Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 64. Hari pertama masuk kerja.


__ADS_3

Aluna menatap layar ponselnya, mencari tahu tentang hal yang harus dilakukan sekretaris, pekerjaan sekretaris, cara berpakaian, cara makan, cara mendampingi bos, dan semuanya yang ada hubungannya dengan sekretaris. 


Aluna sempat down, setelah membaca artikel di dalam ponselnya, sekretaris harus menarik dari segi penampilan termasuk pakaian yang digunakan, cerdas, cantik, dan luwes.


Beberapa kali mengerutkan keningnya. Aluna seperti tersindir dengan pekerjaan yang akan dia jalani. Si Cupu akankah bisa jadi Cinderella yang menarik dan perfeck.


"Bi, apa Aluna cocok dengan pekerjaan ini?" Aluna bertanya sambil mengalihkan pandangan pada baju-baju bagus di depannya.


"Cocok aja, Nona. Harus semangat. Nona sudah cantik, dan juga santun, menurut bibi itu sudah cukup."


"Aih, bibi susah sekali untuk jujur, Luna nggak apa dikatain jelek," kata gadis itu sambil berdiri lalu menarik sebuah handuk untuk berangkat mandi. Dion ingin hari ini dia datang. Aluna tak ingin mengecewakan lelaki yang beberapa hari ini membuatnya tersenyum.


"Kalau jelek, Tuan Dion nggak akan mungkin jatuh cinta," kata Bibi.


"Dia memang aneh Bi, entahlah pria satu itu sulit dimengerti, baiknya kelewatan, tapi baik belum bisa disebut cinta," ujar Aluna sebelum masuk ke kamar mandi.


"Anda yang tidak mau mengerti cinta dari pak Dion, Nona," kata bibi lagi yang tak di dengar oleh Aluna.


Aluna tahu dia tak layak menjadi seorang sekretaris, tapi dia butuh pekerjaan ini, Aluna berharap saat dia memasuki perusahaan Dion tak ada kata memalukan lagi seperti pengalaman di perusahaan Adrian dulu.


 Sudah berakhir kisah penghinaan sampai di perusahaan Adrian saja. Aluna Tak ingin lagi mengulang mimpi buruk itu.


Bibi membongkar belanjaan semalam dan menata di lemari yang ada di kamar Aluna. semua baju yang dikeluarkan bibi semua merk terkenal.


Setelah usai mandi, Aluna segera memakai rok span selutut, dan kemeja dilapisi dengan vest, lalu mengamati dirinya di depan cermin. 


Sama sekali tidak ada yang salah dengan dirinya. Kaki mulus yang panjang dan putih, tubuh yang ramping dan cukup tinggi, jika pakai high heel pasti akan sempurna. Satu yang tidak bisa di rubah dari Aluna, menguncir rambutnya tinggi di belakang menampilkan leher jenjangnya.


"Nona anda sudah cocok jadi sekretaris" Kata bibi sambil membenarkan Vest yang dipakai Aluna. Memperhatikan tubuh semampai berulang kali dari atas hingga bawah.  


"Bibi, do'akan saja Aluna menemukan nasib baik di perusahaan pak Dion." Wanita yang dipuji hanya bisa mengulas senyum dan menampilkan lesung pipinya. 


"Pasti Nona, Semangat!" Bibie mengepalkan tangannya dan mengangkat tinggi-tinggi.


"Semangat!" Aluna dan bibi berpelukan sebentar. 


Aluna keluar perumahan, dia memanggil gojek yang mangkal di ujung gang. Pemuda berjaket hitam kombinasi hijau dengan merk perusahaan mereka di dadanya mendekat. 

__ADS_1


"Kemana Neng geulis?" Tanya tukang ojek. 


"Tolong antar saya di perusahaan King Fashion,  bisa Mas?"


"Bisa atu neng, cepat naik."


"Makasi Mas. "Aluna naik dengan hati hati-hati, tukang ojek juga mengendarai motornya pelan pelan, takut rambut Aluna berantakan. 


"Jadi sekretaris ya Neng?"


"Kok tahu?"


"Habis rapi dan cantik."


"Ini hari pertama kerja." Terang Aluna saat mereka masih di jalanan. Udara pagi yang sejuk di jalanan khusus roda dua membuat obrolan mereka terus berlanjut dengan santai 


"Wah … kalau gitu berarti bisa jadi langganan ojek setiap hari dong,"


"Semoga ya, Bang." Aluna berusaha ramah.


