
Aluna tadinya ragu ingin membuka akun sosmed milik Angeline. Tapi rasa penasarannya mendorong dia untuk membuang keraguannya sejauh mungkin.
Aluna melihat banyak foto mesra mereka yang dibagikan oleh Angeline, saat mereka tiba di hotel, saat mereka sedang bermain di pantai, Angel memakai baju pantai yang sangat seksi dan tubuh mereka bersentuhan dalam dekapan hangat pria pemilik enam roti sobek yang begitu indah itu.
Banyak sekali sahabat dan teman sesama model berbalas komentar di bawah unggahannya. Ada yang memberi selamat dan mendoakan semoga hubungan langgeng, ada yang bercanda kalau iri melihat kebersamaan mereka.
"Hei … ngelamun" Dion mengagetkan Aluna yang pikirannya sudah terbang ke angkasa terlebih dahulu.
"Mereka serasi ya?"
"Eh apa?"
"Angel dan Adrian."
"I-iya"
"Aku bisa ajak kamu sekarang kesana seperti mereka kamu pasti ingin liburan juga?"
"Ta-tapi Pak Dion, OG tidak diizinkan ikut bersama mereka."
"Siapa yang ikut bersama mereka, kita akan berangkat sendiri, bayar pesawat sendiri dan sewa hotel sendiri. Tak ada hubungannya dengan mereka."
"Tapi, Pak …."
"Jangan banyak berfikir, aku sudah siapkan semua sejak kemaren, jadi semuanya sudah siap." Dion tersenyum sambil membelai rambut Aluna. Saat itu Clara sedang mengambil cemilan ringan ke dalam.
Tak lama Ben sudah kembali, dia sekalian sudah membawa keperluan yang akan dibutuhkan disana nanti.
"Aluna ini hari ulang tahunku, aku menolak pesta yang ditawarkan Mama dan memilih liburan ke Bali bersama dirimu.
"Pak Dion anda kenapa melakukan kebodohan. Pesta dengan teman-teman akan lebih menyenangkan"
"Aku tahu kamu ingin kesana sejak aku tahu peraturan perusahaan tak mengijinkan OG ikut. Sudahlah kita kesana dan liburan."
Aluna menggeleng pelan, tak percaya lelaki di depannya yang bukan apa apa dalam hidupnya bisa memperlakukan dirinya begitu istimewa.
***
Tiba di bandara.
"Luna keringatmu dingin sekali!" Tanya Dion saat dia hendak menggandeng Aluna naik ke pesawat.
"Iya Pak."
"Kamu masuk angin?" Dion memegangi telapak Aluna yang juga terasa dingin.
__ADS_1
"Aku belum pernah naik pesawat aku takut."
"Luna kenapa kamu nggak bilang. Kalau takut naik pesawat."
"Apa kita akan naik kapal Pak?" Tanya Aluna yang juga mual saat naik kapal laut.
"Tidak, kita akan tetap naik pesawat, tapi aku akan memakaikan penutup mata untuk kamu, Biar tidak takut lagi."
Luna dan Dion saling pandang dan tersenyum, lalu mereka berdua naik tangga dengan bergandengan karena khawatir Aluna juga takut naik tangga.
Dion dan Luna berjalan menuju nomor kursi yang dia duduki, kursi Ben tepat berada di belakang mereka berdua.
"Duduklah kita sudah sampai," ucap Dion.
"Ya terima kasih," Jawab Aluna.
Karena Aluna takut dia dekat dengan jendela, dia mengijinkan Dion untuk duduk lebih dulu baru dirinya.
"Luna, sekarang aku akan mulai membantu kamu untuk menutup mata."
Dion mengambil penutup mata yang sudah disediakan oleh pihak maskapai penerbangan. Dengan hati-hati dia melepas kaca mata Aluna dan memakaikan.
"Aluna meraba matanya yang sudah tertutup dengan sempurna. "Terima kasih Pak."
"Istirahatlah sekarang." Perintah Dion.
***
Setengah jam kemudian pesawat sudah landing di pulau Bali. Ini pertama kalinya hal yang belum pernah Aluna rasakan kini dia bisa merasakan.
Pertama naik pesawat, dan kedua berlibur ke pulau Bali. Aluna juga belum pernah merasakan menginap di hotel.
Bos, aku sudah memesan hotel yang akan menjadi tempat kita menginap di malam ini.
Iya, cari hotel bintang lima, aku ingin liburan ini akan menjadi menyenangkan untuk kita semua.
