
"Aluna, apa kamu sudah siap melakukannya sekarang? Sayang" lelaki itu keenakan merasakan sentuhan jemari Aluna. Sambil menggosok, Aluna juga memijitnya pelan.
"Ayolah, aku sudah tak sabar menunggu lebih lama lagi."
'Kasian sekali kamu Pak Rian, selamat menikmati siksaan yang membuat kau tak akan bisa tidur nyenyak.'
"Tidak bisa Pak Rian, aku masih datang bulan."
"Apa!!" Adrian terkejut, seketika dia menoleh kearah Luna dan mencari kebenaran.
" Lihatlah Air mandi ini sekarang berubah warna menjadi merah dan menjijikkan."
Benarkah kau tidak sedang membohongiku, atau kau sedang ingin menghindar dari kewajiban?"
Aluna menggeleng, sambil tersenyum penuh kemenangan.
Adrian terkejut mendengar penuturan Aluna. Lelaki itu segera berdiri dari bathup dan menatap air yang memang berubah warna.
Sial, kenapa apes banget. Adrian meremas rambutnya, rupanya usahanya untuk menjauhkan Aluna dari Dion saat ini sia-sia.
Aluna memejamkan mata, bersyukur untuk tujuh hari ke depan masih selamat. Aluna tidak bisa menyerahkan mahkotanya pada lelaki labil seperti Adrian. Dia yakin saat ini yang dia rasakan hanya nafsu. Dulu waktu Aluna masih cupu dia tidak Sudi membicarakan malam pertama, bahkan dia memilih ke bar, untuk minum minuman keras dan pulang dalam keadaan sakaw.
"Baiklah, kalau begitu mandilah sendiri, aku akan mandi dengan air shower saja." Andrian beranjak dari bathup. Membilas segera tubuhnya dengan air shower yang terus mengucur deras.
Sedangkan Aluna segera bangkit dan mengunci pintu dari dalam. Aluna lega, dia sekarang bisa mandi dengan tenang tanpa diganggu oleh beruang kutub menyebalkan itu lagi.
Menghadapi beruang kutup seperti Adrian Aluna harus bermain cantik. Tidak bisa melawan terang terangan, karena pasti akan kalah.
Selesai mandi Adrian segera memakai handuk kimono warna putih dan keluar kamar mandi. Adrian sangat kecewa, niatnya bersembunyi dari masalah untuk sementara waktu dan bersenang senang menghilangkan stres. Malah keadaan Aluna tidak bisa diajak kompromi.
Sial, kenapa nasib buruk selalu datang padaku di hari hari terakhir ini. Banyak sekali kejadian memalukan di perusahan. Belum lagi Aluna yang harus datang bulan.
Di depan cermin sambil menyisir rambut dan mencukur kumis Adrian terus saja berbicara dengan mata batinnya sendiri.
Sedangkan Aluna sekarang bisa mandi dengan tenang tanpa ada yang mengganggu.
__ADS_1
'Oh pak Rian, sungguh anda adalah pria yang sangat egois, selama ini anda tak pernah melihatku saat disisimu, tapi saat aku menjauh dan mulai bahagia dengan duniaku yang baru, anda ingin menghancurkannya. Permainan sudah dimulai, sekarang aku atau keluarga Anda yang hancur.'
Aluna tiba-tiba mendengar ponsel Adrian sedang berdering, dia tahu itu panggilan dari siapa.
"Hallo, sudah ku bilang hari ini aku sibuk, kenapa terus menggangguku? Semua ini karena kau yang membuat kesalahan, sekarang aku harus bekerja keras untuk memperbaiki semuanya.
"Rian Sayang, aku sungguh minta maaf, seharusnya kau jangan memarahiku, bukankah hasil penyelidikan susah terbukti ada seseorang yang sengaja ingin menghancurkan hubungan kita dan menjatuhkan nama perusahaan."
"Entahlah, yang jelas saat ini aku sedang sibuk, dan tolong jangan ganggu aku dulu."
"Baik Rian, jika kau sudah tak marah lagi, segera hubungi aku lagi, karena aku sudah merindukanmu Rian, kau terus saja menghindari diriku."
Baiklah, kamu baik baik disana, aku tak akan lama."
Panggilan Adrian dan Angeline cepat berakhir. Adrian sepertinya benar-benar kecewa dengan kejadian di fashion kemaren.
