
Semalam Dion nyaris tidak tidur sama sekali. Dia sedang bahagia dan memilih begadang bersama mama dan papa di ruang tamu. Banyak hal yang diceritakan,
Melani, bagaimana dia dulu saat hamil dirinya, betapa manja dan rewel pada sang papa.
Pagi sekali Aluna sudah bangun, dia melihat Dion disebelahnya tengah tersenyum menatap dirinya dengan memiringkan tubuh, dan telapak tangannya menjadi penopang untuk kepala.
"Pagi, My love."
"Ih, kenapa panggilnya harus gitu sih." Luna malu Dion selalu lebay.
"Istriku memang cantik. Terserah dong mau aku panggil apa." Dion tak bosan menggoda istrinya.
"Aluna hanya mengulum senyum, lama-lama suaminya makin ngeselin, kadang juga posesif, tapi selama ini Aluna tetap nyaman di dekatnya.
Dion menarik Aluna ke dalam dekapannya, mengelus rambutnya dengan lembut. "Sebentar lagi. Dokter datang, kita pastikan kalau kamu benar-benar hamil."
Aluna mengangguk. "Baiklah, aku akan siap-siap."
"Aluna kini bangun, perlahan turun dari ranjang, Aluna duduk di cermin lalu menyisir rambutnya. Tubuhnya memang terlihat pucat, bibirnya memutih. Perutnya juga terus bergejolak.
Aluna tak tahan, dia berlari ke wastafel dan memuntahkan cairan di perutnya. "Hoek … Hoek."
Dion segera mendekati Aluna dan memijat tengkuknya, ada rasa kasihan bercampur bahagia saat melihat istri yang tengah hamil putranya tapi menderita.
"Sayang, pergilah, aku mual karena aroma tubuhmu. Kamu bau." kata Aluna sambil menutup hidungnya rapat.
"Jangan bercanda Honey, kemarin saat kau hamil anak pertama kita, kau bahkan ingin aku selalu ada di dekatmu, bahkan kau suka sekali dengan aroma tubuhku." Dion merasa kecewa karena dikatakan bau oleh Aluna, bahkan seumur hidup tak pernah dia mendengar orang menghina tubuhnya. Yang ada semua karyawan genit rela menghirup udara di dekatnya dalam-dalam karena aroma maskulin keluar dari tubuh Dion begitu menggoda.
"Baiklah, aku ambilkan tisu," kata Dion lalu mengambil kotak tisu di meja rias. Sambil terus berfikir keras 'kenapa bayinya tidak suka aroma tubuhnya, apa salahnya? Apakah si kecil ingin balas dendam karena pernah mengusir ibunya.
Aluna menerima kotak tisu dari Dion. Lalu dia mengambil beberapa lembar dan mengusap bibirnya yang basah oleh air. Saat Dion membawa tisu padanya, Aluna sempat menutup hidungnya lagi.
Selesai menguras isi perutnya Aluna kembali berbaring, hari ini dia sangat malas melakukan apapun. Dia hanya ingin rebahan dulu.
Mama Melani yang juga sudah bangun segera membuatkan susu untuk menantuya. Selesai membuatkan susu di dapur Melani segera mengantarkan ke kamar putranya. Tapi sampai di ruang tengah dia bertemu Dion yang terlihat sedang bersedih.
__ADS_1
"Kenapa Dion? Masih pagi kok sudah cemberut aja?" Tanya Melani heran, harusnya dia bahagia karena mengetahui Aluna hamil.
"Kehamilan Aluna hari ini aneh Ma, dia tidak mau aku dekat-dekat denganku. Masa darah dagingku tak mau dekat calon papanya. Bahkan dia mengatakan aku bau banget." Dion mengadu pada ibunya layaknya anak kecil.
Melani hanya tersenyum, berusaha menghibur putranya. "Sayang, sebaiknya kamu bersabar, orang hamil itu berbeda beda. Ada yang biasa saja, ada yang rewel, bahkan ada yang aneh."
"Tapi Ma, dia putraku, darah dagingku, ada darahku yang mengalir di tubuhnya, kok bisa dia tidak mau menghirup aroma tubuhku yang wangi ini? Aku nggak bau kan Ma?" Dion membuka ketiaknya dan mencium bergantian.
"Enggak, sayang, kamu nggak bau, ini hanya bawaan bayi saja, Sabar ya." Melani hendak pergi ke kamar Aluna. Namun dia ingat sesuatu, segera dia menghentikan langkahnya.
"Mungkin calon bayi di perut istrimu lagi ingin balas dendam, karena kau sudah menyakiti ibunya." ejek Selena.
