Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 37. Dua Lelaki Tampan.


__ADS_3

Pekerjaan sudah selesai, Aluna mencuci tangannya lalu duduk sebentar menikmati secangkir kopi. 


"Kopi aceh memang wangi, pantas Pak Rian dan Pak Tito sangat suka." Gumam Aluna. 


Dia mengamati jam di dinding, rupanya waktunya pulang sudah lewat lima menit. Aluna suka pulang terlambat, selain pintu lift sudah tak antri lagi, jalan keluar gerbang juga tak padat oleh kendaraan karyawan produksi. 


Aluna bergegas keluar, betapa terkejut dia tak mendapati kunci pintu. Aluna menarik narik gagang pintu dengan keras. 


"Woi !! siapa diluar? Tolongin dong, pintunya ngunci sendiri nie."


Brak! brak! brak!


"Tolong saya dong!!" Aluna menggedor pintu lagi, kali ini dia mulai panik, bagaimana jika semua karyawan sudah pulang. Tak pernah terpikir di benaknya, betapa menakutkan tidur di perusahaan sendirian. Walaupun di depan gerbang ada security tapi jauh di depan sana. 


"Tolong saya, Reno! Apa kamu sudah pulang?! Pak Tito!, Pak Rian!"


Aluna berusaha untuk berpikir tenang sambil menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Masih tak percaya kalau pintu bisa terkunci dan dia sedang sendiri di dalamnya. 


Aluna masih berpikir positif, semoga yang menguncinya hanya berniat bercanda dan sebentar lagi akan mengasihani dan membuka pintu.


***


Aluna terus mengamati jarum jam yang bergerak menuju malam, pukul tujuh sebentar lagi akan terlewat, sunyi dan dingin mulai menghampiri . Matanya berkaca kaca menahan tangis.


Aluna yakin ini bukan candaan seseorang, pasti ada yang sengaja menguncinya dari luar.


 Aluna mulai hilang harapan, air mata mulai deras, karena takut sendirian.


Aluna duduk sambil memeluk lutut 


"Tolongin saya …  Aku takut, Aluna pengen pulang."


Aluna berharap malam ini ada yang masih lembur. Akan mencarinya dan datang ke kantor untuk membuka pintu. Aluna terus saja berdoa, dan tubuhnya sudah gemetar ketakutan membayangkan akan tidur sendiri di tempat yang menjadi begitu mencekam, ketika malam tiba.


***


Dion menelepon Aluna berulang kali, hingga dia kesal.


'Kemana Aluna, Seharusnya dia tak susah angkat teleponku, tapi kenapa dia tak menerima panggilan dariku. Apa karena aku sudah membuat kesalahan.' 


Dion yang malam ini masih di perusahaan, dia berulang kali mencoba menghubungi Aluna, hingga puluhan kali tapi sayangnya tak sekalipun panggilannya menuai sebuah jawaban.


"Ben, emangnya jam kerja Alexa fashion sampai jam berapa?" Tanya Dion pada Ben.


"Kalau nggak salah, jam dua sore sudah pulang."

__ADS_1


 "Yakin?"


"Ya. Yakin Bos"


"Tapi kenapa ponselnya Aluna posisinya masih di kantor, ini sudah malam. Apa ketinggalan ya?"


"Nah itu yang nggak aku tahu. Bos."


Benar juga jawaban Ben, dia pasti tak tahu. Ben berbicara lagi. "Gadis itu istimewa banget bagi Anda, karena udah menyelamatkan nyawa. Anda sudah memberi dia hadiah, harusnya itu sudah harga yang impas."


"Maksud kamu nyawaku, seharga barang yang aku berikan pada dia?" Dion jadi marah ke Ben gara-gara dia lancang bicara. 


"Bukan itu, maksud Saya. Aku hanya tidak mau ada gosip buruk dengan Anda, masa Bos King Fashion suka jalan sama gadis cupu. Takutnya mereka akan mengira anda alergi dengan gadis cantik." Ben mengutarakan alasannya.


"Ben, Luna itu cantik, aku bisa buat dia cantik sekarang juga kalau aku mau. Tapi kalau dia dah cantik kayaknya Adrian pasti bakal suka, aku nggak mau itu terjadi. Aluna masih ingin bekerja disana."


"Jadi maksud anda, sebenarnya Aluna cantik tapi pura pura jelek, atau dandan biar jelek gimana sih Bos, aku nggak ngerti." Ben mulai jengah dengan sikap Bos yang akhir-akhir ini selalu membicarakan Aluna. 


"Ya, nggak usah dipikirkan,itu memang bukan pekerjaan kamu, sekarang antar berkas ini, kita akan gelar Fashion show. Umumkan ! Bagi yang hadir akan mendapat satu produk yang kita promosikan di malam itu nanti."


"Wih keren banget idenya, tapi apa perusahaan nggak akan rugi?"


"Itu nggak mungkin, Sudah banyak omong Lo. Mending siapkan mobil, kita cari Aluna. Firasatku kok nggak enak."


