
"Dion, Luna, ini hadiah untuk kalian, Mama beli ini khusus untuk Luna sebelum pernikahan kalian yang batal, dan di buka dirumah aja ya," kata Melani semakin membuat penasaran.
"Ini dari Papa, semoga cinta kalian langgeng" David juga memberinya hadiah kecil yang terbungkus rapi.
Lalu mereka berdua keluar meninggalkan sepasang pengantin baru.
"Kita sudah sah, dengan begini tak ada lagi yang melarangku untuk dekat dengan istriku sendiri." Dion tersenyum penuh kemenangan sambil nenatap Aluna yang di pangkuannya ada banyak hadiah.
"Apa yang anda lakukan?" Aluna tersipu malu, dilihat demikian lekat oleh Dion.
"Bisakah kau diam dan biarkan aku memandangmu."
"Anda selalu ada aja." Aluna menggeleng pelan lalu kembali merebahkan diri. Dion membantu menata bantal Aluna. Pandangan mereka bertemu kembali saat Dion membungkuk. Aluna merasakan nafas hangat Dion, Aluna mengedipkan matanya pelan.
Dion mengecup puncak kepala Aluna.
"Honey, terimakasih sudah menjadi istriku dan semoga kita akan bersama selamanya."
"Iya, Pak Dion."
"Apa?!" Tersenyum gemas mendengar istrinya masih memanggil dengan sebutan 'Pak'
"Maaf, aku harus panggil apa?"
"Sayang!" kata Dion.
"Sayang." Aluna meralat kata katanya.
Dion kembali memeluknya.
Mengecup bibir merah istrinya sebentar dan melepaskan lagi karena Aluna meminta membuka hadiah dari keluarga Dion.
Dion dan Aluna antusias dengan hadiah dari Mama karena ukurannya besar, meski kalah besar dengan milik Jessica sih.
"Kita buka hadiah dari Mama dulu ya, mama kasih yang pertama," pinta Aluna.
__ADS_1
"Baiklah Honey, kira-kira mama kasih hadiah apa buat kita." Dion menunggu tak sabar.
Aluna merobek pembungkus hadiah dari Mama dengan hati-hati. Sedangkan Dion memanfaatkan untuk membaca pesan dari kantor.
Aluna seketika langsung membuka mulutnya dan menutup dengan telapak tangan. Lingeri mirip jaring ikan dengan warna hitam itu membuatnya geli. Apalagi di begian belakangnya ada ekor kucing dan bagian depannya hanya garis lurus yang sedikit melebar di bagian dada dengan hiasan kepala kucing di kanan dan kiri untuk menutupi gunung saja.
"Sayang, lihatlah hadiah dari Mama."
Pandangan Dion beralih pada tangan Aluna yang memegang baju kurang bahan itu, Dion ikut tertawa melihat lingeri seksi dan lucu .
Dion dengan semangat mengambil satu lagi dari dalam isi kotak pemberian Mama. " Wah bakal begadang kalau baju tidur sekarang bentuknya begini semua."
Dion membuka lingeri satunya, tapi kali ini lingeri berbulu dengan warna putih, dan ada hiasan dua kepala kelinci untuk menutupi dada dan ada ekornya juga. Intinya semua hadiah mama adalah lingerie seksi yang lucu.
Dion dan Aluna membuka semua hadiah dari Mama dan semuanya Lingerie dengan hewan lucu. Tetapi ada juga perhiasan mahal. Gelang dari mutiara warna putih yang pas sekali ditangan Aluna.
Sedangkan hadiah dari papa yang tipis itu Dion tak bisa menebak isinya. "Kamu tebak Honey, kira kira apa hadiahnya?"
"Pasti itu sebuah surat penting, tapi aku juga nggak tahu itu surat apa."
"Apa? Bagaimana bisa bulan madu? Sedangkan aku sakit begini."
"Bisa, kalau sudah sembuh. Nggak apa apa Honey, biar kamu nggak jenuh di rumah, pasti kamu belum pernah pergi kemana-mana selain ke pulau Bali denganku waktu itu"
"Enak aja, jangan ngeledek dong. Aku juga pernah ke tempat wisata pantai Parangtritis," kata Luna.
"Hehehehe, pasti pas jaman sekolah ya?" Ledek Dion.
"Iya hehehehe." Aluna tertawa.
Mereka berdua hari ini sangat senang dengan hadiah kedua orang tua yang menyayangi dengan tulus. Semuanya sangat berkesan.
Hadiah dari Jessica juga sangat bagus menurut Aluna. Boneka beruang besar yang empuk dan berbulu lembut, asyik dipeluk saat tidur, tapi menurut Dion dia akan menjadi pengganggu dan hanya akan memenuhi ranjang saja.
***
__ADS_1
Sore hari pasangan suami istri masih setia berpelukan. Tidak ada hal lebih yang bisa dilakukan.
"Sayang, tubuhku lengket, entah berapa hari aku tak mandi." Kata Aluna yang mulai malu saat Dion nempel-nempel di tubuhnya.
"Yakin mau mandi?"
"Iya, perawat tadi bilang sedang mempersiapkan mandi untukku."
"Perawat? Kenapa tidak aku saja, Honey?"
"Nggak Sayang, aku mau sama perawat saja."
"Tidak usah malu, aku suamimu sekarang."
"Aku tahu, tapi aku memang masih malu, apalagi kau nanti akan melihat semuanya." kata Aluna pelan, tapi masih bisa didengar Dion. Aluna tak bisa membayangkan bagaimana jika Dion meraba tubuhnya saat tanpa penghalang.
Dion kini tertawa, Lucu melihat istrinya yang masih pemalu, disaat sudah menikah. Padahal di luar sana dia sering mendapat tawaran dari seorang wanita yang siap bermalam dengannya, bahkan rela membuka pahanya untuk menghabiskan satu malam dengan Dion andai dia mau.
Dion, CEO yang cerdas perusahaan King Fashion pasti namanya sudah tak asing ditelinga para wanita. Apalagi parasnya yang mirip Oppa Korea dan tubuhnya yang atletis. Belum lagi dompetnya yang tebal.
"Gadis Langka!" Dion mencubit hidung sang istri.
"Suami genit, hidungku sakit," kata Aluna mulai manja.
Tak lama perawat segera membawa peralatan mandi untuk Aluna. Dan membantu Aluna ke kamar mandi. Sampai di dalam kamar mandi perawat setia menunggu, dan siap selalu apabila Aluna butuh bantuan..
Dion memberi isyarat agar perawat pergi. Perawat mengangguk pelan.
Aluna yang sudah terlanjut membuka bajunya tak bisa berkutik melihat perawat pergi.
"Sayang kenapa perawatnya pergi?" Tanya Aluna yang duduk di kursi khusus mandi pasien.
"Biarkan saja, ada aku kenapa harus Dia, mulai sekarang biasakan minta tolong padaku. Jangan pada orang lain. Aku akan meluangkan waktuku semua untukmu."
"Tapi Sayang,"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian, aku akan membuat mandi kamu hari ini sangat istimewa. Honey." Dion mengerlingkan matanya nakal, membuat Aluna bergidik ngeri.