Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 14. Salah sebut nama.


__ADS_3

Aluna sudah selesai diperiksa dokter dan keadaannya sudah membaik, semuanya pasti karena obat cuci perut yang tak sengaja di konsumsinya. Tito masih menjaganya sampai pemeriksaan selesai.


"Luna sebaiknya pulang saja ya, aku akan carikan taksi, sepertinya kamu harus istirahat dulu.


"Nggak perlu Pak Tito, ini sudah baikan."


"Bener nggak apa apa?"


"Bener, nanti aku akan minta ke teman-teman, untuk sementara waktu ambil pekerjaan yang ringan aja dulu.


"Ya udah kalau begitu, aku tinggal dulu ya?" Pria tampan berjambang tipis dan pemilik senyum manis beranjak. Tito masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Iya Pak, Terimakasih sudah antarkan saya sampai sini."


Sama-sama, aku pasti akan menolong siapapun kalau dalam kondisi kamu saat ini." ujar Tito lalu pergi setelah melempar senyum dan mengacak rambut Aluna dengan gemas.


Aluna mengangguk. Memperhatikan kepergian Tito hingga bayangan pria itu benar-benar hilang dari balik pintu.


Aluna berlahan duduk, setelah merasa lebih baik, dia menurunkan kedua kakinya. tak lama Dokter mendatanginya lagi.


"Mbak, Luna ini susah makan ya? Tolong jangan telat terus, perut dibiarin kosong. Nanti lama-lama bisa sakit maq atau sakit thypus. Dijaga pola makannya ya?"


"Iya Dok, terimakasih," ucap aluna.


Dokter akhirnya mengizinkan Luna kembali bekerja, Luna pun pergi setelah lebih baikan.


Nina dan Reno mencari Aluna sejak tadi. Tiba tiba mereka datang.


"Ya ampun, Luna kita cari kami kamu kemana mana sampai kolong meja aku periksa semua, nggak ketemu ketemu, ternyata disini. Pak Tito yang kasih tau tadi."


"Gue sakit Nin, semalam habis diare akut, untung ada Bibi yang jaga."


"Bibi?"


"Maksud ku, bibi, iya suami paman yang tinggal tak jauh dari rumahku," ralat Aluna.


"Kirain kamu punya pembokat di rumah."

__ADS_1


Aluna dan Nina segera kembali ke ruang OG, tetapi Nina tak mengizinkan Aluna untuk bekerja dulu, Aluna hanya duduk-duduk saja di depan laptop sambil membaca pesanan dari para karyawan di kantor . Sedangkan Nina yang menyiapkan.


Di ruangan yang berbeda Adrian dan Rosa duduk berdampingan, tapi sayangnya pikiran Adrian tak ada di ruangan itu. Dia mulai khawatir dengan Aluna yang ia dengar tadi sedang kurang enak badan. apalagi saat pergi tadi Tito yang ada bersamanya.


Reyhan dan asistennya yang bernama Diva mendapat giliran untuk mempresentasikan pertama kali, menjelaskan panjang lebar tentang keutamaan produk kain miliknya, berharap Alexa fashion akan meminangnya dan bisa bekerja sama.


"Pak, Pak Adrian." Diva harus memanggil Adrian dua kali untuk mendapat respon dari Adrian.


"Iya, Lun."


"Maaf Pak, Nama saya bukan Lun, em ... Lun siapa ya? tapi kita tadi baru saja berkenalan. Saya Diva Asisten Pak Reihan." katanya lagi mengulangi perkenalan


"Oh, iya Diva, saya sudah melihat persentase yang kamu bawakan tadi, kamu boleh kembali duduk." Adrian mencoba memanipulasi semua orang seakan dia sudah mengikuti dengan baik.


Adrian akhirnya berusaha fokus pada persentasi berikutnya. Dan momen Adrian salah sebut nama sudah terekam jelas di memori Rosa sebagai telinga Angel. Gadis itu langsung mengirim pesan kepada Angel.


Angel yang ada di ruang make up, langsung pias mendengar pengaduan dari Rosa, dia terpaksa menunda pemotretan hari ini yang bertema baju tidur berbahan sutra, produk Alexa fashion terbaru itu. Karena dia ingin mendatangi seseorang.


"Nona pemotretan sebentar lagi, Pak Tito sudah meminta fotonya hari ini juga, karena akan dikirim ke Prancis. Fashion France tidak mau menunggu lebih lama lagi."


"Aku ada urusan, beri sedikit waktu."


"Gila kamu ya, Frengky. Kamu pikir aku semurah itu, jika kamu punya satu juta US Dollar, kamu pasti bisa mendapatkannya. Itupun aku masih harus berfikir seribu kali."


"Anda sangat cantik, Nona. Sayangnya aku tak punya banyak uang untuk membeli hasrat yang sudah menggelora ini," ujar Frengky Fotografer mesum dan terkenal playboy di kantor. Frengky tersenyum sambil melihat lenggak lenggok tubuh Angel dengan pakaian seksi.


