
Angeline yang merasa Adrian berubah tak mempedulikan dirinya, dia meminta orang orang yang menjadi kaki tangan papanya untuk mengawasi lelaki itu, dan tidak sulit untuk para lelaki bayaran itu mencari tahu soal perubahan sikap Adrian.
Hari kedua pengawasan langsung ketahuan, Adrian membeli bunga untuk seorang wanita. Dengan hati bahagia Adrian mencium bunga indah yang baru dibelinya dari sebuah toko bunga dan masuk ke mobil.
Adrian kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit. dia setiap hari menjenguk Aluna karena rasa bersalah, dan cintanya yang makin hari makin besar.
Bukan hanya bunga saja, Adrian juga rupanya membeli kue dan buah buahan segar, karena dia tidak ahli memilih buah, Adrian sempat meminta bantuan pada Arga. Arga dan Adrian memilih buah apel dan jeruk manis dengan kualitas terbaik.
Arga tak percaya sikap Adrian sudah berubah begitu banyak pada Aluna. Wanita itu bisa masuk dan mengisi ruang hati Adrian yang sebelumnya sudah terisi oleh seseorang yang lebih segalanya.
"Selamat pagi, Sayang!" Sapa ramah dan senyum lebar dari Adrian yang sudah rapi. Karena rencananya akan langsung ke kantor.
Aluna menoleh, membalas sapa Adrian dengan senyum, bagaimanapun lelaki itu beberapa hari sudah terlihat baik. "Pagi Pak Rian. Ngapain repot kesini, bukannya anda harus ke kantor."
"Aku sempatkan mampir Luna, ada yang ingin aku omongin, tentang banyak hal." lelaki itu menaruh bunga di atas nakas, lalu duduk di kursi.
"Apa pak?" Aluna ikut duduk di brankar, dengan kaki bersila, dan tertutup oleh selimut. Rambutnya berantakan khas orang bangun tidur.
Aluna kebetulan sendiri. Bibi pulang diantar Pak Adam, sambil membawa baju kotor dan berencana akan memasak lebih dulu. Dua asisten itu sudah bekerja dengan Aluna tapi Dion yang menggaji mereka dengan alasan Dion akan memotong gaji Aluna menjadi sekretaris pribadinya. Padahal Dion tidak memotong gaji Luna sepeserpun.
"Luna, aku mohon batalkan gugatan cerai itu. Aku sama sekali tidak sengaja menandatanganinya." Kata Adrian dengan suara lemah lembut. Suara khas seseorang yang sedang memohon.
'Maaf Pak Rian, aku memang sengaja menjebak anda, aku tak menjalani hidup rumit dan penuh dengan bahaya. Ibu, Chela, Angeline. Mereka bisa saja menyingkirkan sewaktu waktu, disaat dia mau. Sedangkan aku hanya sebatang kara.'
"Tidak bisa Pak, laporannya sudah masuk ke pusat."
"Kenapa kau melakukan kecurangan ini. Aku yakin Dion ada di balik semua ini, kalau tidak orangku pasti sudah berhasil menggagalkan semuanya."
"Tidak selamanya uang anda akan meraih kemenangan Pak, adakalanya orang kecil akan diperhatikan." Kata Luna jujur, dia benar-benar beruntung mendapat surat cerai dengan mudah karena menggunakan bukti perselingkuhan Adrian dengan Angeline, saat mereka mesum dikamar, di kantor, di ruang istirahat, dimanapun Aluna memergoki mereka, dia segera merekamnya.
Aluna juga sudah tahu kebakaran itu, angel pelakunya, karena setelah diselidiki, Adrian sedang meeting dengan clien di sebuah cafe. Angeline sengaja menggunakan nama Adrian untuk membuat Aluna membenci Adrian untuk selamanya. Argo yang cerita itu semua.
__ADS_1
"Pikirkan sekali lagi Luna, sore aku kesini lagi, setelah pulang kerja. Semoga saat itu hatimu sudah berubah. " Raut kecewa tak bisa Adrian sembunyikan. Dia keluar kamar rawat inap dengan perasaan tak menentu.
'Maaf, aku tak bisa, mungkin jika kau bersedia meninggalkan Angeline, aku akan memikirkan lagi. Tapi itu tak mungkin bukan. Sedangkan mimpi anda ingin membuat dua perusahaan besar bergabung dan menjadi paling besar di negeri ini.'
Aluna tersenyum menatap punggung lebar menjauh darinya.
