Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 176. Cinta selalu terlihat indah.


__ADS_3

Adrian merekam aksi Ferdi saat bersama wanita itu,  dia yakin kalau ada bukti kuat Nabila akan percaya kalau dia sedang dalam tipuan kucing belang. 


Ferdi sangat mesra dengan wanita itu, dia bahkan menyuapi dan membantu membuka cangkang lobster, wanita itu kini tengah bahagia menerima suapan dari Ferdi.


"Gimana sayang? Enak nggak?"


"Enak banget apalagi kamu yang suapin. ini kayak makan spesial tau nggak, ujarnya berbunga-bunga.


"Maunya dimanja terus, ngalem."


"Kan habis ini pasti kamu yang minta dimanjain, pacar kamu yang sok suci itu tak pernah kasih kamu lebih dari cium keningnya kan?"


"Kamu tahu aja, itu alasannya aku lebih memilih kamu dan aku hanya ingin uang dari dia aja. Kan lumayan buat kita senang-senang,  uang yang kemaren dah mau habis jadi aku minta lagi padanya. "


"Bodoh banget Dia, itu pasti karena sayang banget sama kamu."


"Sayang tapi pelit, yang penting sayangku untuk kamu. Karena cuma kamu saat ini yang bisa kasih aku kesenangan luar dalam."


"Nakal, kamu ini." gadis itu mencubit dada Ferdi yang terbungkus oleh kaos putih, yang mencetak roti sobeknya yang belum matang.


Usai makan Pasangan kasmaran itu langsung pergi, Adrian masih ingin mengumpulkan banyak bukti lagi. 


Adrian terpaksa, dengan keahliannya menjadi detektif dia segera mengikuti mobil Ferdi, Ferdi tidak curiga kalau lelaki di belakangnya itu Adrian pasalnya Adrian hanya memakai helm usang dan motor butut. 


Rupanya mereka sedang menuju penginapan. Ferdi turun dan menggandeng wanita itu menuju salah satu kamar setelah membayar sejumlah uang, tanpa buku nikah sepertinya uang yang dikeluarkan sedikit lebih banyak. 


Adrian mematikan rekaman ponselnya, setelah semua bukti dirasa cukup. Adrian  segera pergi, sebelum ketahuan. 


Selama di rumah Adrian bingung harus memberi tahu semuanya pada Nabila dan membuat hubungan mereka hancur atau membiarkan saja, bukankah Nabila akan sedih jika tahu semuanya. 


Adrian tak bisa melihat wanita itu menangis. entah kenapa mata Amber gadis itu mulai menarik untuk dilihat.


Adrian mondar-mandir membuat Bibi Imah bingung dengan sikapnya, sedangkan Selena mengira semua yang dilakukan Adrian akhir-akhir ini karena merindukan Luna. 


Adrian segera menghubungi Nabila dan mengajaknya ketemu. Tapi ini hari libur, Nabila dan Aluna sedang mengeksekusi bahan yang ada di dapur untuk membuat nastar. 


"Hallo Na!" kata Adrian ketika panggilan sudah diterima.


"Iya Hallo, Pak Rian." Ada apa pagi-pagi telepon." Nabila berusaha profesional, melupakan kejadian kemarin saat dia terakhir bertemu.


"Apa kita bisa ketemu?"


"Em ketemu?  Tapi dimana?"


"Em. Dimana saja, asal kamu suka tempatnya."


"Kita ketemu di rumah Mbak Aluna aku lagi sibuk buat kue sama dia sekarang, Nanti sekalian bisa incip."

__ADS_1


"Apa nggak sakit tenggorokan aku makan kue buatanmu?" Canda Adrian.


"Em, semoga saja sakit beneran."


"Hahaha, baiklah aku akan kesana." Adrian tertawa mungkin ini untuk pertama kalinya menarik bibirnya lebar. 


Panggilan Adrian  dan Nabila berakhir, Nabila tahu pasti Adrian sudah meluncur untuk menemuinya sekarang.


"Siapa Na?" Tanya Aluna.


"Pak Rian, Mbak," jawabnya.


"Oh, dia telepon kamu?" Aluna bertanya sambil mengeluarkan nastar yang matang dan menatanya di toples kaca..


"Iya, katanya ada yang pengen diomongin, tapi Nabila juga nggak tahu apa. Dia sedang posisi jalan kesini."


"Na kamu suruh dia kesini?" Aluna terkejut Nabila bisa ceroboh, Aluna hanya takut info ini bisa sampai pada Dion dan jadi salah paham. Dion sangat cemburu pada Adrian belakangan ini.


"Iya, Mbak nggak usah khawatir, kita hanya bicara sebentar, nanti pasti akan pulang lagi." 


Nabila segera mandi dan ganti dengan baju santai, sebuah atasan sifon lengan pendek dengan gelembung di lengan, serta rok span selutut. Dengan pakaian sederhana aura dewasa Nabila nampak terlihat. 


Nabila memberi arah arahan supaya Adrian tidak kesasar, dia memberi tahu dimana Aluna dan dirinya berada sekarang. 


Adrian melangkahkan kaki jenjangnya menuju lift hanya beberapa menit dia sudah sampai. 