Angel mengabaikan Frengky yang menggodanya. Tujuannya kali ini hanya menemui OG yang membuatnya naik pitam. Angel tak terima Adrian menyebut nama OG cupu itu. Jika tak ada apa-apa tak mungkin Adrian sampai keliru menyebut nama Diva dengan Luna.


Angel sudah tiba di ruang OG, dia berteriak memanggil nama Aluna seperti tak punya sopan santun.


"Dimana OG yang bernama Aluna?" Angel menatap Nina seperti seekor elang bertemu anak ayam. Siap menerkam dan memakannya.


"Aluna? Ada Nona tapi dia lagi sakit." Nina menjawab dengan nada suara bergetar. Dia tahu pasti ada yang sangat penting sampai wanita seperti Angel sudi memasuki ruangan OG.


"Sakit? Pasti dia pura pura, gadis itu sungguh licik. Aku ingin memberi pelajaran pada pembantu jelek tak tahu diri itu."


"Nona, Aluna bukan pembantu dia OG di kantor ini." Nina berusaha meluruskan.

__ADS_1


"Diam! Oh, Kamu nggak tahu ya? Kalau Aluna itu juga bekerja di rumah CEO di perusahaan ini." Wanita memakai highheel tinggi berkulit putih dengan makeup sedikit over dan rambut tergerai warna coklat itu terlihat dilanda emosi yang meletup.


"Ada apa Nin?" Sosok yang dicari keluar dengan wajah kusut.


"Ini, Lun. Nona Angel mencari kamu? Kamu ada masalah apa sama dia?" Nina berbisik di telinga Luna sambil menatap Angel takut.


"Aku nggak ada masalah Nin.apalagi sama Nona Angel. Mungkin Dia yang ingin membuat masalah untuk dirinya sendiri." Aluna berusaha tak takut dengan gertakan Angel..


"Tinggalkan kami berdua, Nina, awas kalau menguping pembicaraan kami," ancam Angel saat gadis cantik berasal dari kota pudak itu sudah menuruti kata kata yang terucap


"Baik Nona." Nina meninggalkan Aluna dan Angel berdua.


"Jangan lupa tutup pintunya," ucap Angel lagi.


"Nona kenapa anda sangat membenci saya, padahal saya tidak melakukan kesalahan pada anda? Soal memberi bubuk itu saya memang tak berani, saya takut dipecat dari rumah itu." Aluna berusaha mengikuti alur cerita yang sudah dibuat.


Dan saya minta kamu jawab dengan jujur tanpa berbohong." Angel menahan amarahnya demi mendapat jawaban jujur dari Aluna.


"Semua kebetulan Nona, saya diizinkan kerja oleh Tuan Alex, dia suka kinerja saya." Kata Luna berbohong. Luna bersyukur Ode briliannya datang disaat yang tepat.


"Yakin, kamu bekerja disana karena Papanya Adrian , tapi kenapa Adrian bisa sebut nama kamu saat meeting dengan clien pentingnya!" Jawab Luna?" Angel menjambak rambut Aluna yang di kuncir diatas menyerupai ekor kuda itu.


"Sakit Nona, Luna mohon, lepas Nona jangan keras keras," rintih Aluna.


"Jawab Luna? Atau aku buat rambut kamu yang jelek ini lepas dari kepala kamu, mau!!" Angel telah dikuasai cemburu karena yang dipanggil Adrian bukan namanya.


"Saya tidak tau Nona, jika anda ingin tahu bisa tanya langsung pada kekasih Anda." Aluna terus saja berusaha menarik rambutnya, dan akhirnya angel melepaskan.


Tapi Angeline kini malah menarik kaca mata Luna dan menyembunyikan di belakang tubuhnya. "Wow, aku baru tahu, ternyata kau lumayan cantik kalau tanpa kaca mata. Kau memiliki mata yang indah dan bulu sangat lentik. Jadi aslinya kau ...."


"Nona tolong kembalikan kaca mata saya, saya tak bisa melihat dengan baik, tolong Nona."


"Dengar ya Aluna, kalau sampai kamu berani mempermainkan Angel, kamu akan lebih tersiksa, bukan hanya kacamata yang akan hancur tapi kamu." Angel mendorong kening Aluna dengan telunjuknya.


Angel menjatuhkan kacamata Aluna dan menginjaknya. Aluna yang mendengar bunyi kaca pecah segera jongkok tepat di depan Angel dan berusaha memunguti kaca yang pecah di sekitar kaki Angel.


Aluna hanya bisa menangis, saat mendapati kaca matanya sudah remuk, kacamata itu salah satu kenangan dari almarhum bapaknya.

__ADS_1


Aluna terisak, sambil bersimpuh meratapi nasib kacamata besar miliknya, bagaimana dia bisa bekerja dengan baik tanpa kacamata itu.


*jangan lupa bagi bunga dan vote buat emak juga ya.


__ADS_2