Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 35. Hasrat


__ADS_3

"Aluna …." Tubuh lelaki itu merangsek masuk kamar sempit.


"Pak Adrian, pergi dari sini, a-ku a-ku ingin istirahat." Aluna yang gugup terpaku di satu titik tanpa berani bergerak. Ini pertama kalinya dia memakai baju kurang bahan dan memperlihatkan kaki jenjangnya. Untung instingnya cepat bekerja, dia menarik selimut dengan cepat dan melilitkan pada tubuhnya 


Semuanya sungguh pemandangan baru, mampu membuat Adrian meneguk salivanya hingga berulang kali. 


Tubuh sekal dan kulit seputih susu yang dilihat  itu milik Aluna, yang nyaris tak pernah diperlihatkan pada siapapun, karena tertutup oleh baju kebesaran dan celana panjang longgar, membuat penasaran Adrian makin besar. Berbeda dengan tubuh Angelin yang hampir setiap hari sudah dia lihat.


Adrian mulai gelisah, libidonya tiba-tiba naik, melihat Aluna yang begitu wangi dan segar usai mandi. Adrian segera mendekati Aluna, sedangkan Aluna makin ketakutan. 


"Pak Rian, tolong anda pergi," mata bulat dengan bulu panjang itu sudah berkaca kaca, dan memohon dikasihani.


Adrian memegangi selimut yang menutupi tubuh Aluna, dia ingin menariknya dan melihat sekali lagi keindahan itu. 


Dengan segenap kekuatan Aluna mempertahankan selimutnya agar tak terlepas.


"Aluna, aku suami kamu kan? Aku berhak melihat tibuh istriku sepenuhnya. Bukankah kau sendiri yang datang ke rumah ini dan menawarkan dirimu."


"Pak Adrian, saya tidak menawarkan diri, papa anda yang menjemput saya." Lirih Aluna yang tangannya mulai gemetar, tubuhnya menempel pada dinding diapit dengan ranjang dan lemari pakaian terbuat dari kayu. Aluna tersudut.


"Tapi kau sekarang istriku, aku juga boleh menikmati malam bersamamu, rugi dong aku, menikahi seorang gadis tapi aku biarin tidur sendiri." Adrian menarik Dagu Aluna hingga wajahnya mendongak keatas. 


"Jujur setiap hati aku malas melihat wajahmu, tapi malam ini aku sepertinya berubah pikiran. Cahaya lampu redup membuat bibir kamu sangat seksi dan enak untuk dinikmati."


Adrian melepaskan dagu Aluna, kini beralih melepas youcansee warna putih yang dia kenakan,  enam roti sobek terlihat sangat menggoda, pantas saja wanita dan gadis  di kantor tak sedikit yang membicarakan dan mengagumi kegagahan CEO Alexa fashion. 


Melihat semua justru Aluna semakin ketakutan. Kali ini Aluna berani menahan tubuh kekar di depan dengan telapak tangannya. 


"Saya tidak mau anda melakukannya pada saya, anda tak mencintai saya." 


"Kau berharap aku mencintaimu? Baiklah aku akan memberi cinta yang kau minta itu, bukankah kau tahu lelaki bisa membagi cintanya pada banyak wanita." Adrian terlihat enteng mengatakan cinta, sedang yang dia miliki selama ini hanyalah nafsu. Cinta yang diagungkan pada Angel sepertinya juga nafsu, Angeline bisa memberikan apa yang Adrian butuhkan untuk saat ini. Angeline juga selalu membantu Adrian memajukan perusahaan. 


"Tidak, tuan tidak memiliki cinta, anda hanya bernafsu, aku tidak bisa melayani anda Tuan." Aluna mendorong tubuh kekar di depannya hingga mundur beberapa langkah. Menyerobot, dan berlari ke taman belakang untuk menyelamatkan diri. 


Aluna tau sendiri bagaimana lelaki itu mencumbu Angel di setiap tempat dan kesempatan. Rasanya tak rela jika dia juga akan mencumbu dirinya seperti memperlakukan wanitanya itu. 


"Kamu istriku Luna, aku berhak atas dirimu." 


Aluna tak berhenti meski mendengar, dia tetap berlari ke taman belakang yang memiliki cahaya lebih terang.


Aluna duduk di kursi panjang berharap Adrian akan pergi dari kamarnya, Aluna yakin Adrian sekarang masih disana. 

__ADS_1


"Luna!" Suara wanita memanggilnya membuat Aluna semakin tenang.


"Bi!" Aluna menoleh, mendapati Imah sedang duduk di sebuah sofa panjang.


"Tumben malam begini kamu sangat cantik." Imah mencium Aroma Aluna yang lebih wangi dari biasanya. 


"Eh masa Bi? Aluna lagi mencoba baju ini saja."


"Bibi yakin jika kami setiap hari dandan seperti ini Tuan Rian akan mencintaimu, cepat atau lambat." Bibi membelai rambut Aluna, orang pertam yang berharap hubungan mereka akan segera mengalami kemajuan.


"Tidak Bi, dia sudah memiliki kekasih, dan hubungan mereka sudah berjalan sangat lama.


"Dia kan hanya kekasih, sedangkan kamu istrinya. Kamu berhak mendapat tempat pertama di hati Tuan Roan, Aluna."


"Aluna duduk dengan tangan terlipat di atas perut. Memejamkan matanya. 


