Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 100. Sudah tak sabar.


__ADS_3

Gedung pertunjukan Fashion Show sudah penuh oleh para undangan, banyak sekali yang diharapkan mereka selain melihat para model dengan anggun memperagakan busana yang dia bawakan. Mereka juga menanti banyaknya hadiah hiburan yang akan dia dapatkan. 


Dion bisa menatap semua hiruk pikuk di gedung hanya lewat layar monitor yang ada di ruangannya, sedangkan Aluna duduk di depan ruangan Dion yang hanya terhalang oleh kaca yang tembus pandang. 


Selesai dengan aktifitasnya Dion sesekali melirik Aluna yang sedang menatap layar. Lama lama lirikan berubah menjadi tatapan yang begitu dalam. 


Aluna menoleh ke arah Dion dan tersenyum, karena sebuah tatapan yang tak sengaja bertemu. 


"Pak, kenapa anda menatap saya terus? apa ada yang anda butuhkan? Biar saya  siapkan." Tanya Aluna yang tak nyaman karena bosnya beberapa hari ini mulai salah tingkah.


"Tidak, tetaplah duduk disitu, aku suka memandang dirimu, abaikan saja kekonyolan ku Luna." 


Aluna mengangguk sopan sebagai tanda setuju. Semakin lama dion makin menunjukkan rasa sayang yang besar pada Aluna. Hanya saja wanita itu tak berani memberi harapan terlalu besar pada Dion. Aluna takut Adrian menghalalkan segala cara dan membuat perceraian mereka akan gagal total. Kalau itu terjadi pasti Dion akan terluka semakin dalam.


'Aluna, bodoh sekali lelaki bernama Adrian itu, bagaimana bisa dia berpikir ingin menduakan kamu dan mensejajarkan dengan angeline, yang jelas-jelas kau lebih segalanya dibandingkan dengan Angeline. Kau sungguh Dewi kahyangan yang patut untuk dicintai, bukan untuk disakiti.'


Tak tahan dilihat demikian manja oleh Dion Aluna mendekat dan mengganggu menebar senyum manisnya pada Dion. "Anda terlihat sangat lelah, pekerjaan banyak sekali, aku ingin memijat kepala. Bolehkah?"


"Terima kasih Luna, kau memang sangat pengertian, duduklah dipangkuanku, pijatlah pelan pelan saja, aku akan sangat senang."


"Benarkah aku boleh duduk disini." Aluna mulai memposisikan tubuhnya lebih dekat lagi dengan Dion.


"Iya, duduklah, aku akan memangkumu sambil kau memijat pelipis ini pelan pelan."


"Terimakasih, Pak Dion."


Dion segera menggerakkan kursi sedikit mundur, mempermudah gerak Aluna yang memakai rok diatas lutut untuk duduk di pangkuannya. 


"Luna. Kerjaan kamu pasti sudah selesai? Hingga kamu ada waktu bersamaku" Tanya Dion.


"Sudah Pak Dion."


" Bagus, temani aku seperti ini. Aku suka sekali jika ada kamu didekatku, aku lebih semangat."


"Sama Pak. Aku juga." Luna menatap Dion dengan tatapan sayu. 

__ADS_1


Dion memangku kedua kaki Luna yang sedang duduk di pangkuannya dengan posisi menghadap samping. Luna hari ini begitu cantik dengan rok merah doatas lutut, tanktop merah dan blazer warna hitam, sedangkan kulitnya putih dan begitu halus. Ditambah setiap hari tak pernah terkena sinar matahari dan berada di ruang tertutup membuat tekstur kulit Aluna makin lembut 


Tanpa disadari tiba tiba ada yang bangkit pada diri Dion. Aluna menggeser geser pinggulnya membuat King Kobra makin mengamuk. 


"Pak, Adiknya berdiri." Luna beringsut dari duduknya karena kegelian.


"Ah, iya Luna. Dia selalu seperti ini setiap ada kamu." Dion tak tahan mendapat gesekan lembut dari paha Aluna.


"Pak Dion sudah nggak tahan ya?" Aluna tersenyum menggoda.


"Iya Luna." Suara Dion tercekat karena menahan gejolak. 


Dion mulai menyibak rambut Aluna dan menelusuri pipinya yang sudah merona. Gerakan lembut tangan Dion kini mengusap bibir Aluna yang terlihat begitu seksi.


