
Dion masuk ke ruang rawat Adrian. Rian langsung menyindir dengan kata kata pedas. Karena tanpa sengaja Adrian menemukan saputangan Dion di tas Aluna.
"Ngapain kesini, pasti bahagia kan lihat aku seperti ini," ujar Adrian.
"Sakit saja masih sombong, tahu begini nyesel kesini," gerutu Dion.Dion membalikkan tubuhnya. Tapi Aluna langsung menahan Dion dengan meraih jemarinya.
"Tetaplah tinggal Pak Dion." Aluna mendongak menatap Dion, begitu juga Dion, menunduk menatap Aluna.
"Luna!" ucap Adrian sedikit keras, Adrian tak suka Aluna memegang tangan Dion.
Tangan Aluna dan Dion langsung terlepas. Aluna memandang wajah adrian dengan rasa bersalah.
'Sial kenapa aku harus jadi orang lain di depan istriku, ini konyol. Kalau tidak sedang sakit pasti aku akan menjauhkan istriku dari laki laki kulkas, gila ini.'
"Maaf tadi aku cuma berniat ingin menahan Pak Dion supaya sudi duduk dulu, soalnya, masa baru datang harus pergi." Aluna berusaha meyakinkan Adrian.
Adrian terlihat sekali meneguk salivanya dengan susah payah, yang Adrian ingat Dion juga suka Aluna. Dia sering berusaha mengambil hati Aluna.
Ruangan langsung hening ketika Dion ada di dalam. Untung ada Dokter Jayden datang dan memeriksa.
"Dokter apa aku boleh pulang!"
"Ya, beberapa hari ini, anda sudah mengalami perkembangan yang luar biasa, sebaiknya untuk perawatan lebih lanjutnya bisa dilakukan di rumah, nanti aku dan Nabila akan sering datang untuk memeriksa.
"Syukurlah," Aluna menengadahkan tangannya berucap syukur pada Tuhan. Lalu menatap suaminya yang hanya tersenyum sedikit. Sedangkan Adrian mendengarkan wejangan dari dokter untuk tetap menjaga pola makan dan berpikir positif.
***
Pagi hari Adrian sudah boleh pulang, Aluna berkemas dibantu oleh Dion Chela dan Selena.
Kalau dilihat sekilas mereka nampak rukun. Adrian dan Dion berbicara masalah pekerjaan. Chela terlihat mulai mendekati Aluna dengan bertanya banyak hal dan banyak cerita tentang kegiatan di kampus. Aluna bersyukur saja Chela dan mantan mertua sudah banyak berubah.
Sampai di kediaman Adrian, Aluna mulai berperan sebagai istri palsu, tapi Dion juga ikut tinggal disana.
Aluna yang kembali kerumah Adrian langsung mendapat pelukan hangat dari imah. Imah nyaris tak mengenali Aluna yang berubah menjadi gadis kota dengan kaki putih dilengkapi high heel, rambut tergerai dan gaun mahal melekat menambah sempurnanya wanita biasa yang berubah jadi Cinderella.
Nona, bibi pangling, sekarang Nona seperti model, kenapa nggak jadi model aja.
Dion dan Adrian langsung menoleh bersamaan mendengar ucapan Bibi. Jelas hati mereka berdua keberatan istrinya jadi model yang berlenggak lenggok di atas panggung dengan pakaian seksi. Tapi itu hanya pikiran sempit Adrian dan Dion, jika model baju muslim, jilbab atau syar,i tentu tidak seperti itu.
Imah segera mengajak masuk Aluna dan banyak bertanya. Aluna menjelaskan pada Imah tentang kembalinya kerumah ini.
__ADS_1
Imah mengangguk. "Jadi Nona hanya kembali untuk jadi istri sandiwara. Sayang banget. Kenapa Den Adrian baru mencintai Nona setelah Amnesia. Tau kalau Amnesia bisa membuat dia mencintai Nona, pasti sejak dulu sudah saya pukul kepalanya dengan barbel, biar tidak terlambat seperti sekarang ini."
"Belum jodoh Imah. Bersyukur ada Pak Dion yang menjadi suamiku sekarang. Dia menerima aku tanpa syarat."
"Benar Nona, jodoh memang hanya tuhan yang tahu. Gimana lagi. Pak Adrian sekarang banyak berubah tak seperti dulu lagi. Setiap hari dia cuma diam, kadang melamun saja. Dan tak ada gairah hidup lagi."
"Sepertinya Nyonya juga menyesal, ternyata Nona Angel dia suka melawan pada orang tua."
"Sayang, tolong antar aku ke kamar," pinta Adrian yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua dengan bantuan kursi roda. Untung bibi sudah berhenti bicara.
Aluna segera membantu Adrian dengan mendorong kursi roda menuju kamarnya lewat lift, Argo terus saja mengekor di belakang Luna selama bersama Adrian. Titah itu diberikan oleh Dion jika sewaktu Aluna memerlukan bantuan. Dion diizinkan untuk tidur di ruang tamu, sedangkan Aluna memilih untuk tidur di kamarnya yang lama, di dekat kamar Adrian.
