
Dion segera menyambar kunci yang berjajar di dinding. Kali ini dia memilih naik motor saja. Menurut Dion motor akan lebih mudah menyalip kendaraan lain.
Saat hendak beranjak Dion menemukan sebuah kertas yang tertulis nama sebuah tempat romantis, Dion yakin itu pasti lokasi dinner malam ini.
Dion segera ingin menemukan tempat ini, Dion tak mau melepaskan Aluna dalam pengawasannya.
Motor besar keluar dari parkiran, Dion memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, melakukan motornya dengan kecepatan sembilan puluh.
Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Aluna, sudah aku pastikan keluarga itu akan hancur, aku tidak peduli dengan siapa dan apa hubungan dia dalam keluarga kami.
Dion terus memacu laju motornya dengan kecepatan tinggi, motor yang dikemudikan Dion meliuk-liuk menguasai jalanan.
Sampai di tempat tujuan Dion segera memarkir asal dan mencari sebuah ruang VIP dari kafe ini.
Beberapa pengunjung cafe kelas biasa melihat Dion yang terlihat kebingungan. Lalu seorang waiters mendatangi Dion dan mengajaknya berbincang. "Apa Anda sedang mencari seseorang?" Tanya waiters sambil ikut menatap para pengunjung yang sedang asyik menyantap hidangan khas Chinese yang disediakan oleh restoran ini.
"Aluna! Apa ada pengunjung yang bernama Aluna. Maaf anda pasti tidak perlu berkenalan dengan pengunjung saat mau makan. Tapi paling tidak anda akan mengenali wajah ini." Dion menunjukkan foto anime yang menjadi wallpaper di ponselnya.
Waiters memegang ponsel Dion dan menatap lama. "Ah, ini istri anda? Cantik ya."
"Yah itu istriku apa kamu tadi melihatnya?"
"Maaf kebetulan hari ini hari libur jadi pengunjung sangat banyak jadi aku tidak bisa mengenali mereka satu persatu, Kalau memang dia berada di ruang VIP mari kita lihat di CCTV. Hanya ada 10 ruang VIP di restoran ini." terang waitres dengan ramah tamah pada Dion.
"Baiklah aku ingin melihatnya sekarang juga."
"Tapi anda tahu kan, harus ada …." Waitres tersenyum menatap Dion sambil menjentikkan jarinya.
"Tenang saja aku akan memberimu, bayaran lebih." Dion mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang lima ratus ribu, untuk mengantarkan dirinya pada pemilik restoran.
__ADS_1
Waitres itu tersenyum senang menerima lima lembar uang merah dari Dion.
"Pak, Tuan ini meminta tolong untuk memeriksa tamu VVIP kita malam ini, dia mencari istrinya."
"Berapa dia berani membayarnya. Karena ini sangat privasi."
"Berapa yang anda minta? Aku mau kerja cepat, aku tidak ingin melihat aktivitas mereka, aku hanya ingin mencari istriku, kalau memang dia ada disini aku akan menemui, tapi kalau tidak, aku akan pergi, itu saja. Tolong aku tak punya banyak waktu atau aku akan membuat tempat usahamu ini tutup selamanya."
"Baiklah, sepuluh juta saja, beri sepuluh juta, dan lihat mereka dari layar itu." Pemilik cafe menunjuk sebuah layar yang besar dalam posisi Off. Di Depan layar tersebut ada kursi kecil. Dion segera memakai kursi kecil itu untuk duduk dan menyalakan layar monitor.
Setelah monitor menyala Dion melohat satu persatu pengunjung cave VIP, ada diantara mereka sedang asyik makan bersama anak dan istrinya, ada yang sedang suap suapan mungkin dia pengantin baru, ada yang sedang melakukan hal yang memalukan. Tapi dari sepuluh ruang VIP itu tak ada wajah Aluna dan Adrian.
Dion bahkan memeriksanya berulang kali. Tapi hasilnya sama. Aluna dan Adrian tak nampak.
Dion memukul meja keras membuat pemilik cafe dan waitres yang berdiri.
"Kurang ajar, rupanya Adrian memanfaatkan kebaikan Aluna, dia sengaja ingin membuat aku dan Aluna jauh, dia pasti sedang pura-pura amnesia." Amarah Dion membuat dua orang membisu.
