
"Seperti janji Enzo, Tito sekarang sudah menjemput Luna."
Luna sudah menunggu di depan gerbang asrama, dia sudah cantik dengan balutan busana sederhana.
"Hai Lun, cepat masuk," perintah Tito dari dalam mobil.
Luna segera naik di sebelah Tito. Tito menyempatkan diri menatap Aluna beberapa detik. setelah Luna selesai memakai sabuk pengaman
"Sudah, kita jalan, kayak baru kenal aja lihat sampe segitunya."
"Nggak Lun, kamu itu sekarang berubah drastis tau nggak, kamu sekarang sudah cantik, mungkin jika dulu kecantikan kamu empat puluh persen, sekarang bisa mencapai sembilan pulih persen."
"Gombal banget sih. Padahal ini Luna masih sama yang dulu, cuma saja sekarang nggak pake kaca mata, rambut nggak dikepang. Itu aja," kata Luna sambil menoleh ke arah Tito.
"Hehehe. Luna, andaikan kami bukan simpanan Adrian pasti aku sudah menikahimu dulu," canda Tito.
"Kamu gila, aku bukan simpanan, tapi istri sah." Aluna memukul bahu Tito.
"Iya, maksudku istri rahasia." Tito meringis merasakan pukulan Aluna.
Tak lama Aluna sudah sampai di gedung mewah dan besar, mobil-mobil mewah diatas tiga ratus jutaan berjajar rapi di parkiran.
"Luna kita lewat belakang, disana kita sudah ditunggu security yang akan membantu kamu masuk. Pakai topi dan masker, biar mereka tidak ada yang tahu kalau kamu model yang akan mengisi acara hari ini.
Aluna mengangguk setuju, dia akhirnya memilih berjalan di belakang Tito, sepanjang perjalanan Tito selalu menggandeng Aluna karena dia bertanggung jawab melindungi wanita itu sepenuhnya.
Enzo terlihat sudah duduk di kursi deretan paling depan bersama relasi dan kolega yang semuanya dari pimpinan perusahaan.
Jika ada tamu istimewa datang, Enzo segera berdiri dan menjabat tangan lalu mempersilahkan duduk.
Enzo hari ini sengaja tak mengundang keluarga Alexander dan Sanderson, Enzo tak mau Dion Sanderson bertemu Aluna. Pasalnya lelaki itulah yang selalu membuat Aluna sedih, Enzo juga tak mau kedatangan Dion hanya akan membuat cita-citanya berantakan.
Saat sedang menyambut tamu-tamu istimewa, ponsel di saku terus bergetar.
"Tuan, Nona Luna sudah ada di ruang make up."
__ADS_1
"Bagus, usahakan pemberian make up dan ganti kostum tidak terlalu lama." kata Enzo sambil menatap beberapa kolega yang baru datang. Enzo melambaikan tangan dan mereka semua merapat di barisan paling depan.
Aluna diminta duduk, Make'up Artist mulai memoles moles wajahnya dengan kemahiran tinggkat tinggi.
Aluna terlihat sekali grogi, keringat dingin membasahi sekujur tubuh dan juga sela jarinya.
Aluna memberanikan diri menatap dirinya di pantulan cermin. Sungguh dirinya malam ini terlihat berbeda, Luna nyaris tak mengenali kalau ini dirinya yang pernah menjadi gadis culun.
Tito yang melipat tangan sambil berdiri di dekat pintu, menatap Aluna nyaris tak berkedip. Menyesal dulu dia tak bertemu lebih dulu sebelum Adrian.
Mobil terbaru yang akan menjadi sponsor malam ini sudah berjajar di belakang tirai. Aluna nanti akan berdiri di antara dua mobil yang harganya mencapai satu miliar itu.
Aluna sudah siap, gaun mewah tanpa lengan dengan warna silver serta belahan dada sedikit rendah, terdapat bling-bling di dada itu telah menghipnotis mata yang melihatnya. Belahan rok yang tinggi hingga sebatas paha dan ekor yang panjang menbuat setiap langkah kaki Aluna semakin anggun.
Aluna memilih memakai tiptoe shoes tinggi dilengkapi dengan tali yang berbentuk hiasan, supaya langkahnya semakin percaya diri tanpa memikirkan keseleo.
Kamera setiap stasiun TV sudah memutari panggung, para pencari warta juga berdatangan berharap bisa melihat acara pembukaan produk terbaru dari perusahaan Enzo. Selain itu, model pendatang baru dengan nama samaran bernama Valery itu juga mampu membuat penasaran para CEO muda.
Valery bersiap memposisikan diri di dekat mobil, dia sangat nervous, tapi Enzo selalu berkata 'kamu pasti bisa' membuat Aluna menambah rasa percaya dirinya hingga puncak tertinggi.
