Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 141. Tahap Awal.


__ADS_3

"Ma, Pa, Nek. Aku dan Aluna ke kamar dulu ya."  pamit Dion.


"Ya, istirahatlah. Siapkan tenaga yang banyak untuk nanti malam," Nenek menggoda Dion dan Aluna.


"Siap, Nek!" Dion menunjukkan jempolnya. 


Aluna menghampiri Nenek dan mengecup pipi nenek lalu memeluknya erat. 


"Nenek Luna kangen."


"Sama, nenek juga sangat merindukanmu, terima kasih berkat tips darimu, nenek tak perlu konsumsi obat tidur lagi." Bisik nenek di telinga Aluna. 


"Nenek, aku sangat sayang Nenek." Aluna memeluk nenek makin erat. Tak menyangka wanita itu bisa menerima kehadirannya yang notabene gadis sederhana dengan tangan terbuka.


"Sayang." Dion mengambil satu tangan Aluna yang memeluk Nenek.


Mama dan papa yang melihatnya hanya bisa saling pandang dan tersenyum.


Papa yang duduk di dekat istrinya berbisik. "Lihatlah, putra kita sudah tak sabar."


"Persis sama Papa, dulu juga nggak mau nunggu tamu pulang sudah minta jatah," jawab Melani.


"Papa beruntung nikah sama Mama." puji David pada istrinya.


Mama juga beruntung, kita bisa menikah dan dikaruniai putra dan putri seperti mereka, Jessica yang cantik meski manja, Dion yang penyayang. Semoga Dion nanti akan memiliki banyak sekali anak. 


Dion menggandeng Aluna, langkah mereka seirama ketika menaiki tangga. Jantung Dion dan Aluna sama sama berdendang seperti genderang. 


Senyum menghiasi bibir mereka ketika bertemu pandang. Dion berhenti di pucuk tangga. Menoleh ke belakang sebentar. Dion melihat keluarganya begitu antusias menatap kepergiannya. 


Keluarga menatap Dion dengan senyum masing masing di bibirnya. 


Saat melangkah kembali menuju kamar, tiba-tiba Dion mengangkat tubuh Aluna. Luna terkejut dengan tingkah Dion. 


"Turunkan! Aku takut." Pekik Aluna yang merasa tubuhnya tiba-tiba melayang. 

__ADS_1


"Diam, Honey. Aku hanya ingin membantumu, biar lebih cepat sampai ke ranjang pengantin kita"


Aluna diam seribu bahasa, dia hanya menatap manik hitam milik Dion. Tangannya memeluk tengkuk suami.


Senyum tipis kembali terbit dari bibir keduanya.


 "Sayang apa kau bahagia? Aku tak percaya aku bisa memilikimu, yang kukira hanya akan sebatas mimpi." Dion berujar sambil terus berjalan menuju kamar pengantin yang sudah di dekorasi begitu indah. 


Aluna dan Dion sendiri tak tahu kalau saat dia pergi tadi keluarga bergerak cepat mendekorasi. 


Daun pintu terbuka otomatis setelah Dion memencet tombol yang ada di dinding. 


Pintu telah terbuka sempurna. Dion dan Aluna disambut dengan kelopak mawar yang turun berlahan dari hiasan yang menggantung di langit-langit.


Baru beberapa langkah menginjakkan kaki di kamar, yang di desain mewah laksana ranjang ratu itu. Dion dan Aluna dikejutkan oleh padamnya lampu utama. 


"Sayang!" Pekik Aluna. Namun, keterkejutan Aluna sirna ketika cahaya lilin memanjang dari pintu hingga didekat ranjang.  


Dua gelas bertangkai berisi minuman warna merah berada diatas nakas, warnanya semakin menggiurkan ketika cahaya lilin mengenai permukaan gelas dan memancarkan cahaya. Di tempat lain ada handuk warna putih yang dihias mirip kepala angsa dan ada setangkai mawar merah. 


Dag-dig-dug suara jantung Aluna bagai genderang. Pesona Dion membuatnya mati gaya. Aluna tak tau perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini, ada bahagia ada takjub dan juga nervous. 