"Kenalin saya Jimi."


Tak terasa obrolan ringan saat di sepanjang jalan, membuat mereka terasa cepat sekali sampai di depan perusahaan yang  menjulang tinggi, di salah satu dinding luarnya bertuliskan nama King Fashion, Aluna segera menepuk punggung gojek dan meminta berhenti.


"Nggak terasa cepat sekali sampai, Neng." Sepertinya gojek belum rela Aluna cepat turin. 


"Makasi ya," Aluna membuka tas lalu menyerahkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan.


"Nggak usah nona, untuk hari ini saya kasih gratis aja, saya suka dapat penumpang wangi dan cantik seperti  seperti anda."


Aluna hanya geleng kepala, percaya dirinya semakin tinggi benarkah dirinya secantik itu hingga semua orang memujinya. 


Aluna segera masuk melewati gerbang. Sekuriti menatapnya dengan tanda tanya besar, 'siapa gerangan gadis cantik itu?'  daripada penasaran memilih mendekati sang gadis. "Anda karyawan baru?"


"Betul sekali Pak." Aluna mengangguk cepat.


"Anda sekretaris baru itu?"

__ADS_1


"Kok bapak tahu?" 


"Iya, soalnya Pak Dion baru saja memindahkan sekretaris lama pada bagian lain."


"Oh benarkah?"


'Apa karena aku pak Dion melakukan itu semua, ini sangat tidak adil, bagaimana kalau sekretaris lama itu tidak terima.' Aluna tercemung memikirkan sikap Dion yang memindahkan sekretarisnya secara sepihak.


Asyik terbuai lamunan, tiba-tiba security memanggilnya."Nona, pak Dion sudah datang."


"Oh iya pak, maaf" Aluna segera berjalan minggir memberi ruang gerak mobil Dion agar leluasa masuk, Aluna dan security sedikit membungkuk saat mobil lewat. 


Pesona Dion di kantor rupanya sangat luar biasa, karyawan rela berjubel di balik kaca hanya untuk mengintip pesona Dion saat keluar mobil. 


Tak lama Dion turun setelah Ben membuka pintu mobilnya, wajah tampan bak opa Korea turun berlahan lalu membuka kaca matanya. 


'Tuhan, Pak Dion tampan sekali.' Aluna sama terpesonanya seperti mereka, tak sadar tas di bahunya sudah melorot sampai siku. Liurnya hampir saja menetes. 


Dion menoleh ke arah Luna yang melongo, menatap Dirinya. 


"Hei, masih betah. Bengong disitu. Masuk!" Dion memanggil disertai isyarat tangannya. 


"Eh, i-iya." Luna segera sadar dari lamunan, Luna setengah berlari menghampiri Dion. Setelah sampai lelaki itu menggandeng Aluna menuju pintu lift.


"Pak Dion, jangan seperti ini, saya malu dilihat karyawan bapak." Aluna menurunkan tangan Dion dari pundaknya. 


Sekretaris Dion yang lama dan para sahabatnya mengintip dari kaca. "Pantesan Pak Dion menggeser kamu, pak Dion merekomendasikan pacarnya. Apa coba kalau bukan pacar, mereka akrab sekali, baru pertama masuk saja sudah bergandengan tangan."


"Iya, aku nggak masalah, walaupun digeser aku masih jadi sekretaris direktur keuangan."


"Menurutmu mereka serasi nggak?" Tanya salah satu karyawan.


"Serasi sih, lebih serasi lagi kalau aku yang disebelahnya," Canda karyawan lama 


Mendengar suara bisik-bisik Dion yang keluar lift langsung menoleh. Dua gadis yang berpenampilan rapi itu menunduk, menurunkan pandangannya dan mengucap,"selamat pagi Pak."


"Pagi juga. Kalian bisa kembali ke ruang masing masing, dan tolong kurangi gosip."

__ADS_1


"Baik Pak." Dua karyawan saling bersikutan lalu keluar dari persembunyian. 


Aluna hanya bisa menahan senyum melihat Dion yang pura-pura sok galak di depan karyawan wanita. Sangat berbeda saat dengan dirinya yang terkadang lucu dan manis seperti kucing menggemaskan.


__ADS_2