
Luna aman di mobil Enzo, sedangkan Zena masih celingukan mencari wanita yang tadi bersama mantan kekasihnya itu.
"Kemana wanita itu?"
"Iya, aku juga sempat melihat punggung wanita itu, kenapa dia pergi saat tau aku datang," Lirih Angel yang masih didengar oleh Zena.
"Biarlah kemanapun dia pergi malam ini, Aku akan membuat perhitungan dengannya esok hari, Karena dia, Enzo tak pernah memberi kesempatan padaku lagi untuk mempertimbangkan hubungan ini." geram Zena.
"Itu baru namanya Zena yang keren, dia harus bisa mendapatkan cinta sejatinya, jika tidak, kau akan merasakan sakit yang sama denganku. Dibuang setelah tak dibutuhkan, itu semua karena wanita gatal yang sok lugu itu," kesal Angelline saat mengingat nama Luna.
"Hebat sekali wanita itu, sampai bisa mengalahkan Angeline yang tak tertandingi," puji Zena. Angeline makin geram dengan Aluna.
Pesta sudah usai, Enzo yang berhasil mendapat beberapa informasi, dia segera menyusul Aluna yang sudah menunggu di mobil.
"Maaf, aku membuat mu menunggu lama." Enzo mengintip Aluna dari kaca dekat wanita itu duduk.
"Aku yang minta maaf, aku harus kembali lebih cepat. Padahal rencananya aku harus menemani hingga acara selesai," kata Aluna. Enzo segera masuk lewat pintu satunya, kini mereka duduk bersebelahan.
Enzo mengacak rambut Aluna gemas. "Aku tahu ada yang kamu sembunyikan dariku, ceritalah."
"Tidak ada, mereka para model senior, aku hanya malu bertemu dengan mereka."
Dion tersenyum sangat manis. "Jika kau mau kau akan lebih terkenal daripada mereka. Tapi asal kau lupakan masalalu kelam yang membuatmu sulit untuk maju. Jika kau terus terpuruk. Akan sangat berpengaruh pada karir yang akan kau raih.
Aluna diam. Memang benar, dia selama ini terlalu banyak menangis, membuat wajah kusut. Aura wajahnya tak lagi bercahaya.
"Buang jauh mantan, kamu punya masa depan yang cemerlang, kamu masih sangat muda" kata Enzo lagi, lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Baiklah," Aluna mengangguk, meski dia ragu. Entahlah, sanggup apa tidak kenyataan sampai detik ini dia masih berharap Dion akan menjemputnya.
Aluna dan Enzo kembali pulang ketika hari sudah larut malam, di jalan Aluna malah ketiduran, tubuhnya yang lelah membuat kantuk cepat menghampiri.
Enzo menarik Aluna agar bersandar di bahunya, kasian tubuhnya ikut terombang-ambing ke kanan dan ke kiri ketika jalan yang dia lewati bergelombang.
Dion sering kali mencuri pandang pad wanita disampingnya. ketika kondisi jalan di depan sedang aman.
__ADS_1
Rasa nyaman saat bersama tak bisa dipungkiri oleh Enzo. Bahkan dia sudah menggali informasi siapa Angel itu. Meski Luna tak mau cerita, Enzo sekarang sudah tau.
"Kau takut dengan Angeline, karena dia memiliki dendam yang besar padamu, Luna. Aku berjanji akan melindungimu dari wanita iblis itu.' batin Enzo sambil menyibak surai lembut yang menghalangi pandangan Enzo.
Aluna yang baru tidur terlihat pulas, beberapa hari kemaren dia masih sangat kacau melewati masa terberat tanpa suami.
Enzo sudah sampai di basement apartemen, Enzo sengaja mengajak Luna menginap di apartemen, karena jam dua belas, gerbang Asrama sudah dikunci. Dan penghuni tidak boleh keluar dan masuk lebih dari jam tersebut.
Enzo menggendong Aluna saat keluar mobil, Enzo membawanya menuju Llft.
Wanita yang tengah pulas itu segera membuka mata ketika merasakan tubuhnya terguncang.
"Tuan Enzo, turunkan saya."
"Diamlah. Kamu sangat mengantuk, biar aku bantu supaya lebih cepat bertemu dengan ranjang." kata Enzo.
"Tapi aku mau dibawa ke mana, Tuan? turunkan aku, tubuhku berat."
"Kamu tidurlah di apartemenku malam ini, Asrama sudah dikunci. Kita tidak bisa masuk lagi," terang Enzo.
Enzo menurunkan Aluna ketika sampai di lift. Aluna merapikan bajunya. Dan juga Enzo. Sekilas mereka saling diam. Enzo terus saja memperhatikan Luna yang semakin membuat hatinya kalang kabut.
Enzo tahu dia tadi nyaris tak berkedip melihat istri orang itu, segera mengurai pandangan dan khayalan yang mulai tersusun. "Besok pagi sekali kamu bisa menyelinap ke kamar asrama, usahakan jangan ada karyawan yang melihat."
