
Selesai mencatat nomor ponsel Luna, Dion baru sadar kalau Aluna akan pergi lagi. Dion khawatir Luna akan menghilang seperti lima hari yang lalu.
"Luna, aku antar!" Dion segera berdiri ketika Luna melangkah pergi memunggunginya.
Luna berhenti dan menoleh."Jangan, Pak Dion. Aku akan pulang sendiri, anda lebih baik kembali ke kantor."
Aluna tak mau cerita, kalau dia masih cari kontrakan dia tak mau menjadi wanita yang selalu menjadi beban hidup orang lain, terlebih Dion bukan siapa siapanya.
"Kamu terluka, aku tak bisa biarkan kamu sendiri," Dion memohon, dia mendahului Aluna dan menghalangi jalan keluar rumah sakit
"Pak Dion … cukup selama ini aku jadi beban anda, aku ingin berusaha dengan caraku sendiri. Please" Aluna menangkupkan tangannya, memohon untuk diizinkan pergi.
Dion menyerah, dia paham Aluna sedang ingin sendiri. Gadis itu tidak suka dipaksa.
Dion memilih melepaskan Luna hari ini, tapi dia meminta pada paman Adam dan Bi Sonia untuk terus menjaganya. Dengan melanjutkan kontrak kerja, tapi sekarang Dion yang akan memberikan gaji tiap minggu.
Luna akhirnya menemukan sebuah perumahan sederhana yang sengaja dikontrakkan. Aluna membayar untuk satu bulan saja dulu, masih khawatir kalau persembunyiannya diketahui Adrian. Jika hal itu terjadi pasti dia harus mencari tempat tinggal baru.
Kontrakan minimalis memiliki dua kamar, sederhana, kamar utama untuk Aluna dan kamar belakang untuk Sonia, sedangkan Adam memilih tidur di ruangan kecil dekat garasi.
Tiba di kantor, Dion segera menghubungi Aluna. Lelaki itu wajahnya tak lagi kusut seperti lima hari lalu.
Beni yang melihat perubahan bosnya hanya bisa mendoakan semoga Dion tak dikecewakan wanita lagi, soalnya beni tahu saat ini gadis yang diincarnya adalah istri sepupunya.
"Hallo Luna?"
"Hallo Pak Dion."
"Lagi ngapain?"
"Bersihin kamar, Pak Dion."
"Baguslah."
"Bagus? apanya yang bagus Pak?"
"Eh, bagus, apa ya? Bagus kamu sudah baik-baik saja, apa lukamu tak perih."
"Tidak Pak, Obat yang diberikan dokter tadi pasti sudah termasuk penghilang sakit."
"Bagus kalau begitu, tapi tetap jangan lupa istirahat, besok pagi aku akan melihat keadaan disana.
__ADS_1
"Jangan Pak!" Luna menjawab cepat dan gugup.
"Kenapa? Kamu nggak suka aku melihat kondisi kesehatanmu?"
"Kenapa bilang begitu? Aku hanya belum siap kedatangan tamu, aku belum beli perabotan rumah bahkan cangkir untuk minum sekalipun." Aluna berusaha jujur, saat ini dia ingin menata rumah kecilnya menjadi istana minimalis meski dengan barang murah.
Dion di seberang terkekeh, sambil memutar kursi putarnya dengan kekuatan tubuhnya. Dia suka Luna yang jujur, Luna yang sangat manis. "Apa aku harus suruh Jessica untuk bantu kamu? Mama juga pasti sangat suka main kesana, dia selalu tanya kabar tentangmu.
"Jangan Pak Dion, aku akan sangat malu, aku janji kalau semua sudah rapi aku akan izinkan kalian semua kesini.
"Okeyyy … kalau itu maumu."
"Iya Pak Dion, maaf …."
"Maaf untuk apa lagi?"
"Karena belum ngebolehin kesini."
"Pak Dion nggak sibuk?"
"Kalau sibuk, udahan teleponnya, saya mau lanjut beres beres."
"Oke, i miss you, Luna."
Bibi Sovia mulai membersihkan dapur dan memasak untuk sarapan. Sedangkan Aluna membantu sebisanya. Bibi sejak tadi menatap Aluna dengan senyum senyum.
"Nona, pria tampan itu yang ngikutin bibi kemaren, bibi kira orang jahat, jadi bibi sembunyi. Aku kira tuan Adrian lah orang yang baik. Ternyata saya salah."
