Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 9. Antara dua wanita


__ADS_3

Aluna, Nina dan Reno pulang bersama setelah acara selesai, parkiran sudah sepi, tinggal dua motor milik Nina dan Reno, sedangkan di parkiran khusus petinggi perusahaan, masih ada mobil mewah milik Adrian dan Angeline. 


"Lun kamu mau langsung pulang, atau jalan-jalan dulu." Nina bertanya pada Aluna yang baru saja mendapat gaji pertamanya.


"Pulang aja, Nin," jawab Luna. 


"Luna, jalan jalan yuk, ini malam minggu. Masa mau tidur sore-sore." Nina membujuknya.


Aluna sekali lagi menoleh ke arah mobil Adrian dan Angel yang menjadi penunggu parkir. Entah kenapa perasaan Aluna mengatakan kalau Adrian dan Angel pasti sedang bermesraan di dalam ruang pribadi presdir. Aluna mendongak menatap lampu di ruangan itu masih menyala, ada bayangan yang terlihat jelas karena sorot lampu.


Hati kecil Aluna merasakan ada sedikit gelenyar nyeri. Bagaimanapun laki- laki itu sudah mengucap ijab dan qobul di depan penghulu, sebuah ikatan dan janji suci sudah terlanjur diciptakan.


"Lun. Kok melamun."


"Eh iya, maaf."


"Kita ke alun-alun gimana, kita lihat anak-anak atraksi motor, sambil minum boba pasti enak."


Aluna mengangguk setuju. "Sebentar aja ya, Nin." 


"Okey kita jalan-jalan. Reno temani kita ya. Aluna ikut lho." Nina mengedipkan matanya pada Reno. 


Reno menjadi salah tingkah di buatnya. "Nina apaan sih. Aku doain kelilipan beneran."


Nina suka sekali menggoda Reno, teman kerjanya itu rupanya diam-diam suka memperhatikan Aluna, apalagi saat Aluna di ruang OG saat membuat kopi, Reno suka sekali menatap Aluna dari belakang. 


"Em, Reno kayaknya ban sepeda aku kurang angin, kamu bonceng Luna ya."


"Luna kamu mau aku bonceng?"


"Gimana ya, Nina masa nggak tukang tambah angin yang buka sih?" Aluna menggigit bibir bawahnya, keningnya mengkerut membentuk lipatan.


"Dimana? pasti jauh, kalau aku naikin sendiri sih nggak apa, kalau buat boncengan, nggak tau bisa apa enggak ya." Nina mengecek ban motornya yang memang kurang angin. 


"Udah Lun nggak apa apa aku bonceng kamu."


"Ya Lun, kamu ikut Reno aja." Nina tersenyum rencananya membuat Reni dan Luna dekat akhirnya terwujud. 

__ADS_1


Aluna segera naik di boncengan motor besar milik Reno, Nina membuntuti di belakangnya. Hanya kisaran lima belas menit Luna, Nina dan Reno  sudah sampai.


Aluna dan Nina terlihat bahagia, ini pertama kalinya Aluna kembali tersenyum semenjak kematian Yusuf.


Reno membelikan cilok dan boba untuk kedua teman ceweknya. Reno juga terlihat bahagia ada Luna bersamanya. Reno mendekati gerombolan anak muda yang sedang bermain atraksi. Reno mencobanya dan dia sangat pandai memegang kendali. Nina dan Aluna menyemangati Reno dan tepuk tangan untuknya.


****


Di ruangan megah yang ada di Alexa Fashion. 


"Rian, kapan kamu umumkan hubungan kita?" Tanya Angel.


Adrian yang berdiri di dekat kaca sambil menatap indahnya tampilan kota sekitar gedung lantai dua puluh itu hanya terdiam. 


Angeline menghampiri Adrian dan memeluknya dari belakang, kepalanya menempel di punggung. Jarinya menggelitik perut dan dadanya. 


Adrian menarik nafasnya yang mulai berat. Dadanya naik turun berusaha memadamkan api gairah yang berlahan mulai menggoda. Adrian memejamkan matanya. 


Lama tak ada reaksi balasan dari Adrian, Angeline sedikit kecewa, pria itu biasanya langsung berbalik dan menyerbu bibir merahnya tanpa ampun, terkadang dia juga mulai memberi sentuhan lembut di leher jenjang nan putih bersih itu. Tapi hari ini dia mampu menahan semuanya. 


Angeline memaafkan ketidak pekaan Adrian kali ini. Dia mencoba berfikir positif, mungkin Lelakinya sedang memikirkan pekerjaan atau sekedar lelah.


"Tidak dalam waktu dekat ini, aku masih ingin fokus dengan pekerjaan, kamu tahu sendiri kan, Alexa fashion baru saja mendapat respons baik dari pasar bursa."


"Sampai kapan Rian? Dulu kamu bilang nunggu Alexa fashion bangkit dari  sekarang Alexa sudah mulai bisa menguasai pasar di negara ini. Apalagi yang kau inginkan."


