Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Bab 19. Masih ada orang baik.


__ADS_3

"Aku tidak sengaja, aku minta maaf." Aluna berjongkok sambil memunguti pecahan guci keramik yang katanya seharga puluhan juta itu. Sesekali memandang pada seseorang di depannya yang terlihat garang seperti singa.


"Kamu harus mengganti dengan harga yang sama." Angel berbicara dengan suara lantang, Aluna hanya mengangguk. 


"Lihatlah, Tante. OG ini sudah mengangguk, dia bersedia menggantinya." Angel tersenyum mengejek, hatinya senang, satu masalah besar telah menimpa Aluna. Kebenciannya memuncak saat Adrian pernah menyebut namanya di ruang meeting.


"Apa kamu yakin bisa menggantinya, Aluna?" Selena bertanya sekali lagi. Sambil melipat tangannya. Tiga wanita di depannya adalah orang yang tak pernah suka dirinya sedikitpun sejak awal.


"Aku akan menggantinya, aku akan bekerja lebih keras lagi."


"Oh, iya. Ma, bagaimana kalau setiap hari dia kita kasih pekerjaan tambahan saja? Membersihkan kolam,mencuci mobil. Gantiin pekerjaan tukang kebun yang libur"


"Kamu cerdas, Chela." Angel memuji calon adiknya dan berpelukan. Selena menganggukkan kepala sedangkan Adrian pergi menerima panggilan dari Tito. 


Aluna membawa pecahan guci ke tong sampah, di taman depan. Kebetulan kondisi taman lagi sepi Aluna ingin menghabiskan waktu sebentar di taman sendiro..


Aluna melihat kupu-kupu yang berterbangan di taman itu, dia tersenyum sambil meneteskan air mata.


"Seekor kupu-kupu saja dia sangat bahagia dan bebas, tapi kenapa aku terjebak dalam istana yang tak lebih dari sebuah ruang penyiksaan. Mereka semua tak ada yang menganggapku kecuali Bi Imah. Lelaki yang menjadi suamiku, dia milik wanita lain, cintanya untuk orang lain. Andaikan bapak tak mengucapkan pesan terakhir itu. Aku akan sendiri dan pasti lebih bahagia. 


Aluna menoleh pada Rian yang sudah siap berangkat bersama Angel, dia melihat lengan wanita itu terus saja menggamit pinggang suaminya. 


Aluna bisa melihat Adrian menatapnya sekilas. Tapi dia terlalu naif untuk membalas tatapan itu, Aluna memilih segera menghadap arah lain dan mengusap air matanya. 


"Cepat berangkat, aku nggak mau ada karyawan terlambat di perusahaan ku." Teriak lelaki itu. Meski jauh Aluna bisa mendengar baik, kalau kata-kata Adrian ditujukan untuknya. 


"Kenapa Rian, kau pedulikan dia, dia tak pantas ada di atap yang sama dengan kita. Kamu tak sadar aku selalu sial setiap ada dia," ejek Angel.


Angel segera masuk di kursi penumpang bersebelahan dengan Adrian sedangkan di depan dan belakang seorang sopir dan pengawal menjaganya.


 Angel sengaja meninggalkan mobil sport miliknya di rumah Adrian 


Aluna segera mengambil tas yang ada di kamarnya, dia segera menghampiri ojol yang lumayan lama menunggu. Dia sudah datang sebelum Adrian berangkat. 


"Mas, agak cepat ya, kalau bisa kita dahului mobil tadi. Bisa kan?"


"Bisa dong, motor akan lebih gesit saat di jalanan."


"Makasi ya, aku mohon," ujar Aluna lagi. 

__ADS_1


Ojol menurut, dia mengemudikan motor dengan gesit, menyalip mobil-mobil pribadi yang berkejaran.


Tiba-tiba seorang wanita dan anak kecil menyeberang dengan gugup, terpaksa ojol mengerem motor mendadak, alhasil mereka berdua terjatuh.


Untung sebuah mobil mewah dari arah belakang bisa berhenti, yang sekarang hanya berjarak dua jengkal tangan dengan tempat Aluna terjatuh.


"Maaf Mbak, maaf. Aku tadi terkejut ibu itu menyebrang tiba-tiba." Ojol berusaha bangkit dan memeriksa tubuhnya dan meminggirkan motornya.


"Kamu tidak apa-apa?" Lelaki tampan berdiri di depannya. Dia memakai pakaian rapi layaknya seorang CEO. 


"Ini sakit sekali kenapa anda bilang tidak apa-apa." Aluna berusaha bangkit dan memegangi lututnya yang berdarah. Lelaki itu mengulurkan tangannya memberi bantuan. 


Lelaki itu mengisyaratkan pada sopirnya. Seolah sudah arti keinginan sang majikan. Sopir itu mengambil botol berisi air mineral dan menyerahkan kepada majikannya.


"Minumlah, kamu pasti terkejut tadi."


"Terima kasih." Aluna mengambil botol mineral dari tangan lelaki tampan itu, Tatapan Aluna fokus pada wajah dan senyumnya, begitu menyejukkan.


