Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 157. Teror.


__ADS_3

Beni menjemput Dion,  Dion terlihat sudah tampan dengan baju kantor, Aluna melambaikan tangan dan cium jauh dari lantai atas. 


"Hati-hati, Sayang." kata Aluna lirih takut di dengar Dion.


Dion mengangguk, membalas lambaian tangan Aluna. 


Setelah Dion berangkat Luna segera mandi, dia terlihat lebih segar, Dion sudah menelponnya dua kali semenjak ada di kantor. 


Dion juga menceritakan pada Aluna kalau harus hati-hati, karena saat dia berangkat ke kantor ada mobil yang mengikutinya. Tapi karena Dion meminta Beni untuk mengendarai dengan kencang, mobil itu tak bisa mengalahkan kemahiran Beni berkendara, dan misinya masih belum berhasil.


Namun rasa penasaran tetap menghantui perasaan Dion, bukan takut dirinya celaka, tetapi takut akan berdampak pada Aluna juga.


Dion memanggil Beni ke ruang kerjanya. Lelaki muda sedikit pendek itu mendekat. "Beni, menurutmu siapa musuh kita sekarang?" 


"Tidak ada Tuan, hampir semua perusahaan sudah bekerja sama baik dengan kita," kata Beni. 


"Lalu aku curiga dengan mobil Dengan plat nomor seratus itu, kenapa dia tadi berusaha menembak ban mobil kita."


"Mungkin dia suruhan wanita masa lalu yang kecewa berat dengan anda, setelah tau anda menikah," kata Beni. 


"Jangan ngawur kamu, selain Luna aku tak pernah memberi harapan pada wanita lain. Semua hubunganku dengan wanita masa lalu sudah berakhir dengan baik." kata Dion.


"Menurut anda Tuan, tapi tidak menurut mereka. Mereka bisa saja ingin kembali dengan anda setelah kesuksesan yang anda raih selama ini."


"Jadi menurutmu menembak ban mobil hingga pecah itu karena cinta,"kata Dion sambil mengurut keningnya.


"Dua kemungkinan sebenarnya Tuan, satu karena ingin memiliki anda, dan satu karena ingin nyawa anda," Kata Beni 


Dion menggoyang kursi putarnya setengah lingkaran, dengan begitu otaknya bisa berfikir dengan jernih, tapi sayang sekali dia belum bisa 


"Baguslah, cari tahu siapapun itu. Apa pengaruhnya dengan perusahaan? Dan pernikahanku."


"Siap Tuan."  Beni langsung keluar ruangan bersisian jalan dengan Reyhan yang hendak melaporkan tugas beberapa hari ini. Dan menyampaikan sebuah surat dari orang yang tak di kenal dan katanya untuk Dion.


Dion dengan cepat menyambar surat yang diangsurkan oleh Reyhan ke meja. Dion yakin surat yang di bawa Reyhan pasti ada hubungannya dengan pelaku penembak tadi. 


Dion membuka pita surat yang dikemas cantik, namun terkejut dengan isinya.  


"SERAHKAN DIA ATAU MATI" 


Dion membaca hingga berulang kali tapi tetap tak mengerti. Siapa yang harus diserahkan? Siapa yang harus mati. 


Karena merasa pengirimnya orang gila Dion meremas kertas dengan halaman ber motif bunga tetapi isinya ancaman itu. Lalau melempar ke tong sampah.


Reihan Hanya dibuat bengong oleh sikap bosnya yang tak biasa sepagi ini uring-uringan.


"Siapa berani mengusik Dion Sunderson maka dia sama dengan mengibarkan bendera perang." Dion mencengkeram tepi meja. Lalu berdiri dan menggebrakeja. 


"Darimana kau dapat surat itu?" Tanya Dion dengan nada membunuh seolah ingin memakan Reyhan hidup-hidup. 


"Tadi security yang menerimanya, Karena aku pikir akan datang ke ruangan anda jadi aku pikir sekalian aku bawa surat itu."


"Dion mendekati jendela. Menatap pada halaman perusahaan yang terlihat sepi. Dion yakin pengirim surat itu orang yang sama dengan yang menembak ban mobil di jalan tadi. 

__ADS_1


**


Di rumah Adrian.


Luna!


Iya Tante! 


"Tante sudah berusaha bujuk Adrian agar makan sendiri tapi dia sangat manja dan meminta kamu yang suapi, Luna kamu bisa kan suapi Adrian. Tante juga ingin kamu bantu dia pilihkan baju ganti, yang dia pakai itu sudah kemarin sore."


