Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 169. Nafas buatan.


__ADS_3

"Sini aku bantu, sok jual mahal padahal memang nggak bisa." Adrian mengambil kain perban dari tangan Nabila. 


Nabila hanya memutar bola matanya malas. 


"Adrian menarik lengan Nabila kasar. Aku akan bantu, tapi jangan GR, aku melakukan semua ini karena kamu gadis yang bodo."


"Kalau aku bodoh, aku nggak mungkin jadi Dokter, kenapa sih orang yang bodoh suka sekali teriak bodoh, "kata Nabila kesal. 


Adrian menggeser kursi kecil, dia duduk di dekat dokter muda, sambil memperhatikan luka yang mulai membaik. Dalam hati Adrian mengakui kehebatannya Dokter Nabila. Dia bisa mengobati lukanya tanpa membawa ke rumah sakit. 


Adrian mulai melingkarkan kain perban dengan hati hati.


Dokter Nabila memperhatikan tangan besar Adrian yang ditumbuhi bulu halus itu mulai membalut lukanya pelan-pelan,  setelah selesai lalu dia mengikatnya hati-hati.


"Apakah caranya seperti ini, jika salah tolong beritahu biar aku benarkan."


"Ti-ti-dak, ini sudah benar." Kata Nabila terbata. Lalu dia menatap kearah lain karena malu bertatap mata dengan Adrian. 


Tanpa sadar Adrian memperhatikan Nabila dan mengakui kecantikan gadis yang selalu berusaha culas di depannya itu. 


"Hey, bisa nggak katakan terimakasih, pada orang yang sudah membantumu." 


"Ya, terimakasih." Nabila berkata sambil menatap Adrian sebentar, lalu kembali berpaling. 


Adrian pergi meninggalkan Nabila, melanjutkan tujuan awalnya yaitu mengambil air minum, lalu kembali lagi dan istirahat. 


Pukul 03.00 sore Nabila sudah menunggu Adrian di kolam renang, wanita itu harus bekerja dengan baik menjalankan tugas sebagai dokter sesuai instruktur dari kakaknya.


Nabila kesal, Andrian datang terlambat, gadis berambut lurus sepunggung itu memilih akan pergi saja. Dia tidak suka dengan lelaki yang suka membuatnya menunggu.


Baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu masuk, Adrian memanggil Nabila.


Nabila mendengar namanya disebut dia langsung menoleh. 


Nabila terkejut dengan Adrian yang sudah siap berenang, dia memakai handuk kimono berbulu tanpa mengikat talinya di pinggang. hingga celana segitiga yang mencetak tonjolan besar itu terlihat.


Nabila terkesima melihat dada indah dengan perut kotak-kotak yang kini terlihat di depannya. 


"Kenapa bengong." Adrian bertanya, meski sadar Nabila sedang melihatnya dengan tatapan tak biasa. 

__ADS_1


"Dasar Dokter labil, kamu pasti sedang berpikir mesum lihat tubuhku."


"A-a aku akan pergi! Aku tidak suka dengan lelaki yang tidak bisa menghargai waktu, seharusnya anda stanby di kolam ini pukul setengah tiga, ingat berapa lama waktu yang anda sia siakan!" kata Nabila segera merubah ekspresi terkesima menjadi ekspresi kesal. 


"Ok, Kalau begitu mau kamu apa?"


"Test kesehatan otak, untuk hari ini batal." Nabila kembali berlalu tapi Adrian sigap menarik lengan Nabila. 


"Aaaa!" Nabila terkejut lengannya ditarik kasar oleh Adrian. Untung bukan yang terluka. Adrian segera mendekap erat tubuh Nabila yang mungil dan kencang. 


Kini jarak keduanya sangat dekat. Bahkan wajah mereka nyaris bersentuhan. Aroma mint dari bibir Andrian membuat Nabila semakin terhipnotis.


Nabila terdiam, mata indahnya beberapa kali mengerjap, entah kenapa dia merasakan jantungnya berdetak kencang. 


Adrian menggoda keimanan Dokter magang ini dengan mendekatkan bibirnya ke bibir Nabila. Nabila seketika langsung sadar kalau dia akan dicium.


"Jangan kurang ajar dengan Dokter, ingat anda pasien disini!" Pekik Nabila dengan jantung dag dig dug tak karuan. 


Adrian tersenyum, ternyata Nabila sama polosnya dengan Aluna, gadis itu masih bisa menjaga kehormatannya disaat keadaan sudah menjeratnya.


"Aku sudah ada disini dengan kostum renang … kenapa kau malah membatalkan semua semaumu." 


"Jangan semua dijadikan kesalahan, tanya dulu apa alasannya. Aku sudah siap sejak tadi, lalu ada panggilan alam, aku buang puff." kata Adrian jujur. 


"Baiklah, kalau begitu Anda bisa mulai berenang sekarang, waktunya lima belas menit, setelah itu katakan keluhannya padaku. 


