Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 228. Jangan keras-keras.


__ADS_3

Beni berulang kali mengetuk pintu, tapi anehnya Dion tak membuka, padahal dia tau atasannya ada di dalam. 


Beni bingung, jika ingin membuka takut kena marah, tapi jika tidak dibuka Dion akan lebih marah lagi, karena Dion sempat meminta untuk mengantar berkas penting itu dua jam yang lalu, dan Beni baru bisa menyelesaikan. 


Akhirnya Beni berinisiatif tanya pada security yang berjaga tak jauh darinya.


"Em pak, boleh tau nggak Pak Dion kemana ya?" 


"Belum keluar kayaknya, soalnya baru saja wanita yang tadi pagi datang lagi. Tapi mungkin saja pak Dion sudah keluar dengan wanita yang datang tadi saat saya pergi ke toilet."


"Enggak, mungkin kayaknya, soalnya baru saja dia minta berkas ini tadi, aku khawatir kalau dia di apa-apain oleh monster wanita itu."


"Kemana ya." Beni menggaruk-garuk telinganya yang tak gatal.


Security tertawa tak percaya ucapan Beni, karena setahu dia, bosnya tak serapuh itu.


"Kunci serep pak." 


"Wah, kalau pakai kunci serep, agak lama, Pak Ben, soalnya kita harus coba satu-satu. 


Kata Security sambil mencari kunci di brankas. Seingat dia ada satu kunci CEO yang dia simpan.


Untung kunci ruang CEO ada di tempat yang berbeda, jadi Beni mudah untuk menemukan.


Akhirnya dengan satu kunci serep, Beni berhasil membukanya. 


Beni melihat pandangan yang sangat buruk hingga dia harus beristigfar dengan keras. "Astagfirullah hal adzim."


Terlihat Dion yang berkeringat terlentang diatas sofa, sedangkan Angeline berusaha membuka kemeja warna putih milik Dion.


Tapi melihat nafas Dion yang sedang memburu, Beni yakin bosnya sedang dipengaruhi oleh obat, hingga naf*u yang ada pada dirinya bukan atas kehendak sendiri. 


"Dasar jongos tak tahu diri, kenapa kau berani sekali membuka kunci tanpa izin dari Bos!" 

__ADS_1


"Kamu wanita tak tahu diri, berani sekali mengganggu Bos, dengan memberi obat perang*ang."


"Siapa yang memberi? Dia memang sudah lama ingin melakukannya denganku, kamu tak tahu diri, bisa mengganggu." Angeline dengan kilat kemarahan menatap Beni. Lalu turun dari sofa dan memunguti baju yang dia lepas sendiri. 


Takut berita ini disebarkan oleh Beni, Angeline akhirnya memilih pergi dengan rasa kesal yang memuncak.


Beni segera pergi mendekati Dion dan mengusap lelehan keringat yang membasahi tubuhnya. 


"Ben, aku nggak kuat Ben, obat apa ini Ben, kenapa milikku jadi sekeras ini dan tak bisa dikendalikan."


Beni segera membantu Dion berdiri. "Ya kalau aku terlambat, pasti si Angel yang bakal senang dapat jatah dari si bos." Meski sesama laki laki, tapi Beni mengakui milik bosnya memang tak ada duanya. Jika dari balik celana saja menyembul besar, apalagi kalau dikeluarkan. 


"Bos, kayaknya mandi atau berendam akan bisa membuat keadaan lebih baik," Saran Beni yang mendapat Anggukan persetujuan dari Dion berupa Anggukan kepala. 


Saat Beni berusaha memapah Dion. Tiba tiba Aluna datang diantar oleh asistennya yang baru. 


Mbak Lusy, ini ruang pribadi suamiku, mbak Lusi bisa tunggu di ruang tunggu atau keliling juga boleh," kata Luna yang tiba-tiba ingin makan siang bareng dengan suaminya tanpa dilihat oleh asisten barunya. Rasanya dia sudah lama sekali tidak menyusul ke kantor dan makan bersama. 


"Baik, Nona, aku akan keliling saja, aku suka dengan suasana perusahaan yang bersih dan tenang," kata Lusi jujur. 


"Ehem, ehem." Aluna berdehem karena melihat Beni yang salah tingkah. Lusi memang lumayan manis meski kulitnya agak gelap. Tapi Luna yakin jika sudah tinggal di rumah gedong dan jarang terkena sinar matahari tubuhnya akan menjadi putih dan bersih.  


