
"Ma!" kata Aluna yang tiba-tiba kehilangan kata-kata.
Buka aja Sayang, semoga kamu suka yang ada di dalamnya.
Aluna mengamati keluarga suaminya satu per satu. Mereka semua seolah memberi izin supaya Aluna lekas membuka hadiahnya dari Mama melani. Papa dan Dion juga ikut menunggu dengan antusias.
Setelah mendapat izin dari Dion dengan bahasa isyarat berupa anggukan kepala. Perlahan jemari Aluna membuka dengan hati-hati.
Aluna melihat perhiasan mewah yang luar biasa indah, Aluna yakin hadiah Mama hari ini bukan sembarang perhiasan.
"Ma ini -" Aluna tidak meneruskan kata-katanya.
Mama merangkul pundak menantunya, Aluna menitikkan air mata haru.
"Mam, terimakasih." Aluna memeluk mertuanya makin erat.
"Sudah, sudah sayang. Jangan berlebihan, Kamu pantas dapat semua ini." Mama memeluk erat sebentar lalu melepasnya.
Mama lalu mengambil perhiasan di tangan Luna yang menggantung. "Sayang sini biar mama pakaikan sekalian."
Aluna menurut, dia menyatukan rambutnya dan mengangkat tinggi-tinggi. Mama mulai melingkarkan kalung di leher Aluna dan mengaitkan kaitannya.
"Cantik sayang," puji Mama Melani.
"Jessica mengambilkan cermin kecil dan memberikan pada Luna."
Dion sejak tadi memandang Aluna dengan tatapan lembut dan penuh kekaguman.
Mama mengibaskan tangan di depan wajah Dion membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya. "Dion jangan lupa kedip, masa lihat istri ekspresinya gitu amat."
"Ma, Luna makin cantik aja." puji Dion. Bukan karena kalung yang dia pakai tapi Luna memang terlihat makin cantik apalagi akhir ini dia juga mulai mengenal dunia salon, tak sampai seminggu dia dan Jessica pasti sudah mendatangi spa langganannya.
"Cantik dong, menantu siapa dulu," puji Mama dengan bangga.
Dion lalu menggendong luna menuju kamar barunya, kamar yang lebih luas dari ruang tamu itu sudah dilengkapi dengan kamar mandi, mau mandi dengan shower atau bathtub, semua sudah tersedia, di dekat kamar ada taman kecil dengan bunga+bunga hias yang menggantung membuat mereka tak pernah bosan untuk tinggal di kamar berlama-lama, belum lagi kolam yang berwarna biru dan gazebo di dekatnya.
"Sayang, rumah ini sangat mewah, kau pasti menghabiskan tabungan untuk membuat semua ini."
"Tidak, masih banyak lagi tabungan kita, Honey. Jangan pernah khawatir, aku akan selalu bekerja demi menafkahi keluargaku. Aku tak mau membuat kalian menderita," kata Dion, sambil merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Dan mengecup sekilas lalu tiduran di sebelah Luna.
Dion tidak mau lama-lama di dekat Luna, dia tidak mau juniornya menegang, karena puasa masih lama. Dion memilih berkumpul dengan keluarga.
***
Obrolan ringan di ruang keluarga.
Jessica sibuk menggoda Embun dan Awan yang sudah bangun, dia menjulurkan lidah mungilnya karena haus dan sesekali mengeluarkan suara khas bayi. "Oek ... oek."
__ADS_1
Papa menggoda Jessica.
"Wah tante rupanya sudah pantas gendong bayi, buruan nikah sana."
"Boro boro nikah Pa, pacar aja kayaknya Jessica belum punya tu." Goda Dion sambil menikmati susu buatan Susi.
"Bodo amat soal nikah, gue belum kepingin, mending serius kuliah, biar jadi pengusaha sukses," jawab Jessica.
"Bilang aja nggak laku," kata Dion lagi.
Merasa kakaknya kalau menggoda berlebihan dan ujungnya Jessica yang dibuat kesal. Gadis itu kemilih pergi.
"Enak aja," sungutnya sembari pergi.
Karena selalu diledek oleh kakaknya, Jessica jadi ingin jalan-jalan beli ice cream.
"Kemana Jess?" Tanya Dion lagi.
"Cari pacar, biar nggak diledekin terus." Jessica sebenarnya banyak yang naksir, hanya saja lelaki yang sesuai kriterianya belum ada.