"Baiklah, aku akan mulai sekarang."


Adrian melepas handuk kimono yang melekat di tubuhnya, tinggal kain segitiga yang menutupi aset berharganya. 


'Ah, sial, kenapa dia harus memakai celana seksi, dia telah membuat mata perawanku ternoda.' batinnya sambil bersungut. 


Nabila kini duduk di gazebo dekat kolam sambil fokus mengamati Adrian yang berhasil membuatnya salah tingkah, sambil menggigit bibir bawahnya Nabila fokus mencatat hal yang perlu dicatat.


Adrian. Dengan penampilannya yang menggoda iman dia mulai terjun ke air dan mengepakkan kaki dan sayapnya dengan mahir. Dia kali ini mencoba dengan gaya dada. 


Nabila melihat gerak tangan dan kaki Adrian yang begitu ringan, Nabila yakin semua adalah perkembangan yang sangat bagus. Nabila merekamnya dan mengirimkan semua pada Kakak Dokter. 


Kakak Dokter memerintahkan agar Adrian mencoba gaya lain. Nabila memberi tahu permintaan Jayden pada Adrian.

__ADS_1


Adrian setuju dan sekarang dia mencoba gaya punggung, Adrian melakukannya dengan sungguh sungguh, dia tak mau terus jadi pesakitan. Jika dia tidak berhasil mati, itu artinya dunia masih ingin melihat dia tetap hidup dan memijakkan kaki ditubuhnya. Jika dia tidak bisa mengambil cintanya untuk kembali, setidaknya dia bisa bangkit dan melihat cintanya bahagia. 


"Ayo, jangan lemah! Ah gerakan anda lemah sekali, ejek Nabila yang mengerjai Adrian. Tubuh kekar dan indah itu mengapung di air sambil terlentang, tubuh depannya terekspose membuat Nabila semakin kagum. 


Nabila segera menepis kekagumannya dengan Adrian, dia kembali ingat kalau lelaki itu hanya mencintai Aluna. Sedangkan dia juga baru saja jadian dengan Ferdi, laki laki yang terus mengejarnya semasa kuliah.


Melihat Nabila melamun Adrian jadi kesal, bukankah ini latihan untuk kesehatan saraf motorik maupun sensorik, tapi dia tidak serius. Timbul ide Adrian untuk mengerjai Nabila. 


"Tolong! Tolong! Hap! Hap! Tolong …." tubuh Adrian timbul tenggelam.


Kesadaran Nabila kembali pulih, Nabila yang sudah siaga memakai baju renang dia melepas baju luarnya dengan buru buru. 


Tanpa menunggu lama, Nabila langsung terjun ke kolam dan menarik tubuh Adrian dengan panik. Adrian sedang pura pura pingsan, dia berusaha akting semeyakinkan mungkin.


Nabila memeluk tubuh lebih besar darinya itu dan membawa ke bibir kolam. "Pak Adrian! bangun! Ayo bangun! anda pasti sedang pura pura, bukankah tadi baik-baik saja."


"Bangun! Ayo bangun!" Nabila memukul ringan dada Adrian. Tapi lelaki itu tetap saja memejamkan mata dan tak berkutik. 


Nabila bingung, dia melihat sekeliling kolam, tapi tak ada siapapun, tukang kebun juga baru saja pamit cuti. Akhirnya tak ada pilihan lain, selain memberi nafas buatan untuk Adrian sebelum terlambat.. 


Nabila memejamkan mata lalu meniupkan nafas ke mutut Adrian. Adrian reflek membuka matanya saat bibir mereka menempel ketat.


"Uhuk! Apa yang kamu lakukan?" Adrian mendorong tubuh Nabila.


Nabila melebarkan matanya. "Lalu menampar Pipi Adrian dengan keras karena merasa bercanda Adrian keterlaluan.


"Kenapa harus pura pura pingsan? Tidak bisakah kau memikirkan bagaimana aku panik membawa anda dengan tubuh yang begitu berat! Lalu aku panik harus mencari bantuan supaya ada yang bersedia memberi nafas buatan? Dan dengan terpaksa aku harus memberi anda nafas buatan tadi!"


"Hei, kenapa kau jadi sensitif! Dasar kucing Persia tak bisa diajak bercanda," kata Adrian sambil mengelus pipinya yang memerah. 


"Ini bukan lelucon! Ini serius, apapun yang menyangkut nyawa anda adalah masalah serius, aku bertanggung jawab untuk itu."


Melihat Nabila menangis entah karena malu atau sedih, Adrian jadi kasihan. Sepertinya gadis itu terlalu mengkhawatirkan kesehatannya. Sedangkan Adrian selama ini tak perduli dengan diri sendiri.


"Maaf, aku minta maaf." Ini pertama kalinya Adrian berkata lembut layaknya manusia. 


Usai mendengar kalimat maaf dari Adrian. Nabila langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Nabila melakukan ritual mandi sangat lama dari biasanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2