"Huff" Dion menghembuskan nafasnya kasar. Dia takut cobaan berat ini akan terus berlangsung hingga Aluna melahirkan.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Jauh jauh dari Aluna sampai dia bisa menerima kamu."
"Apakah hal seperti ini akan berlangsung lama, padahal aku sangat ingin selalu di dekatnya."
"Sabar sabar." Melani tersenyum, sambil mengelus punggung putranya, membuat Dion makin frustasi. Sedangkan siapapun bisa dekat-dekat sepuasnya dengan istrinya
"Sayang, ini Mama buatkan sarapan. Siapa tahu bayi di perutmu menyukainya."
"Mama terimakasih," Aluna menatap mertuanya dengan wajah bersalah. "Jadi merepotkan Mama."
Melani duduk di depan menantunya. Mengelus pucuk rambut Aluna dengan penuh kasih sayang.
"Tidak ada yang direpotkan, Mama melakukan ini semua atas kemauan Mama sendiri kamu tidak pernah menyuruhnya kan. Justru mamah senang sekali ada sesuatu hal yang berguna yang bisa mama lakukan."
Menantu dan mertua berpelukan, dalam sukacita. Aluna dan Melani sama-sama bahagia.
'Tuhan beginikah mempunyai mertua yang baik. Semoga saja cinta mama tak pernah berubah. Aku sayang kamu mama.' kata Aluna dalam hati.
Aluna sangat bahagia dengan hidupnya saat ini, sungguh dia tetap bersyukur meski tak pernah diinginkan oleh ibu kandungnya. Sekarang dia sudah merasakan kasih sayang mertua seperti rasa ibu kandung.
__ADS_1
Dion mengintip dari pintu yang kebetulan terbuka sedikit. Dion suka Aluna makin akrab dengan Mama, tapi Dion juga sedih, Kenapa Aluna harus mual saat mencium aroma tubuhnya.
Aluna memakan kue selai dari mertuanya hingga habis satu lembar, Luna merasakan rasanya sangat nikmat. "Enak, Ma." puji Luna
"Syukurlah, kalau suka, nanti Mama buatkan lagi," kata Melani, senang melihat Luna mau nakan.
Aluna tersenyum, Melani juga ikut tersenyum."
Dion mencoba masuk kamar dan bergabung dengan mama dan Aluna. Dion berharap hanya pagi tadi saja Luna melarang dirinya dekat, semoga sekarang tidak lagi.
"Wah, kalian bahagia kenapa hanya berdua saja. Aku ikut ya" rayu Dion sambil membawa buah melon potong yang segar. Setelah melihat, Luna ingin sekali memakannya.
"Aku juga mau buah itu," pinta Luna tak mau membuat kecewa Dion yang terlihat susah payah hingga mengupas sendiri tadi.
"Ah buahnya sangat enak." Luna menghabiskan dua potong, dia tidak mual. Tapi hidungnya kembali mengendus-endus.
"Sayang, tolonglah jauh-jauh dariku, duduklah di sofa saja. Aku sungguh ingin muntah." Aluna menutup rapat hidungnya.
kebahagiaan Dion kembali runtuh. "Aku baru mandi, Honey," terang Dion membela diri.
"Tapi tetap aja masih bau, Sayang." Aluna mendorong Dion agar menjauh.
Dion terpaksa duduk di sofa yang agak jauh dari Aluna, tapi tidak masalah, asalkan bisa tetap dekat dengan Luna dan calon bayinya.
Setelah jam dinding menunjukkan angka tujuh, Dion segera bergegas mandi dan berangkat ke perusahaan.
Di perusahaan dia terus saja kepikiran dengan Aluna dan bayinya. Tapi mengingat ada Melani Dion sedikit tenang, Mama akan lakukan yang terbaik untuk Aluna dan bayinya.
Rasa trauma Dion kehilangan bayi masih melekat begitu dalam. Dion tak ingin kejadian buruk itu terulang.
Sampai di kantor, sebuah telepon masuk dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel Dion.
"Selamat pagi Tuan, makanan pesanan sudah siap, kami sudah di depan penthouse anda." Lasmi menghubungi Dion pertama kalinya, ini juga hari pertama dia bekerja sebagai juru masak untuk Luna.
Lasmi tidak berkata jujur pada suaminya, dia keluar rumah setiap kali suaminya sudah berangkat kerja, begitu pula dengan Angeline. Lasmi libur mengirim makanan untuk Luna di tanggal merah dan hari Minggu.
__ADS_1
Lasmi senang sekali memiliki kesempatan bisa dekat dengan Aluna, meski putrinya tidak tahu kalau dia adalah ibu kandungnya.
"Ya segera berikan pada istriku." kata Dion singkat.