Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 161. Nasi goreng


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Dion tidak tinggal lagi di rumah Adrian, kali ini dia tinggal di penthouse miliknya. Meski begitu Dion selalu menjemput Aluna tengah malam, ketika Adrian selesai minum obat dia tak bisa menahan kantuknya dan tertidur pulas.


 Aluna pulang di jemput Dion, dan saat pagi buta, Aluna kembali diantar menuju mansion, untung jarak mansion Adrian dan penthouse tidak begitu jauh hanya menghabiskan waktu lima belas menit. 


Saat sampai di jalan padat kendaraan. Dion kembali mendapat teror, kali ini kaca mobilnya dilempar batu saat dia sedang di jalan. Batu itu dibungkus dengan secarik kertas dan tertulis ancaman. 


Sungguh kali ini dia tak akan memaafkan peneror itu. Baik pria maupun wanita. Dion segera mengejar mobil yang menerornya. Dia sangat geram dengan pengecut yang cuma main belakang itu.


Dion mengejar mobil hitam yang kini tepat ada di depannya. Mungkin nasib baik berpihak pada Dion. Pria bertubuh atletis segera mendahului dan memotong jalannya. Otomatis mobil hitam dengan kaca hitam itu terlambat berputar arah. 


Dion segera turun, menghadang dengan menodongkan pistol tepat ke arah wanita di dalamnya. Dion terkejut bukan main wanita itu tidak lain adalah kerabatnya sendiri. Dion tak percaya gadis kecil itu berani melakukan tindakan kejahatan padanya, sedangkan selama ini tak pernah ada masalah apapun. 


Meski begitu Dion ingin tahu apa masalahnya, sehingga membuat gadis itu nekat meneror dirinya dengan cara amatir begitu. 


Dooor! Dion menembakkan satu peluru tepat di dekat kepala Chela hingga kaca depan mobil itu berlubang. Mobil yang sedang dipakai Chela adalah mobil milik kekasihnya. dengan niat Dion tak mengenalinya.


Melihat Dion tak main-main, nyali Chela menciut, tubuhnya menggigil ketakutan. Melihat musuh kecil sudah seperti tikus tercebur comberan Dion mendekat dan meminta Chela untuk membuka pintu. 


"Buka! Dasar gadis ingusan mau bermain main denganku, "hardik Dion.


"Tidak mau!!" Chela menutup kedua telinganya. Sambil berteriak.  


"Buka kataku! Atau aku tembak lagi." kata Dion dengan nada mengintimidasi. 


Dion bisa melihat Chela sangat ketakutan. Tangannya gemetar, wajahnya pucat pasi. Chela dengan pelan-pelan membuka pintu dan hendak berlari tapi Dion segera menahan lengannya. 


"Hei,hei anak kecil mau kemana?"


"Kak Dion maafkan Chela, aku tak akan melakukan semuanya, Tapi aku tidak bisa membiarkan Kak Adrian kehilangan semangat hidupnya setelah tahu kalau Kak Dion adalah suami sesungguhnya."


"Apa dengan cara mengancam seperti itu kamu pikir aku akan takut dan melepaskan Aluna?"


"Ti-tidak." Kata Chela 


"Tahu alasannya? kenapa?" Dion bertanya lagi.


"Karena Kak Dion sangat mencintai Mbak Luna."


"Lalu kenapa kamu bisa- bisanya berpikir aku akan melepaskan Aluna demi kakakmu." 


"Karena Chela juga harus melakukan apapun untuk kak Rian. Chela harus berusaha membuat Kak Rian agar tak kehilangan kebahagiaannya, demi kak Rian aku akan lakukan apapun!" Chela masih bersikukuh dengan alasannya. kali ini suaranya sedikit naik satu oktaf.


Dion memperkeras cengkramannya pada bahu kecil Chela, " berani main-main denganku lagi, maka aku pastikan aku lupa kalau kau adalah sepupuku, dengar Chela aku sudah berjanji akan menghukum siapapun yang melakukan kejahatan ini." 