"Tapi Tante, Anda tahu kan, kalau aku dan Pak Rian itu sudah berpisah, dan aku tidak boleh terlalu sering bersama. Seharusnya anda bisa membujuknya."


"Luna, Tante mohon, ini demi kebaikan Adrian. Dia hanya mau kamu yang melayaninya." Kata Selena. 


"Maaf Tante, aku harus menjaga hati suamiku, aku tidak bisa terus seperti ini."


Selena bersujud dibawah kaki Aluna. "Luna aku minta tolong, Tante sadar dulu jahat sama kamu, tapi Tante akan berubah, Tante akan menyayangimu, tapi tolong buat Adrian bahagia dan cepat sembuh."


"Tante jangan seperti ini. Berdiri Tante, baiklah, aku akan membantu sebisaku. Tapi Tante tolong aku jangan paksa untuk melakukan yang lebih dari ini"


Aluna jadi tak enak hati karena Selena terus saja mendesaknya. Dia sedang dalam dilema, antara menyenangkan Dion atau membantu Adrian mendapatkan ingatannya. 


"Baiklah Luna, Tante minta maaf sudah merepotkan, Tante janji akan membalas semuanya jika Adrian subuh dia pasti akan sangat berterima kasih padamu." Kata Selena sambil berdiri dan memeluk Aluna. 


Aluna dengan berat hati menghampiri Adrian yang murung di ruang tengah, didepannya ada televisi yang sedang menyala tapi pikirannya tentang Aluna yang begitu dekat dengan Dion, cemburu itu berusaha disembunyikan, tapi nyatanya hanya menyakiti hatinya semakin dalam. 


"Mas, makan dulu, ini sudah hampir waktu makan siang," ujar Luna sambil melangkah hati-hati karena membawa piring. 


"Tidak Luna, biarlah aku kelaparan, aku sedang tak ingin makan apapun, toh Jika Aku mati kamu juga tak akan rugi sama sekali, kamu bisa bersama dengan Dion."


"Luna, kenapa aku merasa kamu dan Dion terlalu akrab, jangan bohong Luna aku bisa melihat dari mata kalian. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, apa kamu mencintai dia."


'Bagaimana aku tak mencintai dia, aku istrinya, aku mohon anda segera sadar dan siap mengetahui kenyataan sepahit apapun.'


"Percaya padaku, aku tidak melakukan kesalahan, dan tetaplah berpikir positif, tak ada yang sedang mencurangi anda." 


"Jadi kamu tidak selingkuh Luna?"


Luna menggeleng, "Tidak, aku setia pada lelaki yangwnjadi suamiku" 


"Adrian tersenyum bahagia, baiklah aku mau makan sekarang, tolong suapi aku Luna." Adrian membuka mulut, dia menerima suapan langsung dari tangan Luna. 


Setelah makan Adrian ingin mandi, Adrian mengajak Luna ke kamar dan meminta untuk memilihkan baju. "Luna tolong pilihkan baju yang kamu suka. Aku akan pakai apapun pilihanmu." 


Adrian meminta Luna membuka lemari besar yang berisi baju-baju, disana ada beberapa baju Aluna yang masih disimpan oleh Adrian. Aluna terharu, yang disimpan oleh Adrian justru baju Aluna yang saat dipakai dulu sering dihina. 


Alunan lalu mengambil dua kaos dengan warna yang berbeda. "Tolong tentukan, Anda pilih yang mana suka yang putih atau yang hitam?"


"Aku suka apa yang kamu suka," jawab Adrian ambigu.


"Baiklah warna putih untuk siang hari. Dan hitam untuk nanti malam." Aluna memasukkan kembali kaos yang berwarna hitam. Setelah itu dia mengambil celana jeans dengan panjang selutut.


Selesai menyiapkan baju Aluna lalu mendekati Adrian mengulurkan tangan, Adrian segera menyambutnya, lelaki tampan itu berdiri, ternyata kepalanya tidak pening, 

__ADS_1


"Apa tidak ada keluhan?" Tanya Aluna.


"Tidak, sepertinya aku akan bisa berjalan." Adrian mulai melangkah pelan. Adrian senang sekali luka di kepalanya sudah tidak membuat kepalanya terasa berputar lagi. 


