
"Argo kau harus membantu satu hal lagi!"
"Apa? Kalau berat aku ogah, aku nggak mau dipecat gara gara kepergok berkhianat, cari pekerjaan sekarang susah. Apalagi aku seorang bodiguard. Kalau aku dipecat dengan alasan buruk, tak ada satupun yang Sudi mengadopsi aku lagi.
Aluna tertawa, kali ini memang sedikit jahat dengan Argo, Tapi menurut Aluna hanya dia satu-satunya yang bisa memuluskan rencananya. Aluna yakin jika permainan Argo cantik maka dia tidak akan pernah ketahuan.
"Membantu dalam hal apa?" Argo mulai penasaran dengan rencana nona mudanya.
"Aku ingin membuat Pak Adrian menandatangani ini," Aluna menunjukkan berkas berisi gugatan cerai yang dia ambil dari handbag.
"Apa ini?" Argo segera merebut paksa dan membaca dengan teliti.
"Nona sudah gila, bisa-bisa aku benar-benar dibunuh dengan Tuan Adrian jika aku ikut terlibat begitu jauh. Aku tidak mau." Lelaki itu menggeleng kepala berulang kali.
"Mau atau tidak mau, kau harus mau, tidak ada pilihan, aku bisa membuat kamu dipecat lho." Aluna terlihat santai sambil menyeruput kuah bakso hangat.
Argo tidak menyangka Aluna gadis yang sangat manis kini menjebaknya.
"Aluna terus tersenyum. Aku akan bilang kau telah bekerja sama denganku untuk menghubungi Dion, kira kira Adrian yang sudah seperti sahabat bagimu itu akan marah nggak ya?"
"Nona anda sangat cerdas, tapi tolong jangan libatkan aku, aku selama ini memang ingin anda bahagia, tapi aku juga butuh pekerjaan ini. Anda pasti tahu yang ku maksud." Lelaki perkasa di depannya itu setengah memohon. Tapi tidak, Aluna ingin terlepas dari jerat pernikahan ini. Dia tidak mau selamanya dicintai dan diasingkan, bukan hidup seperti ini yang diinginkan, Aluna ingin cinta yang indah, hidup yang bebas. Jika Adrian ingin dirinya, dia harus melepaskan Angeline.
"Kepalaku pusing. Argo"
Aluna mendadak kepalanya terasa pusing, sakitnya seolah tak bisa ditahan lagi. Kuah bakso ditangannya tumpah. Argo yang melihat segera datang membantu. Dia merangkul tubuh Aluna agar tak jatuh.
"Kau terlalu banyak pikiran, Nona. Makanya kau sakit."
"Aku ingin istirahat di sofa, tolong bawa aku kesana." Luna menunjuk sofa, yang tak jauh dari ruang makan.
Argo mengangguk tanpa pikir panjang tubuh perkasa itu mengangkatnya menuju sofa.
'Satu, dua, tiga.' Aluna menghitung dalam hati.
Cekret!
Kamera membidik tepat di hitungan ketiga saat Argo membungkuk meletakkan tubuh mungil Aluna di sofa. Hasil bidikan kamera tak sesuai realita, disitu tergambar jelas seolah Argo ingin mencium Aluna diatas sofa.
Argo menoleh pada kamera yang mengambil gambarnya, dia terbengong sesaat dan masih bingung.
__ADS_1
Aluna bangkit dan berlari meraih kamera sebelum didahului Argo. Aluna menemukan benda itu saat dia membuka laci di kamarnya.
Aluna tersenyum pada Argo. "Maaf Go. Dengan cara ini aku bisa mendapatkan bantuan mu. Karena hanya kau orang kepercayaan yang bisa menyelipkan surat gugatan cerai ini di berkas-berkas yang akan ditandatangani oleh tuanmu."
"Nona, kau sungguh membuat aku diposisi yang sulit." Argo menghampiri Aluna hendak merebut kamera digital yang ada di tangannya.
"Sudah, sudah, biar aku yang simpan ini, aku janji akan menghapus secepatnya jika kerjamu bagus." Aluna menjauhkan tangannya dari Argo.
"Ah, aku benar benar bisa mati jika tak menuruti keinginan Nona." Argo meremas rambutnya frustasi. Aluna yang sudah kenyang dia berjalan ke balkon lalu memotret pemandangan yang ada di depannya hingga berulang kali. di pagi hari bukit nampak terlihat begitu indah.
***
Dion tiduran di atas ayunan, sambil sesekali meneguk minuman dari dalam kaleng yang di bungkusnya tertulis 0 alkohol.
