
Nenek malam ini tak bisa tidur nyenyak, dia memikirkan nasib Dion yang ingin menikahi wanita biasa, dan meminta perusahaan miliknya supaya dikelola oleh Adrian saja.
Bukannya tak percaya, jujur Nenek ingin Dion yang mengelola, karena Dion terlihat lebih berhasil dalam mengelola King fashion.
"Nenek kok belum tidur?" Aluna tadinya ingin menyelimuti nenek, biasanya yang Aluna tahu Nenek jam segini sudah tidur.
"Tolong ambilkan obat yang ada di atas nakas, nenek tidak akan bisa tidur kalau tidak meminum obat tidur."
Aluna menurut, dia mengambil obat tidur di tempat yang nenek maksud.
Aluna membaca obat dari dokter yang setiap hari dikonsumsi oleh nenek.
"Nenek minum obat ini setiap hari." Tanya Aluna sambil mengangkat satu lembar obat.
"Iya, kenapa?" Nenek malah bertanya balik.
"Nenek, tidak boleh terlalu sering minum obat ini, ini tidak baik untuk nenek. Kalau Nenek minum obat ini setiap hari efek sampingnya akan banyak sekali." Aluna mendekati nenek penuh kasih sayang, gadis itu duduk di pinggir ranjang. Nenek yang semula berbaring kini menggeser duduknya bersandar di tepi ranjang.
"Kamu jangan sok tahu, berkat obat itu nenek bisa tidur semalaman dengan nyenyak. Usia nenek sudah tua, jadi wajarlah kalau harus minum obat biar tidurnya nyenyak."
"Nenek pokoknya malam ini Luna nggak izinkan Nenek minum obat tidur ini, Aluna nggak mau Nenek kecanduan."
"Kalau nggak boleh minum obat itu? Apa kamu punya cara lain? Atau biar nenek memanggil Tuti saja."
"Ada Nek, Nenek coba cara Aluna ya, tanpa efek samping, dan tidak merusak ginjal. Obat yang nenek konsumsi ini bisa merusak ginjal kalau dikonsumsi dalam jangka panjang."
"Baiklah, untuk hari ini Nenek percaya, awas kalau cara yang kamu berikan itu gagal dan membuat nenek jadi sakit kepala."
Luna tersenyum lembut pada Nenek. "Sudahlah Nek percaya saja pada Luna."
Luna menyalakan TV yang menempel di dinding, lalu Luna duduk disebelah nenek sambil menyelimuti kakinya hingga sebatas perut.
Nenek terus mengamati Luna dengan intens. Kemanapun gerak tubuh Luna nenek terus mengikuti.
__ADS_1
'Dia gadis yang baik, kasian sekali cucuku Adrian membuang berlian seperti Luna. Cintanya tulus tidak dibuat buat, apa karena Dion sudah menemukan berlian jadi dia tidak butuh perusahaanku lagi, mungkin maksud Dion dia tidak ingin sepupunya kecewa kedua kalinya. Lalu wanita seperti apakah yang menjadi pilihan Adrian, apa dia wanita yang lebih hebat dari berlian yang ada di depanku ini'
"Nenek, kalau malam jangan minum kopi ya, kopinya Aluna bawa kebelakang lagi, nenek sekarang lihat acara TV yang nenek sukai sambil minum susu rasa buah yang Aluna buat." Aluna menaruh remote ke dalam pangkuan nenek dan menaruh susu hangat di atas nakas.
Aluna lalu duduk di sofa yang ada di kamar nenek sambil membaca novel romantis yang ia beli saat bersama Tuti ke pasar tadi. Aluna minta sopir mampir ke toko buku sebentar
Nenek menuruti Aluna, dia minum susu selagi hangat kuku, lalu nenek melihat acara TV. Baru setengah jam Nenek mulai mengantuk.
"Hoammm!"
"Hoammm!"
'Yes berhasil, akhirnya nenek mengsntik juga tanpa minum obat tidur,' batin Aluna.
"Nenek mengantuk, Lun."
"Tidur aja Nek. Luna juga mengantuk, hoammm." Belum lama akhirnya nenek benar benar tidur, Luna juga ikut tertidur di sofa.
***
Aluna rupanya sudah ada di sofa dengan wajah segar karena usai mandi. Nenek senang selain cerdas Aluna juga rajin.
"Pagi Nenek!"
"Pagi Luna. Kok sudah cantik?"
"Iya dong Nek, pagi ini Aluna selesai bikin sarapan bergizi buat Nenek." Aluna menunjukkan pada Nenek dengan isyarat matanya, kalau dimeja ada bubur ayam buatannya sendiri.
"Lalu kamu mau kemana?"
"Aluna mau mulai kerja, Nek. Setelah pulang kerja Aluna mau nginap di kontrakan. Sudah lama rumah itu kosong"
"Luna, sudahlah nggak usah pulang ke kontrakan lagi, bukannya Dion ingin kamu tinggal disini."
__ADS_1
"Jadi Nenek nggak keberatan Aluna tinggal disini?"
"Enggak. Nenek mulai nyaman dekat dengan kamu."
Nenek mengulurkan kedua tangannya, Aluna datang menyambut pelukan Nenek. Nenek menghirup wangi rambut Aluna.
"Luna benarkah yang dikatakan Dion, kalau Adrian memilih wanita lain daripada kamu?" Nenek mengusap rambut Aluna.
"Aluna yang datang ketika hubungan mereka sudah terjalin lama Nek, hubungan mereka sudah sangat dekat." Aluna kembali teringat kemesraan Angel dan Adrian yang hampir disaksikan setiap hari.
"Luna, kalau begitu jadilah istri Dion, nenek sudah merestui, apalagi nenek tak bisa lagi melarang Dion yang keras kepala."
"Nenek, jangan terima Aluna karena kasihan, Aluna ingin Nenek menerima Aluna karena memang layak jadi cucu menantu." Aluna menatap mata tua Nenek, nenek membalas tatapan Aluna dengan sendu. wanita itu kembali memeluk Aluna penuh kehangatan.
"Lagi ngapain nih?" Tiba Tiba Lelaki tampan pemilik beberapa roti sobek di perutnya yang tercetak dengan kemejanya yang putih tipis itu tiba-tiba ada di ambang pintu dengan tangan terlipat di atas perut.
"Pak Dion." Luna terkejut.
"Hei, cucuku yang sangat pintar. Kenapa kau datang pagi sekali? Nenek saja baru bangun tidur, kau pasti sangat merindukan nenek ya?" Aluna menjauh dari nenek setelah dekapan tangan wanita tua itu terlepas, kini gantian Dion yang memeluk Nenek.
"Kau tumben kesini pagi sekali, apa karena rindu Nenek atau rindu Aluna."
"Tentu aku rindu Nenek, Nenek yang paling cantik dan aku merindukanmu." Dion mencium pipi neneknya.
"Kau berbohong, dasar Playboy, sudah dapat Aluna, kau sekarang berpaling dariku"
"Nenek jangan takut, sampai kapanpun Luna dan nenek ada dihati Dion, sama-sama special, tapi beda ruang."
"Pintar ya sekarang, sudah berani menduakan nenek. Dasar Cucu." Nenek menjewer telinga Dion, pria itu meringis kesakitan.
"Nek aku sengaja datang pagi, ingin lebih lama disini, melihat nenek yang makin lama main cantik."
"Makin Tua, kenapa kamu sulit jujur Dion."
__ADS_1
"Iya, makin Tua," kata Dion lagi.
Setelah selesai bercanda dengan Nenek, Dion tiba-tiba ingin menyantap bubur harum milik nenek yang ada di atas nakas.