
Kedua bayi akhirnya tidur lelap, Dion bisa lega melihat Luna bisa istirahat.
Menurut Nabila besok pagi sudah bisa pulang, karena lahirnya Normal. Andaikan caesar mungkin beberapa hari lagi atau lusa baru bisa pulang.
"Dion, apakah kamu sudah siapkan nama untuk putramu?" Tanya Mama melani yang memangku si sulung yang sedang dibedong. Bayi-bayi Luna sudah selesai mandi dan terlihat makin menggemaskan dengan bedak agak tebal.
"Sudah, tapi aku harus bertanya pada Luna dulu, takutnya Luna kurang suka dengan nama yang aku siapkan."
"Iya, yang bikin kan kalian berdua, ada apa-apa harus diputuskan berdua." kata Mama Melani yang menurut Aluna mertuanya ini kalau bicara suka jujur. Pipi Luna seketika memerah semerah tomat.
David yang sekarang sudah jadi kakek dia tak sabar membagi berita bahagianya pada teman teman dan koleganya. Ribuan ucapan selamat langsung bertubi masuk memenuhi akun hijau miliknya dan akun pribadi lainnya.
Aluna senang melihat kakek dari anak-anaknya masih sangat muda dan tampan, dia juga sangat menyayangi cucu-cucunya. .
"Ma, dia mirip Dion kecil ya? Cantik dan tampan."
"Iya, dia sangat mirip Dion. Apalagi matanya yang indah ini, dia benar benar fotocopy Dion waktu bayi. Luna hebat ya,bisa langsung kasih kita dua bayi.
Luna hanya bisa tersenyum melihat mertuanya yang mengatakan anak anaknya mirip Dion, tapi mereka memang benar. Jika tadi Nabila mengatakan mirip dirinya itu pasti hanya sengaja menghibur saja.
'Nabila kamu memang nggak bisa jujur sama aku jika itu sebuah hal yang akan membuat aku sedih. Tapi justru aku suka sekali dia mirip Dion, setidaknya Dion percaya jika Aku dan Enzo dulu hanya sebatas teman, jika Enzo punya perasaan lebih padaku, mungkin sudah takdirnya harus kecewa lagi, karena kenyataannya aku harus kembali pada suamiku dan keluarganya. Lelaki yang mencintaiku tanpa syarat sejak kami bertemu dulu. Kau tahu, aku dulu dan sekarang sangat berbeda, aku dulu hanya Luna si Cupu. Yang mungkin berteman denganku saja di waktu itu, kamu akan malu.'
***
Di luar ruangan yang lumayan sepi, karena malam telah tiba, ada wanita yang diam-diam mengintai di kaca.
Davit dan Melani melihat wanita asing itu, tentu saja dia langsung waspada dan menidurkan kembali di kecil di ekubator.
Dion yang membantu Aluna makan merasa heran. Tumben Mamanya menidurkan si sulung yang masih terjaga dan langsung keluar.
Dion tolong awasi bayi kamu ya! Mama mau keluar sebentar. Tak lama David juga menidurkan si kecil dan berniat bersama-sama menemui wanita mencurigakan yang pergi entah kemana.
__ADS_1
"Mas, jangan-jangan ada yang berniat jahat dengan anak kita?"
"Tidak mungkin sayang, siapa yang berani menyentuh putraku dengan niat jahat, aku akan membuatnya menyesal seumur hidupnya." kata Dion yang pandai menenangkan hati Luna.
"Kamu pasti selalu berkata seperti ini, untuk mendamaikan hatiku, tapi tetap saja kita harus hati-hati. Apalagi kolega papa sudah pada tahu."
"Iya Nih, Papa. Seharusnya dia tidak mengumbar kebahagian yang berlebih di medsos." kata Dion yang memberikan suapan terakhirnya pada Aluna. Lalu menarik satu tisu dari kotak dan mengelap sudut bibir Aluna yang sebenarnya tidak terlalu belepotan.
"Makasi, Mas." Luna terharu dengan perhatian Dion yang tiada habisnya. Tidak cuma sampai di acara suap suapan saja, Dion juga memakaikan kaos kaki di kedua kaki Luna, supaya tidak kedinginan dan merapikan selimut.
"Jangan berterima kasih terus, ini tidak ada apa-apanya dengan perjuanganmu melahirkan anak-anakku, Honey. Kamu tahu kan betapa besar arti hidupmu untukku." Dion belum puas dekat dengan Aluna dan terus mengecup bahu Luna yang terdapat selang infus.
Aluna tidur sebentar sebelum pulang sambil menunggu cairan infus yang mengalir di tangannya berhenti menetes.
Aluna akhirnya tertidur lelap. Melihat istrinya tertidur pulas Dion segera mandi dan ganti dengan kaos santai dan celana pendek. Dion ingin saat menggendong putranya nanti tubuhnya sudah wangi, tanpa ada sisa bau keringat lagi.
Melihat istri dan kedua anaknya sedang lelap Dion menyusul Mama dan papa yang keluar dari kamar rawat Aluna.