"Dan aku tak akan membawamu ke jeruji, tapi aku punya tempat yang aman untuk menyembunyikan mu. Aku tahu Chela, kamu tidak sendiri, pasti ada orang yang mendukungmu dibalik semua itu. Bagaimana reaksi mereka jika tahu anak gadisnya hilang," kata Dion dengan seringai menakutkan. 


"Tidak ada, percayalah. Ini murni keinginan aku sendiri, tolong Kak Dion, maafkan aku, aku berjanji tak akan melakukannya lagi." 


"Dan Kamu pikir aku percaya? Tidak Chela." 


Dion menarik Chela keluar dari mobilnya, dan membawa gadis menjengkelkan itu masuk ke dalam mobil putih, hadiah spesial untuk Dion pernikahan dari Nenek. 


"Kak Dion tolong jangan bawa Chela." Chela terus meronta.


"Diam Chela, kalau kau terus rewel jangan salahkan Kakak kalau akan mengikatmu. Atau mulutmu diplester saja," kata Dion bercanda, tapi menurut Chela itu ancaman yang mengerikan.


Merasa tak akan mendapat maaf Dari Dion Chela memilih berdamai dengan keadaan, Chela tahu bagaimana sifat asli Dion yang penyayang. dia yakin lelaki dewasa didepannya itu tak akan menyakiti.


Chela segera di bawa Dion ke sebuah gudang sampah sisa produksi. dan dia ditinggalkan disana sendiri bersama potongan kain berceceran disana-sini. Hanya ada satu security yang berjaga di depan yang membukakan pintu, apabila ada mobil pembuang sampah datang. 


"Kak Dion, tega! Kenapa Chela dibawa kesini?" 


"Ini hukuman untuk gadis kecil yang berani berbuat jahat, kalau masih kecil saja sudah seperti ini bagaimana kalau besar nanti." Ancam Dion sambil membawa dua tali dan terus menyeret lengan chela menuju gudang besar namun kotor itu. 


"Ampun Kak, Chela minta maaf, Chela melakukannya karena didukung sama mama." Chela akhirnya membuka rahasia.

__ADS_1


"Oh, sudah kuduga, pasti kalian menyesal lihat Aluna yang cantik punya karir bagus, dan disukai oleh semua orang. Terus kamu pikir Luna yang sekarang mau jadi bagian keluargamu lagi?" kata Dion sambil menghempaskan tubuh Chela di sofa usang dan mengikat kaki dan tangannya dengan sofa. 


"Kak Dion tolong jangan diikat, Aluna takut, banyak tikus disini."


"Sama Kak Dion nggak takut, kenapa sama tikus malah takut?"


Dion menertawakan Chela yang benar-benar ketakutan dengan tikus yang berseliweran karena terusik


Bahkan ada tikus nakal yang jatuh di dekat Chela. 


"Kaka Dion hiks hiks, please tolong jangan hukum Chela disini, Kaka Dion Chela janji akan menjadi anak baik. Kak Dion!!" Chela terus saja berteriak memohon dikasihani oleh Dion, tapi sayangnya tekat laki-laki itu sudah bulat untuk membuat Chela jera dengan perbuatannya. 


"Pak kunci pintunya dan jangan dibuka selain memberi makan dan minum. Karena ikatan di tangan dan kakinya sengaja longgar dan mudah dibuka biar dia bisa ke kamar mandi." 


Siap Aden." Kata bapak penjaga. 


"Bagus, jika dia minta ini dan itu tidak usah dikasih, biarkan dia mulai belajar menjadi gadis yang berguna dan tidak manja lagi."


"Siap, perintah dan pesan-pesan Pak Dion pasti akan saya laksanakan dengan senang hati."


Setelah memberi perintah pada security gudang Dion melihat Arlojinya. Rupanya hari sudah sangat malam. Pukul sembilan waktunya menjemput Aluna dan menikmati malam harinya bersama Aluna.


"Mari Pak." 


"Hati hati Den." 


Dion masuk kembali ke mobil dan menghubungi Beni supaya menyembunyikan mobil Chela ke tempat yang aman, Beni segera menjalankan pekerjaan dengan rapi tanpa meninggalkan kecurigaan dari siapapun.


****


 


Dion sudah sampai di depan mansion, Aluna sudah menunggu Dion seperti biasa dengan wajah cantik dan aroma tubuh yang selalu wangi di kamarnya. 


