
"Boleh aku lihat Kakak ipar"
"Boleh." Aluna mengulurkan benda baru itu pada Chela.
Chela sepertinya sengaja tak memegang dengan benar. Ponsel baru Aluna terjatuh kelantai hingga mengeluarkan bunyi yang keras.
"Chela kamu sengaja ya?" Aluna nyaris berteriak. Bukan karena ponselnya mahal, tapi dia masih belum bertemu Dion untuk mengucapkan terima kasih. Bagaimana kalau lelaki itu nanti melihat benda yang ia beli dalam keadaan rusak.
Pagi ini tubuh Aluna sudah penuh dengan peluh dan lelah. Selena kembali melancarkan rencananya untuk membuat Aluna menyerah dan meninggalkan Adrian.
Sebelum datang ke kantor Aluna sudah di paksa dengan tugas berat yaitu membersihkan kolam renang sebersih mungkin, dan sebagai pekerjaan tambahan, Aluna harus membersihkan kolam ikan koi yang ada di halaman.
Aluna sudah tak kuat lagi, rasanya dia ingin pergi saja dari rumah Adrian. Menikah sesuai permintaan bapaknya tak sedikitpun menuai bahagia.
Adrian tak menganggapnya ada, setiap hari hanya marah dan marah lagi. Belum lagi Chela dan Mama mertua yang tak pernah menyukainya.
Aluna sudah tiba di perusahaan. Pagi ini dia membawa sepeda sendiri, setelah Adrian mengizinkan.
"Luna, kamu sekarang makin kurusan!" Nina bertanya pada sahabatnya.
"Masa sih aku rasa masih sama!" Aluna melihat tubuhnya, memang benar bobotnya turun tiga kilo waktu dia menimbangnya.
"Nina, gimana kalau nanti pulang kerja kita mampir toko baju, semalam aku lihat ada diskon besar besaran. Kamu masih ada uang kan?"
"Boleh, masih ada kok." Luna mengangguk sambil menata kopi diatas nampan satu persatu.
"Siip lah kalau gitu." Nina tersenyum bahagia, sedangkan Reno yang baru datang memperingatkan.
"Nina, Aluna, Sttt …! Ada Angel datang."
Takut wanita itu mengganggu ketenangan OB, Nina dan Aluna segera diam dan menyibukkan diri.
Dugaan Reno tak meleset, Angel datang keruang OG dan mencari Aluna. Setelah mendapati Luna, Angel mendekat dan berbisik. "Hei Luna, kamu buatkan dua minuman kesukaan Adrian dan kesukaanku, kamu sudah tau kan? Awas kalau rasanya nggak sama kayak kemaren."
"Iya, Nona. Minuman akan segera aku antar." Aluna menjawab hanya seperlunya saja.
Aluna segera membuatkan susu kambing kesukaan Angel dan kopi Aceh untuk Adrian. Setelah semuanya siap Aluna segera menuju ruang Adrian. Aluna tak ingin mengulur waktu sedikitpun sebelum makin salah lagi dimata model Alexa Fashion ternama ini.
"Luna!" Panggil Tito yang kebetulan pagi ini ruangannya terbuka, mungkin karena asisten Sisil mondar mandir keluar masuk mengirim dokumen.
"Luna kamu dipanggil Pak Tito."
"Iya Pak!" Luna tersenyum, lalu sedikit menunduk di hadapan Tito..
__ADS_1
"Kopinya buat siapa?"
"Ini, Pak Tito. Pak Rian dan Nona Angel yang minta."
"Nanti aja, mending buat aku, dia pasti lagi …." Tito menguncupkan lima jemarinya dan menyatukan dengan jemari satunya. Maksudnya sedang bermesraan, atau berciuman. Entahlah, hanya Tito yang tau Nina hanya tersenyum.
"Pak Tito ada aja." Aluna tersenyum melihat direktur keuangan yang terlihat kadang lucu, kadang sportif. Yang jelas lelaki itu sangat baik.
Senyum Aluna tiba-tiba hilang ketika dia mengingat kembali ucapan Tito, benarkah sepagi ini CEO sudah bermesraan.
"Tapi dia minta cepat tadi, Pak!" Aluna menjawab dengan aura wajah yang berbeda. Aluna belum cinta sama Adrian tetapi hatinya tetap saja sakit, setahu dia kalau wanita dan laki-laki sudah menikah, dia tak akan bermesraan dengan perempuan atau laki laki lain.
"Kau kenapa Luna kok melamun?"
"Tidak Pak, aku hanya sedang bingung. Kesana sekarang nggak ya? Kalau nggak diantar takutnya sudah ditunggu."
"Ya udah terserah kamu aja,habis ini aku buatkan juga ya, kopi buatan kamu enak," puji Tito jujur.
"Iya Lun, Pak Tito sering memuji kopi buatan kamu, seenak apa sih kopinya, aku jadi pengen nyoba." Kata Sisil pura pura baik, namun sebenarnya dia juga tak suka karena Tito mulai perhatian sama Aluna.
"Pak Tito berlebihan."
Usai ngobrol dengan Tito dan Sisil Aluna segera menuju ruangan Adrian.
Aluna terkejut melihat pemandangan di depannya kopi ditangannya hampir saja lepas dari kendali. Dia melihat Angeline duduk di atas meja dengan posisi menghadap kursi Adrian, sedangkan Adrian berdiri tepat diantara dua paha Angeline dengan dua kancing kemeja terbuka.