"Nitip popok untuk si kecil," kata Luna
Jessica setuju, Dion memberinya beberapa lembar uang warna merah. lalu segera keluar dari rumah mewah Dion dan memilih memakai motor matic yang biasa dipakai saat jalan jalan sore oleh Dion.
Dion lupa tidak mengingatkan Jessica kalau lampu sen motor itu baru saja mati. Luna ingin mengingatkan tapi jessica sudah buru-buru pergi
Brak!
Tabrakan tak terelakkan lagi.
"Aaaaa" pekik jessica. Jessica terdorong ke depan hingga mencium trotoar.
Mobil yang menabraknya berhenti dan penabrak langsung membuka pintu depan.
Jessika terluka lumayan parah lutut, siku dan pipinya mencium aspal.
"Nona, maaf." Suara laki-laki dewasa terdengar di belakangnya dan laki laki itu membungkuk membantunya berdiri.
"Lepas dasar laki-laki gila!! Tidak lihat aku sudah menyalakan lampu sen, kenapa kau malah menabrakku," cerocos Jessica.
"Maaf." Jayden tetap minta maaf meski dia tak bersalah. Karena lampu sen milik Jessica memang tidak menyala.
Jayden memegang pergelangan tangan Jessica. "Ikut aku, aku akan bertanggung jawab mengobatinya."
Tetapi gadis itu menepisnya. "Lepaskan, aku tidak mau."
Jessica tetap bersikap ketus meski tau lelaki itu dokter sekaligus Kakak Nabila. Karena seingat Jessica, laki-laki itu yang menjadi wali di pernikahan Nabila.
__ADS_1
"Keras kepala, aku tidak mau kau terus mengungkit kejadian ini dan menyalahkan aku, aku ingin mengobati lukamu. Titik, jangan protes."
Tak bisa menghindar dari Jayden terpaksa Jessica menurut, karena lelaki itu menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat.
Jayden melihat Jessica benar-benar kesakitan, rasa iba muncul di benaknya dan timbul niat tulus dari hati pada gadis kecil yang pantas menjadi adiknya itu.
Jayden mengangkat tubuh Jessica tanpa merasa keberatan sekalipun.
Jessica yang terkejut dengan sikap tiba-tiba Jayden memekik keras. "Apa yang kamu lakukan, Paman gila?"
"Paman, hey aku seusia kakakmu,kenapa kau panggil paman, kau sengaja membuat aku malu ya."
"Biar, karena kau menyebalkan," umpat Jessica.
"Kau yang lebih menyebalkan." kata Jayden sambil menghempaskan tubuh Jessica di jok depan.
"Awww," pekik Jessica kesakitan karena sikunya yang memar menyentuh kemudi.
Jayden segera mengunci pintu di dekat Jessica dan berlari memutari mobil lewat pintu satunya.
Di dekat kemudi, Jayden segera menyalakan mesin mobil dan membawa Nabila pulang kerumahnya, karena jarak rumah lebih dekat daripada rumah sakit.
"Anda pemaksa juga ya, berhenti! Turunkan aku dan aku bisa mencari dokter yang lebih hebat dari anda dari segi skill dan apapun itu untuk mengobati lukaku," cerocos Jessica.
"Bisa diam nggak?"
"Nggak bisa," jawab Jessica.
"Diaaaam! Bawel." Jayden berteriak.
Kini mereka sudah sampai di garasi mobil di rumah milik Jayden.
Jessica makin takut melihat sekeliling rumah Jayden yang besar tapi sepi, bahkan security juga tak ada.
"Ini rumah siapa?"
"Rumah hantu." Jawab Jayden sengaja membuat Nabila takut.
"Kamu hantunya," ketus Jessica.
"Ya, aku hantu yang suka menerkam wanita, terutama gadis cantik sepertimu."
Jessica bukan malah takut, dia malah jengkel dengan canda'an Jayden, Jessica mencebikkan bibirnya.
"Turun!"
"Iya, iya, tadi masuk di gendong. Sekarang turun masa suruh jalan sendiri." Nabila tenang di tempat duduk.
__ADS_1
Jayden terpaksa harus menepuk jidatnya. Sebenarnya bingung dengan karakter gadis di depannya. Kalau tidak ingat Nabila berhubungan baik dengan Aluna, mungkin Jayden sudah melepaskan Jessica, melakukan yang dia mau, toh Kesalahan juga bukan murni darinya