Jika Dion sudah mengirim pesan maka Aluna dengan hati-hati keluar mansion. Kalau ketahuan oleh Adrian maka semuanya akan berakhir. 


Aluna sudah sampai di mobil, Dion segera memeluknya dengan penuh kerinduan. "Honey, kapan kamu tidak perlu lagi ke rumah ini?" Tanya Dion yang mulai lelah.


Dion mendengus kesal "baiklah, karena aku sangat mencintaimu, aku selalu mendengarkan apa yang kau inginkan." Dion mencium bibir Aluna dan memeluknya ketika yakin tak ada lagi yang melihat kemesraan mereka. 


Mobil yang dikemudikan oleh Dion segera membawa Aluna ke rumah baru. Dion sangat suka tinggal di penthouse yang diperkirakan jika dijual harganya mencapai sepuluh miliar itu. 


Setelah mobil sudah aman Dion segera keluar lebih dulu dan siap untuk menggendong Aluna. Aluna sudah terbiasa dimanjakan Dion saat bersama. 


Dion sudah tak sabar ingin Aluna terus ada disisinya baik siang maupun malam. 


Sampai di hunian elit  khusus miliknya, Dion segera menghentikan mobilnya.


 Aluna turun dengan hati-hati, tiba-tiba dengan sigapnya Dion langsung membopong tubuh dengan gaya bridal style. 


"Sayang turunkan aku!" Aluna bahagia, sambil tertawa lepas dan manja. 


"Sudahlah, Saang. mulai sekarang biasakan dirimu mendapat perlakuan spesial dariku. Aku sangat merindukanmu." kata Dion dengan bahagia pula. 


Dion segera menurunkan Aluna ketika mereka sampai di kamar, dihempaskan nya tubuh mungil itu di ranjang Lalu dipeluknya dengan sangat erat. "Luna, kita ini suami istri sah, tapi ingin bertemu saja kita seperti seorang selingkuhan."


"Bukankah saat kita menjalani hubungan seperti ini semuanya terasa lebih manis. Kita bisa merasakan perjuangan cinta yang sebenarnya. Meski ada sebuah rintangan tapi cinta kita tetap tak akan pernah berubah."


"Dion memeluk Aluna makin erat. Ingin sekali aku buat robot yang menyerupai dirimu dan aku berikan untuk Adrian, biar tidak mengusik Aluna milikku." Dion mengungkung tubuh Aluna dengan kaki masih menginjak lantai. Dion tak berhenti terus menciumi wajah dan leher istrinya dengan intens.


Tapi saat Dion kembali memeluk Aluna dia mendengar suara jeritan perut Aluna yang kosong. 


"Apa kamu belum makan? Tahu begini aku pesankan makanan kesukaanmu tadi." Dion beranjak lagi mengambil ponselnya. Dion segera mencari sebuah aplikasi yang bisa menolongnya dari kelaparan. 


"Aluna merebut ponsel Dion. Tapi aku sedang ingin makan masakan suamiku."


"Apakah kamu yakin?" Dion terkejut seumur hidup dia belum pernah masak, andaikan masak mie pun pasti akan gosong. 

__ADS_1


Aku yakin suamiku pasti bisa, entahlah aku ingin sekali makan nasi goreng buatan suamiku. 


Ya ya ya, aku akan membuatnya, aku pasti bisa, Dion mengambil ponselnya lagi tapi kali ini dia gogling cara membuat nasi goreng yang diinginkan Aluna


Dion dengan gayanya ala chef, segera memasak nasi, setelah nasi sudah siap Dion segera menyiapkan bumbu bumbunya. Dion sampai menitikkan air mata saat bertemu danengpa bawang merah dan putih. 


Aluna iseng merekam suaminya saat sibuk memotong bawang merah dan putih . Sambil duduk diatas dapur keramik di bagian yang tak pernah dipakai.


"Inilah Chef yang sangat hebat, Dia adalah Dion Sunderson, tapi perhatikan baik-baik kenapa dia menangis saat memasak, apakah karena dia ditinggal istrinya dan setiap hari harus masak sendiri?" Canda Luna,mengarahkan kamera tepat di mana posisi Dion sedang memotong bawang merah. 