Tito menjadi pelampiasan amarah Adrian, kini hubungan pertemanan mereka juga sedang di pertaruhkan.
Namun rekaman CCTV menunjukkan pelaku sebenarnya adalah seorang wanita. Sayang sekali wajahnya tak terlihat dalam rekaman itu.
***
"Hei Pak Rian." Luna terkejut tiba-tiba Adrian sudah berdiri di sebelahnya.
Hai, teh dipercaya bisa melancarkan darah dalam tubuh. Aku buat dua, satu untukmu dan satu untukku.
"Terimakasih Pak, anda sangat baik sekali."
Aluna tersenyum. Adrian menyambut senyum manis Aluna lalu menyerahkan satu gelas teh. Aluna menerima lalu menyeruput pemberian sang kekasih.
***
Bibi yang ada di kontrakan, mondar-mandir karena bingung. mengkhawatirkan Nona mudanya yang tengah dalam bahaya. Menurut Sofia, jika Andini bersama Adrian itu artinya dia sedang dalam bahaya.
Dion sedang panik, setelah mendapat kabar dari Bibi kalau Aluna sudah dibawa Adrian dengan paksa.
__ADS_1
"Apa yang akan dilakukan bedebah itu, semoga Aluna bisa menjaga dirinya, Luna maafkan aku yang terlalu sembrono membiarkan kamu pulang sendiri, semua itu aku lakukan karena kamu yang memintanya."
"Ada apa Dion?" Melani bertanya pada putranya yang sedang gusar.
"Aluna Mam. Kata Bibi, Dia di culik oleh Adrian, aku khawatir Aluna akan mengalami nasib buruk seperti sebelumnya.
"Dion, kamu jangan terlalu ikut campur urusan mereka. Menurut Mama, biarkan Aluna selesaikan masalahnya sendiri?"
"Tidak bisa Mam, Aluna itu sedang dalam penindasan keluarga suaminya. Sedangkan Dion mencintai Aluna. tak mungkin aku akan menutup mata melihat wanita yang aku cintai berjuang sendiri mengharapkan sebuah keadilan.
Melani memilih diam, daripada berdebat dengan Dion yang tidak akan pernah mengerti maksud dari perkataannya. namanya juga berbicara dengan orang yang sedang jatuh cinta, pasti sulit untuk menerima kenyataan.
Dion dengan cepat mengambil kunci mobil, lalu meninggalkan Mansion. Melani hanya bisa mendoakan putranya supaya mendapatkan cintanya. Sedangkan Jessica yang hanya mendengar sepenggal cerita, sudah menangis tersedu, khawatir Aluna kenapa napa di tangan penculik.
"Kak Dion aku ikut!" Jessica mengejar Dion yang sudah mengeluarkan mobil dari garasi.
Kamu tidak bisa ikut Jess, kakak tidak tahu berapa hari lagi akan pulang. Kakak akan terus mencari Aluna sampai ketemu.
"Jessica ikut." Gadis itu memaksa sekaligus merajuk.
"Melihat adiknya yang begitu perhatian dengan Aluna, Dion memilih mengijinkan Jessica ikut.
Mama makin sedih melihat putra dan putrinya sudah terlanjur mencintai dan membiarkan Aluna menjadi penguasa hatinya. Mama takut cinta Dion akan bertepuk sebelah tangan.
"Pa! anak kita berada di jalan yang salah." Melani mengadukan kegelisahannya pada Davit yang tengah menikmati cerutu Di ruang tamu.
"Tidak, Dion sedang memperjuangkan cintanya. Papa yakin kalau Adrian mencintai Aluna dengan benar, pasti Dion tidak akan melakukan semuanya."
"Kamu jangan lupa, aku dulu juga mengmbilmu dari Lelaki yang hanya setengah setengah dalam mencintaimu, dan akhirnya cinta ku yang menang."
"Tapi Aku belum menikah waktu itu," kata melani mengenang masalalunya.
"Sudahlah istriku, jangan terlalu kau risau perihal anak anak, biarkan dia bermain main dengan masa mudanya. Biarkan nanti akan menjadi ukiran sejarah yang akan menjadi kenangan yang indah di hari tuanya nanti.
*Selamat hari lebaran bunda bunda cantik. Emak ucapkan minal Aidin walfa'izin. Semoga kita senantiasa sehat selalu.
__ADS_1