Mendengar obrolan dengan Ben, Aluna sudah bisa menilai kalau Dion memang selalu mengutamakan kenyamanan daripada apapun. Mereka juga menyewa sebuah mobil untuk dipakai jalan-jalan kemanapun yang dia mau saat liburan.
"Luna, apa kamu mau langsung istirahat di hotel atau jalan jalan dulu?"
"Pak, sepertinya aku mau istirahat dulu." ucap Aluna sambil berjalan sempoyongan.
Aluna merasakan matanya berkunang kunang dan ingin muntah.
Dengan sigap Dion menarik tubuh Aluna yang hendak jatuh. "Luna!"
__ADS_1
"Pak Dion, maaf aku pusing," kata Luna sebelum matanya benar-benar terpejam.
"Ben cepat buka pintunya, kita segera istirahatkan Luna di hotel, dia sepertinya sedang mabuk perjalanan."
"Siap Boss, ternyata ribet juga ya kalau jalan-jalan bawa gadis kampung."
"Jangan membantah, Ben. Mau gaji kami aku potong." Ancam Dion.
"Jangan Bos, nggak cukup kalau dipotong, kasian emak dirumah, sekarang bahan pokok pada naik, minyak naik, gula naik," protes Beni.
"Makanya kerja yang benar."
Mendapat Ancaman mutasi kerja, Ben jadi tak bicara lagi, hanya hatinya saja yang kesal. Biasanya hanya melayani satu orang kini harus melayani dua orang.
Tiba di hotel waktu sudah menunjukkan sore, Dion memberi kabar pada Selena kalau dia akan liburan dengan Luna ke Bali. Dan tentu Selena tak pernah peduli dengan itu semua. Mau pulang mau tidak dia tak pernah mempermasalahkan.
"Pak Dion, biar saya yang gendong Lulu ke kamar." Saking takutnya Ben kini menawarkan diri menggendong bobot tubuh yang diperkirakan lima puluh kilo itu.
"Enak aja, mau cari kesempatan ya!" Tuduh Dion.
Ben hanya bisa celingukan dan menggaruk tengkuknya, serba salah.
Sampai di hotel, Ben langsung mengurus semuanya, resepsionis menyerahkan tiga kunci sekaligus untuk tiga kamar dan di huni tiga hari dihitung mulai hari ini.
Di lift luna mulai sadar. Dia mengerjap pelan. "Pak turunkan saya aku sudah bisa jalan sendiri.
"Kamar kamu sudah dekat, diamlah." Dion menolak keinginan Luna, Dion khawatir Luna akan jalan sempoyongan.
"Pak Dion, tapi saya takut jatuh. Tubuhku berat."
"Jangan takut, aku sudah biasa mengangkat beban, satu kuintal saja aku masih mampu, apalagi kamu paling cuma setengahnya." jawab Dion enteng.
Luna akhirnya menyerah, dia menuruti keinginan Dion, melingkarkan tangannya di tengkuk pria beraroma maskulin walau sedang banjir keringat sekalipun, ini susah kedua kalinya pria itu menggendong tubuhnya.
Dion membawa Luna di sebuah kamar yang akan menjadi huniannya selama di Bali. Dengan sangat hati-hati dia meletakkan tubuh Luna.
Kasur empuk dengan sprei bulu berwarna putih dan. Selimut putih seketika menenggelamkan tubuh Luna Karen saking empuknya. Mendadak Aluna seperti berada di dalam dekapan Awan putih.
"Pak Dion, kamar ini indah sekali. Pasti mahal" Aluna mendadak baikan. Dia takjub dengan Kamar hotel VVIP, berbintang lima yang ada di pulau ini.
"Iya, Aku pesankan yang bagus, supaya kamu nyaman. Jangan pikirkan harga, aku yang mengajak, aku juga yang akan membiayai semua.
Tiba tiba Dion merasakan pinggangnya nyeri. Lelaki bertubuh kekar itu sebenarnya lelah juga menggendong tubuh Aluna. Sekarang dia ingin segera ke kamarnya dan istirahat.
"Luna jika perlu apa-apa aku ada di kamar sebelah, datang saja ke sana jika membutuhkan sesuatu."
__ADS_1
"Siap Pak Dion." Aluna tersenyum memamerkan lesung pipinya.
*Happy reading, biar semangat emak kasih bunga ya, dan jangan lupa votenya juga.