Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 13. Perhatian Tito


__ADS_3

"Kenapa, Lun?"


Tiba-tiba Aluna merasakan ada yang melilit di perutnya. "Perutku sakit sekali, Bi." Sambil meringis dan memegangi perutnya, Aluna berlari ke kamar mandi. 


Baru saja terasa blong setelah mengeluarkan zat sisa di tubuhnya, dalam waktu kurang dari tiga menit, Aluna merasakan mules datang lagi. Aluna akhirnya memutuskan bersandar di pintu kamar mandi. Sambil memegangi perutnya. 


"Tega sekali Non Chela, pasti dia yang sudah melakukan semua ini."


"Maksud Bibi, chela mengerjai saya?" Tanya Aluna dengan wajahnya yang mulai pucat. 


"Iya, pasti saat Nona mencari kotak obat tadi Nona Chela memberi sesuatu pada minuman atau makanan Nona."


"Bi, aku tidak tahu, aku juga tidak mau menuduh." Aluna kembali lagi berlari ke kamar mandi. 


Keluar lagi setelah lama didalam. "Lega Bi."


"Nona,Nona Anda memang terlalu lugu dan baik, belajarlah dari pengalaman ini, anda sepertinya harus lebih hati-hati,"ujar Imah mulai kesal dengan sikap Chela.


" Iya Bi." Aluna mengangguk. 


Aluna terlihat makin sedih, dengan buru-buru dia kembali masuk kamar mandi, mungkin obat pencuci perut yang diberikan Chela dosisnya terlalu besar sampai Aluna harus gemetar dan ingin pingsan. 


Imah memberinya minum dengan tak henti henti, khawatir Aluna akan dehidrasi. Imah juga menyuruh pelayan lain untuk membelikan obat biar cepat meminumnya dan kondisinya segera pulih. 


"Bi, aku tak mau sakit, tolong bantu aku keluar dari masalah ini." Aluna berbaring di atas ranjang besar miliknya, sambil terus meremas perutnya yang mulai lumayan tenang setelah minum obat. 


"Anda seharusnya curiga Nona, kenapa Nona Chela mau berbaik hati pada anda." 


"Iya Bi. Aku yang terlalu bodoh, berharap dia baik padaku setelah kebaikan kecil yang aku lakukan."Aluna memaksa senyumnya.


"Apa aku harus memberitahu, Tuan Rian?"


"Tidak perlu Bi, aku tak mau dia malah buat aku sakit hati, karena dia pasti hanya akan menghinaku." Aluna menarik selimut, lalu memiringkan tubuhnya, dia ingin tidur sejenak. Keesokan harinya dia berharap sudah kembali baik-baik saja dan bisa bekerja seperti biasa.


Imah membelai rambut Aluna, dengan cepat netra Aluna terpejam. Setelah melihat Nona mudanya pulas Imah turun ke dapur untuk membuat makan malam untuk Adrian. 


*****


Pagi telah tiba.


Aluna sudah sampai di perusahaan lebih pagi dari biasanya, pagi ini pekerjaannya akan lebih banyak karena harus membersihkan seluruh aula fashion show dan ruang meeting. 


Adrian kebanjiran clien, dia harus menandatangani banyak kerjasama dan kontrak dengan beberapa perusahaan lainnya. Kalau semua terus berjalan sesuai dengan rencana. Adrian yakin tak lama dia akan mengalahkan King Fashion yang dipimpin oleh Dion. 

__ADS_1


Alexa fashion akan menjadi satu satunya perusahaan besar, dan King fashion akan mendapat kekalahan yang berlipat, salah satunya dengan cara Angel berpihak padanya dan pergi dari sisi Dion. 


Adrian beberapa kali merapikan jas dan kemejanya di pantulan cermin, tubuhnya yang setinggi seratus delapan puluh lima centimeter dengan berat tujuh puluh delapan itu terlihat begitu mengagumkan. Hampir tak ada sedikitpun cela di dirinya. 


Tak bisa dipungkiri kalau khalayak pria pun akan memandangnya dengan iri, dan wanita akan terpikat. 


Aluna yang kebetulan mengantarkan minuman pesanan Adrian dia sempat terpaku. Namun, tak lama dia segera tersadar kalau lelaki itu hanyalah jelmaan makhluk astral yang bisa kejam dan tak berperikemanusiaan.


Aluna dengan hati-hati menaruh kopi di dekat laptop, dia tak mau kalau Adrian bisa melihat kedatangannya. 


Saat berbalik tiba-tiba dia memanggil nama seorang wanita untuk dimintai tolong. "Angel, tolong pasangkan dasi ini kira-kira pantas memakai yang hitam atau putih? Tanya Rian tanpa menoleh lebih dulu."


"Aku bukan Angel, Pak Rian."


"Oh, sorry. Bukan ya. Kau ternyata kucing liar itu."


"Kenapa bapak memanggilku kucing liar? Kalau tidak suka, cukup panggil dengan namaku saja, kalau masih tidak suka, Bapak bisa panggil aku dengan OG. Kata liar tidak cocok untuk saya, Pak Rian." Aluna memberanikan diri berkata panjang lebar di depan bosnya. 


"Lalu kemana kau pergi malam itu? Kalau bukan berkeliaran? Mengambil barangmu pasti hanya kau gunakan sebagai alibi saja."


Aluna tersenyum, "Jika anda mulai penasaran, kenapa tidak bapak suruh asisten anda untuk menemani saya, Pak Rian. Anda pasti tidak perlu mengingat sampai hari ini."


