pilihan, jika kamu mulai mencintai, perjuangkan. Jika tidak, dan hanya menyiksa hati, bisa lepaskan saja."


Pak Dion! Aluna segera berbalik menatap pria yang beberapa hari ini telah keukeuh mengetuk pintu hatinya, dan menjanjikan sejuta bahagia jika sudi bersamanya. 


"Jadi pulang sekarang, Pak."


"Iya. Sudah siap?" Tanya Dion.


Mengangguk pelan."Siap."


Aluna menyeret koper dan melangkah keluar, Dion meminta koper yang ada di tangan Aluna dan membantu membawa benda hitam itu. 


Aluna berjalan pelan di sampingnya, ada ribuan  maaf yang ingin diucapkan atas ketidak jujuran yang dia pendam selama ini. Semua dia lakukan demi menjaga nama Adrian.


"Pak Dion, Saya ingin minta maaf. Saya tidak mengatakan terus terang Kalau saya sudah menikah dengan pak Adrian."


"Sudah Luna jangan bahas itu lagi, sekarang aku bertanggung jawab untuk mengantar kamu pulang, karena aku yang bawa kamu kesini."


***


Mereka bertiga kembali naik pesawat tujuan Surabaya. 


Dion terlihat lebih banyak diam dan bicara seperlunya saja. Perhatiannya pada Luna tak seperti saat berangkat kemarin.


Gadis yang kembali memakai kacamata dan mengikat rambutnya menjadi satu di belakang itu kembali diterpa perasaan tak menentu. 

__ADS_1


Beni sang asisten memandang Luna dengan perasaan iba sekaligus kagum. Gadis seperti dia mendapat dua cinta dari dua tuan muda, pemilik perusahaan ternama di kota.


"Pak Dion, sebenarnya Pak Adrian tak menganggap pernikahan ini pernah terjadi. Wanita satu satunya yang dia cintai hanyalah Angel." Luna memaksa bercerita setelah Dion bersandar dan menutup kedua matanya.


"Jika tidak cinta kenapa menikah?"


"Tadinya aku berfikir cinta akan datang setelah pernikahan, ternyata aku salah. Tapi ini baik untuk saya, supaya kedepannya bisa jadi pengalaman."


Aluna bisa berkata dengan lepas, ketika matanya kembali ditutup, pesawat perlahan sudah meninggalkan bandara. 


"Andaikan saja bukan amanah bapak, saya sudah pergi lama."


Dion yang tadinya tak mengerti apapun, kini dia mulai paham kalau pernikahan Aluna berdasarkan paksaan yang terikat sebuah amanah.


"Jadi kamu tidak pernah bahagia hidup bersama dia?" 


Aluna menggeleng. Seperti yang anda lihat sekarang. Entah keputusan yang kuambil tadi benar atau salah. Setahuku bercerai itu boleh tapi Tuhan sangat membenci makhluk yang bercerai. 


"Aku tidak bisa menjadi pengganggu istri orang, apalagi merusak mahligainya." Kekecewaan di wajah Dion kembali terlihat, dia membuka penutup matanya. Sedangkan Aluna tak tahu hal itu. Dion menatap Aluna dengan intens. Ingin sekali mwngentuh pipinya yang tirus.


Hati Dion sama kapal yang terlihat kecil saat dilihat dari pesawat  yang ditumpangi, terombang ambing di tengah samudra menuju tujuan. Semoga kapal cepat sampai pada tujuan. Dion berharap semoga hatinya lekas menemukan penawar.


****


Adrian kembali berkumpul bersama kru perusahaan. Sejak kembali dari hotel dia seperti orang yang linglung. Ucapan permintaan cerai Aluna terus saja terngiang di kepalanya. 


Adrian memilih langsung kembali ke kamarnya dan istirahat, dia juga meminta Argo dan Arga menjaga pintu,supaya tak ada seorangpun yang mengganggunya pagi ini. 


Alangkah kesalnya Adrian, pesan darinya sama sekali tak diindahkan. Pintu tetap saja di gedor-gedor oleh seseorang, bahkan suaranya terus saja beruntun


tanpa jeda.


"Kamu tuli ya!" Membuka pintu dengan kasar "Kerja begitu saja tak bisa!" Adrian mengira Arga yang mengetuk pintu.


"Adrian, maaf aku ingin menemani dirimu, tiba-tiba si kembar ini menahanku. Kamu lupa pagi ini ingin mengajakmu melihat sunrise disini tapi ini sudah jam berapa?"

__ADS_1


"Lupakan sunrise, aku tidak ingin melakukan apapun pagi ini!" Adrian membentak Angel untuk pertama kalinya.


"Adrian!!" Netra wanita yang sudah siap dengan baju pantai yang ditutup dengan cardigan itu membesar . 


"Kau membentakku." Angel menggeleng tak percaya, karena Luna dia mendapat amarah dari lelakinya.


"Angel, maaf." Adrian meralat kata katanya. Disisi lain dia juga tak ingin membuat hati wanita itu terluka. Adrian butuh Angel untuk bekerja padanya. 


"Oke datanglah ke pantai lebih dulu bersama Rosa dan Sisil, aku akan menyusul." Lelaki itu mengecup kilat kening Angel untuk mendamaikan hatinya.


Angel mengangguk meski kedua matanya basah, lalu dia pergi dengan kecewa. Adrian tak semanis dulu, sejak Aluna datang ke perusahaan, dia berlahan sudah berubah. 


Mereka bertiga sudah tiba di pantai. Angel menatap indahnya pantai dengan ketiga kawannya. 


 Rosa menggodanya. "Hai Angel, wajah Lo kusut amat ada apa dengan pangeran tampan. Padahal semalam kalian itu sudah serasi banget."


"Iya, semalam elo pasti." Sisil mengedipkan matanya. Iya Kan?"


"Kamu itu ya, nggak setia kawan, giliran kalian pada heppy bersama Tito, nggak ingat lagi sama teman yang lagi menderita, dibantuin kek, biar jalannya mulus."


"Jadi kamu dan Adrian semalam nggak …."


"Enggak, Adrian justru sekarang lagi nyebelin, semua karena OG baru itu."


"OG, Angel dia itu cuma OG kita bisa buat dia pergi dari perusahaan." Sisil mengutarakan ide briliantnya.


"Jangan, menurutku kita bisa lebih mudah memantau dan menyiksa musuh, ketika dia lebih dekat." Kata Angel penuh dengan intrik picik.


Mereka bertiga lalu tertawa bahagia sambil bergandengan. Menyatukan tangan kanannya sebagai simbol kokohnya persahabatan. Selama ini tak ada karyawan yang berani membuat masalah dengan ketiga wanita itu, dia akan main keroyokan untuk membuat lawan tersudut, dan esoknya si penantang tak terlihat lagi di perusahaan.


Semua diam ketika Adrian sudah tiba, Angel segera menyongsong dan memeluk lelaki pujaan. Dan bergelayut manja pada dada bidang nan lengan kokoh.


Adrian membalas pelukan Angeline, meski hatinya kini tengah terkatung-katung diantara dua wanita. Satu wanita yang sah menjadi istri dan satu lagi wanita yang membantunya sekian lama dalam memperoleh kesuksesan. 


*Maaf telat up, nanti malam janji deh up lagi. tapi jangan lupa ritualnya ya cuma like, komen dan vote.

__ADS_1


 


__ADS_2