"Kok malah bengong kamu harus periksa, takutnya ada tulang yang patah."


"Aku, tidak apa-apa, pasti ini hanya luka luar saja." Percaya diri Aluna kembali hilang saat dia berhadapan dengan pria yang berpenampilan rapi dan elegan, dia pasti akan berbicara dengan gugup.


"Bos, pagi ini ada meeting dengan klien." Lelaki yang menjadi sopirnya mengingatkan pria berdasi itu.


"Bos, dia bos dari Alexa Fashion. Apa Anda mau terlihat tidak profesional di depan rekan bisnis anda, Alexa kini berkembang pesat, dia akan menjadi saingan terberat anda." 


Lelaki itu tersenyum masam. "Yang jadi bos itu kamu atau aku?"


 "Maaf, Bos." Sopir itu mengangguk bersalah, lalu dia melihat kearah Aluna yang sedang memeriksa kacamata dan lututnya tak berhenti meneteskan darah. Lama lama kasihan juga kalau dibiarkan sendiri. Ojol yang dia pesan juga sudah pergi. 


Menyebut nama Alexa Fashion, Aluna segera ingat kalau kedatangannya pasti akan terlambat. Aluna segera menghubungi Reno. Dan Reno tidak masalah Aluna datang terlambat, dia akan membuatkan surat izin untuk Aluna. 


"Silakan Nona, masuklah ke mobil, Bos kami sudah mengizinkan."


"Terima kasih. Tapi seharusnya anda tak perlu berlebihan seperti ini." Aluna masih tak enak hati. 


Aluna duduk di kursi penumpang, tak menyangka lelaki tampan itu ikut duduk di sebelahnya. Sangat berbeda dengan Adrian dia selalu jutek dan tak pernah ingin di dekatnya. 


Di dalam mobil Aluna memainkan jemarinya untuk menutupi kegugupannya. 

__ADS_1


"Pakai ini buat bersihkan darah di lutut kamu itu."


"Tapi ini sapu tangan anda, tidak, saya tak mau pakai."


"Berarti anda mau aku yang membersihkan." Lelaki itu memandang Aluna sambil menyodorkan sapu tangannya lagi. 


Aluna tak enak hati kalau lelaki itu sampai menyentuh lututnya, dia pasti akan lebih malu lagi.


"Baiklah aku akan bersihkan sendiri. Terima kasih," ucap Aluna dengan suara rendah. 


Aluna meluruskan kakinya dan menempelkan sapu tangan ke lutut dengan pelan, rasanya perih tapi Aluna berusaha untuk menahan dengan memejamkan mata.


Saat sampai di halaman rumah sakit Aluna segera ingin turun, tapi lelaki itu mencegahnya dengan menarik pundak Aluna.


"Kamu jangan turun dulu, biar pengawal yang akan atur semuanya, kamu tinggal langsung ketemu dokter tanpa antri."


"Oh iya makasih, Pak." Lagi-lagi tatapan Aluna tertuju pada lelaki di sebelahnya. jantungnya menghangat, tidakkah dia membenci tampilannya yang jelek dan kampungan.


Lelaki itu memiringkan tubuhnya menghadap Aluna. "Oh iya siapa namamu?" 


"Nama? saya Aluna pangastuti." 


Lidah Aluna tiba-tiba menjadi kaku kala berbicara dengan pria tampan, pemilik senyum manis, dan tatapan yang hampir sama tajamnya dengan Adrian itu. Sayangnya lelaki sang ini sangat baik.


"Anda akan meeting, sebaiknya tinggalkan saya disini, saya bisa minta jemput teman nanti."


"Kamu tidak suka kalau aku yang membantumu?"


"Bukan itu maksud saya, dari penampilan anda pasti orang yang sangat sibuk, saya tidak mau kalau luka kecil ini mengganggu kerja orang penting seperti,Anda."


"Nyawa kamu penting, kesehatan kamu penting, biarkan saya menemanimu, jika memang tak ada luka dalam yang kamu alami, aku akan lega."


Aluna hanya bisa terdiam, tak bisa lagi beralasan, lelaki disebelahnya itu kekeuh ingin menemaninya sampai hasil chek up keluar. 


Tak lama pengawal itu keluar dari ruang pemeriksaan dan membungkukkan badan di depan majikannya. Lelaki pemilik dada bidang menurunkan kaca pintu mobilnya. "Bagaimana?"


"Bos, Dokter sudah mengubah jadwal pemeriksaan, Nona ini lebih dulu."


"Hey, namanya Aluna, panggil nama orang dengan benar," sergah lelaki itu dengan cepat

__ADS_1


"Maaf Bos, Aluna bisa langsung masuk ruang Dokter Azka sekarang juga."


"Baik, kamu sekarang bisa bantu Aluna turun." Lelaki itu turun setelah pengawal membantu membuka pintu, justru kini dia sendiri yang membantu Aluna dan mengangkat tubuh mungil itu seperti mengangkat kardus. 


__ADS_2