"Maaf, di dalam sudah tak ada siapapun. Perusahaan sedang kosong."


"Aku tahu, tapi ada Aluna di dalam. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan dia."


"Maksud Anda? Aluna yang OG itu" Rasa tak percaya sempat bergelayut di hati security. 


"Ya, jika dia terjebak di lift, atau dia kenapa-napa, apa anda mau bertanggung jawab? karena keras kepala dan tak mau membantu saya, ini bisa jadi tuntutan yang memberatkan nantinya. "


"Oke satu orang boleh masuk, tapi yang lain menunggu." Dengan langkah arogant dua security mengantar Dion masuk. 


'Pimpinannya Arogant, Security ikut arogant pula." Gerutu Dion dalam hati walau dia juga tahu kalau security itu hanya bekerja dengan baik. 


Aluna masih tetap meringkuk di dalam dapur perusahaan


Dia makin ketakutan ketika seekor tikus menggulingkan tong sampah. Yang dia kira ada hantu dalam dapur.


"Aaaa, tolong …  Aku takut hikz hikz." Aluna memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Dia juga tak berani ke kamar mandi hanya sekedar buang air kecil. 


"Aluna?" Tiba-tiba ada yang memanggilnya.


"Pak, syukur anda datang." Aluna dengan gegas berdiri dan memeluk lelaki tegap yang berdiri di dekat pintu. 

__ADS_1


"Aku takut, syukurlah anda datang."


Lelaki itu ingin membalas elusan tangan Aluna namun tangannya sebatas mengambang di udara.


"Ayo kita pulang. Segera ambil tas dan ponselmu. Sejak tadi berdering," pintanya pada Aluna.


"Anda belum pulang?" Aluna bertanya balik. Menjauhkan tubuhnya dan melepas dekapan lelaki bertubuh tinggi.


"Ya, aku lembur. Aku juga bisa pulang kapanpun yang aku mau. Kenapa? Emang tadi kamu mau nginep disini?" Canda lelaki itu. 


Lelaki dingin itu ternyata bisa bercanda. Dan senyumnya juga manis sekali. Tapi Aluna tak mau dengan mudah tergoda, dia adalah orang jahat. 


"Aku tak tau, kenapa pintunya bisa terkunci. Padahal tadi enggak."jawab Luna 


"Berarti hantu yang mengunci," ucapnya sambil terkekeh.


"Anda jangan bercanda, apa anda nggak lihat aku sudah ketakutan." Aluna terpaksa memegangi ujung jas Adrian. 


Karena Aluna baru saja mengalami shock berat, Adrian sedikit berbaik hati dan bicara santai, mengizinkan Aluna seperti anak kecil yang memegangi baju bapaknya. 


Saat di lift, Aluna dan Adrian hanya saling diam, Adrian melipat tangannya di dekat pintu keluar, sedangkan Aluna di pojok sambil memegangi tali tas slempangnya. 


Hitungan detik pintu lift terbuka. Tiba tiba sosok Lelaki yang menjadi bunga tertampan di keturunan Alexander, sudah ada di depan mata. 


"Lun …. Kau tidak apa apa? Astaga aku panik. Lihatlak!  Aku minta bantuan security untuk mencari kamu, panggilanku kenapa nggak kamu angkat." Dion terlihat panik, dia memegang kedua pundak Aluna dan menatap dua bola mata indah dengan tatapan panik, khawatir. 


"Tapi syukurlah kau baik baik saja." Dion melepas dan menurunkan kedua tangannya. Tak enak hati dengan Adrian yang ada di dekatnya.


"Pak Dion aku tadi-"


"Aluna menemaniku di kantor, aku yang meminta. Karena aku lembur jadi sewaktu waktu bisa minta tolong buatkan sesuatu kalau aku sedang ingin. Anda ada masalah dengan OG di kantor saya?" Sela Adrian.


"Aluna menggeleng." Ingin mengatakan tidak, tapi Adrian sudah menggandeng tangannya.  Aluna ingin cerita kalau dirinya dijahili oleh orang, dia terjebak hingga malam belum pulang. Tapi suara bariton Adrian menghentikan semuanya. 


Adrian menyeret Aluna menjauh. Dion memutar tubuh melihat sebuah kejanggalan. Kenapa Adrian memegang pergelangan OG. 


Adrian melepaskan pegangan tangan Aluna saat di depan perusahaan.  Dia meminta security untuk memanggilkan taksi.


Tak lama taxi sudah datang dan masuk ke lokasi perusahaan dengan mudah, karena parkiran sedang kosong. 


"Jangan mau kalau Dion mengajakmu, ingat aku suamimu. Aku yang harus kau turuti." 


Adrian berkata dengan suara kecil saat membantu membuka pintu taxi untuk Aluna.


Ekspresi bernada mengancam itu hanya bisa dibalas oleh anggukan. Aluna ingin sekali membantah kata kata Adrian ketika dia menyebut suami, Aluna tak rela memiliki suami yang selalu bercumbu mesra dengan wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2