Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 128. Melarikan diri.


__ADS_3

"Kamu sakit?"


"Iya, maq ku suka kambuh Pak, anda tahu kan aku punya sakit maq. 


"Iya baiklah, kalau begitu, pengawal tolong buka pintu," perintah Adrian yang merasa simpati dengan Luna. 


Adrian melihat dandanan Luna masih khas pengantin, dia tidak segera memerintahkan satu pengawal lagi untuk membeli baju. Setelah baju didapat Aluna segera ganti, lalu turun menuju restaurant. 


Restauran di dekat bandara menyajikan berbagai menu dari seafood sampai daging olahan. 


"Aku mau bakso sapi."


"Baiklah, dua bakso sapi." Adrian berdiri meninggalkan Luna menuju tempat pemesanan. 


Dia memesan dua bakso sapi dan es kelapa muda. Sambil memesan, Adrian terus saja membalikkan badannya  menatap Aluna. Wanita itu pura,-pura saja duduk tenang. Selain dia benar-benar lapar, Aluna juga mencari momen yang tepat. 


Aluna tidak mau gegabah bisa kabur tapi akhirnya tertangkap lagi. Sama saja dia membuat langkahnya lebih sulit. Dua pengawal wanita yang berjaga di pintu 


Aluna menatap adrian sambil berkata dalam hati. 'Pak Rian, dulu, aku berharap bapak mau mencintaiku, walau aku sadar aku tak layak dicintai. Pak Adrian mengacuhkan ku, Pak Ardian juga tak mau memikirkan perasaanku. Aku merasakan pedih, sebagai istri harus melihat anda selalu bermesraan. Kini setelah semua berakhir, aku mengihlaskan anda dan memilih pak Dion, anda mendadak berubah haluan. Aku terlanjur mencintai Pak Dion. Cinta yang dulu sepenuhnya untuk anda sudah berpindah haluan. Aku mencintai Pak Dion, hanya dia sekarang yang ada di hatiku. Hanya dia namanya yang selalu hadir dalam setiap embusan nafas ini. 


Tapi sekarang anda malah seperti ini, anda menghalalkan segala cara, yang tanpa anda sadari semua ini akan membuat hancur hubungan keluarga. Andai saja bisa, aku ingin memilih pergi, aku akan memilih sendiri jauh entah dimana, tanpa kalian berdua. Biar tak ada yang harus terluka.'

__ADS_1


Aluna dan Adrian menikmati bakso yang nikmat untuk ukuran orang kelaparan. Tapi mungkin biasa saja bagi orang yang kenyang. 


Aluna menambahkan banyak sambal ke dalam kuah baksonya. Adrian yang melihat segera merebut botolnya, tapi sayangnya sambal pedas sudah melumuri baso Aluna. 


Aluna memakan dengan lahap dan kepedasan. Tak berapa lama perutnya mulai mulas. Aluna minta ijin ke toilet. 


"Pak Rian aku harus ke kamar mandi." Aluna memegangi perutnya.


"Luna jangan bilang semua ini bagian dari rencana ingin lari dariku."


"Pak Rian kalau tak percaya boleh ikut," tantang Aluna. 


Adrian memilih menunggu Aluna di depan kamar mandi, beberapa orang menatapnya Aneh. Merasa terintimidasi oleh tatapan wanita yang lalu lalang di toilet umum wanita Adrian memilih menjauh, dia ikut menunggu bersama dua pengawal di pintu. 


Aluna yang merasa mendapat angin segar dia segera menyelinap dan bersembunyi diantara kerumunan orang yang keluar kamar mandi. 


Aluna bisa lolos karena kecerdikannya, segera dia menghentikan taxi. 


Sebelum mendapat taxi Aluna sudah ketahuan. " Nona jangan Lari! Nona berhenti!" pengawal terus


Sadar sudah ketahuan, Aluna segera menyeberang jalan, berharap ada kendaraan umum atau orang berbelas kasih memberinya tumpangan. 

__ADS_1


"Cepat! Tangkap Nona, jangan sampai kita kehilangan jejaknya." Anak buah Adrian sudah mengepungnya.


Aluna gugup dan kurang hati- hati. Dia memaksa berlari namun terjatuh.


Mobil dengan kecepatan tinggi datang  menabraknya. Tubuh Aluna terpelanting diatas dasboard mobil. Darah segar keluar dari telinga hidung dan mulutnya. 


" Alunaaaaaaaa!!"


Adrian menjatuhkan ponsel dalam genggamannya, begitu melihat Aluna tak sadarkan diri. 


"Aluna! Bangun Aluna." Adrian segera memangku tubuh Aluna dan mendekapnya. 


"Pak Adrian, biarkan aku pergi, aku tidak bisa membiarkan anda dan pak Dion terus berseteru. Jika aku pergi berjanjilah kalian akan kembali berdamai"


"Tidak Luna, jangan pergi. Kau harus hidup. Jangan tinggalkan aku." Adrian mengguncang tubuh Aluna dan memeluknya. Lelaki  itu tak kuasa melihat darah keluar dari telinga dan sela-sela hidung. 


"Kenapa kalian diam saja! Cepat lakukan sesuatu." 


Pengawal berhasil menghubungi sopir ambulance, Aluna segera dibopong masuk. Setelah Aluna berada diposisi nyaman. Mobil Ambulance segera melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit besar di tengah kota. 


"Luna, maafkan aku, aku membawamu pergi supaya kamu tahu aku masih mencintaimu, dan aku ingin kita bersatu lagi seperti dulu.  Tapi kenapa kau tidak mau?" Adrian membeo sambil terus mengecup tangan Aluna. 

__ADS_1


__ADS_2