"Baiklah, kalau begitu belajarlah untuk berjalan ke kamar mandi, aku sudah mengisi bathup dengan air hangat, nikmati mandi anda hari ini," kata Aluna mengekor di belakang Adrian berjaga jika sewaktu lelaki itu butuh bantuan.


Saat di dekat pintu Aluna berhenti dia membiarkan Adrian masuk kamar mandi sendiri, lalu Aluna menutup pintu dan berniat pergi, tetapi Aluna terkejut ada tangan dingin menahannya.


"Apakah kau tak ingin mandi bersama suamimu?" Adrian menatap Aluna dengan wajah memelas.


"Ti-tidak, aku sudah mandi, Aku hanya mandi dua kali sehari, kadang hanya satu kali," bujuk Aluna.


"Bisa mandi lagi, mandi berdua akan lebih romantis" kata Adrian.


Tidak, Mas Rian masih sakit, konsentrasi saja dengan kesembuhanmu, kata Aluna gugup, namun masih berusaha bersikap tidak berlebihan. 


Adrian dengan berat hati melepaskan genggaman tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Aluna. Ada kecewa, tetapi tak seberapa. Adrian berfikir Aluna melakukannya karena karena semata demi kesehatannya.


Setelah tautan jemari itu terlepas, Adrian menutup pintu dan memulai mandi.


Aluna hendak turun menghubungi Dion tapi Selena sudah menghadangnya. "Luna kamu pasti lelah melayani Adrian, Tante bawakan minuman juice kesukaanmu, ayuk diminum."


"Makasi Tante." Aluna mengambil gelas bertangkai dan meminumnya. 


"Ya sudah, Tante pergi dulu." Selena langsung meninggalkan Aluna beserta gelas berisi juice buah markisa itu. 


'Semua orang kenapa menjadi baik saat aku bukan lagi keluarganya.' batin Aluna. Sambil memandangi punggung wanita yang terus menjauh dan terlihat bahagia itu.


***


Adrian masih menikmati mandinya di dalam bathup, suhu air yang diatur hangat membuat dia seperti berendam di dalam pemandian air hangat. 


Adrian memejamkan matanya, dengan kepalanya menyembul di pinggir bathup dengan mata terpejam. Lama sekali dia berada dalam posisi sepwrti itu hingga tanpa sadar Adrian dikagetkan oleh kedatangan wanita cantik hanya memakai baju mini menghampirinya. 


"Kemarilah!" Adrian segera mengulurkan tangan dan menarik jemari wanita itu ke dalam dekapannya. Wanita itu berlahan memasukkan tubuhnya kedalam bathup bersama Adrian.


"Aku merindukanmu, Sayang." Adrian memeluk wanita itu dan mengecup telinga leher dan pipinya, hingga nafas hangat Adrian menerpa 


"Kau ingin kita mandi berdua kan?"


"Tentu baby, aku sangat suka mandi bersama seperti ini." 


Adrian menarik baju mirip lingerie itu keatas, wanita bertubuh putih halus itu malu-malu menyembunyikan tubuhnya di dalam busa sabun yang sudah memenuhi bathup. 


"Luna, tubuhmu sangat indah, aku akhirnya bisa memilikimu," kata Adrian menatap sayu pada leher jenjang Aluna, Adrian mberi beberapa tanda merah di leher dan dada. 


Wanita itu hanya tersenyum, lalu memejamkan mata, sesekali menggoda dengan menggigit bibir bawahnya.  


Adrian melihat Aluna begitu menggoda, tak pernah dia tergila gila pada wanita hingga sebesar cintanya pada Aluna.


Luna menggosok tubuh Adrian, begitu juga Adrian membalas setiap sentuhan Aluna dengan kelembutan. Adrian merebahkan tubuh Aluna hingga yang terlihat kepala dihiasi dengan rambut indah mengambang di air.


Adrian mulai mengecup wajah dan leher Aluna, Aluna menggeliat malu dan geli. Ingin sekali Aluna bersembunyi di dalam air busa, tapi Adrian menghalangi tubuh Aluna yang mungil untuk tenggelam.

__ADS_1


"Luna, akhirnya aku memilikimu seutuhnya." Lirih Adrian di dekat telinga Aluna. Nafasnya hangat, dipenuhi dengan gairah.  


Luna tak bisa membalas, hanya tersenyum malu-malu. Tubuhnya menghangat mengalahkan hangatnya air di bathup. 


__ADS_2