
Aluna tertidur, sedangkan Dion mengangkat kepalanya dari dada Aluna karena bibi kembali lagi.
"Maaf Den!"
"Bibi, masuklah tidak apa apa."
Dion menggeser duduknya sedikit menjauhi Luna. Dia tidak enak dilihat Bibi. belum menikah tapi sudah bermesraan yang berlebihan.
"Bibi apa yang kau bawa?" Dion bertanya yang ada di tangan bibi.
"Ini wedang jahe, sama roti bakar, Siapa tahu Nona Aluna kalau mau minum cepat sembuh dari pusing. Kalau buat Den Dion sudah bibi buatkan kopi dengan tambahan creamer. semoga suka."
"Taruh disitu Bi." Perintah Dion.
"Iya. Den. Kalau butuh apa apa panggil bibi Den, bibi ada di dapur."
Dion mengangguk, akhirnya dia memilih untuk menunggu Luna bangun dengan berjalan mondar mandir di sekitar kamar Luna.
Dion menelisik setiap sudut kamar Luna. Dia ingin melihat benda apa saja yang menjadi koleksinya, dan yang lebih membuat Dion penasaran, sekaligus sebuah harapan adalah, adanya foto dirinya disana.
Dion duduk di meja kerja Aluna, disana ada sebuah laptop dan beberapa berkas kantor. Disebelah laptop tapi agak jauh ada bunga pemberian Dion tempo hari.
Tanpa sadar bibir laki-laki itu melengkung keatas, bahagia. "Kau menyimpan bunga ini Luna. Apa kau juga menyimpan fotoku walau satu saja.
Dion akhirnya menemukan fotonya di dalam almari kaca, foto Dion nampak tampan dengan celana okford warna hitam, memakai jas hitam dan kemeja putih, dasi menggantung tertiup angin, rupanya itu foto saat mereka liburan di Bali.
Dion juga melihat foto Adrian ada di sebelahnya, lebih tepatnya foto Aluna dan Adrian saat pernikahan mereka.
Aluna memakai kebaya dan kacamata tebal, bahkan Aluna masih terlihat cupu dan tak sepadan dengan dandanan Adrian yang tampan dan cool.
"Luna kenapa kau masih menyimpan foto ini?Apa kau masih mencintai lelaki itu?" Dion mengeluarkan foto Adrian dan Aluna dari dalam lemari kaca.
Iseng dia melihat bagian belakangnya. Rupanya Aluna menulis sebuah kata kata.
Cinta hadir tanpa diminta, kadang berlabuh pada hati yang salah. Mungkin pertemuan kita adalah kesalahan, sehingga kau tak pernah mengerti akan hadirnya cintaku yang tulus. Baiklah! Aku akan menganggap pertemuan kita adalah pelajaran hidup, dan kita tidak bisa memaksakan cinta pada orang yang dipaksa menerima kehadiran kita, sedangkan hatinya sudah terisi penuh dengan cinta yang lebih sepadan. Aku ini apa? Siapa? Aku hanya sebuah batu kali yang tidak punya nilai apapun. Selamat tinggal.
Semoga cinta sejati yang akan membawa bahagia di sisa hidupmu.
Dion merasa cemburu membaca untaian kata di belakang foto Adrian. Meski isinya tentang kekalahan Aluna, Tapi tetap saja Aluna pernah mencintai Adrian.
Dion memutuskan untuk melihat kembali fotonya, dia berharap ada tulisan di belakang fotonya.
Dion Sanderson, bertemu denganmu adalah kebetulan, tapi cinta yang tumbuh semoga bukan sebuah kebetulan, aku ingin membina mahligai kembali bersamamu, semoga kau dan aku mampu menata kembali puing puing yang sudah hancur tak berbentuk ini. Sungguh kau harapan terakhirku. Andai kau juga melukaiku seperti yang dulu. Aku tak akan percaya lagi akan indahnya cinta. Biar aku jalani hidup sendiri saja.
Dion terbelalak membaca coretan pena dibelakang fotonya. Cemburu yang hinggap langsung saja memudar berubah menjadi senyum yang sangat lebar, mata yang berbinar.
"Luna jadi kau juga mencintaiku, kau bahkan sudah siap jika aku menikahimu."
Dion mengembalikan foto-foto ke tempat asal dan menata seperti semula, takut nanti Aluna mencurigai kalau dia sudah melihat semuanya.
__ADS_1
Dion menatap Aluna yang masih pulas. Dion segera mendekati Aluna dan duduk disebelahnya seperti semula. Dion membungkuk dan memeluk erat tubuh Aluna. Bahagia dihatinya tak bisa dia tahan lagi. Ingin sekalian menunjukkan pada Aluna kalau dia juga punya harapan yang sama.
Aluna menggeliat merasakan tubuhnya tak bebas bergerak.
"Pak Dion!"
"Hey! sudah bangun?" Dion sedang senang hingga dia senyum-senyum sendiri.
"Pak Dion nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, aku masih waras Aluna, kau pikir aku gila?"