"Bos, Nona datang. Sepertinya Tuhan memang tak rela Bos jatuh di tangan wanita gatal itu,"bisik Beni ditelinga bosnya. 


Dion yang belum bisa mengendalikan diri sepenuhnya, hanya mengangguk, dadanya masih bergemuruh menahan birahi. 


"Apa yang terjadi?" Tanya Luna yang belum menyadari situasi sesungguhnya. 


Maaf Honey, aku kurang hati-hati. Dion menarik Luna dalam pangkuannya. Dan membenamkan kepalanya di ceruk leher istri. 


"Sayang, apa yang terjadi?"


Nyonya, suami anda hampir saja diperk*sa oleh wanita si ulat bulu."

__ADS_1


"Apa? Benarkah?" 


Aluna kini makin kesal dengan Dion. Kenapa dia harus berhubungan dengan wanita itu lagi. Padahal jika ingin menghancurkan Angeline, dia bisa saja menggunakan cara lain tanpa harus berdekatan langsung dengan wanita itu. Aluna ingin sekali menangis membayangkan andai beni terlambat sedikit saja, pasti Tiger kesayangan akan dibelai oleh Angeline. 


Aluna membiarkan Dion menciium tengkuk leher dan pipinya dengan agresif. 


Beni berniat membantu, dia mengambil rantang di tangan Luna, menaruhnya diatas meja, lalu buru buru keluar. Beni tak bisa lama-lama berada dalam ruangan CEO dan istrinya yang mungkin sebentar lagi akan melakukan sebuah penyatuan. 


Luna mengelus perut besarnya, seminggu lagi dokter mengatakan kalau akan melahirkan, semoga saja Dion hari ini tidak terlalu membuatnya lelah. 


Dion merebahkan Luna di sebuah sofa yang lumayan luas, sofa itu muat untuk tidur dua orang berdampingan.


 Dion yang sudah bertela*jang dada dia segera membungkam mulut Luna dengan bibirnya. 


Luna sering kali mendapat perlakuan lembut atau sedikit enerjik, tapi kali ini Dion begitu agresif. Luna berulang kali memperingatkan Dion dengan mendorong tubuh kekarnya agar pelan-pelan. Luna khawatir bayi kembarnya akan kenapa-napa jika Dion tak hati-hati. 


Tapi Dion tak bisa diajak kompromi, obat yang diminumnya telah melampaui batas. Membuat apa yang dilakukan dan hati jadi tidak sinkron. Bahkan menatap Angeline tadi, wajahnya bisa berubah menjadi Luna yang tak lain istrinya, itu sebabnya Dion pasrah saja saat Angeline memposisikan diri di atasnya dan melucuti baju kerjanya


Dion yang merasa kepalanya pusing di permainan ketiga segera merebahkan tubuhnya di samping sang istri. 


Beni dan karyawan lainnya tak ada yang berani mengusik, karena Security yang berjaga khusus di ruang CEO tak mengizinkan masuk siapapun. Telepon dari Angeline juga tak di gubris, tak ada yang berani menghubungkan ke ruangan CEO. Pasalnya sejak tadi Dion sulit sekali dihubungi. 


Sore telah tiba….


Luna menggeliat dia merasakan perutnya kembali kram, Luna mengutuk Dion yang keterlaluan. Bisa bisanya dia masih terperdaya dengan Angeline yang sudah tahu otaknya burik. Nggak mungkin memberi sesuatu tanpa memasukkan sesuatu di dalamnya, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan bahkan bisa dibilang sudah ciri khasnya. 


Mendengar rintihan Luna yang kesakitan diperutnya, Dion menggeliat. Kesadarannya mulai pulih dan dia lega saat sadar bukan Angeline yang ada didekatnya melainkan istrinya dengan perut buncit. 


Melihat Luna yang kesakitan, Dion segera bangkit dari sofa, karena buru-buru dia bahkan nyaris jatuh. tapi dengan sigap jemari kekar Dion mencengkeram pegangan sofa.


"Honey, kamu tidak apa-apa?"


Luna yang kesal memukul dada Dion. "Sakit tau!! sekarang dedek bayinya mau keluar sebelum waktunya, padahal kata Dokter masih Minggu depan.

__ADS_1


"Maaf Honey, maaf. Aku melakukan semuanya karena aku sedang kesakitan." Dion berusaha membenarkan kelakuannya.


"Aaaaaaa, tapi ini sakit, si kembar lagi ngamuk," Aluna mulai tak bisa menahan nyeri di perutnya yang makin lama makin terasa.


__ADS_2