Dion tak peduli, kalau ada waktu bertemu di lain hari, mungkin dia akan membalas ledekannya. Tapi untuk hari ini Dion hanya fokus pada pencarian Aluna.
Saat di jalan parkiran Dion mulai mengingat-ingat nama cafe yang sangat disukai Adrian. Pilihan dia jatuh pada kafe mewah yang sering didatangi oleh keluarga mereka.
Dion segera memakai helm teropong dan mengemudikan motor besar milik adrian. Untuk sampai di cafe dia membutuhkan waktu tiga puluh menit karena jaraknya yang memang lumayan jauh.
Dion kesal dengan dia yang ketiduran, kalau tidak, pasti ceritanya tidak seperti ini lagi. "Arggg." Dion memukul dadanya, kesal.
Jalanan macet, ternyata di depan ada jembatan ambruk. Dion harus menggunakan jalan tikus untuk melewati. Lebih lama dua puluh menit Dion baru sampai di cafe. Dan tidak sulit untuk menemukan Aluna dan Adrian yang sedang dinner.
Mereka rupanya hanya makan berdua, Argo dan Arga menunggu di mobil. Mereka yang memberi tahu di meja nomor berapa majikannya sedang makan malam.
__ADS_1
Dion mengambil duduk di tempat yang agak jauh dari mereka berdua, tapi memastikan bisa melihat apa saja yang dilakukan.
Adrian mengulurkan satu sendok makanan dari piringnya. Aluna awalnya menolak tapi akhirnya menerima. Aluna tersenyum sambil mengunyah daging bistik empuk.
Gimana, enak nggak menu makanan disini? Aku suka sekali makan disini, terutama saat meeting dengan klien. Mereka banyak yang puas.
"Enak kok. Aku suka juga tempatnya tapi kita-kira nanti kita pulang jam berapa ya?"
Adrian juga menyuapi mulutnya sendiri setelah dua kali menyuapi Aluna. "Aku nggak ingin buru-buru pulang. Aku masih betah berdua begini, sejak kecelakaan aku tak ingat momen momen saat kita berdua, jadi aku ingin buka lembaran baru. Mau kan!" Desak Adrian sambil berusaha meraih jemari Aluna dan menggenggamnya.
Setelah beberapa detik Aluna menarik jemarinya dan mengambil gelas bertangkai berisi minuman jeruk, lalu meneguk hingga setengah. Aluna sengaja melakukannya untuk menghindari genggaman tangan Adrian.
Aluna tiba-tiba merasa perutnya mual, padahal menu di depannya adalah menu yang sudah diinginkan sejak lama. Tapi lagi lagi dia ingin Adrian bahagia dan cepat sembuh. Aluna berusaha bertahan.
Musik mengalun merdu, salah seorang pengunjung requez lagu romantis untuk pacarnya.
Beberapa pengunjung berdiri bersama pasangan masing-masing untuk berdansa. Adrian rupanya tertarik, dia mengajak untuk berjasa sampai mengeluarkan tangannya bak Romeo.
Entah kenapa saat ini Dion merasa Aluna juga menikmati makan malam yang diadakan Adrian, bukan karena terpaksa lagi. Aluna juga bahagia.
Aluna menggeleng." Tidak aku, tidak bisa. Aku lebih suka jadi penonton saja."
Please Luna, ajari aku berdansa, mungkin amnesia ini buat aku lupa cara berdansa.
"Tidak, maaf." Aluna menangkupkan tangannya meminta maaf.
"Ayolah Nona, kalian pasangan yang sangat serasi, semua orang disini iri melihat hubungan sempurna ini." Seseorang yang kebetulan duduk di dekat Adrian terlihat menyemangati Aluna.
"Ayolah sayang, jangan buat aku kecewa." Manik hitam milik Adrian menatap mesra ke arah Aluna. Aluna kasihan melihat Adrian yang memelas demi bisa berdansa.
__ADS_1
Jujur berdansa dengan Adrian pernah jadi mimpinya dulu, tapi semua keinginan itu sudah sirna ketika dipertemukan dengan Dion. Namun, jika ini masih bagian untuk membuat Adrian bahagia, dan kembali menemukan ingatannya, Aluna akan mengabulkan.