"Anda membuat saya di cap jelek oleh teman-teman."
Enzo tersenyum. "Jika ada yang tidak terima atau berburuk sangka, aku akan menjelaskan pada mereka. Jika semua memang aku yang minta."
"Jangan, semua malah akan jadi masalah, mereka tidak suka aku dekat dengan Anda, mereka diam diam naksir sama anda."
Enzo terkekeh, hingga jas yang dipakai jelas sekali bergerak naik turun. "Terus kenapa? Biarlah mereka dengan pandangannya sendiri, asalkan aku hanya suka dengan satu wanita."
Enzo menatap Aluna dalam, berharap wanita itu menyadari satu hal. 'wanita itu kamu Lina," batin Enzo.
"Sangat beruntung wanita yang menjadi pilihan anda, Tuan. Pasti karena dia, anda putus dengan Zen," kata Aluna belum sadar juga siapa yang dimaksud Enzo.
__ADS_1
"Nggak, Zena sudah masa lalu."
Aluna sudah sampai di salah satu kamar apartemen Enzo. Enzo segera membuka pintu dengan memencet beberapa angka. Setelah pintu terbuka Aluna segera masuk dengan Apartemen yang berisi dia kamar itu.
Meski baru kenal, entah kenapa Aluna merasa Enzo juga pria yang baik. Hal itu membuat Aluna yakin Enzo tak akan macam-macam dengannya.
Aluna menatap apartemen yang sedikit berantakan, maklumlah Enzo tinggal sendiri, dan pekerjaan yang sangat sibuk membuat dia harus sering pindah kota. Sedangkan asisten suruhan mama Enzo hanya datang satu minggu sekali untuk membersihkan.
"Maaf, agak berantakan. Besok asisten mama baru datang," tuturnya yang melihat Aluna berjalan masuk dengan langkah ragu-ragu. Aluna
"Tidak apa-apa, aku akan merapikan. Aluna mengambil jaket dan jas Enzo yang ada di atas sofa.
"Jangan, istirahat saja, aku tidak mau kamu lelah, besok akan banyak sekali kegiatan di asrama." Enzo menahan lengan Aluna. Aluna berusaha melepaskan genggaman tangan Enzo, Aluna masih sadar dia masih istri orang.
Enzo terlihat kecewa, Aluna selalu berusaha menghindari dirinya. Enzo yakin suatu hari Aluna pasti akan membuka hati untuknya.
Aluna masuk kamar utama, kamar yang biasa Enzo tempati untuk tidur. Enzo mengantar hanya sampai pintu saja. "Selamat malam, semoga kau bisa tidur nyenyak."
"Selamat malam juga buat Anda." Aluna segera menutup pintu dan mengunci. Enzo tetap setia menatap pintu yang sudah terkunci. Sedetik kemudian sadar tingkah lakunya konyol, Enzo segera tiduran di sofa sambil menyalakan TV.
***
Sedangkan di belahan bumi lain, Dion sudah mengerahkan anak buahnya untuk menyisir kota, Dion juga meminta pihak polisi supaya membantu mencari Aluna, dengan laporan sebagai orang hilang.
Beberapa foto Aluna, sudah tersebar di tempat-tempat umum. Siapapun yang menemukan pertama kali akan mendapat hadiah yang lumayan fantastis. Dion tidak memikirkan berapa banyak uang yang akan keluar dalam pencarian Aluna, Dion sudah tak sabar ingin meminta maaf, jika ketemu dia berjanji akan memeluk istrinya dua hari dua malam tanpa ingin melepas.
Dion berjanji akan melayani Aluna seperti ratu dan tak akan membiarkan keluar rumah sendiri walau selangkah. Kejutan rumah baru juga sudah Dion siapkan, pesta pernikahan dan bulan madu juga sudah ada di kepala
"Beni, apa sudah ada kabar dari anak buah kita?" Tanya Dion.
Saat ini mereka menyewa apartemen dengan dua kamar, satu untuk Beni, dan satu untuk sang majikan.
"Belum ada, maklum bos, ini baru hari pertama, ibukota juga tak selebar daun kelor," terang. Beni.
Dion pergi ke kamar mendengar jawaban mengecewakan dari Beni. kata-kata Beni memang benar, dia bicara begitu karena belum pernah menikah. Dia tidak pernah ada di posisi Dion.
__ADS_1
Dalam kamar, Dion ingin tidur juga tak bisa, makan tak selera, Dion hanya ingin Aluna ada bersamanya. Mengobati luka hati istri yang mungkin sampai saat ini masih membara.
'Mulai besok pagi aku harus ikut turun tangan mencari sendiri kemana Aluna bersembunyi, aku tak bisa terus mengandalkan orang-orang bayaran saja.' lirih Dion sambil melihat foto Aluna yang dia simpan di ponselnya.