**
Setelah Adrian pergi, ternyata ada sosok wanita menyelinap masuk. Aluna yang baru saja tiduran lagi, kembali duduk dengan raut wajah takut.
Aluna takut karena dia tak berdaya, ada selang infus menancap di tangannya.
Senyum mengerikan tertampil dari wanita berpenampilan glamor dan seksi. Wanita itu berjalan mendekati Aluna.
Melihat raut Aluna yang tiba-tiba berubah dan terkejut, Angeline segera menyapanya. "Jangan takut Aluna, aku kesini berniat untuk membesuk dirimu."
"Aku dengar dari orang suruhan papa, kamu sedang dirawat di kamar nyaman ini." Netra Angeline melihat sekeliling kamar Vvip yang nyaman.
"Hmmm, haha. Pasti cepat sembuh donk. Yang jaga aja dua pangeran dari keluarga Alexander."
Angeline menjawil dagu Aluna.
"Hmm kamu senang kan dekat mereka berdua? Sejauh apa sih hubungan kamu? Sampai-sampai mereka begitu ingin memiliki kamu yang hanya gadis biasa ini? Kamu selalu memberi pelayanan untuk mereka berdua ya?"
"Tutup mulutmu Angel, aku tak semurah itu!" Aluna berteriak, tak terima atas tuduhan Angel.
"Tapi kok mereka bisa tergila gila gitu ya, aku sih heran aja, wajah standar? nggak ada yang woooow banget"
"Aku bukan kamu Angel yang bisa menikmati cumbuan dari banyak laki-laki." Aluna membalas dengan senyum sengit.
"Apa kamu bilang? Banyak laki-laki?" Angel merasa terhina, dia menampar pipi Aluna.
__ADS_1
Plakk!
Aluna memegangi pipinya yang memerah. Tapi dia melawan, dengan gerak reflek langsung menjambak rambut Angeline. "Jangan kamu pikir aku diam saja karena takut dengan kamu Angeline? Semut yang kecil saja saat diinjak gajah dia akan menggigit gajah itu. Begitu juga diriku, jika kamu terus menyakitiku, jangan salahkan aku jika gadis yang kampung yang selalu kau injak harga dirinya ini membalasnya dengan lebih kejam."
"Lepas, lepas, tangan kotor kamu tak pantas menyentuh rambutku. Rambut ini sudah tersentuh olehmu, sepertinya aku harus mencucinya hingga tujuh kali." Angeline mengibaskan rambutnya yang hampir setiap minggu selalu ganti-ganti warna.
"Katakan saja, apa niat kamu kesini, tak mungkin kau ingin menjengukku, kita tidak sedekat itu Angeline?"
"Aku hanya ingin kamu tahu Aluna, ada kabar gembira diantara aku dan Adrian, aku ingin berbagi kebahagiaan ini denganmu." Angeline mengelus perutnya yang rata dengan senyum yang menjengkelkan, sambil menggigit bibir bawahnya.
'Kenapa dengan perutnya? Tidak mungkin dia sakit perut. Apa dia hamil?' batin Aluna.
"Aku kasian dengan kamu Luna, berstatus istri pertama, tapi tak pernah disentuh. Sedangkan aku yang baru tunangan aja, sudah ada benih Adrian disini."
Angeline menepuk pipi Aluna. "Cup cup, jangan sedih ya, dia juga akan memanggilmu ibu nanti."
'Wanita gila, belum menikah sudah hamil, tapi bangga. Seharusnya kau menyembunyikan dirimu hingga ke dasar laut yang paling dalam hingga kabar itu tak ada orang tahu.'
"Jangan iri ya, aku tahu kami pasti iri kan iya kan?" Angel yang hendak mengusili hidung Aluna yang sakit segera menepisnya. gadis itu malah tertawa tak tau malu. "Sudah bagus kau minta cerai saja. Kau pasti akan bermandikan air mata melihat kebahagiaan kami."
"Selamat ya, atas buah dari perzinahan kalian, aku do'akan semoga kalian akan bahagia. Dan semoga saja Adrian hanya melakukannya padamu." ujar Aluna dengan berusaha tersenyum. Kesal, karena beberapa hari Adrian berusaha untuk merayunya, tapi justru kenyataan lain sedang ada didepannya.
"Apa kamu bilang? kamu berkata begitu pasti karena iri, ini buah cinta kita Luna," balas Angel tak mau dikalahkan.
*
*
*
*Happy reading.
__ADS_1