Kalimat panjang itu ditulis Enzo dalam sebuah pesan yang dikirim langsung ke ponsel Aluna.
Aluna membacanya dengan bibir tersenyum ketika Tito yang menjadi pengawal sementara menyerahkan ponsel dan membiarkan Aluna membacanya.
Setelah selesai membaca Tito kembali mengantongi ponsel Aluna dan meninggalkan Aluna sendiri di panggung.
Acara sudah akan dimulai, Aluna segera berpose semenarik mungkin dan berusaha tidak bergerak karena hari ini dia akan jadi manekin cantik di sebelah mobil mewah yang baru launching untuk pertama kali.
Aluna yang akan dikenal sebagai Valery dalam dunia model itu sudah lebih dari siap, Tirai berwarna silver perlahan bergerak dan terbelah dari tengah. Momen ini mampu membuat ruangan yang tadi riuh kini menjadi sunyi. Mereka hanya ingin melihat bagaimana kehebatan perusahaan Enzo dalam menciptakan lokomotif pertamanya. Dan yang membuat mata malas berkedip adalah gadis ayu yang ada di sebelah mobil baru juga.
Mereka bertepuk tangan sangat meriah. Mengagumi Valery yang terlihat tersenyum sangat ramah.
"Tuan Enzo anda kenal wanita itu?" tanya relasi kerja yang rupanya tertarik dengan Aluna sejak pertama kali melihat.
"Iya, dia bukan wanita sembarangan. Jangan pernah berharap kau bisa menyentuhnya," kata Enzo berusaha melindungi Aluna. Hal ini pasti akan terjadi. Setiap model cantik akan sering mendapat tawaran makan malam atau kencan dengan para CEO hidung belang.
__ADS_1
Angeline dan Zena malam ini benar-benar tak terlihat diantara penggemarnya, semuanya meneriaki nama Valery. Angeline dan Zena makin geram, dengan Aluna yang berhasil menarik simpati tamu pada malam ini.
Kebencian Angeline dan Zena makin memuncak ketika Enzo naik ke panggung dan melingkarkan kalung berlian di leher Aluna sebagai ucapan terima kasih yang tiada Tara karena sudah membuat acara ini berjalan lebih dari harapannya.
Dion yang melakukan pencarian, dia diam-diam masuk pada acara tanpa undangan. Dion cukup membayar dua juta pada penjaga mata duitan untuk mendapatkan izin masuk.
Dion menajamkan pandangannya pada sosok jelita diatas panggung itu. Meski nama Valeri yang diucapkan tapi Dion belum buta warna. Wanita yang tengah menjadi sorotan kamera itu adalah istrinya.
"Beni, kau kenal dengan Valery itu?" Dion mencoba mengetes pandangan Beni.
"Sepertinya aku mengenalnya, dia sangat mirip dengan Nona. Apa mereka saudara kembar ya."
"Beni, bagaimana jika dia memang Aluna?"
"Bisa jadi, Tuan. tapi dia Valery"
"Beni, segera lakukan satu hal, aku tidak rela istriku menjadi tontonan. Aku tidak mau dia jadi model," kata Dion mulai gusar, kesal dan geram.
Dion ingin sekali mencongkel mata-mata para lelaki yang duduk di barisan depan dan menatap istrinya tanpa berkedip itu.
"Tahan Tuan, jika anda membuat kegaduhan di acara orang, jika sang pemilik acara tidak terima ini akan jadi masalah buat kita.
"Aku tak perduli!!" Dion segera berdiri dari kursi duduknya dan berjalan ke depan.
Beni berusaha menghalangi majikannya dengan menghadang di depannya. "Tuan dengarkan aku, kita bisa bicara ini baik-baik setelah istri anda turun."
Dion memejamkan mata, berusaha tenang. Jika dulu Aluna jadi model di tempatnya, wanita itu belum sah menjadi istrinya, selain itu baju yang dipakai tidak terbuka seperti hari ini.
"Tuan, bersabarlah, kita tunggu acara ini selesai, dan kita bicarakan baik-baik, jangan sampai kita masuk penjara dan gagal membawa Nona pulang."
'Aluna, ini salahku, karena aku mengizinkan kau pergi dari rumah hingga kini kau harus bekerja sendiri. Sayang aku akan membawamu pulang hari ini juga, aku tak suka kau jadi model apapun. Kau istriku, hanya aku yang boleh melihat lekuk indah di tubuhmu itu'
Dion terus menatap Aluna dari kejauhan, dia sudah tidak bisa maju lagi karena terhalang oleh para wartawan dan kameramen yang lalu lalang.
Kegaduhan yang dibuat oleh Dion juga menarik simpati para penjaga. Security mendekati Dion dan meminta untuk duduk dengan tenang.
__ADS_1