Adrian diam, tersadar dengan pertanyaannya, yang terkesan mencurigai. Padahal dia seharusnya sudah melupakan hari itu. 


"Saya bukan liar, apalagi murahan Tuan. Bukankah wanita jelek seperti saya tak ada di planet manapun, dan anda pasti tahu, wanita aneh tak akan ada yang mau mencintai," ujar Aluna makin berani. 


'Ya kamu benar. Pergilah.'


Luna hendak keluar dari ruangan CEO. Sedangkan Adrian mengepalkan tangannya karena geram. Dia merasa Aluna makin berani membantah.


Aluna terus menyeret kakinya keluar, saat di dekat pintu kepala Aluna terasa berkunang-kunang, dan dia hampir saja kejedot pintu, untung ada Tito datang mengantar berkas ke ruang Adrian. 


"Luna, kamu nggak apa apa?" Tito dengan sigap memapah tubuh Aluna yang oleng. 


Luna memegangi kepalanya yang terasa berat dan pandangannya berkunang-kunang." Nggak Pak Tito, aku butuh minum saja."


"Oke Lun, kamu lebih baik ikut saya ke ruang perawatan khusus karyawan. Disana ada dokter yang akan menangani langsung." Tito memeluk erat pinggang Aluna sambil berjalan sempoyongan. 


Karena tak sabar, Tito Akhirnya memilih menggendong tubuh Aluna yang bisa diperkirakan berat lima puluh kilo itu, karena badannya lumayan tinggi dan ramping bobot itu bisa dibilang standar tidak gemuk dan tidak kurus. 


"Pak Tito, tolong turunkan saya. Malu dilihat karyawan lain Pak."


"Diam Lun, kamu sakit, harus segera diperiksa." Lelaki berkemeja putih dan jas hitam itu terpaksa merelakan bajunya sedikit kusut demi Luna. 

__ADS_1


Tito begitu perhatian pada Luna, dia juga pernah berada di posisi miskin dan selalu dihina. Karena kegigihannya bekerja sambil kuliah Tito bisa berada di posisi seperti saat ini. 


Adrian hanya bisa menatap dua orang meninggalkannya menuju lift dengan raut kecewa. Kecewa Adrian entah karena Tito memilih menolong Aluna dulu dari pada menyerahkan berkas yang di bawa, atau kedekatan Tito dengan istri yang tak pernah dianggapnya. 


Adrian berusaha menetralkan nafasnya sebelum dia memasuki ruang meeting. Disana sudah berdatangan para klien ditemani oleh sekretaris masing masing. Sedangkan Adrian ditemani Rosa. Angel yang memaksa Adrian untuk memilih Rosa menjadi sekretarisnya. Gadis cerdik itu ingin memasang mata dan telinganya di manapun ia bisa. 


****


"Pak Tito, tinggalkan saya sendiri, nanti akan ada dokter yang memeriksaku." Luna khawatir Adrian akan marah karena berkas tadi. 


"Nggak apa-apa, ada Rosa bersama Pak Adrian sekarang. Kamu kenapa sih kok tumben masih pagi sudah loyo? Kerja jadi OG berat banget ya?"


"Enggak kok, dah biasa." Aluna tersenyum menatap Tito yang panik. 


Tito juga tersenyum dia mengacak rambut Aluna dengan gemas. "Kalau kurang enak badan, minta istirahat."


"Istirahat melulu, nggak gajian donk, kemaren aja waktu gajian dua hari, yang tujuh hari libur. Malulah sama yang lain, masih baru sudah bolos aja." Aluna berkata pada Tito tanpa beban, mereka berdua mulai akrab.


Sejak pertama bertemu Aluna, Tito sudah baik. Aluna menganggap Tito atasan yang supel dan pengertian, sangat berbeda dengan Adrian yang sangat dingin dan jarang tersenyum.


"Iya juga sih, Senang Alexa Adrian punya pegawai yang rajin."


"Emang pengaruh sama perusahaan? nggak ngaruh. OG cuma bersih debu. Karyawan paling rendah."


"Emang cita cita kamu pengen jadi apa dulu Lun?"


"Emm, mau jawaban jujur apa bohong?" Luna malah mengajak Tito main tebak-tebakan.


"Pengen jadi sekretaris, tapi bekerja pada atasan yang baik."


Tito akhirnya tertawa, Luna tau penyebab Tito tertawa. Pasti karena penampilannya yang cupu. 


"Pak Tito pasti tertawa karena itu nggak mungkin, itu kan cuma cita cita Luna dulu Pak, kalau sekarang Luna sudah nggak ingin lagi. Luna juga tau diri sekolah saja cuma sampai SMA." Luna mengerucutkan bibirnya. 


" Bisa Lun, asal ada kemauan."


"Entahlah, Semenjak Bapak pergi, harapan Luna juga ikut pupus."


"Semangat dong, Oh iya Lun, aku berasa tua kalau kamu panggil, Pak." Tito berbicara sambil menyeret kursinya, supaya lebih mendekat dengan Luna.


"Nggak apa-apa, Bapak kan memang atasan Luna, masa dipanggil Mas. Kayak sama suami aja."


Tito melihat Arloji di pergelangan tangannya, lalu menelepon sekretarisnya yang bernama Sisil. Memberi tugas ini dan itu sedangkan dia memilih menunggu Aluna di ruang rawat sambil menunggu dokter yang sedang memeriksa karyawan lain. 

__ADS_1


Luna tetap terlentang sambil menatap langit-langit ruangan. Hanya sesekali menoleh ke arah Tito yang diam di sebelahnya sambil menatap dirinya. 


__ADS_2