Pikirannya terus berkelana memikirkan Aluna yang entah berada di pulau mana sekarang.
Jessica yang melihatnya tau kalau Kakaknya sedang dalam keadaan tak baik.
Gadis itu membawakan sepiring buah melon potong atas perintah mama.
"Bawa buah ini kepada kakakmu, dia pasti lapar."
"Gimana, kemaren, ketemu sama Luna?"
"Tidak, tapi Luna sedang bersama Kak Adrian."
"Maksudmu?"
"Luna dibawa Kak Adrian. Dia itu suaminya."
"Iya, menurutmu Luna dan Adrian itu gimana sih Jess?
"Nggak tau Mi, setahu Jessica, Luna lagi bingung, mungkin begitu. Jujur nie ya kalau Jessica sendiri dalam posisi Luna sekarang juga bingung. Dua-duanya sama sama tampan, sama-sama mencintainya. Walaupun cinta Kak Adrian transparan, tapi Jessica yakin apa yang dilakukan Kak Adrian ke Luna itu cinta Mam. Dia melakukan semua ini supaya Kak Dion tidak bisa mengganggu. Pasti itu alasannya.
Mama yang mendengar penuturan Jessica jadi kasian sama Dion, dia akhirnya menghubungi Clara, anak dari sahabatnya untuk menghibur kesedihan Dion, siapa tahu dia bisa membuat Dion sedikit melupakan Aluna yang terlihat sekali begitu mempengaruhi pola berpikir anak sulungnya itu.
Tak sampai hitungan jam, gadis cantik memakai baju santai turun dari mobil, Clara susah datang diantar oleh sopir pribadinya.
Melani segera menghampiri dan menyambut kedatangan Clara. "Dokter Clara, terimakasih sudah memenuhi panggilan Tante."
__ADS_1
"Iya, Tan. Di rumah juga bete. Nggak ada pasien." Jawab Dokter hewan cantik pemilik senyum kalem.
"Tante butuh bantuan, Noh sahabat kamu lagi melamun terus tu. Siapa tahu ada kamu disini dia jadi nggak ngelamun lagi." Melani menunjukkan keberadaan Dion dengan isyarat wajahnya.
Clara menaruh rantang di meja, menatap kearah Dion yang terus menatap cakrawala. Lelaki itu seharusnya tahu kalau Clara datang. Tapi Dion mengabaikan karena sedang sibuk dengan lamunannya sendiri.
Hubungan Dion dan Clara dulu sangat akrab. Namun, sebatas sahabat, semenjak Dion tahu Clara menyimpan rasa yang lebih, Dion pelan pelan menghindar, Dion tidak bisa mencintai Clara lebih dari sahabat. Dia tidak bisa terus menyakiti hati sahabatnya yang cintanya tak pernah mendapat sambut.
"Hai, apa kabar?" Dengan ragu Clara mendekati sahabatnya, bingung kalimat apa yang cocok untuk diucapkan.
"Hai, Clara. Kapan datang."
"Asyik melamun sih, makanya kamu nggak tau aku datang. Pasti Ngelamun tentang Luna ya?"
"Iya, lagi kangen sama dia," jawab Dion apa adanya.
Dion turun dari ayunan, mendekati buah potong yang dibawakan Jessica tadi. Dion memakannya, rasanya segar, buahnya masih dingin.
"Makan, mumpung masih fresh," ucap Dion mempersilahkan.
"Tumben kesini?"
"Kenapa?" Clara terlihat sedikit tersinggung dengan ucapan Dion baru saja. " Ya udah aku pulang lagi." Clara berdiri dari kursi yang diduduki.
"Ehhh, jangaaaaan." Dion menarik pergelangan tangan Clara. Sorry salah ngomong ya?" Memasang wajah bersalah.
"Tante yang suruh main kesini, katanya buat temani kamu, kamu sedang kayak orang gila sekarang." Clara berbicara sambil melihat wajah sahabatnya yang memang banyak berubah. Tumben Dion tak rapi seperti biasanya.
"Mama bilang begitu? Dia bercanda Clara, aku baik baik saja Kok. Kalau aku gila, pasti sudah di RSJ."
"Pasti karena Aluna? Cinta kamu ditolak ya?"
"Belum dijawab, dia masih menggantung cintaku. Semoga saja walaupun lama nunggu, nanti jawabannya iya."
"Semoga Dion, kau dan Luna serasi, kalau menikah pasti anak kalian bakal lucu, cantik dan tampan nantinya."
"Jauh amat mikirnya, calon istri belum ada di genggaman, dah mikir anak." Dion tertawa sambil kembali menyomot buah segar.
*Happy reading.
__ADS_1