"Anda istirahatlah, aku akan membantumu naik ke ranjang." Aluna membantu Adrian pindah ke ranjang, saat mengangkat tubuh kekar itu Aluna kesulitan, entah Adrian sengaja, atau tubuh Rian memang berat. Aluna akhirnya meminta bantuan Argo.
Saat Adrian sudah tidur di ranjang besar, Aluna segera meluruskan kakinya dan menarik selimut hingga sebatas perut. "Tidurlah. Aku akan memasak susu kambing hangat dan kue sus untukmu."
"Terimakasih, Luna." Adrian menatap Aluna dengan tatapan yang dalam.
Aluna menghentikan aktivitasnya merapikan selimut dan bantal. Menatap mata Adrian. Ada getaran kecil di dada yang membuatnya sedih.
"Sama-sama." Aluna membalas senyum Adrian.
Aluna segera pergi ke dapur. Mengambil tepung dan bahan lainnya di lemari kaca yang ada di dapur. Lalu mengeksekusi dan memanggang kulit sus di oven. Aluna tak lupa merebus susu kambing murni dan menambahkan sedikit gula.
"Sayang, kamu sibuk merawat lelaki itu, sampai melupakan suami sendiri." Dion memeluk pinggang ramping Aluna.
"Itu tidak benar Sayang, ayolah aku mohon kerja samanya." Aluna memelas pada Dion.
Dion melepaskan pinggang istrinya lalu bersandar pada dapur cantik. Memperhatikan wajah cantik Aluna yang terlihat senang dengan kedatangannya.
"Aku mau juga dong, nanti kirimkan ke kamarku satu piring ya."
"Iya, tenang saja suamiku, sekarang kamu keluar dulu, sama paman dan bibi sana, atau temani Adrian di kamar," kata Aluna sambil mengeluarkan kue sus dari loyang.
"Baiklah, istriku," Dion mengecup bibir Aluna sebelum pergi. Karena kecupan itu menjadi sebuah ciuman yang menuntut Aluna terpaksa melepaskan lebih dulu.
"Malu dilihat orang, masa tamu kok bertingkah mesum."
"Ini masih rumah kerabat kita, tidak masalah aku sedikit bar-bar," kata Dion.
"Entahlah, kalau berdebat sama CEO King Fashion, aku tak pernah menang." Aluna mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Makanan nikmat buatan Aluna sudah tersaji, Dion membantu Aluna membawa ke meja makan, sedangkan Aluna mengantarkan untuk Adrian, tapi Dion segera menahan langkah Aluna, karena dia sendiri yang ingin mengantar sekaligus bertanya sesuatu.
Dion membuka kamar Adrian. Adrian mengira yang datang Aluna. Dia kecewa namun berusaha menutupi perasaannya. "Kenapa kamu? Dimana istriku?"
"Luna? Dia tadi minta tolong aku, katanya dia lelah."
"Lelah? Kenapa dia tak bilang padaku? Seharusnya dia bilang padaku, kenapa harus pada orang lain."
"Mungkin dia takut, sebelum hilang ingatan pasti kamu galak," kata Dion.
"Nggak mungkin aku galak sama dia, aku sayang banget sama Aluna."
"Adrian kamu ingat nggak, kamu pernah menjadikan dia OG."
"Iya aku menyesal, apa penyesalanku belum cukup untuk menebusnya."
"Jika kau menyesal mana mungkin kau duakan," kata Dion sengaja memancing ingatan Adrian.
"Aku akan putuskan Angeline," kata Adrian lagi.
"Kalau saranku tinggalkan Luna saja, bagaimana? Aluna jelek, tidak ada hebatnya," kata Dion mencoba membujuk Adrian dengan menjelekkan istrinya.
"Kau pasti ingin mengambilnya dariku."
"Hahaha, mana mungkin. Aluna bukan seleraku," ujar Dion sambil tertawa mengejek.
"Maaf, maaf, jangan marah. Aku bicara kenyataan, Soalnya sebelum hilang ingatan, kamu tidak pernah suka dia," kata Dion terus menjelekkan Aluna tapi merasa bersalah pada istrinya.
"Benarkah!" Meski Adrian tak pernah suka sama Dion tapi lelaki itu sebelumnya tak pernah berkata bohong.
"Kenapa aku tak suka?"
"Karena kamu baru sadar kalau Aluna itu terlalu cengeng, dan suka ngupil, kamu paling benci cewek yang suka ngupil kan."
Adrian memang tak pernah suka gadis yang suka ngupil, bahkan dia benci wanita tukang ngupil.
"Terserah jika tak percaya, aku sebelumnya tak pernah sejujur ini padamu," kata Dion sebelum dia keluar lagi dari kamar Adrian, semoga saja usahanya tadi tak membuat Adrian terlalu bergantung pada Aluna.
Dion tak mau Aluna kecapekan, sedangkan dia sendiri punya rencana ingin segera memiliki momongan. Kata mama kalau ingin istri hamil jangan dibuat capek. Tapi sekarang Aluna begitu antusias ingin Adrian cepat sembuh.
__ADS_1
"