Aluna kembali tersenyum. "Mereka sepupu,makanya agak mirip."
"Nona, kelihatannya dia tulus sayang sama anda."
"Mana mungkin, dia kan tahunya saya sudah bersuami, Bi."
"Nona, lelaki yang tega merencanakan kejahatan tidak pantas disebut suami, bukankah dia yang sudah merencanakan kematian anda."
Ketika membicarakan Adrian hati Aluna sangat sakit, sakitnya seperti di remas remas dan ditaburi garam, kesedihan akan kepergian bapaknya belum sepenuhnya hilang, kini sudah ditambah lagi dengan tragedi kebakaran mansion dalam kondisi diri sedang terikat.
***
Adrian terkejut melihat mansion tinggal menyisakan dinding beton, sedangkan atap dan seluruh isinya telah habis tak tersisa.
__ADS_1
Adrian segera mendekat dan menyentuh abu yang masih hangat, bahkan beberapa kayu besar masih menyisakan bara.
Adrian segera berlari ke kamar yang ditempati olehnya semalam bersama Aluna. Adrian melihat ranjang telah habis dilahap jago merah pula.
Aluna!! Adrian mulai panik dia menoleh ke kanan dan kekiri, Adrian khawatir Aluna tak mampu menyelamatkan diri.
Adrian sama sekali tak tahu apa yang terjadi, semalam dia sudah berencana ingin melakukan kewajibannya sebagai suami, tapi panggilan bertubi dari Angeline sangat mengganggunya, terpaksa Adrian ingin menunda di malam berikutnya, tapi justru sekarang rencana yang tengah dia bangun sirna begitu saja.
"Aluna dimana kamu?"
Adrian tak bisa berpikir jernih, apa yang dirasakan sekarang tak bisa digambarkan lagi, panik khawatir dan kehilangan
Reruntuhan atap membuat Adrian berfikir yang tidak-tidak. Apa yang terjadi dengan Aluna? Apa dia selamat dan masih hidup? atau tubuhnya sudah menjadi abu?
Mata Adrian berwarna merah pertanda menahan tangis, dia tak mencintai Aluna tapi dia juga sedih jika tak ada Aluna.
Masakan Aluna yang lezat, Tangan Aluna yang lembut saat memijit, Angeline tidak bisa memberikan itu semua.
Alunaaaaaa!!
Arga dan Argo menemukan bekas tali yang menjadi abu.
Tuan kemungkinan besar Nona diikat dengan ranjang, bisa saja pembunuhnya sudah membawa Jenazah nona untuk menghilangkan jejak.
"Bagaimana ini terjadi? Cari tahu pelakunya, aku tak akan pernah memaafkan dia." Adrian berkata seperti orang bodoh tubuhnya lemas. Arga dan Argo segera membantunya membawa ke mobil."
"Tuan, pasti musuh sudah berhasil mengidentifikasi keberadaan Nona selama ini, jadi begitu ada kesempatan, Nona langsung diserang," terang Arga yang disetujui oleh Argo.
Kemungkinan kedua nona pergi karena mendengar berita anda akan menikah di bulan ini, sehingga nona merencanakan ini semua."
"Rahasiakan kebakaran ini, cari informasi tentang Luna, apa ini murni kecelakaan, atau dia sengaja ingin pergi dariku."
"Siap Tuan."
'Aluna, jika kamu masih hidup jangan berharap aku akan melepaskanmu, kamu yang mulai semua ini, kamu yang datang padaku. Dan ketika aku mulai menyadari perasaan ini, kau seenaknya pergi. Aku akan membawamu kembali Luna. Itu janjiku.'
Adrian meminta dua pengawal tampan berbadan tegap itu untuk segera membawanya pulang.
Sampai di rumah Adrian langsung masuk ke kamar, dia ingin sendiri tanpa Angel mengganggunya. Tapi gadis itu sudah menunggunya sejak tadi. Dia menunggu reaksi Adrian yang baru kehilangan kekasih tercintanya.
"Sayang, sudah selesai meetingnya? Katanya mau balik sore?" Tanya Angel sambil sesekali meneguk wine dari gelas bertangkai, jalannya dibuat segemulai mungkin dengan kaki melenggak-lenggok, mendekat pada Adrian yang terlihat sekali raut wajahnya sedang frustasi.
__ADS_1
.