"Tante! Kenapa anda lagi?"
"Dion kamu sudah tau siapa dia, Nak?" David curiga pada putranya yang tiba-tiba datang dan berteriak pada wanita yang tengah berbicara dengannya.
"Tidak Pa, wanita ini pembohong, dia selalu bilang kalau ibu kandung Aluna. Padahal bagi Aluna ini kandungnya telah tiada, dia sudah yatim dan piatu."
"Nak!" Melani melarang Dion untuk berbicara yang tidak sopan pada wanita modis dan cantik di depannya, pakaiannya dan aksesoris serta barang yang dipakainya serba branded, sangat berbeda dengan atribut yang dipakai waktu masih keluar masuk di penthouse milik Dion mengantar makanan.
"Dion, jaga bicaramu, Luna tidak mungkin sekejam itu, kenapa kamu malah bersikap seperti ini pada mertuamu yang harusnya kamu hormati." Melani memberi wejangan pada putranya.
"Maaf Mam, Aluna selama ini sudah menderita, aku yakin dengan kedatangan wanita ini, Aluna akan semakin menderita." Jari telunjuk Dion sempat menunjuk pada Lasmi sebentar. Lasmi merasa Dion sangat keras kepala dan terus menghalangi niatnya.
"Dion bagaimana jika selama ini Luna juga merindukan ibunya? Oke, selama ini kamu paling paham soal istrimu, tapi bagaimana jika Aluna selama ini diam-diam merindukan sosok ibu kandungnya."
__ADS_1
"Sudah ada Mama, yang menggantikan ibu yang tak tau diuntung ini." Kata Dion yang terasa begitu tajam bahkan mampu mencabik hati Lasmi.
Melani memejamkan mata, tak percaya putranya yang dibesarkan penuh cinta menjadi sekeras batu. Namun, Davit yakin dibalik keras kepala Dion pasti ada sesuatu yang dinilai membahayakan menantunya.
Lasmi hanya bisa menangis, hatinya begitu sakit seperti disayat-sayat. Dion telah membuatnya kehilangan percaya diri untuk menemui putrinya.
"Jeng, maafkan putraku yang keras kepala, dia seperti ini karena tak mau ada yang mengusik istrinya, Dion sangat menyayangi Luna melebihi apapun di dunia ini. Jeng Lasmi harap maklum kalau Dion tidak mau Luna sedih, lagipula kenapa baru mencari sekarang? toh Luna sudah ada yang menjaga dan mencintai sepenuh hati. Jeng selama ini dimana?"
Lasmi hanya menangis sesenggukan, tidak mungkin dia berkata pada besannya kalau selama ini dia telah pergi tanpa pamit dan memilih hidup dengan laki-laki kaya seperti papa Angel.
Sebenarnya Lasmi dua tahun belakangan ini dia sering sakit, hanya saja dia sembunyikan sakitnya dan selalu konsumsi obat mahal, dan bagaimana nasibnya jika dia benar benar jatuh sakit, tentu suaminya dan Angeline tak akan Sudi merawatnya. Lasmi melihat Luna yang memiliki kelembutan hati dan perangai yang baik, Lasmi yakin Luna akan menerimanya kehadirannya dan memaafkan kesalahannya.
Jika Dion terus menghalangi Lasmi akan nekat menemui Luna tanpa sepengetahuan Dion. Ya, itu cara satu-satunya yang harus dia ambil, dan Lasmi harus secepatnya mengatakan pada Luna.
"Tiba-tiba seorang wanita muda keluar dari lift dan berlari kearah Dion dan keluarga sedang berkumpul
Mami!! wanita pemilik suara sopran itu berteriak ke arah Lasmi.
"Apa yang Mami lakukan disini!"
"Angeline, kamu disini Nak. Mami tadi sedang cari teman mami yang katanya sakit, dan ternyata dia sudah pulang." Dusta Lasmi.
Angeline menatap Dion yang terlihat tampan sehabis mandi. Angeline tersenyum ke arah Dion. Rupanya Angeline belum tahu tentang pencurian dokumen penting dan rahasia perusahaan yang di lakukan oleh Beni. Andai sudah tahu, dia tak mungkin tersenyum selebar hari ini.
"Sayang, kamu juga disini." sapa Angeline lalu mendekati Dion, berniat ingin mencium Dion dengan menjinjitkan kakinya.
"Ya, aku menunggu istriku yang baru saja melahirkan, dan berhenti panggil aku dengan sebutan, Sayang," kata Dion dengan nada suara emosi, lalu mendorong Angeline.
"Angeline, apa yang kamu lakukan? Dion ini sudah punya istri." Lasmi tak percaya putrinya suka dengan lelaki beristri.
"Diam kamu! aku tak butuh pendapatmu dalam urusan pribadiku, ngerti!!" Angeline berkata pada Lasmi dengan kasar, membuat Melani dan Davit menggelengkan kepala.
__ADS_1