"Luna bolehkah aku mengecup bibir merah ini?"


"Lakukan saja Pak. Toh lambat laun juga akan jadi milikmu."


"Terimakasih sayang." Dion memejamkan mata begitu juga Aluna. 


"Pak Dion."


"Iya, Luna."


"Pak Dion!" 


Di panggilan yang kedua Dion membuka matanya, karena Aluna meninggikan suaranya beberapa oktaf.


Baru saja akan menyentuh bibir merah yang lama dia dambakan itu, Dion merasakan Aluna memanggil namanya berulang kali. Saat mata Dion terbuka baru dia sadar kalau sejak tadi dia telah terlalu jauh berkhayal.


"Luna sejak kapan kau disitu?" Dion mengatasi kegugupannya. 


"Baru Pak. Aku hanya ingin memberi tahu kalau sudah saatnya kita turun ke gedung pertunjukan."


"Syukurlah." Dion bernafas lega. 'Semoga Luna tak tau kalau aku sedang mengkhayal tentang dirinya.'

__ADS_1


Dion berulang kali menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sebesar itukah dia menginginkan Luna, hingga sampai terbawa oleh mimpi. 


"Baiklah Luna, kita turun bersama, tunggu aku ke kamar mandi dulu." 


Dion ingin mencuci muka dan bersembunyi dari kekonyolannya baru saja. 


Sedangkan Luna sabar menunggu, meski sebuah tanda tanya besar terlintas di otaknya dengan sikap Dion yang baru saja berubah.


***


Aluna dan Dion segera turun menuju acara. menghampiri Reihan dan Diva yang nampak gelisah dan mondar-mandir.


Di balik layar Reihan terlihat begitu gelisah. Model senior yang sudah dia sewa tiba tiba saja beralasan sakit dan mengembalikan uang muka kerjasama, semua model dari kelas atas sampai kelas bawah sudah dia hubungi, tapi mereka menolak dengan sungkan, bahkan ada sebagian yang menolak dengan ketakutan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Dion masih tak percaya. Lucu saja, acara pertunjukan tinggal beberapa jam lagi. sedangkan tak ada satupun model yang datang.


Padahal malam ini menentukan nasib perusahaan untuk selanjutnya. jika gagal maka sudah pasti Adrian akan menjadi pemilik perusahaan dengan jabatan tertinggi, sedangkan dia akan selamanya bernaung dibawah perusahaan Adrian.


"Akhhhh, bodoh sekali. bagaimana bisa aku menganggap remeh musuh, padahal selama ini aku tidak pernah curang, tapi kenapa dia berani curang seperti ini."


Luna yang merasa telah melakukan kesalahan beberapa hari lalu terlihat takut, dia tak menyangka ulahnya untuk balas dendam mempermalukan Angel kini, berimbas pada perusahaan Dion.


"Pak Dion, apa yang harus kita lakukan?" Diva dan Reihan menatap Dion dengan khawatir, panik jadi satu.


Sementara musik pop yang menjadi pembuka acara diluar sana sudah hampir selesai.


"Luna!" Diva tiba tiba menunjuk Luna.


"A-aku? Tidak aku tidak bisa, kau tahu sendiri aku tidak memiliki percaya diri sebesar itu."


Diva mendekat memeluk satu lengan Aluna seperti seorang anak merengek minta jajan pada anaknya. "Kau bisa Aluna, Hanya kau harapan kami satu satunya."


"Tidak mungkin. aku pemalu, maju saat menyanyi disekolah saja kakiku gemetar dan suaraku hilang, apalagi di depan ribuan pengunjung hari ini. Aku mohon jangan pernah berfikir aku menggantikan model itu, aku hanya akan membuat acara ini semakin kacau."


"Pak Dion, perintahkan Luna untuk mengganti model senior kita, dia pasti bisa, dia cantik mereka pasti akan tersihir dengan kecantikannya dan melupakan segala kekurangan pada acara ini." Diva mengadukannya semua pada Dion yang sedang ada di tempat.

__ADS_1


Dion menatap Luna, tapi melihat Luna tidak siap tentu Dion tidak ingin memaksakan kehendaknya, meskipun dalam lubuk hati dia setuju dengan usul Diva. "Kita pikirkan cara Lain. saja."


__ADS_2