Adrian langsung menarik lengan Nabila keluar. "Sini aku ingin bicara serius." 


"Apa?" Nabila mendongak menatap Adrian yang terlihat tak main-main dengan berita yang dibawa. 


"Na, aku tahu Ferdi itu tidak serius, dia cuma manfaatin kamu."


"Oh, masih soal Ferdi, kenapa sih ikut campur? Kalau nggak suka ya udah nggak usah pedulikan aku. Ferdi salah apa emang? Kalau di butuh uang untuk modal usaha wajarlah! Supaya kakakku nanti bisa langsung terima dia."


"Kamu ini bodoh, bego, polos, atau gimana sih?" Adrian kesal menghadapi gadis seperti  Nabila yang keras kepala. 


Aluna tahu Adrian dan Nabila sedang berdebat, dia berinisiatif untuk membuat kopi dan juga membawakan satu toples nastar. 


Setelah kopi selesai Aluna segera menata di atas baki dan mengantarnya ke luar. 


"Ada tamu rupanya!'


"Na, tolong ini berikan pada Pak Adrian." Aluna berusaha bersikap biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka dulu.


Selesai menyerahkan semuanya, Aluna balik masuk. Dia tak ingin berlama-lama didepan Adrian dan Nabila. Biarkan mereka berdua punya banyak waktu. Siapa tahu dengan caara seperti itu mereka akan dekat. 


Adrian menatap punggung Aluna yang semakin jauh. Adrian juga melihat Aluna terlihat sedikit subur. Di bagian dada. 

__ADS_1


"Nabila, kamu kerja disini?" Adrian berusaha mengalihkan pandangan pada Aluna yang makin anggun.


"Nggak kerja, Aku diminta Pak Dion untuk  menemani mbak Aluna, dia sedang hamil. Jadi aku bersedia, tentu dengan senang hati, mbak Luna itu sosok kakak yang baik."


"Ya, dia memang selalu membawa aura baik pada setiap orang yang dekat dengannya. Apa kamu bilang tadi hamil?"


"Iya, Mbak Luna hamil, jelas!" Nabila mempertegas ucapannya. Lalu menyeruput teh, dan Adrian juga menyeruput kopi buatan Aluna yang selalu terasa paling nikmat.


Nabila memastikan Aluna sudah tak mendengar obrolannya, "Oh iya, jadi kesini cuma mau ngejelekin Ferdi, mending simpan saja energi anda untuk bekerja besok." Nabila kembali bicara pada topik awal.


Adrian tersenyum, heran dengan keras kepala Nabila. Lelaki itu mulai care dengan gadis di depannya, dia berkomitmen daripada Nabila menyesal nanti, mending dia tahu semuanya sekarang. 


"Na, aku ada sesuatu buat kamu, tapi sebelumnya aku kasih tahu semuanya dan melihat dengan mata sendiri please semoga kau tetap tegar seperti ini."


"Anda keras kepala, Pak Rian. Aku tidak akan percaya" Nabila hendak pergi. 


Adrian menahan, lengan Nabila dan menarik gadis itu hingga jatuh ke pangkuannya, Adrian mengunci tubuh Nabila dengan kedua pahanya. "Kau harus lihat ini, setelah itu terserah!" Adrian kesal Nabila keras kepala. 


Adrian membuka galeri video di ponselnya lalu memutar rekaman yang ada diurutan paling atas. 


Adrian memposisikan ponselnya miring diatas meja dengan sebish sandaran, membuat Nabila bisa jelas melihat gambarnya. Tubuh Nabila terus ditahan dengan lengan dan paha supaya Nabila tak buru-buru pergi. Dia ingin wanita itu benar benar tahu sampai rekaman terakhir.


"Denia?" Nabila segera mengetahui siapa wanita yang diperlakukan begitu manis oleh kekasihnya. 


"Kamu kenal wanita itu?"


Iya, aku mengenalnya. Dia wanita yang tempo hari aku pergoki semobil dengan Ferdi, tapi kata Ferdi dia tak ada hubungan apa-apa dan hanya membantu Denia yang kelilipan. 


"Kamu percaya begitu saja?" Tanya Adrian.


Nabila mengangguk, matanya berkaca kaca. 


Tubuh Nabila lunglai seperti kehabisan darah karena tersengat listrik. 


Nabila menggeleng berkali-kali, dia tak percaya, yang dilihatnya itu Ferdi yang selalu perhatian dan tulus. Airmata semakin deras tak terbendung lagi


 


Adrian melihat pundak yang terguncang hebat. Nabila masih tak percaya, dengan derai airmata yang sudah menganak sungai dia memutar posisi duduknya. 


"Jelaskan padaku, Anda telah merekayasa ini semua. Supaya aku menangis," rancau Nabila ketika butuh seseorang untuk menenangkan hatinya disaat dirinya begitu rapuh. 


Adrian menggeleng. "ini murni, tak ada rekayasa."


"Tapi dia bilang kalau dia sayang padaku, hanya aku tempat dia melabuhkan hatinya. "Nabila menangis hingga sesak."


Adrian menarik Nabila dalam dekapan dan merelakan dada bidangnya untuk menyandarkan kepala.

__ADS_1


"


__ADS_2