"Tunggu aku siap Angel, aku mencintaimu, tapi aku belum siap menikah." Adrian merubah pandangannya, dia menutup tirai dan kembali duduk. Adrian juga sempat melihat Aluna dan teman-temannya pergi meninggalkan halaman perusahaan tadi. 


"Kamu tidak siap? Atau tak pernah mencintai aku? Jangan lupa Adrian Alexa Fashion bisa seperti sekarang ini karena ada peranku didalamnya kita sudah susah payah bersama." 


"Brak" Adrian menggebrak meja lalu menyusut hidungnya yang runcing. Angel terus menanyakan hal yang sama, sedangkan dia tak tahu problem yang sedang dihadapi, menikahi gadis cupu demi menyembunyikan kesalahan fatal Papa Alexander. 


Adrian berkemas, memasukkan laptop dan berkas ke tas kerjanya. Dua asisten datang dengan satu kali tepuk tangan, yang satu tetap tinggal dan yang satu membawa tas lewat lift menuju mobil. 


 Terus terang Adrian bingung, bagaimana memberi pengertian pada Angel. Gadis itu selalu mendesaknya, sedangkan Adrian sendiri belum kepikiran kapan akan siap menikahi wanita yang enam bulan menjadi kekasihnya itu. Bukan karena Aluna. Dia belum yakin saja dengan perasaannya ke Angel yang sesungguhnya. 


Angeline pergi dengan raut kecewa. Tanpa ada kata lagi yang terlontar dari bibirnya, hanya hentakan sepatu yang terdengar makin menjauh. 

__ADS_1


Adrian lega melihat wanita itu pergi. Dia kini menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang ia duduki, memutarnya berulang kali. 


"Tuan Adrian, apa anda akan pulang sekarang?"


"Ya, siapkan mobilnya." Adrian berdiri lalu menyelipkan ponselnya di saku jas dan merapikan kerah kemejanya sejenak, meninggalkan ruangan yang menjadi rumah keduanya itu, setelah Adrian keluar pengawal itu segera menguncinya. 


"Apa Tito sudah pulang?"


"Iya Pak Adrian, dia pulang lebih cepat karena ini malam minggu." ujar Ajudan itu menyampaikan amanah Tito. 


"Baguslah. Apa kamu bilang tadi? ini malam minggu?"


"Benar Tuan." Adrian memukul pelan kepalanya. Harusnya dia hari ini mengajak Angeline untuk makan di restoran mahal atau shoping barang branded kenapa malah membuatnya kesal seperti tadi. 


Adrian ingin sekali meneleponnya untuk mengajak makan malam, tapi tubuhnya terasa sangat lelah. Adrian yakin soal Angel, besok pasti sudah kembali normal baik-baik saja. Pria itu akhirnya memutuskan untuk  pulang saja. 


Sampai di rumah Adrian langsung masuk ke kamar, menghempaskan tubuhnya yang terasa sangat lelah, dia tertidur saat baju kerja masih menempel utuh di tubuhnya.


 Baru saja raga kekar itu tak bergerak dengan mata terpejam menikmati indahnya dunia mimpi. Suara wanita dari luar mengagetkannya. 


"Tuan Muda, maaf mengganggu anda Tuan Muda. Nona Aluna belum pulang."


Pria yang tengah mengantuk itu bangkit dari tidurnya, matanya terlihat merah. "Lalu aku harus mencarinya, begitu?" Bibir Adrian tersungging, masa bodoh. 


"Tapi Tuan, anda jangan lupa, Nona Aluna istri anda, jika terjadi apa apa di luar, anda orang pertama yang dicarinya, dan semua orang akan mengerti hubungan yang ada diantara kalian." 


"Arhhh, menyebalkan. Bibi telepon dia suruh pulang sekarang." Nada suara Adrian terdengar di ujung kekesalan yang memuncak..


Nomor ponsel Nona sudah bibi hubungi beberapa kali tapi sepertinya ponselnya mati mungkin batrenya habis, Tuan."


"Ya Tuhan, menyebalkan sekali gadis itu, kemana sih dia! Bibi sudah coba hubungi temannya."


Bibi tersenyum ramah. "Tuan saya tak memiliki nomor teman Nona."


Adrian memejamkan mata meredam emosi. Baru saja ingin menikmati tidur nyenyak yang dia impikan sejak siang tadi, sekarang harus mencari gadis tak jelas itu entah kemana.


Adrian segera turun kembali dari ranjang, membersihkan dirinya sebentar, lalu memakai baju santai, memeriksa halaman mansion dari jendela kaca yang ada di kamarnya lalu turun ke lantai satu.

__ADS_1


 Adrian berencana ingin meminta nomor ponselnya pada Tito supaya bisa melacak keberadaan gadis menyebalkan baginya itu. Tapi Adrian perlu berfikir ulang. Dia khawatir Tito akan curiga. 


Pasti pria itu akan menanyakan ada niat apa malam-malam begini mencari keberadaan OG yang jelas-jelas tak pernah ada hubungan dengan kinerjanya.


__ADS_2