Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 140. Grogi menghadapi serangan Tiger


__ADS_3

Dokter mulai memeriksa kondisi luka di kepala dan kaki Aluna.


Yang dilakukan oleh Dokter Jayden pertama kali adalah membuka perban di kepala Luna. 


"Lakukan dengan hati hati Dokter, aku tak mau istriku merasakan sakit," kata Dion posesif. 


Dokter mengangguk, dia juga menyadari keposesifan Dion pada istrinya. Wanita cantik seperti Aluna memang bisa memikat hati siapa saja. 


"Nona syukurlah, semuanya sudah pulih, tak ada bekas yang serius," kata Dokter Jayden puas. Melihat luka Aluna yang beranjak sembuh. 


Aluna menyentuh keningnya yang masih merasakan sedikit nyeri, tapi rasa itu sudah tak seberapa jika dibandingkan dengan saat awal cidera. 


"Sakit Nona?" Kata Aluna yang kini diperintahkan oleh Dokter untuk tidur diatas ranjang pasien.


"Tidak seberapa." jawab Aluna yang terus mendapat pengawasan ketat dari Dion. 


Lelaki itu masih terus mengintimidasi Jayden membuat dokter muda itu lebih hati-hati lagi. Pasalnya Dion bukanlah satu satunya orang yang bersikap demikian saat istrinya berada dalam perawatannya.


 Adrian bisa melihat kebahagiaan pengantin baru dari luar ruangan karena kebetulan pintu dibiarkan terbuka. 


Adrian berusaha tersenyum melihat Aluna sembuh, meski hatinya perih karena tak bisa memiliki. Dia sadar Aluna sudah tak bisa dijangkau. Dunia yang dikenalkan oleh Dion jauh lebih indah. Tak seperti dirinya yang hanya bisa memberi dunia kesedihan.


Adrian meninggalkan Dion dan Aluna, dengan buru-buru. Tak mau ketahuan telah menguntit mereka. 


Tanpa sadar Adrian menabrak seorang gadis yang memiliki tubuh mungil dan wajah sangat cantik, rambutnya diikat tinggi. 


"Hey Kak, anda kenapa tidak hati-hati. Lihatlah kue ultah kakakku harus berantakan," kata gadis itu kesal melihat kue di tangannya  berantakan. 


"Maaf, maaf aku buru-buru."


"Tidak bisa langsung pergi, anda rupanya seorang pengecut. Ketika melakukan kesalahan anda harus menggantinya. Ini kue spesial yang aku buat di hari ulang tahun kakakku." Gadis itu terus marah pada Adrian. 


Takut ketahuan Aluna dan Dion yang telah selesai diperiksa Dokter Jayden. akhirnya Adrian mengalah. "Oke aku akan menggantinya yang lebih besar sepuluh kali lipat, dan rasanya juga pasti lebih enak sepuluh kali lipat, ikutlah denganku." Adrian menarik tangan gadis itu dan buru-buru membawa ke dalam lift. 

__ADS_1


"Tunggu, aku familiar dengan wajah anda, anda penculik yang ramai diberitakan di media itu. Apa anda juga akan menculik diriku. Kalau begitu biarkan aku pergi." Gadis itu ketakutan ingin segera keluar dari lift tapi Adrian melarangnya. 


"Diam! Aku akan mengganti Kue kamu yang jelek tadi, supaya tidak ada mulut lancang yang mengatakan aku tak bertanggung jawab."


"Tapi anda tidak akan menculik ku seperti menculik kekasihmu yang sudah menjadi milik orang itu kan." Gadis itu kembali mengingatkan Adrian dengan dirinya yang hanya pecundang. Bibirnya miring karena mengejek.


"Diam, kalau tidak mau, aku akan benar benar menculikmu ngerti!!"


"Ishh, galak. Pantas pacar anda lari ke pelukan lelaki lain, galak dan pemarah." Gadis itu terus berbicara tanpa punya rasa takut. 


"Siapa namamu? Kamu terlalu banyak bicara. Membuat aku benar-benar ingin menculikmu dan membuang ke sungai biar tak ada lagi gadis menyebalkan sepertimu."


Melihat Adrian yang marah tak main-main, adik Jayden yang masih kuliah di semester akhir itu diam. 


Mereka berdua lalu keluar dari lift dan segera meluncur menuju toko kue tart ulang tahun yang tak jauh dari rumah sakit ini. 


Aluna dan Dion juga keluar sambil menggendong tubuh istri di punggungnya. 