Sedangkan Dion sesekali menoleh ke arah Luna dengan senyum, dan lelehan air mata  sekaligus.


"Bawang merah jahat,  dia sudah membuatku menangis," gerutu Dion sambil mengusap airmata dengan lengannya.


Aluna turun dan memeluk tubuh kekar dan berotot itu. Dion membalikkan tubuhnya menghadap Aluna. "kamu pasti merasakan perih ini ketika setiap hari sedang memasak untukku sayang."


"Tidak, aku tak pernah menangis, hanya jarang saja, mungkin mata ini sudah kebal dengan bawang merah," kata Aluna bwrceriza.


Aluna melebarkan dua bola matanya. Dion gas dan langsung memeluknya. 


Saat Dion dan Aluna bertemu hanya ada tawa diantara mereka. 


Dion mulai menumis bumbu hingga harum lalu dia masukkan bumbu tambahan seperti kecap dan saos, kalau dilihat dari aromanya masakan buatan Dion sangat nikmat dan harum. 


Aluna belum berhenti merekamnya, dengan bangga Dion menunjukkan jempolnya. Dion yakin nasi goreng spesial untuk Aluna hari ini rasanya pasti akan nikmat. 


Dion segera mematikan kompor, setelah bumbu dan bahan lainnya telah meresap sempurna. Aluna mengambil dua piring datar dan memberikan pada Dion. 


Dion yang memakai celemek dan penutup kepala koki, dengan bangga segera membagi makanan menjadi dua piring dan menambah pelengkap diatasnya. 


Aluna tepuk tangan melihat kesuksesan Dion membuat nasi goreng dengan hiasan sekaligus. 


"Horeeee!" Aluna tepuk tangan seperti anak TK dan memeluk Dion.


Usai menyiapkan semuanya, Dion segera membimbing Aluna ke meja makan minimalis yang ada di dekat mini bar.


Dion menarik kursi lalu memberikan sapu tangan di pangkuan Aluna dan memberikan satu piring berisi nasi goreng.


"Ini sangat nikmat, aku akhirnya bisa makan masakan suami," ungkap Aluna sambil menggigit potongan mentimun. 


Dion antusias memperhatikan Aluna saat memasukkan nasi ke mulutnya, menunggu kesan pertama yang akan diberikan istri cantiknya, 


Aluna mulai memakannya,dan lidahnya bergoyang menikmati bulir-bulir nasi goreng. "Emmmm, ini enak sekali," ungkap Aluna. 


Dion tak percaya, dia sangat senang akhirnya nasi goreng buatannya bisa dimakan juga. 


"Sayang ini enak sekali, aku mau sering sering dibuatkan seperti ini," kata Aluna saking senangnya.


Em, seyakin itukah, Dion jadi penasaran dan mencicipi nasi dari piringnya. 


"Uuuhuk! uhuk!" Dion terkejut dengan nasi buatannya yang rasanya hancur parah, kebanyakan garam dan juga kebanyakan cabe. 


"Sayang jangan dimakan, nanti sakit perut." Dion merebut piring Aluna. 


"Jangan, aku sedang memakannya ini enak." Aluna menanggapi dengan berlebihan, dia nyaris menangis nasinya direbut oleh Dion. 


Dion melihat air mata menggenang di pelupuk mata Aluna jadi tak tega, niat Dion hanya takut istrinya sakit perut. 


"Sayang serius nadi goreng ini menurutmu enak?"


Aluna mengangguk mantap. "Enak, aku ingin nasi goreng seperti ini sudah berhari-hari, dimasak langsung oleh suamiku. 


Dion akhirnya menyerah, dia memberikan piring Aluna lagi. 


Dion kali ini tidak ikut makan, dia hanya melihat Aluna menyantap nasi itu dengan lahap, bahkan Dion juga memberikan miliknya. 


Aluna melahap dua piring sekaligus, entah kenapa dia tiba-tiba rakus dan suka sekali makan nasi goreng, padahal selama ini dia membencinya, Aluna suka dengan menu yang memakai sayur. Justru malah Dion yang suka sekali dengan nasi goreng.

__ADS_1


 


 


__ADS_2