Baju yang dipakai Angel pun sudah berantakan, semua kancingnya terlepas hingga sebatas perut, dua pengait kacamata lepas dari pundak hingga melorot ke bahu.
Tak ingin mengganggu dua makhluk yang sedang bersenang senang, Aluna segera melangkah pergi dengan tubuh gemetar setelah menaruh dua pesanan minuman di atas meja yang lainnya.
Aluna tak menyangka kali ini Adrian melakukan hal yang lebih parah, bukan sekedar ciuman atau berpelukan, tapi semua terlihat menjijikkan.
Adrian segera berdiri dan mengejar Aluna. Dia terlihat panik seperti seorang maling yang ketahuan mencuri.
"Rian jangan pergi!" Angel menahannya, wanita itu sudah terlanjur diliputi gairah.
"Angel menarik tangan Adrian, tetapi lelaki itu menghentakkan hingga genggaman tangan Angel terlepas.
"Rian tunggu!"
"Angel kamu tunggu saja disini, aku ada urusan sama dia."
Sudah Rian, di hanya OG, tak masalah dia melihat semuanya.
__ADS_1
Adrian berlari keluar setelah sampai di koridor, panggilan Angel diabaikan.
Aluna yang berjalan santai menuju tangga, cepat terkejar oleh Adrian. Tubuh gempal Adrian mendorong Aluna pada sebuah ruangan kosong dan menghimpitnya
"Pak Rian. Tolong bapak jangan marah dengan saya," Aluna berkata dengan mata berkaca-kaca. Dia tak ingin menunjukkan kesedihan apapun, tapi wajahnya tetap tak bisa berbohong.
Kini Adrian menghalangi tubuh Aluna pergi dengan kedua tangannya, justru Aluna semakin ketakutan akan terkena amarahnya.
"Tolong lupakan apa yang kamu lihat, aku hanya …." Adrian terlihat gelisah, ini pertama kalinya Aluna melihat wajah tampan itu dengan jarak sedekat ini, Aluna bisa melihat ada aroma parfum wanita menempel di kemejanya, dia juga melihat ada noda lipstik di hemnya, dan mana jas Adrian? Lelaki itu bahkan sudah tak memakainya.
"Tenang Pak Rian, aku akan melupakan, dan aku akan tetap menjaga nama baik Pak Rian di kantor ini."
"Kamu yakin bisa?" Tanya Adrian gugup.
"Aku bisa Pak." Aluna mengerjap. Adrian mengangguk.
Aluna kini memejamkan mata, berusaha menetralkan degup jantung yang tak beraturan. Seharusnya sebagai istri sah dia berhak marah. Tapi Aluna tak mau menuntut apapun, bukankah lelaki itu juga tak pernah menuntut dirinya untuk minta dilayani sebagai suami dan sebagainya. Hubungan mereka benar-benar hambar atau bahkan Aluna tak pernah terlihat.
"Pak Rian, maaf saya harus bekerja." Dengan takut Aluna mendorong tubuh perkasa lelaki di depannya. Adrian melepaskan kedua tangannya yang menempel di dinding.
Adrian mengamati Aluna yang berjalan menjauh, dia membuka pintu dengan hati-hati, setelah tak ada makhluk lain yang berkeliaran dia segera keluar.
Aluna kembali bergabung dengan teman-temannya, seolah tak terjadi apapun. Kini justru Adrian yang bingung, kenapa dia harus panik saat Aluna melihat dirinya bermesraan. Seharusnya Adrian tak sampai memikirkan apa yang dirasakan Aluna. Adrian tadi takut Aluna akan marah
'Syukurlah gadis itu bisa bekerja sama. Kukira dia akan menyulitkan ku,' gumam Adrian sambil mengacak rambutnya.
Adrian segera kembali ke ruangan pribadinya. Dia melihat Angel masih menunggu sambil menyandarkan tubuhnya di meja membelakangi pintu, dengan tangan bersedekap, vest yang Angel pakai sudah kembali rapi.
Adrian kembali dengan wajah kusut, dia tak tertarik lagi untuk melanjutkan permainannya. Angel Masih menunggu Adrian karena kesal telah meninggalkan dirinya demi mengejar OG tadi.
Angel maafkan aku, tolong tinggalkan aku sendiri, aku ada banyak kerjaan.
"Sungguh sedang banyak kerjaan atau mood kamu buruk karena gadis OG tadi? Aku merasa akhir-akhir ini kamu aneh Rian."
" Aneh gimana? Aku masih sama, aku Adrian kekasihmu, Sayang." Adrian mendekati Angel dan memegang kedua pundaknya. Tatapan mereka bertemu. Adrian bisa melihat kecewa di mata Angel.
"Pertama, kau membuat OG itu kerja dirumah dan juga di perusahaan ini, kedua kau menyebut namanya saat meeting dengan clien Reihan. Ketiga kau mengejarnya saat sedang memergoki kita bermesraan, Rosa sering memergoki kita, Nina, Tito, apalagi Arga dan Argo. Tapi kau tak peduli."
"Sudah selesai? Oke sekarang kamu keluar, selesaikan pekerjaanmu, aku akan selesaikan pekerjaanku. Aku tak mau berdebat!"
"Rian kamu menyebalkan, kalau tak mau jujur aku yang akan cari tahu sendiri. Apa hubungan kamu dengan OG itu, kenapa kamu terlihat perhatian dengannya, jangan jangan selera kamu sekarang berubah menjadi penyuka gadis cupu dan kampungan?"
__ADS_1