Jantung Dion mengalami debaran yang sangat kuat. Dia sudah tak bisa lagi berpikir tentang pekerjaan atau hal lain. 


"Honey, aku mencintaimu." Kata Dion setelah menurunkan Aluna dari gendongan dan langsung duduk di sebelah kemudi. Dion mengecup kening Aluna sebelum mulai mengemudikan mobil. 


Kehangatan selalu di berikan Dion untuk calon pawang Tiger yang makin mudah mengamuk tak tahu tempat itu. 


Aluna bisa melihat suaminya begitu bahagia. Belum pernah terlihat wajahnya secerah hari ini. 


"Honey, kita akan pulang sekarang. Atau ada tempat yang ingin kamu kunjungi." tanya Dion. 


"Kita pulang saja." Kata Aluna yang terlihat tegang.


"Kamu kenapa tegang banget." Tanya Dion lalu mengambil tangan Aluna dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. 


"Aku tegang karena …." Aluna menjeda kalimatnya, tatapannya lurus ke depan dan jarang berkedip. 

__ADS_1


Dion mengecup bibir istri. " Honey, nanti malam aku janji akan membuat Tiger tidak menyakitimu, dia akan masuk sarangnya dengan hati hati," kata Dion sambil tersenyum. 


'Anda pasti berbohong, survey membuktikan seribu wanita menikah, lima ratus dari mereka akan menangis di malam pertama dan tak bisa berjalan. Tiger sang suami akan mengobrak-abrik selaput dara mereka hingga robek. Dan tiga ratus diantara mereka santai saja, karena memang Tiger suaminya berukuran kecil atau mereka memang sudah pernah mencicil malam pertama sebelum menikah.'


Aluna terlihat cemas, sesungguhnya kecemasan terbesar bukan karena Tiger yang ukurannya pernah mengejutkannya itu akan memasuki miliknya yang masih bersegel. Tapi Aluna tegang karena Adrian baru saja keluar dari parkiran yang sama. Tak mungkin jika ini sebuah kebetulan. 


Dion menarik Aluna ke dalam dekapannya. "Jangan cemas Honey, lama lama nanti kau akan menyukainya, atau kau bahkan akan sangat mengagumi dan bisa-bisa menjadi kecanduan." 


Aluna diam saja, Dion memeluknya dan membiarkan berpikir apa saja yang dia mau. 


Biarlah Dion tak tahu kalau Adrian telah mengikuti, Aluna yakin Adrian tidak akan menyakitinya lagi setelah dia melihat sendiri ucapan ijab qobul yang keluar dari bibir sepupunya itu. 


Aluna tidak mau Dion makin membenci Adrian, sedangkan cita citanya saat ini ingin membuat mereka bersatu dan bisa bekerja sama memajukan perusahaan.


Dion mulai mengemudi mobil dengan hati hati yang berlipat. Sepanjang perjalanan Dion terus saja menatap istrinya dari samping lalu tersenyum. 


Aluna memilih fokus pada jalanan, lega karena mobil Adrian sudah tak terlihat.


Sampai rumah kedatangan Aluna langsung mendapat sambutan dari Selena, Jessica dan Nenek. Rupanya Nenek datang untuk mengantarkan hadiah langsung pada Aluna. 


Hadiah nenek dibungkus lumayan besar membuat Luna makin was-was, takut isinya banyak lingeri seperti hadiah dari mama Melani.


"Sayang, terima hadiah dari Nenek, ya. Semoga kamu suka, dan jangan lupa lekas buatkan Nenek cicit yang banyak."


"Aluna mengangguk hormat pada Nenek."


Sedangkan Dion ikut nimbrung dan menggandeng Istri. "Permintaan Nenek akan segera dikabulkan. Malam ini aku akan segera melukis wajah cucu kalian dengan sangat indah." 


"Sayang." Lirih Luna yang malu, pipinya merona. Dion mengecup pipinya. 


"Kak, kalau boleh request, aku mau keponakan pertama perempuan, biar cantik kayak aku, tantenya," celoteh Jessica dengan percaya diri.


Kata-kata Jessica langsung disambut dengan tawa oleh keluarga. Dan asisten yang mendengarnya. 

__ADS_1


"Tapi yang jelas putriku nanti akan lebih pintar darimu," kata Dion menjahili adik dan mengacak rambutnya. Jessica paling kesal saat rambut lembutnya diacak acak Dion.


__ADS_2