"Habisnya senyum senyum sendiri, Aluna jadi takut."
Aluna bosan tiduran, dia sekarang menggeser tubuhnya ingin bersandar.
Dion membantu Luna untuk duduk, lalu merapikan selimut.
"Maaf Pak, bikin anda repot."
"Repot seperti apa? Kalau sama kekasih seperti ini nggak repot, ini kewajiban yang harus dilakukan." Dion meraih jemari Aluna dan mengecupnya. Tubuh Luna menghangat tangannya dikecup Dion.
Tiba tiba perut Luna bergejolak Luna ingin memuntahkan sesuatu dari perutnya.
"Kami ingin muntah?"
Luna mengangguk sambil lari ke wastafel, karena Dion khawatir Luna masih pusing lelaki itu mengejarnya, belum sampai wastafel Aluna sudah mengeluarkan isi perutnya. Alhasil celana Dion terkena muntah Aluna.
Dion bukannya jijik, dia malah menuntun Aluna ke wastafel. Dion juga membantu Luna menyalakan kran air.
"Pak Dion, bersihkan tubuh anda, aku sudah mendingan," kata Aluna sambil menatap celana Dion yang kotor.
"Baiklah, aku akan mandi dulu." Dion masuk kamar mandi minimalis di rumah Aluna, meskipun kecil Aluna pandai mengatur jadi Dion tetap menyukainya.
Aluna termenung sesaat, ingatannya sudah kembali normal, dia ingat semua kehangatan saat dia berpelukan dengan Dion, saat dia mengecup bibir Dion, dan saat Dion tertidur di pelukannya.
'Apakah cintaku memang sudah berubah? Kenapa aku merasa nyaman sekali di dekat Pak Dion.'
'Apakah pak Dion memang jodoh keduaku? Semoga aku memang mencintainya setulus hati bukan sekedar pelampiasan.'
"Luna!" Panggil Dion dari kamar mandi.
"I-iya Pak?"
Tolong berikan aku handukku, airnya dingin sekali." Dion yang tak biasa mandi langsung dari bak mandi tentu kedinginan.
"Iya Pak!"
Aluna segera berjalan menuju lemari, mengambil handuknya yang baru dicuci bibi.
__ADS_1
"Pak ini handuknya." Aluna berkata di depan pintu.
"Baiklah, aku buka pintunya, ulurkan saja tanganmu ke dalam."
"Dion segera menyambut jemari Aluna, dia ingin menggoda dengan menarik pergelangan tangannya."
"Pak Dion, jangan!" Aluna berteriak sedangkan Dion tertawa terkekeh.
"Kamu nggak penasaran dengan punyaku?" Kata Dion dari dalam kamar mandi.
"Pak Dion, tolong jangan bercanda, ini tidak benar," jawab Aluna dengan suara gemetar.
"Kamu pasti sudah pernah lihat punya Adrian." goda Dion.
"Belum pernah, sumpah." Aluna segera pergi setelah memberikan handuk pada Dion. Dion suka sekali menggoda Aluna yang pemalu.
Aluna berlari menjauh dari kamar mandi lalu duduk di ranjang, dia kesal dengan Dion yang kelewatan.
Selesai mandi segera keluar. Handuk Aluna hanya cukup untuk menutupi aset berharganya saja.
"Luna, aku juga tak bawa baju ganti?" Mendengar suara Dion Aluna segera menoleh."
"Aaaa, kenapa anda …."
"Sttt jangan berteriak, nanti bibi mengira aku apa-apain kamu, lagi. Aku nggak bawa baju ganti Luna."
"Terus gimana, Pak? Biar bajunya aku cuci kalau begitu, anda diam saja disini. Setelah kering nanti anda pake lagi."
"Jadi sekitar tiga jam aku begini terus?"
"Gimana lagi, aku akan menunggu diluar, anda terus saja di dalam kamar."
"Kalau di dalam sama kamu?"
"Tidak boleh, kita belum muhrim."
"Ah, kapan kita halal Luna, aku sudah nggak sabar." Dion menarik Luna yang baru saja mau keluar ke dalam dekapannya.
"Pak Dion." Dada Aluna kembali bergemuruh ketika duduk dalam pangkuan Dion dan merasakan Ada yang mengganjal di pahanya.
"Pak Dion, aku akan mengeringkan baju anda, lepaskan aku. Kita tidak boleh menyiksa diri seperti ini."
"Maafkan aku Luna, semua karena aku terlalu mencintaimu, aku tak mau kamu pergi dariku."
"Aku tak akan pergi Pak, aku akan selalu di samping anda, baik sebagai sekretaris, atau sebagai kekasih."
"Terima kasih Luna, aku merasa tenang sekarang." Dion melepas genggamannya di pergelangan lengan Dion. Membiarkan Luna menjemur bajunya yang basah.
Sedangkan Bibi hanya mendengar obrolan majikannya dari dapur. Bibi berharap Dion dan Aluna memang berjodoh.
__ADS_1