"Selama hubungan dengan Angel masih terus berjalan, aku tak mau jadi yang ketiga, Bi. Bahkan aku sekarang sangat takut jatuh cinta pada siapapun, Bapak tak pernah bahagia saat mencintai ibu. Bahkan dia meninggalkan aku, anak yang harus dia rawat disaat membutuhkan kasih sayangnya, bahkan sampai sekarang tak ingin melihatku walau sebentar saja. Cinta hanya akan menyakiti kita Bi."


"Bukankah bibi juga merasakan hal yang sama,suami bibi selingkuh dengan wanita lain yang lebih muda."


Bibi masih terus mengelus rambut Luna. hatinya sedih mengenang kisah hidupnya. 


Aluna tersenyum malu mendengar pujian itu memasuki telinga berulang kali. 


"Tidurlah, sekarang sudah malam, besok hari Senin harus bangun lebih awal."


Aluna mengangguk, dua orang berdiri  hampir bersamaan dan berjalan menuju kamarnya masing-masing. Aluna lebih tenang karena melihat Adrian sudah duduk bersebelahan dengan Angelin, Aluna juga melihat ada dua gelas bertangkai berisi wine di depannya.


Adrian yang tahu Aluna melihatnya, Adrian sengaja menarik wajah Angeline dan menyambar bibirnya dengan ganas.


Angeline sangat menikmati perlakuan Adrian, mungkin bermesraan sudah menjadi candu bagi mereka berdua. 


Angeline juga melihat ciuman Adrian turun ke leher dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikan disana. Aluna mempercepat langkahnya, ingin segera sampai di kamar dan merebahkan diri


"Sayang ayo kita masuk ke kamar, aku tak mau ada orang iri lihat kemesraan kita," kata Adrian sambil melirik ke arah Aluna.


Adrian bangkit dari duduknya dan menarik lengan Angeline. Wanita itu terlihat sangat manja.


"Sayang, gendong aku."


"Baiklah, apa sih yang tidak buat kamu." Adrian mulai membawa tubuh Angel ke kamarnya. 

__ADS_1


Tak lama dari dalam terdengar suara Angeline beberapa kali menjerit dan disertai tawa yang membuat Aluna harus menutup telinganya. 


Aluna menitikkan air mata, berharap cinta yang tulus datang kini malah mendengar apa yang tak ingin dia dengar. Dia tak ingin memikirkan apalagi membayangkan yang dilakukan oleh keduanya.


Aluna mengunci pintu dan mematikan lampunya. Malam ini dia ingin tidur dalam kegelapan saja. Seperti hidupnya yang gelap tanpa tahu arah dan tujuan kedepannya.


***


Pagi hari Angel memanggil Aluna dari kamar Adrian, Aluna yakin semalam mereka tidur diruang yang sama.


"Luna, kamu cuci baju milikku dan Adrian, ini sangat basah," ungkap Angel yang disertai senyum kebahagiaan di wajahnya. Aluna masuk ke kamar Adrian untuk memunguti baju yang dikenakan semalam. Baju itu teronggok menjadi satu di bawah ranjang. 


Lelaki yang semalam menyentuh dagunya dan menatap tajam matanya dengan sayu, dalam malam yang sama telah menghabiskan waktu bersama wanita lain. 


Aluna masuk memunguti baju Adrian. Dia melakukannya dengan cepat. Tak ingin berlama lama di dalam.


Adrian masih tertidur pulas dengan posisi tengkurap, dan wajah miring. Dia terlihat bertelanjang dada. 


"Kamar ini sangat panas, cepat hubungi service AC juga. ucap Rian dengan mata terpejam."


Mendengar kalimat Adrian baru saja, entah kenapa aluna merasa lega, Adrian tak memakai youcansee pasti karena kepanasan. Tapi persetan dengan yang dia lakukan malam ini, lelaki itu akan menceraikannya dalam waktu enam bulan. 


"Oh iya Luna, buat sarapan yang istimewa untuk kita berdua, kami ingin makan bergizi untuk memulihkan tenaga. Kau tahu kan aku nanti ada banyak kegiatan di kantor." Angel duduk sambil menyalakan rokok dan mengamati gerak gerik Aluna.


"Iya, Nona. Anda bisa menunggu beberapa saat lagi." Aluna mengangguk.


"Jangan lama, aku tak suka kamu lelet, kami sudah terbiasa sarapan di waktu pagi," ucap Angel lagi dengan berlagak sok berkuasa. 


Aluna keluar dengan mendorong troli berisi baju kotor Adrian.


Aluna memasukkan  baju kedua makhluk itu sekaligus ke dalam mesin cuci tanpa memisah lebih dulu, biarkan keringat mereka bercampur di dalamnya, seperti bayangan Aluna dengan apa yang mereka lakukan semalam.


***


Selang beberapa jam, Adrian sudah rapi. Dia keluar kamar dengan aura wajah dingin. Terlihat sekali dia kesal, tapi apa yang membuatnya kesal. Bukankah lelaki yang sudah tertuntaskan hasratnya wajahnya akan semangat dan berseri seri. 


Melihat Adrian dan Angel sudah bersiap akan berangkat, Aluna segera menyelesaikan pesanan Angel di bantu Imah. Karena dia juga harus mempersiapkan diri ke kantor juga. 


Selena dan Chela tak begitu menuntut Aluna untuk menyelesaikan tugas khusus darinya. Selena tau Angel sudah memberi banyak tugas untuk Aluna. Angel adalah calon menantu dan kakak idaman untuk Selena dan Chela.


 

__ADS_1


__ADS_2