Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 26. Dipertemukan lagi.


__ADS_3

"Tuan, apa anda yakin dia adalah gadis yang pernah menolong anda semasa kecil?" Ben bertanya pada Dion yang sedang memangku dagu dan termenung.


"Aku tidak tahu, dulu waktu aku tenggelam saat bermain surfing di pantai, gadis itu datang bersama lelaki dewasa dengan beberapa kepiting tangkapannya. Pria itu pasti ayahnya. Tapi gadis itu sangat cantik, kulitnya bersih dan matanya sangat indah, dia menangisi keadaanku. Yang kuingat dia memiliki tahi lalat di tempat yang sama, persis seperti Luna."  


"Tapi banyak sekali gadis di dunia ini dengan tahi lalat yang sama Tuan, jika gadis yang menolong anda sangat cantik dan tak berkacamata, pasti dia gadis yang berbeda."


"Entahlah, aku ingin pulang sekarang. Siapkan mobil dan aku ingin makan di restaurant kepiting," ucap Dion yang menyebut salah satu nama restauran dengan nama asal saja.


" Siap Bos."


Pria tampan itu memanggil sekretarisnya untuk segera merapikan berkas, dan dia melenggang pergi bersama Ben. 


Dion lelaki pujaan setiap karyawan, dia memiliki etos kerja yang tinggi dan rupa yang nyaris sempurna. Oleh sebab itu orang tuanya David sunderson dan Melani alexander mempercayai Dion untuk memegang bisnis keluarga warisan nenek yaitu King Fashion. 


Dion dan Ben mulai melangkah turun. Beberapa karyawan menyapanya setelah mengangguk hormat, sedangkan dia cukup membalas sedikit senyum saja, mereka sudah kelabakan. 


Dion pernah berpacaran dengan Angel, Angel dulu model di King Fashion, dan perusahaan itu membesarkan namanya. 


Angel berhasil memacari Dion. Mereka pernah saling mencintai, Namun lelaki itu kecewa mendapati Angel kekasihnya sudah tak lagi memiliki selaput dara. Dion mencari tahu sendiri, ternyata Angel sudah sering bermain-main cinta dengan lelaki lain sebelum dengannya.


Dion mulai mengabaikan Angel dan Fokus dengan pekerjaan. Dengan sendirinya Angel pergi dan mengejar cinta Adrian. 


Berharap lelaki tampan, masih keluarga Alexander akan mencintainya dengan tulus. Dan benar Adrian yang lugu mencintai Angel dengan tulus hingga mata dan hatinya sudah dibutakan oleh pesona Angel.

__ADS_1


****


Jam kerja sudah habis, Aluna berjalan menuju parkir dengan lunglai, tubuhnya sangat lelah. 


Pagi buta sudah membantu Imah siapkan sarapan, belum lagi tugas tambahan dari Selena dan Chela yang tak kira-kira. 


Pulang kerja pun dia sering minta buatkan apa aja yang dia bayangkan enak dimakan. Kalau tidak cocok tak segan Chela melemparnya ke lantai dan meminta Aluna membersihkannya kembali.


Aluna malas langsung pulang, pagi ini dia ingin mengunjungi makam bapaknya terlebih dahulu. 


Luna mengendarai motor matic menuju makam Yusuf. Aluna langsung memeluk nisan Yusuf dan menumpahkan kesedihannya.


'Pak, Aluna kangen bapak, Aluna ingin bertemu dengan bapak. Pak harusnya saat pergi bapak ajak Luna sekalian, biar kita selalu bersama terus. Tanpa bapak hidup Luna tak ada artinya, hanya bapak yang bisa bahagiakan luna.' Luna merintih seperti orang kesakitan, hati Luna memang sakit, hanya saja dia pura-pura tegar. Suami yang seharusnya menjadi sandaran untuk kepalanya, dia suka main-main dengan wanita lain. 


Bayangan Adrian menjamah dada wanita itu terus saja berkelebat, nafas mereka yang terengah, menandakan kalau dia sedang diburu oleh gejolak hasrat. 


Suara itu lagi. Alina segera menoleh. "Iya, kenapa anda juga kesini." 


"Aku tadi melihatmu menepikan motor di depan sana, ikutlah denganku sebentar saja."


"Maaf, aku masih merindukan bapak, lain kali saja, oh iya, aku mau berterima kasih soal ponsel kemarin, anda sangat berlebihan."


Senyum kecil terlihat dari bibir Dion. "Masih soal ponsel, sudah kukatakan, benda itu untukmu. Anggap itu hadiah untuk pertemanan kita. Kau jangan menolak ya."

__ADS_1


"Dan sebagai teman, kau bisa ikut denganku, aku ingin mengajakmu." Tatapan mengiba dari iris warna biru itu membuat pertahanan Aluna melemah. 


Dion jongkok di depan makam Yusuf. Sembari jemarinya mengusap nisan. "Pak, apakah aku boleh mengajak putrimu jalan sebentar, aku janji tak akan membuatnya sedih."


Aluna tersenyum, lelaki di depannya terlihat begitu manis seperti pangeran berkuda impian. Dia akhirnya mengangguk. "Baiklah tapi hanya sebentar. Aku harus kembali bekerja."


"Apa perlu aku mintakan izin?" Dion memberi tawaran.


"Jangan, asalkan pulang cepat," ucap Aluna.


Aluna dan Dion berjalan beriringan seperti Si Upik dan Pangeran . Ben membuka pintu belakang untuk Dion dan Aluna. 


Aluna tadinya sempat ragu dia akan duduk di dekat lelaki yang tubuhnya selalu mengeluarkan aroma maskulin itu, sangat berbeda dengan dirinya yang aroma bedak saja tak tercium. Namun dia tak mau bertingkah yang justru akan mempermalukan dirinya sendiri. 


Ben duduk di kemudi, setelah memastikan Kedua penumpang sudah duduk dengan aman baru dia kembali menyalakan mesin mobil hampir tak bersuara itu. 


Di Dalam mobil mereka sempat berbincang soal makanan kesukaan. 


"Apa kau suka kepiting." Tanya Dion.


"Suka, aku suka tapi aku tak bisa membuka cangkangnya, bapak selalu membantu aku saat ingin memakan seafood itu."


"Ben, belokkan mobil di restaurant seafood, aku dan Aluna ingin memakan daging kepiting sekarang."

__ADS_1


"Siap Boss."


"Pak Dion, jangan! Sudah kubilang aku tak bisa memakan dengan baik," keberatan Aluna tentu tak diindahkan oleh Dion. lelaki itu mengacak poni Aluna yang agak panjang hingga menutupi kedua alisnya.


__ADS_2