Sungguh Aluna tak menolak, gairahnya sering kali membuncah setiap kali melihat lekuk tubuh indah bagai pahatan patung dewa Yunani itu. Namun disisi lain Aluna juga merinding membayangkan Tiger yang sering mengamuk itu akan membobol miliknya yang masih bersegel. 


Aluna kembali menjadi gadis cupu ketika berhubungan tentang masalah mencetak anak. 


Belum apa-apa, keringat dingin tiba- tiba membasahi keningnya. Wajahnya terlihat begitu tegang, seperti manekin. 


"Sayang kenapa? Katakan saja jika belum siap, aku akan bersabar lagi." 


"Apakah nanti rasanya akan sangat sakit?" Tanya Aluna konyol. Dion tentu saja tidak tahu karena dia laki-laki. Dia juga belum pernah merasakan milik perawan. 


"Biar tidak penasaran, kita coba dulu. Jika sakit nanti aku akan berhenti." Kata Dion sabar. Tubuhnya condong, hampir mengungkung tubuh Aluna. Dion suka sekali dengan posisinya sekarang. Dia bisa leluasa mengamati wajah cantik dan mata jernih sang istri. 


Aluna tak menjawab. Ekspresi yang dia berikan sekarang tak bisa membuat Dion menarik sebuah kesimpulan. 

__ADS_1


"Mau …." Tanya Dion lagi. Dion sebal dengan Tiger yang tiba-tiba sudah bangun saja sebelum diberi komando. 


Aluna mengangguk. "Jika memang Dokter Jayden mengijinkan, berarti tak ada masalah kita mulai sekarang." kata Aluna terdengar serak. 


"Sure."


"Yes,I sure." jawab Aluna malu-malu yang mendapat hadiah kecupan bibir dari Dion. 


Aluna memejamkan mata merasakan bibir hangat suami menempel di bibirnya. Lidah hangat Dion dengan agresif mulai membelah daging kenyal, manis dengan rasa mint itu. 


Musik romantis mengalun merdu silih berganti, menambah gairah Dion menjadi lebih cepat ingin segera memulai permainan.


Aluna yang payah, baru saja merasakan bibir Dion mengobrak abrik rongga atasnya, dia sudah merasakan gelenyar aneh di perutnya, Aluna mulai merasakan ada kupu-kupu yang terus berterbangan di dalamnya. 


Dada Aluna kembang kempis, menahan gejolak rasa nikmat atas permainan lidah Dion. Dua buah peach terasa menegang karena iri meminta keadilan. 


Aluna merutuki tubuhnya yang terlalu sensitif, bagaimana bisa dia tergoda dengan mudah ketika Dion baru saja memberi kecupan bibir saja. Aluna sadar akan ada banyak step lebih berat yang belum dia lalui. 


Dion yang bisa membaca ekspresi wajah Aluna dia sengaja melepaskan tautan bibirnya dulu. Semakin membuat penasaran, Dion yakin malam pertama yang akan dilalui akan semakin hangat


Pemanasan yang dia berikan hari ini sepertinya sudah cukup. Ada malam panjang yang akan dilewati dan tentunya Dion juga tak mau bertarung hanya satu kali dalam satu malam. 


"Sayang, aku harus mandi dulu." Dion menjauhkan tubuhnya dari Aluna. Melepas kemejanya hingga menyisakan singlet putih yang mencetak tubuhnya. Arloji mahal dia lepaskan juga dan ditaruh di atas nakas. 


Dion masuk kamar mandi yang ada di kamar itu. Netra Aluna terus mengekor pada punggung lebar Dion yang berjalan menjauhi dirinya.


Aluna mengambil nafas dalam, akhirnya dia memiliki kesempatan untuk tampil cantik dan wangi di depan Dion.


Selama Dion mandi Aluna segera bangun dari ranjang, buru-buru berkaca dan menghias diri dengan senatural mungkin. Aluna tak mau Dion akan ilfeel dengannya dimalam pertama.


Selang beberapa menit Dion keluar, dia tersenyum mendapati istri tercinta sedang duduk didepan meja rias.


Tubuh Dion yang masih basah dan hanya handuk kecil yang menutupi aset berharganya itu terlihat semakin menggoda. Aluna berulang kali meneguk salivanya dengan susah payah.


 

__ADS_1


 


__ADS_2